
"Halo sayang, ada dimana kamu," sapa Tante Mely manja di dalam telepon.
Dermawan sedang kecewa dengan wanita itu yang membiarkan Wena dan ibunya diboyong Densbosco ke Bali. Tapi dia tidak mau menunjukan sikap kecewanya. Ia tutupi perasaannya itu dengan pura-pura riang.
"Saya sedang di jalan ada apa Tante?"
"Kebetulan saya juga sedang di jalan. Saya butuh bantuan sekarang."
"Ada apa lagi sih Tante?"
"Mobilku macet. Entah kenapa aku tidak tahu. Mungkin pengaruh dari kau tabrak tadi siang. Padahal aku harus ke Bali sekarang juga."
"Tante mau ke Bali malam-malam gini, emang ada apa Tante?," tanya Dermawan pura-pura tidak tahu.
"Kamu itu pelupa. Densbosco membawa gadis itu ke Bali karena mau menikah disana. Ternyata dia lebih cepat bergerak, Mas."
"Tante sih tadi siang saya suruh segera pulang, malah ngajak begituan."
"Iiiih..., kok malah ngajak ngobrol sih, Mas. Tante buru-buru nih!"
"Aduuh..., gimana ya..., aku perlu pamit sama Papa dan Mama tidak?."
"Kamu itu seperti anak kecil pake pamit segala. Sudah berangkat saja sekarang."
Dermawan ingat Papa tadi sudah menyerahkan sepenuhnya persoalan itu diselesaikan sendiri. Bila tidak berhasil maka dia harus menikah dengan relasi Papa. "Gawat nih kalau aku tidak bisa menyelamatkan Wena, bisa kawin sama relasi Papa yang mestinya lebih tua dariku," pikir Dermawan.
"Ok, deh. Tante ada dimana sekarang?"
"Saya ada di pintu tol keluar Jakarta. Kamu susul saja kesini. Nanti kita ke Bali pakai mobil kamu."
🌹🌹🌹
Seperti tahanan wanita Wigati dan Wena, di pagi yang masih buta itu langsung dimasukan ke sebuah kamar hotel oleh dua orang anak buah Densbosco setelah tiba di Bali.
Ibu dan anak itu bergandengan tangan sangat erat tidak mau dipisahkan, terutama Wena. Ia nampak takut sekali dengan suasana yang sangat mencekam itu.
Sejak pulang dari mukernas siang kemarin Densbosco sudah ''mengikat'' Wena tidak boleh pulang sendiri dengan sopir kantor. Kemudian menyuruhnya masuk ke mobilnya besar dengan interior mewah itu. Tentu saja Wena kikuk tak mau masuk. Kemudian tangan besar dan kuat itu menariknya masuk ke falam mobil.
__ADS_1
"Siapa lelaki yang tadi ngobrol denganmu di luar," tanya Densbosco langsung setelah Wena duduk di sampingnya.
Gadis itu bertambah takut karena memang ketika berada di luar selepas buang air kecil bertemu dengan Dermawan. Kaki tangan Densbosco yang terus mengawasi mungkin melihat pemandangan yang mencurigakan pada diri Wena bersama seorang pria muda.
"Saya tidak tahu siapa dia, Tuan. Saya tidak kenal," Wena menjawab gemetar menutupi kejadian sebenarnya.
"Jangan bohong kamu. Mataku melihat kamu lama ngobrol dengannya di depan toilet. Kamu pasti kenal dengan pria itu!" Densbosco menggertak.
"Tuan pasti menerima laporan yang salah, saya tidak ngobrol dengannya. Dia cuma tanya dimana letak toilet pria. Mungkin peserta mukernas dari luar kota. Sehingga tidak tahu."
"Aku tahu kau pasti punya pacar sebelum denganku. Apakah dia pacarmu?"
"Bukan Tuan, Sungguh! Aku tidak pernah lagi melihatnya setelah Tuan melamarku."
"Aku tidak percaya. Walaupun kamu tidak pernah melihatnya pacarmu itu sekarang pasti sedang berusaha bertemu denganmu!"
"Tapi benar dia bukan pacarku, Tuan."
"Jangan coba sembunyi-sembunyi kamu bertemu dengan pacarmu. Karena sudah kusebar orang untuk mengawasi gerak-gerikmu."
"Sekarang kita pulang ke rumahmu. Besok kita langsungkan saja pernikahan. Keadaan dirimu sudah sangat berbahaya kalau kita tidak segera menikah."
"Tapi Tuan bukankah sesuai perjanjian kita akan menikah sebulan lagi. Kenapa besok. Saya dan Ibu kan belum ada persiapan apa-apa."
