
"Wena contohlah ibumu ini. Dia wanita yang hebat mau menerima apa adanya dalam mengarungi kehidupan ini. Serta tidak malu mengakui kekurangannya di masa lalu," kata Densbosco ditunjukan kepada Wena.
Wena yang menunduk sejak Densbosco datang, mendengar kata-kata itu kepalanya langsung menengadah. Namun pandangannya tidak langsung ke depan kepada Tuan Densbosco. Tetapi serong ke kiri ke arah jendela kamar.
"Sekarang saya mau bertanya kepadamu apakah kamu masih berat menerima diriku. Saya mau menikahimu bukan karena kebetulan saja telah menolong keluargamu, tapi aku benar-benar jatuh cinta kepadamu," kata Densbosco setengah merayu.
Wena masih tetap memandang jendela kamar. Wigati kemudian punya inisiatip yang bicara untuk menanggapi Densbosco.
"Mungkin Wena malu bicara, Os. Karena masih ada aku. Kalau begitu aku keluar saja agar kalian bebas bicara."
"Jangan! Ibu tetap saja disini!" seru Wena. Wigati yang sudah berjalan menuju ke pintu akhirnya berhenti.
"Kamar ini sebenarnya bukan kamar pengantin, Wen. Ini kamar ibumu. Sedangkan kamar pengantin, kamarmu, ada di sebelah kamar ini."
"Tidak saya tinggal bersama Ibu saja di kamar ini!" seru Wena.
"Sudah tidak lucu lagi kamu bersikap seperti itu, Wen. Kamu itu sudah bukan anak-anak lagi. Masa dengan Tuan Densbosco seperti melihat orang asing saja. Bukankah kamu sudah satu ruangan di kantor. Berarti sudah sering bertemu." kata Wigati menasihati.
"Tidak saya tetap disini bersama Ibu." tegas Wena.
"Kamu itu mbok jangan membuat malu ibumu sih, Nduk!" seru Wigati.
"Sudah..., sudah! Tidak apa-apa kalian disini. Saya kesini tadi cuma mau memberi tahu sebentar lagi perias pengantin datang. Sedangkan akad nikah akan dimulai siang nanti. Kalian siap-siap saja," kata Tuan Densbosco.
"Apakah tidak bisa diundur nanti malam saja acaranya. Kami belum istirahat sejak datang tadi," usul Wena mengejutkan Densbosco dan Wigati.
"Maaf, sayang. Jadwalnya sudah disinkronkan dengan kegiatan penghulu. Kita tidak bisa merubah-rubah jam lagi."
"Terserah kamu saja, Os. Kami mengikuti," ujar Wigati seraya keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali dengan rapat.
Wena terpana tak bisa mencegahnya ketika melihat ibunya tiba- tiba keluar.
Densbosko tahu kalau gadis yang sebentar lagi akan ia nikahi itu belum seratus persen menerima dirinya. Makanya selalu saja beralasan yang tidak-tidak yang intinya tidak ingin akad nikah itu berlangsung.
Namun hal itu justru memancing hasrat Densbosco naik ke ubun-ubun. Ia sangat suka wajah-wajah takut dari seorang gadis yang pertama kali akan ia gauli. Wajah yang menyemburatkan semerbak bunga sedang mekar-mekarnya.
Lelaki itu menyeringai sebentar sebelum bicara.
__ADS_1
"Sayang.... Pandanglah kesini. Aku mau bicara."
Menghadapi Densbosco saat bekerja di kantor bagi Wena sudah biasa. Tapi berhadapan dengan lelaki itu sekarang di sebuah kamar hotel sungguh menakutkan. Seperti berhadapan dengan monster yang siap memakannya mentah-mentah.
Leher Wena terasa kaku untuk ia gerakan memutar dan berhenti tepat menghadap Densbosco.
"Sebenarnya tidak masalah kalau kamu minta akad nikah diadakan nanti malam. Ide yang bagus itu, sayang. Kita bisa bersantai bersama lebih dulu disini."
Wena punya maksud tersembunyi minta akad ditunda nanti malam. Tapi bukan untuk itu. Bukan untuk bersantai dengan Densbosco di kamar berduaan. Sehingga ketika lelaki itu merangsek maju ke tubuhnya Wena mundur beberapa inci.
"Kenapa kok menjauh sayang. Usulanmu aku kabulkan. Gampang nanti pihak-pihak yang terlibat saya kabari. Mari mendekat kesini kita santai-santai dulu."
"Jangan, Tuan..., kita belum syah bersentuhan...."
"Aku sudah tidak sabar ingin memandang wajahmu itu dari dekat. Ayolah duduk di pangkuanku sini."
