
"Nikmat mana yang kau dustakan kawan...upppss," Simon menghembuskan asap rokok dengan syahdunya usai melahap seporsi sop buntut, nasi putih dan krispi udang yang gurih.
"Bagaimana menurut kamu, Mon?"
"Enak, sedaaap dan kenyaaang!"
"Bukan makanan yang saya tanyakan, tapi bagaimana caranya menyelamatkan Wena."
"Hohoho..., salah sambung! Entarlah aku nikmati dulu sebatang sigaret ini."
"'Dasar ular kembung, kalau udah makan pinginnya santai-santai lantas tidur mendengkur."
"Hah! Sabar kawan. Simon sedang berpikir. Jangan lu ganggu dulu."
"Kata kamu harus cepat bergerak, mumpung pernikahan itu belum berlangsung."
"Bagaimana kalau lu tebus saja Wena dengan mengganti uang yang sudah dikeluarkan oleh Densbosco."
"Itulah masalahnya, Mon. Usaha Papa sekarang sedang surut. Semua pengeluaran diatur sangat teliti dan ketat oleh konsultan publik. Termasuk rekeningku setiap hari dipantau."
"Payah lu. Tapi saya kira sudah tidak ada cara yang mudah untuk menolong pacarmu kecuali dengan cara itu."
"Aku pinjami dulu gimana, Mon. Tahun depan barangkali usaha Papa sudah normal kembali, bisa saya kembalikan uangmu."
"Saya pinjamkan pada Papaku saja gimana. Papaku direktur bank. Pinjaman sebesar itu saya kira bisa cepat dicairkan bila jaminan diriku."
"Jangan. Itu namanya kau membantu kawan dengan menyerahkan nyawamu sendiri. Kita cari jalan yang lain saja.
"Jalan yang lain yang mudah tapi rawan dalam segi hukum, lu bawa lari saja Wena jauh-jauh. Sembunyikan dari Densbosco sampai keadaan aman."
"Saya bisa dituduh penculikan gadis nanti. Apalagi sekarang sedang marak kasus seperti itu di masyarakat."
"Lu gimana? Saya jadi ikut pusing gara-gara lu. Saya kira tidak ada jalan lain selain lu menebus Wena dengan uang."
Disaat dua pria muda itu sedang pusing hape Dermawan berdering. Dermawan tak langsung menerimanya. Karena yang muncul di layar cuma nomor tanpa nama atau foto.
"Terima saja. Kenapa lu biarkan saja begitu?"
"Saya curiga jangan-jangan Densbosco tahu tadi aku mendekati Wena di acara mukernas."
"Ah! Tidak mungkin. Wena tidak mungkin menyampaikan kepada calon suaminya itu kalau baru bertemu dengan lu. Apa mereka tahu nomor hapemu kan tidak.
Panggilan telepon seluler itu lalu berhenti sendiri ketika Dermawan hendak menerimanya.
"Lhaaah mati. Lu si Wan ragu-ragu tadi."
Dermawan kemudian ingat kalau tadi sudah memberikan nomor kepada seseorang. "Jangan-jangan wanita yang mobilnya sudah aku sruduk itu," pikirnya.
KRIIIIIING!
Hape Dermawan bunyi lagi.
"Angkat tidak, Mon?"
"Angkat cepat!"
"Halo selamat siang, siapa ya?" sapa Dermawan sopan kepada si penelepon.
"Baru saja bertemu kok sudah lupa...," terdengar suara perempuan yang merdu dari speaker hape Dermawan.
"Cewek bro!" teriak Simon.
__ADS_1
"Sesstt...." Dermawan menyuruh diam.
"Bagaimana kamu jadi memperbaiki mobilku?" terdengar lagi suara si penelepon.
"Iya Nyonya saya masih di restoran tempat kejadian tadi kok. Silahkan Nyonya pilih bengkel yang cocok. Nanti saya kesitu."
"Ok. Jangan bohong kamu."
"Tidak Nyonya. Saya bertanggung jawab atas seluruh kerusakan mobil Nyonya."
"Ok. Terimakasih. Saya tunggu di Galaxi Mobil Permaks. Limabelas menit tidak sampai sini saya lapor polisi."
"Jangan dong Nyonya. Ini saya langsung meluncur ke tempat Nyonya berada."
KLIK!....Hape ditutup.
"Siapa, Wan?"
"Wanita tadi yang saya sruduk mobilnya."
"Oh. Nyonya Densbosco!"
"Apa? Istri Bandot tua itu?"
"Ya. Disamping dia ada satu lagi istrinya tapi sering berada di luar negeri. Mau apa dia?"
"Minta mobilnya diperbaiki."
"Orang sekaya itu tidak mau memperbaiki mobilnya sendiri. Kebangetan!"
"Saya sendiri yang minta untuk memperbaikinya kok. Karena saya yang kalah.
"Memang lu jadi orang sangat baik, kawan. Hanya kurang mujur saja. Sampai sekarang belum punya istri."
"Sudah ya, Mon. Saya langsung meluncur kesana. Nanti terlambat."
"Ok. Terimakasih atas traktirannya."
