
Kelihatannya hidup Wena Ayu Eriyan semakin sejahtera. Bagaimana tidak. Bekerja di sebuah perusahaan holding baru setahun, kini sudah bisa memiliki mobil inventaris dan sopir pribadi. Jabatannya juga naik dan gajinya tentu saja mengikuti.
Bagi karyawan yang tidak paham tentu menuduh Wena sudah menguna-guna bos besar. Tapi bagi yang tahu sebab musababnya perubahan nasib Wena yang baik itu sangat wajar. Karena sebentar lagi Wena akan menikah dengan Tuan Densbosco, pemilik perusahaan.
"Kita-kita ini mau juga kok menjadi istrinya yang ketiga. Karena pasti sebentar lagi akan diangkat menjadi CEO, yang kini masih kosong," kata Nandia yang sedang bergunjing tentang Wena Ayu Eriyan.
Sementara Wena di rumahnya sendiri sudah bersiap berangkat ke kantor. Namun mobil jemputan belum datang. Akhirnya ia ngobrol dulu dengan ibunya.
"Ingat tidak apa kata Ibu tempo hari?" tanya Wigati.
"Tuan Denbosco itu akan membuat hidupku lebih enak. Karena dia sangat baik dan perhatian kepadaku," kata Wena menirukan kata-kata ibunya tempo hari.
"Coba kalau waktu itu kamu tidak mau dipinang olehnya, pasti kita tidak mampu membayar hutang dan rumah kita mungkin sudah disita beserta isinya," timpal Wigati.
"Pasti kita sudah tidak tinggal di rumah ini lagi. Tapi di kolong jembatan atau ngontrak dari rumah ke rumah," Wena mengulang lagi kalimat ibunya tempo hari.
"Terbukti kata-kata Ibu sekarang, kan?" kata Wigati bangga.
"Tidak! Aku belum yakin kata-kata ibu terbukti," jawab Wena ringan saja.
"Kamu tidak merasa kata-kata ibu sekarang ini sudah terbukti dan sudah bisa kamu nikmati?" Wigati menanggapi omongan Wena.
"Semua yang sudah diberikan oleh Tuan menurut Wena malah justru semacam jerat, Bu." Wena kembali melontarkan kalimat yang memancing perasaan gundah Wigati.
"Jerat bagaimana maksudmu?"
Menurut Wigati bahwa semua pemberian Tuan Densbosco sudah banyak membantu keluarganya. Sekarang dia pun sudah lega, karena sudah bebas dari jerat hutang. Coba kalau tidak ada Tuan Densbosco yang melunasinya, pasti hidupnya masih sengsara dan dikejar-kejar depkolektor.
"Ibu mohon kepada kamu, Wen. Agar bisa menjaga hubunganmu dengan Tuan Densbosco secara baik-naik. Jangan sampai membuat beliau kecewa," kata Wigati menasihati.
Tapi Wena seperti tak mendengarkan kata-kata ibunya itu. Dia masih fokus dengan pikirannya sendiri.
"Contohnya sekarang ini, Bu. Biasanya jam segini aku kan sudah berangkat ke kantor. Tapi dengan diberikan mobil inventaris dan sopir pribadi, aku jadi tidak bisa leluasa lagi bergerak. Itu kan sama saja Tuan sudah memasang jerat. Intinya agar aku sudah tidak bisa bebas kagi seperti dulu."
"Itu bukan jerat, Nduk. Tapi itu sudah menjadi kewajibannya sebagai calon suamimu."
__ADS_1
"Tapi aku merasakannya itu sebagai jerat. Apalagi mulai sekarang ruang kerjaku dipindah ke lantai lima. Lantai yang tidak bisa sembarang pegawai masuk. Bener-bener Tuan sudah mengurung diriku."
"Itu akibat kamu sudah dipinang, Nduk. Sudah semestinya Tuan membatasi dirimu, tidak bisa bebas lagi seperti dulu. Kalau jaman Ibu dulu gadis yang sudah dipinang seperti kamu ini malah harus tinggal di rumah tidak boleh keluyuran sampai akad nikah dilaksanakan. Lumayan dia masih memberimu kesempatan keluar dengan disediakan mobil dan sopirnya."
"Aaaaaaaahh...! Aku sebenarnya belum siap untuk menikah dengannya!" seru Wina tiba-tiba emosional.
"Bagaimana sih kamu. Katanya siap kenapa sekarang berubah tidak siap?" Wigati gugup dan takut.
"Dari awal sebenarnya aku tidak siap, Bu. Tapi Ibu dan Mas Agung terus mendesak dan memasaku untuk menerima pinangannya."
"Ya, Allah. Kamu itu bagaimana sih, Wen. Ini persoalan serius. Jangan kau jadikan permainan yang tidak lucu begitu."
