
Matahari terik sekali siang ini, kuteguk air mineral yang kubawa tanpa sisa. Kuhelakan nafas panjang dan kusandarkan tubuhku pada kursi halte. Ku buka tas hijauku untuk mengambil buku kecil catatan agenda. Satu per satu jadwal hari ini kupandangi. Runtut sekali jadwalku ternyata.
“permisi, bisa geser sedikit ?” suara lelaki di dalam bus yang kutumpangi.
Suara lelaki dalam bus yang kutumpangi seraya menyuruhku untuk menggeser tubuh mungil ini agar dia bisa duduk. Lelaki yang bertubuh atletis dengan wajah dominan jawa dan berkulit kuning langsat ini langsung duduk disebelahku. Bus memang cukup penuh hari itu. Membuat para penumpang harus berdempetan untuk bisa duduk dan beberapa ada yang harus berdiri.
“pak, persimpangan depan berhenti ya” triakku pada kondektur bus.
Sopir bus dengan sigap langsung tancap rem setelah mendengar instruksi dari kondektur. Aku berhenti di persimpangan jalan sultan agung. Lelaki disampingku ternyata juga turun di tempat yang sama. Aku tak mengenalnya, begitupun dia juga tak mengenalku. Kelihatannya lelaki ini lelaki yang cuek, dingin dan tidak cocok dijadikan teman. Batinku melihat lelaki yang turun dari bus lebih dulu dariku.
Rumahku masih agak jauh dari persimpangan jalan raya. Kuputuskan untuk mampir di warung Mbok Nah untuk membeli lauk makan malam nanti. Warung sayur Mbok Nah selalu ramai terlebih jika bulan ramadhan. Banyak sekali menu makanan disajikan dietalasenya. Mulai dari sayur bayam, sayur lodeh, mangut lele hingga rendang daging. Harganya pun juga cocok dikantong mahasiswa sepertiku ini.
“Mbok, oseng jamur sama tempe bacem ya dibungkus plus nasi”, pesanku pada Mbok Nah.
“siap mbak Shaki, baru pulang sore gini ya mbak ?”. tanya Mbok Nah sambil membungkuskan pesananku.
“iya Mbok, tadi ada jadwal bimbingan skripsi mbok biar cepet selesai kuliahnya.” Jawabku sambil memberikan uang pada Mbok nah.
“wes gek diselesaikan segera trus menikah ya mbak”, goda mbok nah padaku.
“hahahah bisa aja mbok nah ini, pacar aja aku gak punya Mbok. Makasih ya mbok”. Gelak tawaku sembari pamit pada mbok nah.
Adzan Magrib bergema membuyarkan fokusku pada layar laptop. Bergegas ku ambil air wudhu dan bersiap ke masjid untuk sholat berjamaah. Selepas magrib aku biasa mengajak anak-anak kecil disekitaran rumah untuk mengaji bersama. Sesekali membantu mereka menyelesaikan tugas sekolahnya.
Sejak aku SMA mendampingi mengaji di masjid selepas magrib merupakan kegiatan wajibku setiap hari. Entah, rasanya setiap bertemu mereka di masjid membuatku semangat dan menghilangkan rasa lelah ditubuh ini. Bersama mereka hari-hariku menjadi penuh canda dan tawa. Terlebih saat melihat tingkah polos mereka yang teramat menggemaskan.
“yuk siapa yang mau adzan isya malam ini?” tanyaku pada mereka.
“Dodo aja mbak shaki, kemarin Dodo gak jadi adzan zuhur soalnya”, triak Dodo penuh semangat.
__ADS_1
Selesai sholat isya, aku segera kembali kerumah. Tapi malam ini ada yang berbeda.
Tiba-tiba seorang lelaki membuatku menghentikan langkah kaki. Segera ku menoleh kesumber suara yang menghentikanku malam ini.
“mbak, mbak, maaf itu sandal yang dipakai keliru”. Tegur Pras
“hah ? oiyaa maaf mas, saya buru buru jadi salah ambil sandal”, jawabku sembari memperhatikan sandal yang kupakai.
