Rahim Yang Dikontrak

Rahim Yang Dikontrak
BAB 12. BERTEMU DERMAWAN


__ADS_3

"Tidak ada jalan lain yang lebih baik, Nduk," kata Wigati meyakinkan dirinya sendiri setelah mobil yang menjemput Wena pergi menghilang di jalan depan rumah.


Lalu seperti biasanya Wigati melanjutkan pekerjaan rumahnya. Sudah lama dia tidak bersih-bersih dan menata kembali perabotan yang ada sejak acara pemakaman Firman, suaminya.


Satu demi satu buku, map dan kertas-kertas kerja yang sudah tidak beraturan letaknya ia rapihkan kembali. Tiba-tiba tangannya pun menemukan sebuah album foto lama di sela-sela tumpukan buku.


Wigati jadi ingat pernah menyimpan foto Densbosco di album itu. Ternyata masih utuh tertempel bersama foto lainnya milik Wigati waktu masih perawan.


Dipandanginya foto yang ia temukan itu. Foto seorang pemuda yang tidak begitu ganteng. Lalu ia raba dengan jari-jarinya yang lentik. "Jangan kau sakiti anaku, ya," gumamnya.


Keraguan yang terus menyelimuti perasaan Wigati itu sangat beralasan. Karena Wigati tahu jelas sejak dulu Densbosco suka menggauli wanita cantik. Keadaan orangtuanya yang kaya raya sangat memungkinkan sekali Densbosco berbuat sesuka hatinya sendiri.


mengingat Wena yang sebentar lagi akan dinikahi lelaki seperti itu, kedua mata Wigati mengembang basah Tidak tega sebenarnya anak gadisnya ia berikan kepada lelaki hidung belang seperti Densbosko.


"Maafkan ibu ya, Nduk. Ibu telah berbohong kepadamu..., " gumam Wigati sedih.


Sementara itu Wena yang sedang dipikirkan Wigati sudah sampai di tempat acara mukernas para pengusaha besar di Graha Santika.


Jantung Wena berdegub membayangkan apa yang akan dilakukan Tuan Densbosco di acara kalangan pengusaha besar dan konglomerat itu. Apakah akan mempermalukan dia lagi. Atau meminta Wena menjalankan pekejannya yang sekarang sebagai sekretaris.


Tapi kalau dilihat suasana di tempat acara, tidak mungkin Nyonya Mely akan hadir di acara itu. Karena merupakan acara para profesional bukan acara santai ngajak keluarga. Buktinya yang diminta datang adalah Wena yang notabene karyawatinya.


"Non Wena, sudah ditunggu bos di dalam?" Kata ajudan Densbosco seraya meminta Wena mengikutinya.


Wena berjalan cepat di belakang si ajudan....


Setelah berada di dalam dia melihat Densbosco sedang berbincang-bincang dengan beberapa pengusaha yang semuanya berpenampilan keren mengenakan jas semua.


"Selamat pagi nyonya muda...," sapa mereka ketika Wena mendekat ke tempat Tuan Densbosco berdiri dengan angkuhnya.


Wena cuma mengangguk dan tersenyum sopan membalas sapaan itu.


"Oh inikah yang tadi lu ceritakan, Os. Cantik juga sekretaris barumu ini?" seorang dari para pengusaha itu menyeletuk.


"Lha iyalah..., daripada sekretarisnya yang lama. Sudah mukanya ceper galaknya minta ampun," timpal yang lain.


Hahahahaha....!!


"Sejretaris STW itu pasti pilihan istrinya. Karena kalo dikasih yang cantik pasti langsung diembat dia."


"Lho masa gitu.... Terus gimana dengan yang satu ini?" seru lelaki yang lain.


"Kalo yang ini pasti pilihan dia sendiri dan pasti belum diketahui istrinya."

__ADS_1


Hahahahaha....!!


"Istri lu tidak apa-apa punya sekretaris secantik seperti ini, Os?"


"Sudah..., sudah. Sekarang saya perkenalkan saja daripada kalian penasaran begitu."


"Iya dong kenalkan pada kami...."


"Ini memang sekretaris saya yang baru dan sebentar lagi akan menjadi istriku."


"Bohong! Kamu pasti bercanda. Masak sudah punya dua istri kok masih ningin kawin lagi


"Tidak saya tidak bohong. Dia ini bernama Wena Ayu Eriyan. Sebentar lagi memang akan menjadi istriku. Ya, Wen?"


Wena tak menanggapi.


"Aku tidak percaya kalau bukan dia sendiri yang memperkenalkan jati dirinya," ujar lelaki lainnya yang masih berkerumun.


"Ayo Wen, perkenalkan dirimu kepada mereka,"


Rayu Tuan Densbosco.


"Nama saya Wena tadi sudah diperkenalkan beliau. Kalau sekarang status saya masih singgel. Soal saya mau dijadikan istrinya saya serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa," kata Wena bersikap tenang.