"Tapi sekarang aku benci sama Tuan apalagi istrinya yang bernama Mely Aldina itu!" seru Wena lagi.
"Kamu tidak boleh begitu, Nduk. Kamu harus makin hormat dan tunduk kepada mereka yang sudah berbaik hati menolong keluarga kita."
"Apakah Ibu yakin kalau Tuan menikahiku karena memang pantas menjadi istrinya. Atau mereka hanya mengharap anak dari rahimku saja?"
"Kamu itu ketempelan setan dimana kok tiba-tiba jadi tidak karuan begitu bicaranya?"
"Wena bukan ketempelan setan, tapi setelah bertemu dengan Tuan Densbosco dan istrinya Nyonya Mely, Wena berkesimpulan mereka cuma menginginkan anak saja."
"Menurut Ibu, tapi menurut Wena tidak."
"Ibu kenal dengan Mely Aldina. Nanti Ibu yang akan minta kepada mereka lebih menghormati dan menyayangi dirimu."
"Paling Ibu nanti akan disepelekan saja oleh mereka. Tidak mungkin mereka akan mendengar omongan ibu. Orang miskin apalagi pernah menjadi mantan pacar Densbosci yang dibuang."
"Sudah kamu jangan membuat Ibu panik. Ibu minta apa yang kamu katakan tadi jangan sampai didengar mereka. Ibu takut menerima akibatnya, Nduk."
"Pasti semua yang telah mereka berikan akan diminta kembali."
"Sudah kubilang jangan membuat ibu panik."
"Berarti Ibu mengakui kalau mereka itu arogan dan sombong kan?"
__ADS_1
"Sudah jangan berkata yang membuat perasaan Ibu jadi kalut."
"Wena bukan mau membuat Ibu kakut atau panik. Tapi Wena mengungkapkan pendapat ini agar Ibu tahu seperti apa sebenarnya mereka itu."
"Tapi Ibu masih percaya kalau Tuan Densbosco itu orang baik, Nduk. Pendapatmu itu mungkin karena melihat sikap istrinya yang sudah menyakitkan kamu."
"Kemarin waktu aku bertemu dengan istrinya, sikapnya menyakitkan sekali. Ibu dikatakan sebagai pelakor. Sedangkan aku disebut kecil-kecil kok sudah menjadi pelakor. Apakah tidak menyakitkan sekali perkataan itu, Bu."
"Tidak usah kau dengarkan kalau dia bicara. Kamu fokus saja kepada Tuan Densbosco."
"Dan satu lagi yang membuat Wena prihatin. Nyonya Mely mengatakan bahwa nanti bentuk pernikahanku dengan Tuan Densbosco tidak seperti pernikahan pada umumnya."
"Apa maksudnya itu?"
"Maksudnya bahwa pernikahan nanti adalah pernikahan kontrak rahim saja. Artinya setelah aku punya anak, maka, selesai sudah hubunganku dengan Tuan Densbosco."
"Yang jelas dalam naskah perjanjian tidak disebutkan seperti itu. Mungkin itu keinginan Mely saja. Pengecut sekali dia kalau maunya seperti itu."
"Pokoknya aku tidak mau kalau mereka hanya mengontrak rahimku saja. Silahkan kembalikan seluruh pemberian yang sudah diberikan Tuan Densbosco. Aku tidak mau menerimanya!"
Wigati mau tidak mau jadi merinding mendengarnya. Kemudian dia menunduk berdoa semoga Wena dan Densbosco menjadi suami istri untuk selamanya. Serta berhasil memberikan anak yang banyak untuk keturunan keluarga besar Densbosco.
Tidak berapa lama setelah berdoa terdengar suara mesin mobil jemputan masuk ke halaman dan berhenti di bawah pohon mangga. Turun Om Rohani yang siap mengantar Wena berangkat ke kantor.
"Maaf Terlambat, Non. Tadi soalnya dibriefing dulu oleh bos besar," ucap Om Rohani ramah.
"Ada pesan apa dari beliau, Om?"
"Oya, Non Wena hari ini diminta langsung ke Graha Santika, untuk mendampingi Tuan menghadiri acara mukernas pengusaha besar. Tuan sudah berangkat dulu kesana."
"Silahkan Bapak duduk dulu. Saya mau pamit sama Ibu di dalam."
Wena kemudian bergegas masuk ke dalam. Di dalam Wigati masih tetap duduk di depan meja makan, tempat mereka ngobrol tadi.
"Gimana, Bu. Tuan menyuruh aku ke Graha Santika katanya untuk mendampingi Tuan mengikuti mukernas pengusaha besar."
__ADS_1
"Ya, sana berangkat. Semoga lancar tugas kamu hari ini," kata Wigati dengan suara berat. Tapi batinnya berbisik senang....
Bersambung