"Sip!"
🌹🌹🌹
Di Galaksi Mobil Permaks ada dua sedan yang sedang diperbaiki bodinya karena penyok. Satu berwarna hitam sedang yang disruduk Dermawan berwarna coklat kopi susu. Tapi dermawan tidak melihat wanita pemiliknya itu.
Ternyata wanita itu berada di kafe yang ada di ruang dalam bengkel ketok megic tersebut.
"Oh, Nyonya ada di sini. Tadi saya cari di depan tidak ada."
"Di luar bising. Mari duduk..., kamu mau minum apa?" kata wanita yang punya wajah bersih mengkilap itu.
"Terimakasih. Nyonya sudah selesai urusannya?"
"Sudah, cuma ketemu relasi saja kok. Kamu sendiri usaha apa?"
"Saya cuma menjalankan bisnis Papa saja kok."
"Oya...? Rasanya tidak asyik kalau ngobrol tidak saling kenal. Namaku Mely Aldina kamu siapa?"
"Dermawan...."
"Nama yang bagus, pasti orangnya suka berderma."
__ADS_1
"Ini kan sudah kewajiban saya, karena saya yang sudah menabrak mobil Nyonya."
"Jangan panggil nyonyalah ndak enak kedengarannya dan kurang akrab. Panggil saja saya Mely atau Tante."
"Nyonya itu pasti istri orang besar. Saya harus menghormat dan memanggilnya Nyonya."
"Ya, memang tapi jangan panggil nyonyalah."
"Ok, saya panggil Tante Mely saja, ya?"
"Iiih, kamu orangnya baik sekali, penuh pengertian. Pasti istrinya sayang sekali sama Mas.... Boleh kan saya panggil Mas?"
"Boleh. Tapi saya belum punya istri, Tante."
"Kalau begitu tepat kalau saya panggil Mas. Kalau pacar apakah sudah punya?"
"Sudah tapi sudah berpisah."
"Kamu jujur sekali! Kenapa berpisah?"
"Diambil orang kaya." Dermawan sengaja tidak menyebutkan secara lengkap orang kaya itu. Karena dia adalah Densbosco. Suami Tante Mely sendiri.
"Sudah tidak perlu dipikirkan. Saya juga bernasib hampir sama seperti kamu. Suami saya sudah melupakan aku, karena lebih perhatian kepada seorang gadis."
"Kenapa suami Tante lebih perhatian kepada seorang gadis. Bukankah Tante masih kelihatan cantik dan muda?"
"Kami sudah sepuluh tahun berkeluarga tapi tidak punya anak. Maka suami ingin mengambil gadis itu agar memiliki keturunan. Rasanya sakit sekali hati ini. Ibaratnya suami telah mengabaikan keberadaan saya sebagai istrinya."
"Mungkin Tante tidak ingin punya keturunan. Sehingga dia akan menikah dengan gadis itu agar punya anak."
"Saya ingin punya anak, dan saya yakin rahim saya masih normal. Tapi nyatanya sampai sekarang belum diberikan keturunan. Entah apa sebabnya."
"Mungkin memang belum beruntung saja Tante,"
"Menurutku masalahnya ada pada suami. Tetapi dia tidak pernah mengakui. Selalu saja alasannya kalau mau menikah lagi adalah agar punya keturunan. Begitupun ketika mau menikah yang kedua. Alasannya sama begitu."
"Jadi suami sudah dua kali menikah?"
"Ya, Mas."
"Buat apa mau menambah istri lagi kalau nyatanya nanti tidak punya anak."
"Betul, Mas. Jengkel saya kalau melihat kelakuan suami seperti itu terus. Mungkin baru akan berhenti kalau kami sudah punya keturunan."
"Lebih baik Tante memungut anak. Daripada suami mencari istri baru dengan alasan seperti itu terus."
Saran dari Dermawan itu tidak langsung ditanggapi.
Tiba-tiba Mely berdiri dari kursinya dan melongok keluar melihat perbaikan mobilnya sudah selesai atau belum. Lalu dia menerima telpon dari seseorang sebentar. Kemudian kembali duduk di samping Dermawan.
"Sepertinya Tante gelisah setelah menerima telpon tadi. Ada apa, Tante?" tanya Dermawan.
"Kamu kok kepo sekali sih, Mas?" Mely balas bertanya yang membuat Dermawan gugup.
"Ndak tahu tadi saya kok bisa memperhatikan Tante," jawab Dermawan sekenanya.
"Pasti ada sesuatu yang Mas inginkan dari saya?"
Dermawan tambah gugup. Jangan sampai Tante Mely tahu kalau dia sedang mengumpulkan informasi tentang suaminya dengan tujuan untuk menyelamatkan Wena.
"Tidak kok saya cuma tertarik dengan Tante." jawab Dermawan dengan terpaksa untuk menutupi misi yang sebenarnya.
__ADS_1
Mely merasa bangga dikatakan dirinya masih menarik di mata pria muda yang tampan dan berbadan tegap itu. Di dalam benak Mely kemudian muncul hasrat untuk lebih dekat bergaul dengan Dermawan.
Bersambung