"Ya, sudah kalau kalian tidak percaya," kata Densbosco agak kesal dengan jawaban Wena yang ngambang itu.


Kemudian tangan Wena ia pegang dibawa masuk ke ruang tempat acara mukernas.


Selepas Densbosco dan Wena pergi, para lelaki itu masih tetap berkumpul dan bergunjing. Lalu datang lagi seorang pengusaha yang masih muda dengan wajah putih bersih dan tampan.


"Ada isu apa ini kok kelihatan seru banget," sapa pengusaha muda yang baru datang itu.


"Hai, Dermawan. Lu gak tahu barusan ada isu hangat," seorang dari kerumunan lelaki itu berkata.


"Simon ini selalu tidak kekurangan isu menarik," kilah Dermawan yang baru datang.


"Lho ini betul isu menarik dan masih gres. Lu mau dengar?" Simon yang sebaya dengan Dermawan bersemangat mau menjelaskan.


"Isu apa coba aku pingin dengar."


"Dengarkan baik-baik ya. Barusan Densbosco mengenalkan sekretaris barunya yang cantik dan mau dia jadikan istrinya."


"Kalo soal begituan itu namanya bukan isu menarik, Mon. Sudah biasa terjadi dimana-mana."

__ADS_1


"Menurut saya bukan isunya itu yang menarik. Tapi pelaku isunya yang menarik. Masa sudah tua begitu dan punya dua istri sekarang mau kawin lagi."


"Memang itu sebuah topik yang menarik, Mon. Tapi saya kira lebih menarik topik yang akan dibahas di mukernas nanti," ujar Dermawan seraya mengajak masuk ke dalam ke tempat acara yang sudah mulai dibuka.


Dermawan dan Simon mengambil tempat duduk di salah satu meja bundar yang baru diisi tiga orang. Lalu melemparkan pandangan ke sekitarnya. Matanya tertumbuk pada meja yang berada agak jauh di depannya. Disana ada seorang wanita cantik mengenakan baju merah gelap dengan rambut tergerai indah.


"Cantik sekali wanita itu....!" Mulut Dermawan mendesis seketika.


Simon yang ada di sampingnya sempat mendengar, danp paham siapa yang dimaksudkan Dermawan.


"Kamu kenal dengan wanita itu, Wan?" tanya Simon.


Dermawan mengamati lagi wanita yang posisi duduknya membelakanginya aga serong ke samping.


"Belum jelas. Setahuku dulu sekretaris Densbosco itu sudah STW."


"Itulah sekretaris Densbosco yang baru yang katanya akan dijadikan istrinya yang ketiga. Tadi aku sempat berkenalan namanya Wena Ayu Eriyan."


Dada Dermawan seperti diseruduk kerbau bule. Kaget dan tidak percaya Wena mau menikah dengan orangtua yang dikenal suka main perempuan itu. Tapi ada perasaan bersalah juga telah membiarkan Wena mengatasi masalahnya sendirian hingga terjerumus ke pelukan bandot tua itu.


Mendengar itu perasaan Dermawan menjadi tidak konsentrasi mengikuti mukernas. Ingin sekali ia menemui Wena yang duduk agak jauh di depannya. Tapi nanti Densbosco yang ada di sampingnya pasti curiga.


Di tengah mukernas sedang berlangsung tiba-tiba Dermawan melihat wanita berbaju merah gelap itu berdiri dari kursi dan sepertinya minta ijin keluar sebentar. Kesempatan itu dimanfaatkan Dermawan untuk keluar dari tempat acara juga.


Ketika berada di luar dilihatnya Wena berjalan ke toilet wanita. Dermawan membuntutinya dan berhenti menunggu Wena selesai dari toilet.


Setelah nenunggu beberapa menit kemudian Wena keluar dari toilet. Dermawan langsung menghampiri dan menyapanya.


"Lelaki pengecut! Untuk apa sekarang kamu menemuiku?" seru Wena sambil terus melangkah.


"Maaf, Wen..., sebentar aku mau jelaskan masalahnya," Dermawan menggapai tangan Wena agar berhenti.


"Ok. Cepat jelaskan apa yang kamu mau jelaskan!" Wena berhenti berjalan dan menghadap ke Dermawan.


"Waktu itu aku mendadak diminta Papa pergi ke luar negeri karena ada keperluan penting."


"Oh. Begitu lantas kamu tinggalkan aku tanpa berpikir apa yang sudah terjadi dengan diriku bukan?"


"Aku sangat memikirkan kamu Wen. Tapi aku tak sempat menghubungimu. Urusanku sangat padat di luar negeri. Dua minggu aku disana. Ketika pulang aku bertemu Agung yang mengatakan hutang itu sudah dibayar."


"Sudah? Begitu saja penjelasanmu. Maaf aku harus kembali ke kursi," kata Wena seraya membalikan badannya.


"Wena!" Panggil Dermawan kelihatan masih ingin bicara. Tapi Wena mengelak dan terus berjalan mendahului.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2