
"Densbosco akan membawa Wena Ayu Eriyan Pergi ke Kuta Bali untuk melangsungkan pernikahan. Sekalian honimun disana selama dua bulan. Teman-teman pengusaha dan mitra bisnis sudah dikabari di sela-sela mengikuti mukernas di Graha Santika hari ini."
Bagai disambar geledek Dermawan mendengar berita itu dari Tante Mely.
"Begitu tadi dia menelpon mengabariku. Sudah jelas bahwa dia sudah tidak mendengarkan lagi saranku untuk tidak menikah lagi," kata Mely mengeluh.
Dermawan yang masih meredakan denyut jantungnya tak begitu mendengarkan Tante Mely bicara.
"'Hai, Mas! Kamu dengarkan tidak aku bicara!" seru wanita yang makin akrab bersama Dermawan itu.
"Tante harus cepat mencegahnya sekarang juga!" Saking gugup dan paniknya Dermawan tak sadar mengucapkan itu.
"Mengapa saya harus mencegahnya. Biarkan saja dia asyik dengan gadis sialan itu, kita asyik sendiri disini," Mely makin dekat duduknya ke Dermawan di cafe tempat mobilnya sedang diperbaiki itu.
"Menurut saya Tante nanti semakin jauh dengan suami. Pasti tidak hanya sebulan atau dua bulan dia di Bali. Bisa jadi selamanya karena asyik ada mainan baru. Sementara kehidupan bahagia di dalam keluarga yang Tante idam-idamkan semakin jauh tak akan kesampaian." Dermawan berusaha mempengaruhi pikiran Mely.
"Saya dan Densbosco sudah merencanakan pernikahan itu cuma kontrak rahim saja. Setelah gadis itu hamil dan melahirkan anak keturunan Densbosco, maka putus sudah hubungan mereka sebagai suami istri."
"Apakah Tante yakin gadis itu akan punya anak. Andaikan saja punya anak apakah gadis itu kelak mau memberikan anaknya. Lalu bayangkan bagaimana dengan Tante bila akhirnya gadis itu hidup bersama dalam keluarga Tante. Pasti gadis itulah yang akan paling disayang oleh Densbosco. Karena menghasilkan keturunan satu-satunya dari suami Tante."
"Oh iya ya. Benar juga analisamu, Mas. Aku kok tidak sampai berpikir kesitu," kata Mely menyanjung.
"Tante telah terkecoh oleh tipu daya suami. Bukankah dengan dua pernikahan yang sekarang suamimu tetap tidak bisa membuahkan seorang keturunan. Pernikahan kali ini akan sama seperti itu. Suami Tante hanya ingin senang-senang sendiri. Sementara Tante sebagai istri pertama yang harus memegang peranan dalam keluarga malah direpotkan oleh Madu Madu Tante yang mungkin akan terus bertambah dan bertambah sampai suami bosan menambah istri."
"Iiih ngeri sekali, Mas!" seru Mely membayangkan masa depannya.
"Sudah Tante jangan kelamaan merenung. Segeralah selamatkan keluarga Tante."
"Ya, aku mau mengikuti saranmu, Mas. Tapi Mas mau tidak mendampingiku terus. Aku masih membutuhkan sekali bimbingan dari Mas."
"Ok. Kalau begitu cepat sekarang Tante temui dia."
"Sabar dong, Mas. Saya masih betah duduk disini begini...." Dengan tanpa malu-malu Meli makin merapat dan menggamit lengan Dermawan.
"Nanti keburu mereka berangkat ke bali?"
"Tenang..., tidak akan terlambat. Rencana mereka akan berangkat ke Bali besok. Bukan sekarang kok." Mely melendot ke badan pria yang mendadak membuatnya jatuh hati itu.
"Kamu tidak malu dilihat orang-orang itu. Lagian perbaikan mobil Tante kan sudah selesai."
__ADS_1
"Oya sampai lupa. Habis kamu tampan sekali, Mas." Meli membetot hidung Dermawan sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Saya yang bayar, Tante. Kerusakan mobil tante kan yang menabrak saya. Aturannya saya yang harus mengganti semua kerugiannya."
"Sudah tidak ada aturan itu lagi sekarang. Kau simpan saja credit card milikmu."
Setelah urusan pembayaran selesai, mereka kemudian sepakat untuk bertemu di sebuah tempat yang tersembunyi. Mely Aldina yang sangat menginginkan hal itu. Dalam hati ia ingin melampiaskan kekesalannya pada Densbosco dengan caranya sendiri.
Dermawan sulit menolak ajakan Tante. Tujuannya cuma mengambil hatinya. Agar mau menggagalkan Densbosco menikahi Wena. Walaupun hal itu sangat berat dengan mengorbankan perasaan cintanya kepada Wena Ayu Eriyan.
"Kamu hebat melakukannya, Mas...." suara Mely terdengar berat bercampur nafasnya yang masih ngos-ngosan.
Dermawan yang berbaring di sampingnya menghela nafas dalam-dalam sebelum bicara.
"Sungguh ini pengalamanku yang pertama...."
