Rahim Yang Dikontrak

Rahim Yang Dikontrak
BAB 13. "APA LANGKAHMU KAWAN"


__ADS_3

Dermawan mengejar Wena hanya berani sampai di ambang pintu tempat acara. Lalu ia biarkan Wena duduk kembali di samping lelaki gendut berjas abu-abu tua.


"Oh, itu yang namanya Densbosco," gumam Dermawan lalu kembali lagi duduk di kursi semula.


"Lu lama banget sih buang air kecil?" tanya Simon.


"Saya baru ketemu dengan sekretaris Densbosco yang kamu ceritakan itu," jawab Dermawan apa adanya.


"Welaah..., rupanya lu tertarik juga sama sekretaris cantik itu. Tapi telat Densbosco pasti sudah banyak mengeluarkan uang agar gadis itu mau jadi istrinya."


"Siapa bilang. Emang gadis itu mau menikah dengan bandot tua itu."


"Ya tidak tahu. Tapi tadi dia sempat bilang kalau dia memang sekretaris Densbosco. Sedangkan untuk menjadi istrinya ia serahkan kepada Yang Maha Kuasa."


"Berarti dia belum mau sepenuhnya dong?"


"Ya, mungkin. Siapa sih yang tidak kenal Densbosco. Entah sudah berapa kali gadis yang menjadi korban cintanya yang liar itu."


"Kasihan Wena...," gumam Dermawan.


"'Apa lu bilang? Kasihan? Tumben lu peduli sama wanita. Aku kira lu tidak doyan wanita," Simon meledek.


"Usiaku kan sudah pantas memiliki istri. Masa tidak boleh kalau naksir wanita," jawab Dermawan taktis.


"Tapi kalo wanita yang lu taksir itu Wena, susah tidak gampang untuk direalisir. Cari yang lainnya saja."


"Tidak saya harus mendapatkan Wena lagi."


"'Mendapatkan Wena lagi? Memang lu pernah dekat dengan Wena, Wan?"


"Oh! Maaf! Saya salah ucap." Dermawan menyadari kalau Simon tidak tahu kalau Wena pernah jadi pacarnya.


"Baru naksir saja sudah berlepotan bicaranya. Apalagi kalau sudah jadi milikmu. Bisa putus jantungmu."


"Kok doamu jelek gitu sih, Mon?"


"Bukannya saya tidak mendukungmu bila memang lu mau merebut Wena dari tangan Densbosco. Saya hanya mengingatkan kepadamu agar hati-hati dengan Densbosco. Dia itu disamping mudah jatuh cinta kepada wanita cantik, tapi mudah pula melukai orang yang mengganggu privacinya."


"Saya tidak takut, Mon."


"Welaaah.... Jadi lu bener nih mau merebut Wena dari Densbos itu!"


"Sesst...! Jangan keras-keras lu bicaranya!"

__ADS_1


"Sori.... sori, Wan! Saking seriusnya saya jadi lupa."


Beberapa saat kemudian acara mukernas sampai pada season makan siang. Dermawan membatin ada kesempatan lagi menemui Wena. Maka dia cepat-cepat menuju ke sasana boga untuk pura-pura mengambil makanan.


Kebetulan sekali Wena hanya sendirian ke sasana boga. Sedangkan Densbosco terlihat masih tetap duduk di kursinya. Kelihatan ia sedang bicara serius dengan rekanan pengusaha.


"Mau apa lagi kau mendekatiku. Ada yang mau kau sampaikan lagi?" kata Wena pelan di sela-sela kerumunan orang yang sedang antre mengambil makanan.


"Aku masih mencintaimu, Wen. Aku ingin kau kembali kepadaku," ucap Dermawan serius.


"Hati-hati kau bicara! Disini banyak orang-orang dia yang mengawasi aku!" jawab Wena dengan suara lirih.


Dermawan menoleh ke sekitarnya. Memang terlihat dua orang di kejauhan yang sedang mengamati gerak-gerak Wena.


"Katakan saja aku masih punya kesempatan atau tidak. Setelah ini aku akan pergi," kata Dermawan dengan suara pelan dan hati-hati.


Wena mengangguk pelan. Lalu Dermawan membisikan sesuatu sebelum pergi menjauhi Wena.


"Yo, Mon kita makan di luar saja. Aku yang traktir," kata Dermawan sambil menggamit temannya yang bernama Simon itu.


"Urusan lu gimana dah selesai belum?"


"Nanti aku ceritakan. Kamu ikut aku apa pakai mobil sendiri?"


"Mobil sendiri."


Dalam perjalanan menuju kafe yang ia tuju, otak Dermawan berputar menyusun sebuah rencana. Pokoknya Wena harus ia bebaskan dari cengkeraman Densbosko. Sangat jelas sekali raut wajah Wena tadi membutuhkan sekali bantuan. Walaupun tidak terucapkan gadis itu nampak tidak menyukai Densbosco. Seperti ada yang memaksa dia kini bersama bandot tua itu.


