Rahim Yang Dikontrak

Rahim Yang Dikontrak
BAB 10. UJIAN MENJADI ISTRI KETIGA


__ADS_3

Tuan Densbosco duduk didampingi dua wanita cantik di sebelah kanan dan kirinya. Di sebelah kanan, istrinya pertama Mely Aldina dan di sebelah kiri Wena Ayu Erian.


Mely duduk menempel erat di badan Tuan Densbosco, bahkan satu tangannya bertumpu ke paha suaminya.


"Ya, Tuhan! Apakah ini ujian yang kau datangkan sebelum menjadi istrinya yang ketiga," suara batin Wena berbisik.


Wena tidak mau memperhatikan kemesraan itu. Ia hadapkan kepalanya keluar jendela. Menikmati laju mobil mewah yang cepat dan nyaman.


"Kamu tidak mau dekat lagi kesini, sayang," ajak lelaki bertubuh tambun itu mengagetkan Wena.


Wena hanya menoleh sebentar memandang Tuan Densbosco tapi badannya tetap tak mau bergeser.


"Tidak apa-apa kalau cuma duduk berdekatan. Apalagi kamu kan sudah aku pinang," rayu tuan yang sudah beruban itu.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa seperti Nyonya," jawab Wena dengan perasaan malu.


"Payah Pah, Papah memilih gadis yang masih terlalu hijau. Masa duduk mesra saja tidak bisa?" Nyonya Mely berkata dengan nada sinis.


"Karena mungkin ini pengalaman baru, Wena," timpal Tuan Densbosco.


"Tidak mungkin, Pah. Anak jaman sekarang masa belum pernah pacaran."


"Diam dulu kamu, Mah. Biarkan Wena belajar membiasakan diri bersama-sama seperti ini. Dulu Queen juga sama seperti Wena. Bahkan histeris minta kembali ke rumah orangtuanya ketika kita ajak bermain bersama. Tapi lama-lama akhirnya jadi terbiasa. Tidak canggung atau malu-malu."


Bulu kuduk Wena langsung berdiri tegak mendengar omongan Tuan Densbosco. Tubuhnya menggigil membayangkan Tuan Densbosco, Nyonya Mely dan Nyonya Queen bermain bersama dalam satu ranjang.


"Kalau kamu nanti inginnya tinggal dimana, Wen. Bersama kami atau di rumah sendiri?" tanya Tuan Densbosco pingin tahu reaksi Wena.


"Sa-saya.... Ingin di rumah sendiri saja."


"Kenapa?" tanya Tuan Densbosko.


"Kamu tidak mau tinggal bersama kami?" Tanya Nyonya Mely.


"Maaf, Tuan dan Nyonya.... Saya belum siap," Wena berkata dengan gemetar.


"Kok belum siap? Apa yang menyebabkan kanu belum siap?" Tanya Tuan Densbosco seraya mengkode istrinya untuk tidak ikut bicara. Karena Wena tiba-tiba nampak gugup.


"Sa-saya.... Takut Tuan."

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan. Kami tidak akan melukai kamu, kamu akan saya tempatkan di kamar sendiri dengan fasilitas yang sama seperti istriku lainnya."


"Saya takut....Nanti ti-tidak bisa memberikan keturunan kepada Tuan," kata Wena beralasan, padahal dia takut tinggal bersama mereka bertiga.


"Kata Ibu dan Ayahmu kamu itu gadis yang subur. Tidak mungkin tidak bisa hamil. Apalagi di dalam usiamu yang sekarang ini. Kamu jangan mengarang alasan sendiri."


"Memang dia menolak menikah denganmu, Pah?" tanya Nyonya Mely heran.


"Tadinya sih dia menolak. Mungkin karena melihat saya sudah tua, sudah tidak cakep lagi, dan yang lebih berat.... Sudah punya dua istri."


"Apa pernah dia minta Papah menceraikan istrinya-istrinya dulu sebelum mau menerima Papa?" tanya Meli merasa tersinggung.


"Tidak....Tidak begitu kok, Mah. Dia tidak pernah menyinggung soal kamu dan Queen."


"Wena!" seru Nyonya Mely.


"Ya, Nyonya!"


"Kamu jangan mentang-mentang masih muda meminta kami menyingkir dari Tuan. Bila kami tahu kamu pernah berkata begitu.... Khreeg!"


Nyonya Mely memperagakan lehernya dipotong.


"Tidak Nyonya... Saya tidak pernah berkata begitu."