"Ya, ampun berarti kamu masih perjaka, Mas?"
"Tante juga masih terasa seperti gadis."
Tangan Mely yang berada di bawah selimut putih tebal bergerak mencubit pinggang Dermawan. Hingga tubuh Dermawan yang juga berada di bawah selimut menggelinjang geli.
"Jangan mengejek.... Katakan saja yang sejujurnya bagaimana rasanya."
"Iiiih..., kamu kok menggemaskan sekali," tangan Mely bergerak lagi tapi langsung ditangkap tangan Dermawan. Kemudian tangan mereka dibawah selimut saling menggenggam mesra.
"Mas...," suara Mely terdengar halus memanggil.
"Rasanya kok belum kenyang makan enak hanya sekali. Aku ingin makan lagi."
Dermawan ingin menolak karena ingatannya terus tertuju kepada Wena. Ingin segera ia menemuinya dan menjelaskan rencananya. Tetapi pengalaman pertama itu memang luar biasa. Masih ingin ia nikmati lagi.
Maka dibiarkan saja tangan lembut wanita itu bergerak merayap di area terlarang dengan masih tertutup selimut. Tak lama barang itupun naik kembali seperti tiang bendera.
"Mas, tenang saja aku akan memanjat pohon dan memetik buahnya," kata Mely sangat riang.
"Tante boleh bersenang-senang sepuasnya, tapi ingat jangan sampai lupa diri."
"Tidak, sayang. Sudah kamu tenang saja aku akan membawamu ke benua yang belum pernah kamu rasakan."
__ADS_1
"Pinter sekali Tante merayu....Tapi aduuuh....Tan-te....Oh! Su-dah....Ben-ben-nua....Indah sekali....Taaan...."
Dermawan mengigau tidak karuan. Kepala Mely masih tetap di bawah. Rakus sekali Mely bermain-main. Dermawan malu memandang ke bawah. Ia pejamkan matanya sampai Mely berhenti bermain-main.
Ketika Dermawan membuka mata, wajah Mely sudah berada di dekat wajahnya. Wajah yang sedang menyemburatkan hasratnya yang sangat tinggi. Terbukti bibir dan lidah Dermawan langsung dilumatnya berdecak-decak. Sampai tak bisa bernafas.
"Ooupss....Sud-ah Tante...."
"Diem....Aku sudah tak sabar pingin naik...."
"Kem-ana, Tan...."
"Diem...."
Dermawan baru tahu apa yang dimaksud ketika Tante Mely menduduki bagian bawah miliknya.
"Oooh...." mulutnya mendesis. Dermawan juga ketika merasakan tongkatnya masuk ke lubang ******.yang hangat sekali.
Siang di luar hotel mewah itu mendekati sore. Udara sangat panas menyengat di aspal jalan. Begitu juga di salah satu kamar hotel tersebut. Permainan mereka makin panas membara.
Lama Mely mendayung sampan dan naik turun dalam gelombang asmara. Wajah dan tubuhnya makin mengkilap oleh keringat.
"Hehhh cape, Mas...," suara Meli terdengar parau seraya ambruk ke dada Dermawan.
"Ya, sudah berhenti saja," kata Dermawan karena memang dia tidak ingin sampai ke puncak. Cukup untuk menyenangkan Tante Mely saja. Sehingga mau menghentikan Densbosco menikahi Wena Ayu Eriyan.
Tapi Mely lain lagi niatnya. Kesempatan yang langka itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengetes rahimnya. Sudah sering Densbosco menghinanya seperti sawah tandus. Tidak mungkin bisa dicangkul dan ditanami hingga tumbuh pohon dan pohon menghasilkan buah yang bagus.
Maka siang itu ia bermain penuh semangat. Setelah bilang cape dan ambruk ke dada Dermawan, semenit kemudian bangkit lagi dan melakukan permainan yang lebih seru.
Dermawan terpicu tak bisa tinggal diam diserbu Tante Mely yang menggebu-gebu. Ia balikan tubuh wanita itu dibawah. Lalu ganti dia yang mengayuh dan menusukan tongkatnya berkali-kali. Udara kamar seolah menguap bersatu dengan nafsu pria muda yang membara.
Dermawan susah juga sampai ke puncak, tapi Tante Mely terus mendorong gairah pasangannya dengan menggoyang dan menjepitnya. Hingga menit berikutnya Dermawan tidak tahan lagi melepas tembakannya beberapa kali. Lalu ia roboh mencium bantal.
Sedangkan Mely merasakan peluru panas itu menembus sampai ulu hatinya. Tubuhnya lunglai, bersandar di dada Darmawan. Kedua mata mereka saling menatap menerawang.
"Kamu baik sekali hari ini, Mas," kata batin Mely.
"Aku beruntung sudah Tante beri pengalaman pertama yang sangat nikmat ini," kata batin Dermawan.
__ADS_1
"Aku puas telah membalas sakit hatiku kepada Densbosco. Setelah ini aku harus batalkan pernikahannya. Tidak ada istrinya yang menghasilkan keturunan kecuali aku," batin Mely senang.
Bersambung