Wena menggeser duduknya lagi. Tapi Densbosco berhasil menangkap tangan Wena. Tangan kecil yang bersih mengkilap itu ditariknya perlahan mendekat. Wena tak berani memberontak karena takut. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya.
"Tengok sini wajahmu cantik sekali," Densbosco menyentuh dagunya. Lalu mencium pipi Wena dengan pelan.
Tubuh Wena langsung gemetar tidak karuan. Ia mendorong dada Densbosco dengan sekuat tenaga. Tetapi selanjutnya seluruh persendiannya malah lemas ketika Densbosco ganti menyentuh dadanya dengan tangannya yang kekar itu.
"Ja-ja-ngan...! Tu- tuan....!"
Wow....! Mata Densbosco melebar melihat gunung kembar Wena yang seperti mangga matang. Seketika darah gairah itu mendidih. Lalu sambil meremas gunung kembar itu Densbosco ******* bibir Wena dengan rakusnya.
Wena tak mampu lagi berkutik. Ingin mendorong tubuh Densbosco agar menghentikan serbuannya sudah tidak kuat. Dia hanya bisa mengatupkan bibirnya dengan rapat. Tapi lelaki yang sudah dirasuki nafsu itu malah beralih menyerbu gunung kembar dengan bibirnya.
"Tu-tu-aan...! Ja-ngan!"
Perasaan Wena sudah tidak karuan ketika di bagian terlarang itu terasa ada hisapan yang tersendat-sendat. Tapi detik berikutnya Densbosco berhenti mendadak.
"Aku cuma ingin membangkitkan gairahmu saja. Permainan sesungguhnya nanti malam kalau kita sudah melaksanakan ijab kabul.
Setelah berkata begitu Densbosco pergi meninggalkan Wena yang sedang mengancingkan bajunya kembali dengan perasaan sedih.
Tapi kemudian perasaan sedihnya itu hilang seketika saat menyadari kini sendirian di dalam kamar.
__ADS_1
"Ini kesempatanku lari dari kamar terkutuk ini!" gumamnya.
Tapi belum sempat dia keluar, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuk dengan tergopoh-gopoh seorang wanita yang sangat mengejutkan Wena.
"Nyonya Mely!"
"Kamu heran saya menemuimu?" tanya Nyonya Mely yang kelihatan ngos-ngosan seperti baru lari.
Wena heran sekali melihat istri pertama Densbosco itu hadir. Memang Densbosco mengatakan istrinya itu sudah merestui. Tapi sebagai sesama wanita, Wena tak yakin seorang istri mau merestui suaminya menikah lagi.
"Saya cuma mau ngasih tahu kepada kamu supaya nanti tidak kecewa menikah dengan suamiku. Bahwa suamiku menikahi kamu karena membutuhkan rahimu saja. Setelah kamu melahirkan seorang bayi, maka selesai sudah ikatan perkawinan itu."
"Nyonya pernah mengatakan pernikahanku dengan Tuan bukan pernikahan pada umumnya. Apakah yang dimaksudkan Nyonya seperti itu?"
"Ya! Tuan hanya mengontrak rahimmu saja."
"Kalau benar seperti itu tentu saya keberatan. Tapi misalkan saya jadi menikah dengan Tuan, apakah Nyonya merestui atau sebaliknya merasa tersaingi?"
"Tersaingi?!" seru Mely tersinggung."
"Ketahuilah, tidak ada yang bisa menyaingi Mely istri pertamanya. Karena kamu tidak akan punya anak seperti diriku. Karena dia mandul. Kamu hanya akan dijadikan boneka mainannya saja."
Wena terperanjat mendengar kekurangan dalam diri Tuan Densbosco itu.
"Lantas apa yang harus aku lakukan Nyonya?" tanya Wena gelisah.
"Kamu pergi saja sekarang. Tinggalkan tempat ini dan jangan lagi bertemu dengan suamiku."
"Ya, aku tidak mau menikah dengannya Nyonya." kata Wena seraya menjinjing tasnya yang sejak datang belum dibuka.
"Sebentar! Kamu ikuti saja aku. Di luar banyak penjagaan."
Nyonya Meli kemudian keluar dari kamar diikuti Wena.
Beberapa saat kemudian kamar yang sudah kosong tak berpenghuni itu gempar.
Tuan Densbosco marah besar telah kehilangan barang berharga yang bernama Wena Ayu Eriyan. Giginya yang coklat karena asap cerutu terdengar gemeretak. Kedua tangannya yang kekar mengepal seperti petinju yang mau bertarung.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali tangan yang kuat itu nenggedor meja dan pintu. Bahkan sudah memecahkan gelas dan piring makanan yang ada di meja....
Bersambung