Rahim Yang Dikontrak

Rahim Yang Dikontrak
BAB 9. HUKUMAN ISTRI PERTAMA


__ADS_3

Hampir satu jam Wena berdiri tapi Tuan Densbosco belum juga datang. Kaki rasanya ngilu ingin duduk. Keringat berleleran dari kening dan leher.


Sementara istri Tuan Densbosco tenang-tenang saja menghukum Wena sambil duduk dan bermain gaget dengan santainya.


"Nyonya mohon ijin saya mau duduk, sudah tidak kuat lagi berdiri," Wena melangkah ke sofa dan duduk disana dengan tidak mempedulikan Nyonya Densbosco mengijinkan atau tidak.


"Hai! Siapa yang menyuruh kamu duduk!" teriak wanita berwajah mengkilap itu.


"Maaf Nyonya saya salah apa sampai Nyonya menghukum saya berdiri hampir satu jam?" tanya Wena sambil memijit-mijit kakinya sendiri.


Wanita itu bangkit dari meja besar yang merupakan meja kerja Tuan Densbosco, lalu menghampiri Wena yang sudah duduk di sofa.


"Salah apa kamu bilang? Apa kamu tidak merasa telah berbuat kesalahan," ucapnya seraya duduk di depan Wena dengan mata mendelik.


Wena tahu apa yang dimaksud perempuan itu. Tapi tidak tepat kalau dirinya dikatakan bersalah. Wena malah menjadi korban kepentingan kedua belah pihak.


"Kalau Nyonya pingin tahu tanyakan saja kepada Tuan. Saya ini punya salah apa?"


"Tidak usah tanya Tuan. Karena saya sudah tahu dari para karyawan disini bila kamu itu suka mengganggu suami orang. Kecil-kecil kok sudah menjadi pelakor bagaimana nanti kalau sudah dewasa."


"Ya, Tuhan.... Saya bukan wanita seperti itu Nyonya," Wena membela diri dituduh yang tidak semestinya.


"Jangan dikira bahwa aku tidak tahu sepak terjangmu. Pantas saja Tuan Densbosco jadi tergila-gila kepadamu."


"Fitnah! itu fitnah, Nyonya. Saya tidak pernah menggoda Tuan. Justru tuanlah yang berusaha mendekati saya. Nyonya salah menafsirkan omongan mereka."


"Dikira saya tidak tahu siapa kamu. Kamu masih saja mengelak tidak mau mengakui kelakuanmu yang buruk itu. Dasar anak dan ibu sama saja."


Wena tentu saja tidak terima dikatakan punya kelakuan buruk menggoda Tuan sama dengan ibunya. Tapi walaupun tuduhan itu tidak benar, dan menyakitkan, Wena tidak bisa membela diri. Dia tidak punya kekuatan untuk melawan orang besar seperti Nyonya Densbosco.


"Hukumlah saya kalau bersalah, Nyonya. Tapi saya mohon jangan kaitkan dengan ibuku. Dia tidak tahu apa-apa dalam masalah ini."


"Jangan banyak omong kamu. Tanyakan sendiri pada diri kamu dan ibumu. Dasar pekerjaan kalian itu cuma mengganggu rumah tangga orang. Dari dulu sampai sekarang masih saja dilakukan."


Perkataan istri Tuan Densbosco makin membakar hati Wena. Rasanya pingin sekali membalas apa yang telah dilakukan kepadanya.


Akhirnya Wena memilih diam ketika perempuan itu terus ngomel menyalahkan dirinya dan ibunya bergantian. Sampai kemudian Tuan Densbosco datang dengan menutup pintu tak kira-kira kerasnya.


BRAKDHEERR!!

__ADS_1


Perempuan yang sedang ngomel itu langsung ceb berhenti. Lalu mendekati suaminya yang baru datang itu dengan manjanya, mengelap jasnya dengan kibasan tangan, dan membetulkan letak dasinya.


"Papah kok datang terlambat ke kantor?" tanya istrinya itu.


Tuan Densbosco tak menjawab pertanyaan itu. Pandangan matanya tertuju ke arah Wena yang sedang duduk menunduk dengan sedih.


"Kenapa Mama memanggil Wena tanpa menunggu Papa datang. Mama sudah tidak sabar pingin kenalan sama Wena ya?" tanya lelaki bertubuh besar itu kepada istrinya.


"Iya, Pah. Cantik juga pilihan Papah. Tapi sayang Papah tidak melihat bebet bobotnya," jawab istrinya setengah kecewa.


Mendengar itu dada Wena terasa sesak. Kedua sudut matanya mengembang basah.


"Apa itu.... Bebet bobot.... Saya tidak tahu?" tanya lelaki yang berasal bukan dari keturunan orang Jawa itu.


"Itu lho Pah..., darimana dia berasal, keturunan siapa, kondisi keluarganya bagaimana," kata istri Tuan Densbosko menjelaskan.


