
Pagi datang begitu cerahnya. Burung-burung pipit bermain dan bercuitan di atas jendela kantor. Mereka ada yang sampai menabrak kaca jendela dan terbang lagi berkejaran di udara.
Nandia heran pagi itu melihat Wena Ayu Erian datang dengan penampilan tak bersemangat. Teman lainnya yang satu ruangan juga bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sudah terjadi dalam waktu 2 x 24 jam yang lalu.
"Pagi ini seharusnya kamu tapil ceria seperti burung-burung pipit itu. Tapi kenapa kulihat wajahmu murung begitu, Wen?"
Nandia teman akrabnya dan hampir menjadi kakak iparnya itu membuka pembicaraan setelah mereka duduk di meja kerjanya masing-masing.
"Makin runyam urusannya, Nan. Saya baru tahu kalau Tuan Densbosco adalah mantan ibuku dulu."
"Hah! Masa iya, Wen? Hampir tidak masuk akal. Tapi ibumu memang cantik kok. Apalagi di masa mudanya dulu. Pantas kalau Tuan jatuh cinta padanya."
"Itulah yang membuatku ragu. Apakah tujuan Tuan menikahiku karena sungguh-sungguh menginginkan seorang anak atau keturunan dari rahimku. Atau jangan-jangan Aku cuma mau dijadikan untuk pelampiasan hawa nafsunya belaka."
"Terus terang sejak awal mendengar Tuan akan melamarmu, aku pun merasa sangsi, Wen. Karena sebenarnya kejadian Tuan mencintai karyawatinya tidak hanya terjadi sekarang ini saja. Tapi sudah sering kali."
"Apa iya, Nan. Aku kok baru dengar dari kamu. Dan kamu kenapa tidak memberitahu aku sejak awal?"
"Karena yang kutahu saat itu kamu sudah punya Dermawan. Maka aku kira tidak mungkin kau akan menerima lamaran itu."
"Dermawan brengsek. Tapi tak apalah. Oya, tadi kau katakan Tuan sering mencintai karyawatinya. Bagaimana itu kejadiannya?"
"Ya biasanya kalau dia sudah naksir seorang karyawati, lalu ia ajak pergi. Beberapa hari kemudian karyawati itu tidak lagi masuk kerja alias dikeluarkan."
"Kejam sekali!"
"Bukan Tuan yang saja yang kejam. Tapi dua istrinya itu juga sewenang-wenang. Karena kalau ada karyawati yang mulai dekat dengan Tuan kemudian mau diajak jalan bareng. Maka sudah pasti karyawati yang bersangkutan tidak akan tahan lama bekerja, karena langsung dibantai hidup-hidup sebelum dipecat."
"Mengerikan sekali!"
"Betul, Wen. Aku bukannya menakut-nakuti kamu. Seringnya memang seperti itu. Saya tidak perlu menyebutkan satu persatu karyawati yang mengalami nasib malang di tangan Tuan. "
Wena diam. Muncul bayangan menakutkan di atas kepalanya. Wujud Densbosco yang kata ibunya sebagai lelaki yang bertanggung jawab dan butuh bantuan untuk memiliki sebuah keturunan, tiba-tiba kini berubah menjadi machluk yang sangat menyeramkan.
"Tapi saya kira kalau kamu lain ceritanya, Wen. Sepertinya Tuan memang ingin menjadikanmu sebagai istri. Bukan barang mainan yang kalau sudah bosan dikembalikan lagi ke asalnya," kata Nandia kemudian setelah melihat Wena nampak murung dan bingung.
"Terimakasih atas infonya, Nan. Salahku sendiri selama ini cuma mendengarkan kata-kata ibuku saja. Sampai pada putusan yang dibuat kemarin, aku sebenarnya masih ragu menerima Tuan, karena sudah punya dua istri."
"Sudahlah tidak perlu kau sesali keputusan yang telah kau buat. Sekarang yang harus kau lakukan adalah mempersiapkan mentalmu sebaik mungkin dan berdoa jangan lupa. Semoga dua istrinya itu mudah diajak bicara baik-baik oleh Tuan dan tidak ada masalah."
__ADS_1
"Apakah aku akan mengalami nasib seperti karyawati lainnya itu, Nan?"
"Aku tidak tahu. Tapi perkiraanku bila dua istrinya itu tahu kamu sudah dilamar, tindakan yang mereka lakukan mungkin....ini mungkin saja tidak sekedar mengeluarkanmu bekerja disini. Tapi juga akan menggagalkan pernikahanmu dengan Tuan."
