Rahim Yang Dikontrak

Rahim Yang Dikontrak
BAB 6. BERTEMU TUAN DENSBOSCO


__ADS_3

"Saudari Wena Ayu Eriyan...! Apakah saudari mendengar panggilan ini...! Harap naik ke lantai lima sekarang!"


Suara dari mikropon interkom terdengar lagi. Kali ini adalah yang kedua setelah panggilan pertama tidak direspon oleh pemilik nama itu.


"Tuh kamu dipanggil, Wen!" Nandia mengingatkan dari samping meja kerjanya.


"Ya, aku juga dengar barusan," kata teman-teman lainnya yang satu ruangan.


Seluruhnya ada enam karyawan di ruangan Wena bekerja. Semuanya wanita dan yang paling jauh letaknya dengan box interkom adalah Wena. Sehingga wajar andaikan tidak mendengar panggilan itu. Apalagi dia memang sedang konsentrasi dengan pekerjaannya.


"Kamu itu tidak dengar apa pura-pura tidak dengar sih...." Nandia akhirnya mendekat ke meja Wina.


"Ya ampuuuun..., pantas aja tidak dengar apa-apa!" teriak Nandia melihat kedua lubang telinga Wena kesumpel headset.


"Ada apa, Nan." Wena membuka benda kecil yang menutupi lubang telinganya.


"Kamu dipanggil ke lantai lima."


"Lantai lima? Bukankah itu tempat singgasana raja."


"Lha iya.... Cepat sana. Sebelum sekretaris galak itu datang kesini menyeret kamu."


"Aku tidak mau. Aku tidak punya kesalahan apa-apa kok."


"Belum tentu kamu dipanggil karena ada kesalahan. Bisa juga karena ada hal lain."


Wena berpikir. Selama ini jarang sekali karyawan diminta datang ke lantai lima. Paling banter kalau ada kesalahan atau keperluan yang urgent yang memanggil adalah HRD.


"Ini tempat kerja, Wen. Paling tidak bos memanggilmu karena ada hubungannya dengan pekerjaan. Jangan berpikiran yang macam-macam dulu."


"Tapi ini diluar kebiasaan, Wen. Apakah ada kaitannya...."


"Ya mungkin!"


"Ssstt...jangan keras-keras bicaranya. Aku belum siap bertemu dengannya. Kalau benar soal itu."


"Siap tidak siap beliau sudah memanggil kamu. Itu artinya bahwa Beliau sudah tidak sabar lagi ingin mendengar jawabanmu!"


"Yuuuh..., temani aku, Nan."


"Hiiist...sembarangan kamu! Bisa langsung dipecat aku dari pekerjaan ini."


"Tapi aku takut, Nan."


"Baca Bismillah dan berdoa sebisamu. Ayo cepat. Keburu dijemput kamu bisa lebih berat."

__ADS_1


Wena akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Melewati empat lantai ke atas dari ruang kerjanya rasanya begitu cepat sampai. Padahal mentalnya belum siap untuk bertemu dengan Tuan Densbosco.


"Lelet sekali sih kamu gerakannya," si sekretaris galak langsung menghardik Wena ketika sampai di lantai yang angker dan senyap itu.


"Maaf, Bu. Tanggung tadi menyelesaikan kerjaan dulu."


"Besok lagi kalau dipanggil bos besar langsung tinggalkan pekerjaanmu!"


Wena cuma mengangguk-angguk. "Dasar sekretaris galak!"


"Bos ini yang namanya Wena Ayu Eriyan sudah datang." ucap si sekretaris galak seraya membuka pintu kayu jati berukiran khas Bali.


"Saya sudah tahu...cepat kamu pergi dari sini!" Tuan Densbosco berteriak dari kursi singgasananya kepada si sekretaris galak.


Perempuan STW itu langsung menutup pintu kembali setelah Wena masuk. Dalam hatinya dia bertanya-tanya. Tumben bos besar malah membentaknya. Padahal biasanya karyawan yang diundang langsung disuruh jongkok karena terlambat menghadap.


"Selamat siang, Tuan," ucap Wena berusaha bersikap tenang.


"Mari duduk disini," Tuan Densbosco menyilahkan Wena duduk di sofa gajah yang ukurannya sangat besar.


Wena duduk di kursi itu seperti berada di dalam kulkas. Seketika tubuhnya menyusut menjadi kecil. Apalagi bila dibandingkan dengan tubuh Densbosco yang besar yang duduk di depannya, sungguh pemandangan yang sangat kontras


"Kamu sudah makan siang, Wen?"


Pertanyaan Tuan Densbosco itu diluar dugaan Wena. Ia pikir ada masalah pekerjaan diundang ke ruang kerjanya.


"Tidak usah nunggu jam istirahat. Kita makan siang sekarang saja. Ibumu dan kakakmu sudah menunggu di restoran sekarang."