"Oh, soal itu. Sudah kok tidak ada masalah. Jelasnya Wena itu keturunan orang baik-baik, sekolahnya lulus sarjana, pergaulannya tidak seperti anak-anak jaman sekarang, dan yang penting tidak terlibat penggunaan narkoba." Tuan Densbosco menjelaskan tentang gadis yang akan dinikahinya itu dengan mantap.


perasaan Wena makin nelangsa mendengar pembicaraan pasangan suami istri yang sedang mengupas jati dirinya itu. Seolah dirinya adalah barang yang sedang ditawar dan diteliti keberadaannya, cacat atau tidak, sebelum dibeli.


"Bebet bobot itu penting, Pah. Karena Papah kan nantinya ingin mendapatkan keturunan yang baik. Kalau induknya memiliki bibit yang tidak baik. Bagaimana bisa menghasilkan anak yang baik pula."


Oh! Tuhan. Lakon apa yang sedang kau jatuhkan kepadaku ini, rintih batin Wena.


"Ya begitulah yang aku dengar dari beberapa informan Mama di kantor ini."


"Apa kata mereka tentang Wena?"


"Kata mereka Wena itu sering mengganggu suami orang, termasuk Papah. Di kantor kegiatannya cuma ngobrol saja dengan teman-temannya."


"Itu tidak benar, Mah. Mereka menghembuskan isu seperti itu karena tidak suka atau iri kepada Wena. Realitanya Wena itu karyawati yang rajin. Tidak pernah mbolos kerja. Datangnya tepat waktu tidak pernah telat. Sedang kinerjanya tergolong bagus. Gradenya di atas rata-rata karyawan lainnya."


"Papah yakin dengan data dirinya seperti itu?"


"Ya yakin."


"Tapi dia anak Wigati. Papah ingat bagaimana dulu dia hampir merusak keutuhan keluarga kita?"


"Sudahlah tidak perlu membicarakan soal itu lagi. Tidak enak ada Wena disini kita membicarakan tentang jati dirinya dan keluarganya," kata Tuan Densbosco menghentikan pembicaraan yang memang menyakitkan berlangsung di depan mata.

__ADS_1


"Mah, dari tadi Wena kau suruh duduk saja begitu tanpa kau beri minuman?"


"Oh iya, Pah.... Maaf ya, sayang," ucap istrinya pura-pura kasihan dengan membelai Wena.


Wanita yang belum dikenalkan namanya oleh Tuan Densbosko itu lalu beranjak dari kursinya untuk membuatkan minuman untuk Wena.


"Maaf, Tuan. Kalau sudah tidak diperlukan lagi saya mau kembali ke kantor saja."


"Sebentar Wena.... Santai-santai dulu disini. Saya masih ingin memandang wajahmu yang cantik alami ini."


"Saya malu pada Nyonya, Tuan."


"Oya. Saya belum mengenalkan padamu istri saya, ya. Dia itu bernama Mely Aldina, istri saya yang pertama. Sedang satu lagi masih ada di luar negeri namanya Queen Santana."


"Terimakasih sudah dikenalkan sama istri-istri Tuan," ucap Wena lemah.


"Kelihatannya kamu kelelahan, diapakan kamu tadi oleh Mely sebelum aku datang?" tanya Tuan Densbosco sambil meneliti wajah, tangan dan kaki Wena.


Wena mau ceritakan bahwa dia sudah dihukum berdiri hampir satu jam dengan tanpa diberi waktu untuk istirahat, jongkok atau minum. Tapi keburu wanita yang bernama Mely itu datang membawakan segelas teh manis.


"Mama membuatkan minuman apa kepada Wena?"


"Teh manis, Pah."


"Cuma teh manis? Sudah kau suruh duduk lama disini cuma kau buatkan teh manis?"


"Ini bukan cafe tapi kantor, Pah. Masih beruntung ada teh manis. Kantor lainnya malah cuma air putih dari galon."


"Besok lagi buatkan minuman yang lebih baik untuk Wena. Termasuk makanan dan asupan tambahan seperti vitamin. Pokoknya Papah ingin tubuhnya sehat dan segar. Agar rahimnya ikut sehat."


"Ya nanti kalau di rumah, Pah. Ini kan di kantor. Yang ada cuma buku-buku dan kertas. Mau saya beri makan kertas en buku?" Kata Mely sinis.


"Ok kalau begitu kita keluar saja cari minuman dan makanan yang sehat untuk Wena."


"Oh, tidak usah Tuan. Merepotkan Tuan sama Nyonya saja."


"Tidak apa-apa. Sekaligus merayakan perkenalanmu dengan Mely. Lain kali Saya merencanakan kita bertiga bertemu lagi secara khusus. Agar bisa akrab satu sama lain sebelum pernikahan."


"Ya, Tuan" jawab Wena.

__ADS_1


Sedang Mely terlihat cuma tersenyum kecil. Seperti tidak suka dengan rencana suaminya itu. Ada apa sebenarnya dengan dia....


Bersambung


__ADS_2