"Sudah-sudah.... Kita sudah sampai! Nanti kita sambung ngobrolnya di restoran!" seru Tuan Densbosco.


Mereka kemudian turun dari mobil. Nyonya Mely langsung menggandeng Tuan Densbosco berjalan mendahului Wena. Kelakuan istri pertama Tuan Densbosco ini sungguh menjengkelkan sekali di mata Wena.


Begitu pun setelah duduk di dalam restorant. Nyonya Mely memesan sendiri menu makanan untuk dirinya dan Tuan Densbosco. Sedangkan Wena diminta memesan sendiri menu makanan yang dia sukai.


"Wena! Saya sudah punya tanggal pernikahan kita. Apakah kamu ada usulan mengenai format acaranya nanti," kata Tuan Densbosco kepada Wena.


"Apakah tidak lebih baik soal pernikahan itu dibicarakan dengan ibuku, Tuan. Rasanya kurang afdol kalau dibicarakan dengan saya sendiri?" Ucap Wena.


"Mengapa mesti dengan ibumu, bukankah kamu sendiri nanti yang akan menjalani?" Tukas Nyonya Mely.


"Memang saya yang akan menjalani. Tapi saya kira lebih baik dibicarakan juga bersama ibuku."


Wena takut berbuat salah karena hubungan dia dengan Tuan Densbosco berawal dari perjanjian. Materi kesepakatan seperti ijab kabul maupun hal lainnya yang terjadi pada pasca pernikahan pasti sudah tertulis di dalam naskah perjanjian itu.

__ADS_1


"Bentuk pernikahan seperti apa nanti yang kamu inginkan?" pancing Nyonya Mely.


"Saya tidak tahu jelas Nyonya. Tapi aku kira seperti pernikahan pada umumnya," jawab Wina lugu.


"Kamu tahu. Pernikahanmu dengan Tuan nanti tidak seperti pernikahan pada umumnya," kata Nyonya Mely, sangat mengejutkan Wena.


"Saya tidak paham maksud Nyonya. Coba nyonya jelaskan apa yang dimaksud bentuk pernikahan tidak seperti biasanya itu," Wena Curiga.


"Bagaimana ya... Papah saja yang menjelaskan," kata Nyonya Meli menyadari telah teledor dalam bicara.


"Karena menu yang dipesan sudah datang mari kita makan dulu. Ngobrolnya diteruskan nanti saja," ajak Tuan Densbosco mengalihkan perhatian.


Wena yang sudah tegang ingin mendengarkan akhirnya menjadi rasa penasaran. Ia pun makan dengan tanpa selera. Jelas sekali tadi Nyonya Meli mengatakan pernikahannya nanti tidak seperti pernikahan pada umumnya.


"Wena.... Ayo dimakan ini sop ikannya, agar kondisi badanmu semakin sehat," ucap Tuan Densbosco.


Setelah semuanya selesai makan, Densbosco langsung mengajak kembali ke kantor. Dia tidak jadi menjelaskan soal bentuk pernikahan itu. Apakah lupa atau rawan dijelaskan sekarang.


Sedangkan Wena kembali juga ke ruang kerjanya.


"Lho.... lho, orang baru bersenang-senang ko kembali dengan wajah murung begitu sih, Wen," celetuk Nandia.


"Huh! Capek sekali rasanya, Nan."


"Memang baru lari muter alun-alun?" Goda Nandia.


"Ini capeknya lebih dari sepuluh kali lari muter alun-alun. Apalagi istrinya Tuan. Huh! Tidak hanya membuat pusing kepalaku, tapi perut ini juga eneg pingin muntah."


"Memangnya kamu diapain oleh permaisuri?"


"Bener katamu, Nan. Dia itu bermuka bengis terhadap karyawati yang berani menggoda suaminya. Saya pun dituduh begitu dan dihukum berdiri hampir satu jam."


"Kalau bukan kamu pasti tidak hanya dihukum berdiri. Tapi langsung diberhentikan dengan tidak hormat dari perusahaan ini...."


Bersamaan Nandia bicara, tiba-tiba sekretaris galak masuk ke dalam mengagetkan Wena dan Nandia.


"Saudari Wena Ayu Erian, atas prestasimu dalam bekerja, mulai besok kamu mendapatkan mobil inventaris yang akan mengantarmu berangkat dan pulang kantor. Sedangkan sopir pribadimu adalah Pak Rohani. Ini surat keputusannya dari Tuan Densbosco."


Wena dan Nandia saling berpandangan dengan penuh tanda tanya setelah sekretaris galak itu pergi....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2