
🌹🌹🌹
Perjalanan pulang dari hotel tidak begitu menyenangkan bagi Dermawan. Beberapa kali mobil berhenti karena jalanan macet. Hingga sampai di rumah telat sekian jam. Orangtua langsung menegurnya karena curiga.
"Mukernas kan sudah selesai dari siang tadi. Mestinya kamu sudah sampai di rumah enam jam yang lalu. Kamu itu main kemana saja, Nak?" Silvia, mamanya bertanya.
"Mobilku kecelakaan, Ma. Tapi kecelakaan kecil ko. Waktu mau parkir menabrak mobil di depannya."
"Oh! Lalu gimana orangnya?"
"Tidak ada yang terluka Ma. Cuma aku harus membawa mobil yang kutabrak ke bengkel untuk diperbaiki."
"Oh, begitu. Mama kira kamu main kemana. Sampai tidak ingat kalau sore tadi mestinya kamu bertemu dengan relasi Papa."
Dermawan cuma membatin. Perasaan Mama kok bisa persis mendekati kenyataan kalau dirinya memang baru main dengan seorang tante-tante.
"Maaf, Ma. Terus gimana relasi Papa itu, Ma?"
"Ya akhirnya cuma bincang-bincang dengan Papa."
"Mau ngajak kerjasama apa sih, Ma."
"Sebenarnya sih Papa dan Mama ingin mengenalkan kamu dengan relasinya itu. Barangkali dia cocok menjadi istrimu."
"Tidak, Ma. Pokoknya aku tidak mau dijodoh-jodohin begitu. Kasihan dong Ma barangkali dia tidak suka tapi dipaksa-paksa menikah denganku."
"Mana ada wanita yang tidak suka sama anak Mama yang cakep ini. Mama yakin sekali kalau dia suka sama kamu."
"Tidaklah, Ma. Aku sudah punya pacar."
"Pacar yang mana? Katanya pacarmu sudah dilamar oleh orang?"
"Tapi dia tidak mau, Ma. Dia mau lari dari lelaki yang sudah melamarnya itu."
"Terus kamu mau membantu pacarmu itu lari? Jangan, Nak. Bahaya itu, Nak. Kamu bisa dilaporkan ke polisi."
"Aku tidak mengajaknya lari, Ma. Dia sendiri yang bilang mau lari. Karena lelaki yang menikahinya cuma mau memanfaatkan rahimnya saja. Setelah punya anak mereka berpisah dan anak yang dilahirkan menjadi hak milik lelaki itu."
"Kok seperti kawin kontrak saja."
"Maka dari itu dia mau lari, dan minta aku membantunya menyediakan tempat persembunyian."
"Oalaaah..., Naak.., Nak! Kamu kok mau susah-susah mencintai gadis seperti itu. Kamu itu kalau mau gampang sekali mendapatkan gantinya. Sudah lupakan saja dia. Tidak perlu kau pikirkan lagi."
"Ah, Mama itu bagaimana sih? Orang Cinta Mawan cuma sama dia kok."
__ADS_1
"Sudah sana temui Papa. Pendapat Papa pasti sama dengan Mama."
"Maaf, Ma. Tolonglah aku diberi kebebasan mencari pasangan sendiri. Jangan dengan cara dijodoh-jodohin."
"Lha coba sana kalau berani bilang sama Papa," kata Silvia seraya meninggalkan Dermawan.
Bersamaan itu suaminya Gunawan Wibisana datang mendekat.
"Ada apa ini ribut-ribut. Kok kedengaran sampai di belakang?" tanya Wibisana.
"Itu Pa anakmu, rupanya tidak mau dijodoh-jodohin."
"Iya, Wan? Mama dan Papa ini bukan mau menjodohkan kamu. Kami ini cuma mau mengenalkan kamu saja dengan relasi papa. Barangkali cocok. Karena dia wanita yang sudah mapan. Usahanya di luar negeri juga maju pesat."
"Kalau cuma kenalan saja sih aku tidak keberatan. Tapi Mama bilang dia cocok menjadi istriku. Pokoknya aku tidak mau kalau disuruh menikah dengannya."
"Lalu kamu mau menikah dengan siapa. Usia kamu itu sudah tigapuluh tahun. Sudah saatnya menikah. Apa kamu sudah punya pacar kok tidak mau dengan wanita pilihan Mama dan Papa."
"Sudah, Pa. Tapi pacarnya sudah dilamar orang," celetuk Silvia.
"Terus kamu mau merebut dari orang yang sudah melamarnya itu?"
"Bukan merebut sebenarnya, Pa. Aku hanya ingin menolongnya. Karena dia jadi korban nikah paksa orangtuanya."
"Orangtuanya memaksa nikah dengan siapa?"
"Kenapa dinikahkan kepada lelaki tua itu."
"Karena dia sudah membantu membayar hutang sebesar lima ratus juta."