"Tidak usah kau mengulur-ulur waktu lagi. Sekarang kamu pulang dan bersiap-siap. Sudah saya suruh lima orang ke rumahmu membawa semua yang akan kau butuhkan. Nanti sore kamu dan ibumu berangkat didampingi empat orang. Salah satu dari mereka yang akan menunggui rumahmu!" Desbosko bicara seperti memberi tugas kepada karyawannya.
Wena tidak tahu akan dibawa kemana bersama ibunya. Tapi apakah penting bertanya kemana dirinya dan ibunya akan dibawa? Karena kemana pun tujuannya, tetap saja akan menikah dengan densbosco.
Maka seperti seorang pesakitan, sore itu Wena dan ibunya dijemput lima orang laki-laki berbadan kekar kemudian dinaikan ke dalam mobil MPV warna putih.
"Kami suruhannya Tuan Densbosco. Nona dan Nyonya diharap ikut kami sore ini ke Bali. Katanya besok akan dilaksanakan akad nikah," kata salah seorang dari mereka.
Setelah Wena dan Wigati masuk ke dalam kamar hotel, dua orang anak buah Densbosco keluar. Terdengar pintu dikunci dari luar. Suara kunci pintu itu terasa mengiris hati Wena.
Wigati dan Wena tak melakukan apa-apa sejak masuk ke kamar dan duduk di kursi masing-masing.
Padahal tidak hanya air miniral yang ada di atas meja, tapi ada juga aneka makanan dan minuman. Dilihat rupa dan bentuknya juga enak. Tapi kedua wanita itu tak berminat untuk mencicipi.
__ADS_1
"Ibu tidak membayangkan kalau jadinya seperti ini pernikahanmu, Nduk. Ibu menyesal tapi juga bingung untuk menolak karena sudah tandatangan di dalam naskah perjanjian itu."
Wena diam menunduk. Malas mendengarkan ibunya bicara.
"Bayanganku setelah Densbosco melamarmu akan ada persiapan upacara pernikahan di rumah kita sendiri. Seperti umumnya orang mantu. Menyebar undangan untuk kerabat, tetangga dan kawan yang akan menghadiri resepsi pernikahan. Serta persiapan lainnya. Ternyata apa yang terjadi sekarang kita kok seperti tahanan yang dikurung menunggu perintah."
Wena mendongak menatap ibunya dengan perasaan sangat sedih.
"Tuan Densbosco sudah keluar uang banyak untuk acara ini. Ibu mestinya berterimakasih anaknya laku dengan harga yang sangat tinggi," kata Wena. Suaranya terdengar berat.
"Apakah kamu sudah ikhlas, Nduk?" tanya Wigati.
Wena tidak mungkin akan ikhlas menyerahkan tubuhnya kepada lelaki yang sudah ubanan dan punya dua istri itu. Apalagi jika mengingat ibunya ternyata mantan pacar Densbosco waktu remaja dulu.
"Misalkan aku tidak ikhlas apakah aku bisa bebas keluar mengucapkan selamat tinggal kepada persoalan yang sangat menyakitkan ini. Kita sama-sama kecewa dengan semua ini, Bu."
CEKLIK..., KREEIT
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul lelaki tinggi besar memakai jaket kulit dan topi koboi. Senyumnya mengembang lebar menunjukan giginya yang agak coklat karena sering menghisap serutu.
"Lho.... Kalian kok cuma duduk melamun begitu. Ini makanan dan minuman beneran bukan mainan. Kenapa tidak kalian makan." kata si miliader dengan suara baritonnya.
Wigati yang biasanya santai di hadapan Densbosco kali ini kelihatan kaku dan malas bicara.
"Apakah kalian tidak cocok dengan makanan seperti ini. Nanti saya ganti," kata Densbosco lagi.
"Tidak kok, Os. Kami cuma bingung dengan hotel yang megah ini. Baru kali ini saya merasakannya," kata Wigati mengalihkan pembicaraan.
"Oya saya ingat..., dulu kan belum ada hotel yang bagus seperti ini. Paling cuma hotel melati yang penting masih bisa untuk pacaran," ujar Densbosco tanpa merasa risih.
Sementara Wigati sangat malu mendengar celotehan Densbosco yang tidak mengenal tempat itu. Benar-benar urat malunya telah putus. Apakah tidak melihat ada Wena di depannya.
Kalaupun tak punya rasa malu apakah tidak kasihan kepada Wena. Tapi gadis itu nampak tak mendengarkan mereka bicara. Kepalanya menunduk berat. Jijik untuk memandang calon suaminya yang sangat rakus pada perempuan itu....
Bersambung
Halo gaes apa kabar, tinggalkan like dan komen setelah membaca ya....??
__ADS_1