
Di restoran sebuah hotel hari itu Tuan Densbosco nampak senang. Dengan tersenyum lebar lelaki bertubuh besar itu melingkarkan kalung emas ke leher Wena Ayu Eriyan yang duduk diam di sampingnya.
Wigati dan anak sulungnya Agung Putra Sengkuyung, terlihat bangga anak gadisnya jadi dipinang oleh lelaki kaya raya itu. Selain kalung berleontin batu permata zamrud, Densbosco juga menyematkan cincin emas bermata berlian. Sangat indah sekali kedua benda itu menghiasi dada dan jari manis Wena.
Hadir dalam pertemuan itu Nyonya Hellen yang membawa seorang notaris wanita. Mereka berdua memang sengaja diundang oleh Tuan Densbosco. Disamping untuk menyaksikan acara pinangan, juga untuk menyelesaikan masalah utang piutang dengan keluarga Wena sebesar limaratus juta belum termasuk bunganya.
Perempun itu setelah menerima uang sebesar limaratus juta plus bunganya langsung memuji-muji kebaikan Tuan Densbosco.
"Kamu harus bangga anakmu dipinang oleh Tuan Densbosco. Coba kalau tidak ada dia. Sampai kapanpun hutangmu tidak akan lunas," katanya yang ditujukan kepada Wigati yang duduk di samping Wena.
Kalimat itu tentu saja terdengar tidak nyaman di telinga Wigati, Wena dan Agung. Tapi perempuan bermulut lancip itu dengan tanpa rikuh terus mengoyak perasaan mereka.
"Sedangkan kamu Wena, mulai sekarang harus patuh dan tunduk kepada suami. Apa pun yang diucapkan dan diperintahkan oleh beliau kamu harus nurut dan mau melaksanakannya. Sekali lagi yang harus kau ingat adalah jangan pernah membangkang."
"Nyonya Hellen, urusan kita saya kira sudah selesai. Saya mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan dukungan saudari juga ibu notaris. Kami sebentar lagi akan melanjutkan agenda acara yang belum kami laksanakan. Mohon maaf saya bukannya mengusir. Kalau kalian masih ada acara silahkan meninggalkan tempat ini," kata Tuan Densbosco menghentikan ocehan Nyonya Hellen dengan halus.
"Terimakasih pula dari kami Tuan. Kami mohon pamit mau melanjutkan pekerjaan di kantor."
Setelah Nyonya Hellen Pergi bersama seorang notaris, Tuan Densbosco kemudian mengajak Wigati, Wena dan Agung meninggalkan restoran yang ada di sebuah hotel berbintang itu.
Wigati di dalam mobil tidak tahu mau dibawa kemana. Ternyata kesebuah paviliun yang cukup besar dengan view lingkungan perbukitan.
"Inilah rumah yang saya janjikan itu, Ti. Tidak begitu besar. Tapi saya kira anakmu senang menerimanya," kata Tuan Densbosco seraya menyerahkan kunci rumah tersebut kepada Wigati.
Wena melihat itu hanya sekilas. lalu pandangannya ia buang kearah bangunan rumah di depannya.
"Ini rumah untuk kamu, Wen dari Tuan Densbosco. Kamu mau kan tinggal disini nanti setelah menikah," kata Wigati.
"Tidak usah menunggu setelah menikah. Mulai sekarang sudah bisa ditempati?"
Wena cuma mengangguk pelan. Padahal banyak pertanyaan yang mau disampaikan tapi berat lidahnya untuk melontarkan.
"Sebaiknya segera saja dilaksanakan pernikahan, Os. Agar kamu cepat mendapatkan keturunan," kata Wigati memberi saran.
"Kalau soal itu terserah Wena saja kapan bisa dilaksanakan. Ya, Wen?"
Wena yang ditanya masih melamun entah sedang kemana benaknya....
"Wen....Kamu ditanya suamimu kok malah melamun," Wigati menegur dengan menyebut Osco seolah sudah resmi menjadi suami Wena.
"Oh.... i-iya. Wena tidak melamun tapi kepala rasanya pening," ucap Wena dengan suara serak.
"Sekarang kamu istirahat saja, sayang. Rumah ini sudah lengkap perabotannya kok dan di dalam sudah ada dua asisten rumah tangga yang siap membantu kamu."
__ADS_1
Wena kemudian diantar Agung menuju ke salah satu kamar yang ditunjuk oleh Tuan Densbosco. Sebuah kamar cukup besar dengan perabotan yang sangat mewah.
Setelah mereka masuk ke kamar, Densbosco mengajak Wigati bicara di ruang depan, menjauhi kamar yang sudah ditempati Wena.
"Saya pesan kepadamu untuk terus membujuk Wena. Saya lihat dia belum sepenuh hati menerima diriku."
"Jangan kuatir, Os. Saya akan terus membimbingnya dan menumbuhkan jiwanya agar mau mencintamu. Sehingga nanti waktu ijab kabul dia sudah benar-benar ikhlas menyerahkan seluruh jiwa raganya kepadamu."
"Tapi kamu juga ikhlaskan anakmu kunikahi?" tanya Osco sedikit menggelitik.
"Seharusnya aku yang kau nikahi waktu itu. Tapi tidak apalah sekarang kamu malah mendapatkan anakku."