"Aduuh..., gimana aku kok jadi semakin was-was begini." Wena nampak gemetar.
"Sudahlah kamu bekerja saja baik-baik sekarang. Buang semua pikiran burukmu."
"Kalau sikap karyawan lainnya gimana melihatku jalan bareng dengan Tuan kemarin, Nan?"
"Ceritanya mau minta dukungan nih?" Gurau Nandia.
"Ya bisa saja begitu."
"Yang pasti para karyawan gempar melihat kamu jalan bareng dengan Tuan kemarin. Dan mungkin akan lebih gempar lagi jika mereka sekarang tahu kalau kamu sudah dipinang."
"Ssstt..., jangan keras-keras bicaranya.
"Maaf, Wen."
"Kalau pendapat kamu sendiri bagaimana dengan yang aku alami ini."
"Apakah salah apabila aku masih berangkat kerja hari ini, Nan?"
"Ya tidak bersalah. Cuma aneh saja kenapa Tuan masih membolehkan kamu bekerja. Biasanya kalau wanita mau menikah menurut adat Jawa kan harus menjalani acara pingitan segala."
"Urusannya kan sudah berbeda antara pinangan, dengan aku yang masih punya kewajiban sebagai karyawan."
Sejumlah burung pipit yang bercengkrama riang di atas jendela itu, kini terdengar makin gemuruh bercuitan. Begitu juga Wena. Perasaannya makin gemuruh takut. Bayangan yang seram-seram muncul menari-nari di atas kepalanya.
Kata-kata Nyonya Hellen yang kemarin sangat menggetarkan jantungnya itu terngiang kembali sekarang....
"Kamu Wena..., mulai sekarang harus patuh dan tunduk kepada suami. Apa pun yang diucapkan dan diperintahkan harus kamu laksanakan. Jangan membangkang,"
Beberapa saat kemudian setelah Wena dan Nandia berhenti ngobrol, tiba-tiba terdengar panggilan lewat micropon intercom kepada saudari Wena Ayu Erian untuk naik ke lantai lima.
Lantai yang sangat angker dan senyap. Lantai tempat sang raja mengelola, mengendalikan dan membuat keputusan.
Wena tanpa berpikir panjang lagi langsung naik ke lantai lima bertemu kembali dengan perempuan STW si sekretaris galak. Tapi sekarang sudah tak galak lagi menerima kedatangan Wena dan langsung diantar masuk ke singgasana raja.
__ADS_1
Tapi ketika Wena berada di dalam yang nampak bukan Tuan Densbosco. Melainkan seorang wanita sebaya ibunya dengan penampilan mewah dan wajahnya bersih mengkilat.
Lengannya yang juga bersih dihiasi arloji dan perhiasan gelang emas.
"Kamu yang bernama Wena Ayu Eriyan?" tanya perempuan itu langsung tanpa menyilahkan Wena duduk dikursi.
"Sa-saya....Wena, Nyonya," jawab Wena dengan berdiri sangat sopan.
"Ok. Kamu tahu siapa saya?" tanya perempuan itu dengan masih tetap duduk di depan meja kerja Tuan Densbosco.
"Maaf, Nyonya saya tidak tahu."
DER!!
Perempuan setengah baya itu menggebrak meja dengan buku tebal sangat keras. Sehingga cukup menggetarkan seisi ruangan.
"Goblok! Kamu tidak tahu siapa saya?" Suara perempuan itu melengking memekakan telinga Wena.
"Nyo-nya Densbosco...." wena menebak dengan ragu-ragu.
"Jelas dong saya Nyonya Densbosco. Kalau bukan istrinya mana mungkin saya berada disini."
"Maaf, Nyonya.... Ada keperluan apa Nyonya memanggil saya?" tanya Wena memberanikan diri.
"Lancang kamu berani bertanya. Kamu pingin tahu apa yang mau saya lakukan pada dirimu?"
Wena tak berani menjawab. Kepalanya menunduk dengan pandangan ke arah dua ujung sepatunya sendiri.
"Nanti akan aku katakan setelah Tuan Densboco datang. Sementara kamu tetap saja berdiri disitu."
Batin Wena menjerit diperlakukan seperti hamba sahaya yang tak berkutik di depan permaisuri.
"Kalau begitu saya mohon ijin untuk menunggu di bawah saja Nyonya."
"Tidak bisa kau tetap berdiri di situ sampai Tuan Densbosco datang."
Sialan! Gumam Wena dalam hati....
Bersambung
__ADS_1