Rahim Yang Dikontrak

Rahim Yang Dikontrak
BAB 19. KEPANIKAN DENSBOSCO


__ADS_3

Wigati yang berada di kamar pengantin, tidak mendengar ribut-ribut di kamar sebelah. Ia malah sedang membayangkan betapa sedihnya Wena di dalam kamar bersama Densbosco, lelaki yang sulit untuk ia cintai itu.


Ingin sebenarnya Wigati melepaskan derita anak gadisnya itu. Tapi dengan cara bagaimana. Densbosco sudah mengikatnya dengan harga lima ratus juta rupiah!


Sambil mengamati interior di dalam kamar pengantin itu ia duduk di ranjang. Lalu mencoba empuknya ranjang pengantin Itu dengan rebahan. Sama sekali tidak ia hiraukan ribut-ribut di luar kamar. Karena memang tidak mendengar.


"Tuan besar marah sekali," para anak buah Densbosco bergunjing sendiri di beberapa sudut hotel. Mereka tak berani mendekat.


"Calon istrinya hilang malah ditinggal minum-minum begitu. Gimana sih?" Gunjingan terdengar lagi saat Densbosco melampiaskan amarahnya dengan menum-minum di cafe.


"Ya, tidak mungkin dia mencari sendiri. Bodyguardnya kan banyak. Mereka sekarang sedang bergerak mencari gadis itu."


Tapi sepertinya Wena Ayu Eriyan sudah tidak ada lagi di hotel. Seluruh kamar hotel yang digeledah tidak ada gadis yang membuat Densbosco tergila-gila itu.


Hanya satu kamar yang tidak diutik-utik, yaitu kamar pengantin. Karena kamar itu adalah kamar Densbosco sendiri.


"Ayo kita minum lagi kawan?" ajak Tuan Densbosco kepada beberapa rekannya.


"Sudah Tuan. Tuan sudah banyak minum nanti mabuk."


"Tidak ada ceritanya Densbosco mabuk. Ayo minum lagi sampai pengantinku ditemukan."


Mereka pun lalu minum-minum lagi tanpa jeda. Sedangkan acara akad nikah yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Densbosco kacau balau. Penghulu yang akan menikahkan, perias pengantin dan tim-tim pendukung lainnya akhirnya pulang karena acara akad nikah ditunda sampai waktu yang tak jelas.


Hingga siang hari orang-orang Densbosco yang diminta mencari pengantin yang lari tidak mendapatkan hasil. Mereka pulang ke hotel dan menghadap Densbosco yang sudah mangar-mangar karena minuman keras.


"Siapa tadi yang kuminta menjaga kamar 303?" tanya Densbosco dengan sorot mata tajam kepada sejumlah anak buahnya.


Dua orang bodyguard yang merasa mendapatkan tugas itu maju ke barisan terdepan.


"Kalian yang menjaga kamar 303?"


"Betul, Tuan!" jawab dua orang itu serentak.


"Kalian tahu apa kesalahan kalian?"


"Tahu Tuan..., kami kecolongan dalam menjaga calon pengantin putri."


BUK!....PLAK!....BUK!....PLAK!


Pukulan dan tendangan melayang bergantian ke wajah mereka. Seketika mereka sempoyongan ke belakang.


Sementara sejumlah bodyguard lainnya yang berbaris rapih di belakang dua orang yang dihajar densbosco itu hanya menunduk tidak berani melihat adegan kekerasan itu.


"Siapa diantara kalian yang melihat pengantin putri pergi dari kamarnya!"

__ADS_1


Semua diam tidak ada yang berani bicara. Pada jam nahas itu memang semua tertidur karena kelelahan baru menempuh perjalanan jauh Jakarta-Bali. Sehingga tidak ada yang melihat ketika Wena keluar dari kamar mengikuti Nyonya Mely.


"Percuma saya membayar kalian mahal. Ternyata kerjanya cuma molor melulu. Brengsek kalian..., tidak becus!" Suara Densbosco menggelegar di cafe itu.


Setelah marah-marah di depan para bodyguardnya Densbosco ngeloyor pergi dengan berjalan agak sempoyongan. Dia menuju ke kamarnya, kamar pengantin yang sudah ia siapkan untuk menghabiskan malam pertamanya dengan pengantin putri, Wena Ayu Eriyan.


Ketika Densbosco masuk ke dalam kamarnya kaget melihat ada seorang wanita tidur di kasurnya.


"Wena...! Pengantinku!" teriak Densbosco senang seraya meloncat ke kasur dan memeluk wanita itu.


Wigati yang sedang tidur terbangun karena tiba-tiba ada yang menindihnya dari belakang. Ketika Ia berbalik kaget sekali ternyata Densbosco yang memeluknya dengan mesra.


"Os! Ini saya bukan Wena!" teriak Wigati meronta.


"Sayangku..., orang-orang pada mencarimu ternyata kamu ngumpet disini ya, sayang," ucap Densbosco dengan tatapan sayu karena pengaruh alkohol.


"Os, Wena kemana? Ngumpet gimana? Ini aku Os. Wigati!"