"Dulu saya gagal mendapatkan ibunya. Tapi sekarang saya malah mendapatkan anaknya yang jauh lebih muda dan jauh lebih cantik," ucap Densbosco nakal.
"Hus! Jangan keras-keras bicaramu. Nanti kedengaran mereka!"
"Ok. Nanti aku hubungi kapan pernikahan itu akan dilaksanakan. Saya terimakasih sudah kau ikhlaskan anakmu untukku."
"Saya juga mengucapkan banyak terimakasih. Kalau tidak ada kamu entah nasib keluargaku seperti apa."
"Saya dengan Firman dulu sudah berjanji untuk membantu keluarga ini. Saya senang sekarang sudah melaksanakan semua janjiku."
Setelah bicara begitu Densbosco pergi meninggalkan rumah yang sudah ia berikan kepada Wigati dan keluarganya itu.
"Kamu pusing karena apa, Wen?" tanya Wigati ketika masuk ke kamar tempat Wena berbaring ditunggui oleh Agung.
"Tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja pusing sekali kepala Wena." Wena makin membenamkan wajahnya ke bantal.
"Mungkin karena masih mikirin pacarnya kali, Bu," celetuk Agung dengan enaknya.
"His! Sembarangan kamu bicara. Sudah sana pulang saja kamu."
"Nggih, Bu. Kalau begitu saya pulang saja ya, Bu. Takut nanti Laluna mencari aku."
"Ya. Hati-hati di jalan."
Agung kemudian pergi setelah mencium punggung tangan ibunya.
"Gimana Wen. Kepalamu masih pusing?" Giyati memijit-mijit kepala anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
"Masih pusing, Bu."
"Maafkan Ibu ya, Wen. Sebenarnya Ibu tidak tega melihat kamu menderita begini."
__ADS_1
"Sudahlah, Bu. Wena tidak apa-apa kok kalau harus menikah dengan Tuan Densbosco."
"Ibu tahu kalau kamu masih setengah hati menerima beliau."
"Wena sebenarnya sudah menerima lakon yang harus aku perankan ini, Bu. Tapi kini menjadi kecewa lagi. Rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula."
"Maksud kamu apa bilang seperti itu?"
"Tuan Densbosco benar-benar rakus!" keluh Wena dengan suara hampir tak terdengar.
"Jangan bilang seperti itu, Wen. Tidak baik."
"Ibu tidak tahu apa yang aku katakan. Tuan Densbosco itu sifatnya seperti hewan. Dulu sudah makan ibunya, sekarang mau makan anaknya. Ibu masih belum paham apa yang Wena maksudkan?"
Wigati terperanjat mendengar kata-kata Wena....
Dia paham sekali Wena bicara begitu. Pasti yang dimaksudkan adalah masa lalunya yang pernah dekat dengan Densbosco.
Memang dulu dia punya cerita sendiri dalam berpacaran yang kini tersimpan sebagai rahasia pribadi. Tapi kenapa Wena bisa tahu hal itu. Padahal dia belum pernah menceritakan kapada anak-anaknya. Dan tidak mungkin dia ceritakan kepada siapa pun.
"Kamu kok tega sekali bicara seperti itu sih sayang. Tapi kisah di masa muda itu kenyataannya tidak seperti yang ada dalam bayanganmu, Wen."
"Ibu bisa saja bilang begitu karena Wena tidak melihat. Dan Wena tidak mungkin bertanya sedetail apa yang pernah ibu lakukan dengan Densbosco."
Kalimat itu membuka kembali dosa lama. Perasaan itu terasa menghujam ke ulu hatinya.
Sementara Wena merasa keluarganya sudah anjlok ke titik nadir. Sangat rendah di hadapan Tuan Densbosco.
"Ti-tidak, sayang.... Tidak pernah ibu melakukannya....!" Wigati bicara sambil menahan derai air mata.
Kisah masa lalu ibunya itu bukan baru sekarang Wena ketahui. Pada waktu Ayah masih hidup Wena pernah melihat ibunya bertengkar hebat dengan Ayah karena orang ketiga. Waktu itu Wena tidak begitu mempedulikannya dan fragmen itu berlalu begitu saja dalam pikirannya.
Tapi sekarang Wena melihat sendiri begitu akrabnya mereka berdua kalau sedang bicara. Itu membuktikan bahwa mereka memang pernah dekat.
"Wena tidak mempersoalkan Ibu punya masa lalu dengan Tuan Densbosco. Tapi yang Wena kecewakan adalah kenapa Wena akan menikah dengan lelaki yang rakus seperti hewan."
Wigati tidak bisa berucap apa-apa. Lidahnya terasa kelu untuk bergerak. Dua sudut matanya mengembang basah. Malu sekarang dia berhadapan dengan Wena. Terasa sekali sekarang kalau langkahnya salah menjodohkan Wena dengan lelaki yang pernah dekat dengannya itu.
Wena sebenarnya ingin bertanya pula kepada Wigati, siapa sebenarnya yang pertama kali menyodorkan Wena kepada Tuan Densbosco? Tapi dia sudah bisa menjawab sendiri pertanyaan itu sekarang.
🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1
Haloo gaes jangan lupa like en komennya ya untuk menyemangati author menulis...🙏