Oh! Tuan Densbosco ternyata sudah janjian dengan ibu dan kakaknya. Sungguh Wena tidak menyangka bila lelaki yang lebih pantas jadi ayahnya itu memanggilnya bukan mau membicarakan soal pekerjaan. Tapi untuk tujuan yang satu itu, yang sampai detik ini masih berat diterima Wena.


"Tapi sebaiknya saya berangkat sendiri ke restoran, Tuan," ucap Wena kemudian.


"Lho kenapa? Kamu malu jalan bareng dengan orang tua?"


"Oh tidak, Tuan! Sungguh bukan itu maksudnya."


"Lalu apa alasanmu tidak mau jalan bareng denganku?"


"Disini saya berada di tempat kerja, sebagai karyawan Tuan. Masa tiba-tiba saya mau jalan bareng dengan Tuan. Bagaimana kata karyawan lainnya nanti."


"Ok. Nanti kamu diantar sopir saya. Kamu tunggu saja disini. Tidak perlu kembali ke ruang kerja lagi."


"Saya belum mematikan komputer dan tas saya masih tertinggal disana, Tuan."


"Hai! Dengarkan saya bicara. Tidak usah ngeyel!" Suara Densbosco tiba-tiba menggelegar menggetarkan jantung Wina seketika.

__ADS_1


Wena menunduk tidak berani memandang wajah Densbosco....


"Bener kata ibumu. Kamu itu anak yang susah diatur orangtua. Tapi mulai sekarang kamu harus menurut apa yang saya katakan. Serta tidak perlu banyak bertanya apa yang saya perintahkan kepadamu. Mengerti?"


"Ya, Tuan."


"Coba kamu ulangi apa yang saya inginkan tadi. Katanya kamu karyawan yang cerdas."


"Sa-saya harus menurut apa yang Tuan ka-takan dan.... Sa-saya ti-dak boleh banyak ber-bertanya apa yang Tuan perin-tahkan."


"Bagus. Dan satu lagi yang harus kau ucapkan di depanku sekarang."


"Ya, Tuan."


"Sekarang ucapkan janjimu bahwa kamu setuju menjadi istriku."


Wena tak langsung mau mengucapkan. Karena hal itu sudah masuk dalam ranah perjanjian mendiang Ayah dan Tuan Densbosco. Maka Wena harus hati-hati. Jangan sampai dibodohi oleh laki-laki lagi. Apa yang sudah terjadi dengan Dermawan anggap saja itu sebagai pengalaman pribadi. Sekarang jangan sampai hal itu terjadi juga dengan Tuan Densbosco.


"Ayo sekarang ucapkan janjimu itu kepadaku!" kata Tuan Densbosco mengulangi perintahnya.


"Apakah sebaiknya saya mengucapkannya nanti saja Tuan."


"Tidak bisa. Kamu harus mengucapkannya sekarang. Agar urusan kita cepat selesai."


"Sebenarnya saya hanya sebagai objek dalam hal ini. Sedangkan perjanjian itu dilakukan oleh Ayah dan Tuan. Karena Ayah sekarang sudah meninggal maka yang berhak mewakili Ayah adalah Ibu," alasan Wena dengan cerdasnya.


"Ya nanti kamu ucapkan lagi di depan ibumu. Anggap saja ini sebagai pra perjanjian."


"Maaf saya keberatan, Tuan," kata Wena tegas.


Karena bisa terjadi ketika Wena mengucapkan janji tersebut, diam-diam Tuan Densbosco merecordnya. Hasil rekaman suara, walaupun tidak diharapkan terjadi, bisa digunakan sebagai alat pemaksaan kehendak pribadi terhadap Wena tanpa mengindahkan isi perjanjian yang sudah dibuat.


"Apakah kamu tidak percaya dengan janjiku untuk membuat kamu dan keluargamu bahagia?"


"Percaya Tuan. Saya hanya ingin meyakinkan diriku sendiri. Saya bisa saja mengucapkan janji itu sekarang. Tapi afdolnya bila disaksikan oleh ibuku dan kakakku."


"Oya. Saya lupa kalau ibumu dan kakakmu sudah menunggu di restoran yang sudah aku tentukan. Kalau begitu sekarang saja kita berangkat bersama. Tidak perlu kau berangkat sendiri dengan diantar sopirku."


Wena akhirnya mau pergi bersama dengan Tuan Densbosco.


Ketika mereka keluar dan bertemu dengan sekretaris yang galak itu, Tuan Densbosco berpesan bahwa dia akan pergi sebentar dengan Wena.


Tidak perempuan STW itu saja yang terheran-heran melihat bos besar berjalan dengan mesranya di samping Wena Ayu Eriyan, karyawati cantik yang baru sekitar setahun bekerja. Tapi dalam hitungan menit seketika seantero perusahaan holding itu gempar oleh pemandangan yang sangat mengejutkan itu.


Bagaimana dengan dua istrinya yang ada di rumah. Apakah mereka mendengar juga berita yang mengejutkan itu...???

__ADS_1


🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2