"Sudahlah..., sayang..., biarkan saja mereka mencarimu. Kita asyik-asyik sendiri saja disini." Densbosco semakin erat memeluk tubuh Wigati.


"Os, sadar Os..., ini aku bukan Wena," Wigati mengingatkan lagi.


Minuman keras yang sudah dihabiskan oleh Densbosco melebihi batas. Membuat pikiran dan matanya kabur. Tidak bisa membedakan mana Wena dan mana Wigati. Apalagi kenyataannya wajah ibu dan anak itu memang mirip sekali bagai pinang dibelah dua.


Maka melihat wajah yang cantik itu nafsu Densbosco meloncat naik ke ubun-ubun. Wigati yang meronta-ronta malah nampak seperti Wena.


Wigati mendapat serangan yang mendadak seperti itu jadi teringat hal yang sama yang pernah dia lakukan dengan Densbosco waktu remaja dulu.


Akhirnya ia biarkan saja tangan kuat itu meraba kemana-mana. Wigati malah membantu Densbosco dengan mencopot seluruh pakaiannya satu persatu. Anehnya sampai detik itu Densbusco tidak menyadari kalau yang ia geluti bukan Wena.


Kamar 304 yang sudah dihias indah itu sudah mirip kamar pengantin dengan pemandangan dua insan yang sedang bergulung-gulung di atas ranjang.


Pengantin pria begitu bersemangat mencurahkan permainannya yang terbaik. Sedangkan "pengantin" wanita mengimbanginya dengan perasaan was-was.


Beberapa saat kemudian permainan dalam pengaruh minuman keras itu berhenti karena Densbosco sudah melepaskan pelurunya beberapa kali ke rahim Wigati.


Wigati tambah prihatin dan was-was. Benih yang sudah ditanam oleh Densbosco itu terlanjur telah masuk ke rahimnya.


Beberapa menit kemudian Wigati sudah selesai bersih-bersih dan mengenakan pakaiannya kembali seperti sediakala. Sedangkan Densbosco masih tidur mendengkur.


Setelah selesai melepaskan tembakan bebebera kali, lelaki itu roboh tengkurap mencium bantal. Lalu tidak bergerak-gerak lagi.


Lama Densbosco tidur tengkurap. Wigati sampai takut jangan-jangan Densbosco jantungan. Tapi Wigati melihatnya masih bernafas. "Mungkin karena terlalu memforsir tenaga," gumamnya.


"Os, bangun..., bersih-bersih sana," ucap Wigati seraya menggoyang tubuh besar itu.

__ADS_1


Densbosco membalikan badan dan terperanjat di sampingnya ada Wigati dengan kondisi dirinya masih telanjang bulat.


Buru-buru lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Kok kamu bisa ada di kamarku?" tanya Densbosco heran.


"Kamu kebangetan, Os. Habis kau main dengan anaku sekarang kau embat juga ibunya," ujar Wigati polos.


"Eiit...! Ngomong apa kamu!" Densbosco meloncat bangun. Kemudian Ia teliti tubuhnya dan kondisi ranjang yang berantakan. "Apa yang sudah terjadi?"


"Kamu mandi saja dulu, nanti aku ceritakan apa yang sudah kau lakukan pada diriku."


Densbosko langsung lari ke kamar mandi dengan tubuh dililit selimut.


Beberapa menit kemudian setelah Densbosco sudah mengenakan pakaiannya kembali, Wigati menceritakan kejadian barusan.


Densbosco terkejut yang kesekian kalinya.


"Ini semua gara-gara anakmu. Coba kalau dia tidak lari meninggalkan kita, aku pasti tidak sampai mabuk dan melihat kamu seperti Wena."


"Tapi kamu sudah meniduriku, Os. Kalau dulu kita cuma main-main. Kali ini kita benar-benar bermain cinta seperti suami istri."


"Bohong, ah!"


"Sumpah! Barangmu masuk dan benih-benih itu membuahi rahimku. Aku takut kalau nanti aku hamil."


"Tidak! Kau tidak akan hamil."


"Kok kamu bisa bilang begitu?"


"Mungkin aku mandul. Nyatanya dua istriku tidak punya anak."


"Jadi bukan istrimu yang mandul seperti yang pernah kau katakan kepadaku. Sehingga kau memintaku memberikan Wina kepadamu?"


"Ya, begitulah. Aku memang ingin punya istri yang bisa memberiku seorang anak yang bisa meneruskan kejayaanku sebagai pengusaha besar."


"Bagaimana Wina nanti bisa punya anak kalau kamu mandul? Kamu jangan membuatku bingung, Os. Sebenarnya apa niatmu mau menikahi Wena?"


Densbosco diam merasa rahasia hatinya menikahi Wina yang cantik itu akan terbongkar.


"Sudahlah tidak usah bicara soal itu lagi. Sekarang Wena lari kamu harus bisa membawanya kembali kepadaku."


"Saya akan berusaha membawa Wena kembali kepadamu. Tapi kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu tadi kepadaku."


Densbosco tidak menjawab. Dia kelihatan panik lantas pergi meninggalkan Wigati sendirian di kamar pengantin itu.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2