" Wow..., besar sekali lho itu. Pasti orang itu miliarder."
"Tidak hanya miliarder tapi sudah punya dua istri, Pa, Ma."
"Masya Allah.... Terus kamu kasihan dan mau menolongnya dengan melunasi hutang itu?"
"Tadinya Dermawan ingin menolongnya tapi kedahuluan lelaki tua yang sudah punya dua istri itu."
"Papa pusing mendengar ceritamu itu. Kita sendiri masih butuh modal besar untuk membangkitkan kembali usaha kita. Kamu kok mau main-main dengan uang sebesar itu hanya untuk menebus seorang gadis."
"Aku tidak akan menggunakan uang untuk merebutnya kembali."
"Akan kau tebus dengan apa gadis yang sudah dilamar dengan uang lima ratus juta itu?"
"Aku punya cara sendiri, Pa."
__ADS_1
"Ok. Sementara ini Papa serahkan urusan itu kepada kamu sendiri. Tapi apabila tidak berhasil kamu harus menikah dengan teman relasi Papa."
Dermawan hanya mengangguk. Lalu dia minta ijin untuk pergi lagi menemui Wena. Paling hanya satu jam sampai. Apalagi yang akan dilalui jalan bebas hambatan. Sehingga bisa memacu gas secara maksimal.
Pukul 20.30 Dermawan baru tiba di rumah sederhana tapi asri yang di halamannya tumbuh pohon mangga yang besar dan rimbun.
Dia memarkir mobilnya di bawah pohon tersebut.
Setelah turun dari mobil Dermawan ragu untuk berjalan ke teras dan mengetuk pintu. Dua kali ini dia berkunjung ke rumah Wena. Kunjungan pertama saat takziah ayah Wena meninggal dunia sebulan yang lalu.
Dermawan ragu bukan karena masih terbayang Ayah Wena yang sudmah mati. Tapi lampu di dalam rumah sudah padam. Berart penghuni rumah sudah pada tidur.
Tapi dengan semangat ingin menolong Wena dari jerat Densbosco akhirnya ia ketuk juga pintu rumah Wena. Sekali tidak ada sahutan dari dalam. Dermawan ketuk lagi dengan mengucap salam lebih keras. Tetap tidak ada sahutan. Tiga kalinya ketika mau mengetuk terdengar suara seorang laki-laki menyahut dari dalam.
Dermawan terkejut. Bukankah di rumah itu hanya ada Wena dan ibunya. Karena kakak Wena, Agung Putra Sengkuyung, sudah tinggal di rumah sendiri dengan istrinya. Lalu siapa laki-laki yang menyahut dari dalam. Apakah arwah ayah Wena. Ah! Tidak mungkin.
"Selamat malam saudara siapa?" tanya laki-laki itu setelah pintu dibuka.
"Sa-saya....Dermawan, Pak," ucap Dermawan gugup.
"Mau cari siapa? Non Wena dan Nyonya Wigati sudah berangkat ke Bali tadi sore," kata laki-laki itu lagi.
Dermawan kaget dan tak percaya mendengar keterangan laki-laki itu. Sebelum ia menjawab, laki-laki itu berkata lagi.
"Tuan terlambat datangnya. Sore tadi Tuan Densbosco beserta rombonganya juga sudah berangkat ke Bali. Saya yang disuruh menunggui rumah ini."
Dari keterangan itu Dermawan langsung bisa menyimpulkan bahwa Densbosco sudah sedemikian rupa menjerat Wena dan keluarganya. Jelas laki-laki ini adalah suruhan Densbosco untuk menjaga rumah Wena selama tuan dan nyonya pergi.
"Bagaimana, Tuan. Mau segera menyusul rombongan Tuan Densbosco ke Bali atau istirahat sejenak menemani saya catur "
"Oh, maaf, Pak. Saya pulang saja.".
"Nama Tuan siapa. Nanti saya sampaikan kepada Tuan Densbosco."
"Oh, tidak usah repot-repot pak. Biar saya yanga telpon sendiri."
Dermawan buru-buru meninggalkan laki-laki itu. Kemudian masuk ke mobilnya dan tancap gas pergi dengan pikiran dan hati yang kalang kabut.
"Tante Mely brengsek!" umpat Dermawan sambil menggebrak stir mobil. "Katanya mau membatalkan mereka pergi ke Bali. Kalau begini berarti pernikahan itu jadi dilaksanakan dong."
PREEETH...! PREEETH....!
Sebuah truk petikemas dari arah belakang mengagetkan Dermawan yang sedang kacau pikirannya sehingga setiran mobil mobilnya siz zag.
Akhirnya ia pinggirkan mobilnya dan berhenti di depan minimarket. "Apa yang harus aku lakukan sekarang," pikirnya.
__ADS_1
Lalu diambilnya hape mau menelpon Tante Mely. Tapi belum sempat ia menelpon, secara kebetulan malah wanita itu yang menelponnya duluan....
Bersambung