Dermawan kemudian mengingat kembali persoalan yang mendera keluarga Wena sebelum dia pergi ke luar negeri. Persoalan terlilit hutang yang jumlahnya sangat besar. Perkiraan Dermawan mungkin yang melunasi hutang saat itu adalah Densbosco.


Menyesal Dermawan kenapa dulu tidak langsung mentransfer uang untuk pelunasan hutang keluarga Wena. Padahal tabungannya waktu itu sangat cukup bila dikeluarkan untuk membantu Wena yang tidak seberapa itu.


Cuiiiiiiiiiith brek!!


Dermawan telat mengerem ketika mobilnya mau parkir di halaman sebuah restoran. Sehingga moncong mobilnya menabrak bokong mobil di depannya.


Seorang wanita dengan dandanan mewah keluar dari mobil yang ditabrak Dermawan. Setelah melihat bodi mobilnya di bagian belakang penyok, wanita itu kelihatan emosional memandang ke arah Dermawan yang masih di depan stir.


"Gawat!" ucapnya seraya membuka pintu dan keluar mendekati wanita itu.


Namun ajaib. Setelah memandang wajah Dermawan raut muka wanita itu berubah yang tadinya mara-marah mendadak nampak manis.


"Maaf, Nyonya. Saya yang salah. Saya bertanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan mobil Nyonya," kata Dermawan gugup.

__ADS_1


"Gimana sih, Mas. Hati-hati dong kalau nyetir."


"Namanya saja sedang kurang konsentrasi, jadi nabrak deh. Tapi Nyonya jangan kuatir mobil ini nanti akan jadi pulih seperti sediakala. Saya punya bengkel ketok magic yang sangat piawai."


"Sudah..., sudah tidak apa-apa kok. Nanti akan saya perbaiki sendiri."


"Jangan Nyonya. Saya yang bersalah maka sayalah yang harus memperbaiki," ucap Dermawan serius.


"Tapi aku buru-buru mau ada keperluan lain. Bagaimana?"


"Aduh bagaimana, ya. Ya sudah ini saya kasih nomor hape saya. Kalau keperluan Nyonya sudah selesai nanti bisa telpon saya," kata Dermawan sambil memberikan nomor hapenya.


Setelah itu wanita berwajah bersih mengkilap itu pergi dengan mobilnya meninggalkan dermawan.


"Ada urusan apa dengan wanita tadi," tanya Simon yang baru datang menyusul Dermawan.


"Mobilnya saya tabrak sampai bemper belakang penyok. Padahal mobil mewah. Bisa tidak cukup lima juta tuh untuk memperbaikinya."


"Aku pernah lihat wanita itu, kalau tidak salah istrinya Densbosco."


"Hah! Jangan ngawur kamu, Mon!"


"Ya, saya ingat karena saya pernah bertemu dia masih bersama Densbosco. Mujur sekali nasibmu hari ini. Tadi bertemu dengan calon istri mudanya, sekarang bertemu dengan istri tuanya."


"Brengsek! Mujur bagaimana..., ya sudah kita masuk saja ke dalam. Dah lapar!."


Setelah duduk di kursi restoran dan memesan makanan, Simon mengulang lagi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Dermawan mengenai Wena.


"Jangan kaget ya.... Wena Ayu Eriyan itu dulu pacarku, Mon. Dia jatuh ke tangan Densbosco karena kesalahanku juga. Kenapa waktu itu meninggalkannya ke luar negeri ketika keluarganya sedang menghadapi masalah besar," terang Dermawan dengan nada sedih.


"Masalah besar apa, Wan?"


"Hutang piutang. Ayah Wena yang sudah meninggal punya hutang lima ratus juta yang tidak mungkin terbayarkan karena kondisi keluarganya yang saat itu kurang mampu."


"Duh! Lu kebangetan, Wan. Kenapa tidak kau bantu katanya Wena itu pacarmu."


"Saya waktu itu sudah mau bantu, tapi mendadak Papaku menugasi aku pergi ke luar negeri. Sehingga aku tak punya kesempatan lagi bertemu sampai dua minggu. Akhirnya yang melunasi hutang itu Densbosco dengan imbalan Wena."


"Terus apa langkahmu kawan untuk mengambil lagi Wena dari tangan Densbosco. Jangan telat kamu bergerak karena mungkin tidak lama lagi mereka melangsungkan pernikahan."


"Itulah yang sedang aku pikirkan. Tapi nantilah membahasnya kita makan dulu. Sudah siap nih menu makanannya."


Dermawan dan Simon kemudian menyantap makanan siangnya dengan lahap....

__ADS_1


Bersambung


Halo gues, gimana nih sampai up ke-13 ini? Membosankan atau tidak kasih like, komen dll ya trims🙏


__ADS_2