Lelaki tadi, sepertinya aku tak asing. Bukan warga setempat, tapi aku merasa pernah melihatnya. Suaranya juga seperti pernah kudengar, tapi entah dimana. Suara khas medok jawa yang lembut ditelinga. Aku lupa dan mengapa juga aku memikirkannya.
“hih, shaki kok bisa sih salah ambil sandal”, grutuku dalam hati.
Malam ini terasa sangat dingin, lebih dingin dari malam sebelumnya. Ibu telah membuatkan coklat hangat kesukaanku lepas isya tadi. Setiap lepas isya aku selalu meluangkan waktu untuk berbincang hangat dengan ibu dan bapak. Menceritakan segala aktivitasku seharian ini dan berdiskusi banyak hal tentunya.
Aku memang tinggal bersama bapak, ibu dan adikku. Sejak aku kuliah semua keperluanku tidak ditanggung oleh orangtuaku. Orangtuaku hanya menanggung biaya kuliah dan praktekku saja. Uang transport dan jajan sudah tidak menjadi tanggungan mereka.
Seperti inilah yang mereka ajarkan untukku dan adikku. Lebih menghargai sebuah usaha dan bertanggungjawab atas hidup diri sendiri yang kudapat dari hal ini. Banyak sekali pelajaran hidup yang diberikan oleh orangtuaku dengan cara cara unik. Berbeda dari cara para orangtua membesarkan anaknya. Perbedaan gaya parenting itulah yang membuatku semakin bangga memiliki orangtua seperti mereka. Mengajari anaknya untuk bisa bertempur di getirnya kehidupan luar. Mengajarkan ilmu hidup yang tidak ada di mata kuliah sekalipun.
“mohon restunya ya pak, tahun depan semoga shaki bisa selesai kuliah shaki”, jawabku.
“rencanamu setelah ini seperti apa nak ? mau melanjutkan pendidikan lagi atau mau menikah?” tanya ibu.
“shaki sih inginnya lanjut pendidikan bu, masalah menikah shaki masih belum ada pandangan untuk calon imam shaki bu”, jawab ku tersipu malu.
“Apakah ibu dan bapak boleh membantumu mencari imam nak?”, tanya ibu dengan lembut.
“nanti saja bu, Shaki masih ingin berjuang sendiri dulu. Nanti jika usia Shaki sudah melewati 25 tahun, ibu dan bapak boleh membantu shaki mencarikan imam keluarga untuk shaki,” tolakku secara halus.
Sebenarnya aku masih belum ada fikiran untuk menikah dalam waktu dekat ini. Aku takut jika akhirnya perasaan yang ku berikan pada seorang akan patah seperti sebelumnya. Aku sudah pernah patah sebelumnya karena berbeda keyakinan. Sudahlah, itu telah menjadi masa lalu dan menjadi penguat hati untuk tidak lagi sembarangan meletakan rasa sayang dan cinta pada seseorang. Segera kupamit istirahat malam ini.
__ADS_1
Kurebahkan tubuh ini sambil memandang langit – langit kamar. Kejadian malam tadi membuatku tersenyum kecil. Sandal bisa tertukar dengan lalaki itu, yang entah siapa namanya dan diaman tinggalnya. Kebetulan sandal kami sama – sama sandal gunung berwarna hitam. Hanya berbeda di merek saja. Wajarlah jika aku salah mengambil sandal saat itu. Tanpa kusadari aku telah terpejam dalam lelapnya malam.
“shaki, bangun nak. subuh yuk sayang”, suara ibu dari balik pintu membangunkanku.
Bergegas kuambil wudhu dan melangkah ke masjid. Rumah ku sangat dekat dengan masjid jadi setiap aku dirumah selalu kuusahakan untuk sholat jamaah dimasjid. Lepas sholat aku segera membantu ibu – ibu untuk membagikan sayur mentah dan tahu untuk jumat berkah pagi ini. Masjid ini selalu ramai dengan jamaahnya. Kegiatannya pun juga banyak.
“Pras, tolong bantu nak shaki mengangkat sawi kesini ya”, suara bu Lastri memecah lamunanku.
“Pras. Siapa Pras itu ?” batinku bertanya – tanya.
Lelaki itu, ternyata bernama Pras. Keponakan bu Lastri dari Semarang. Ternyata Pras tinggal dengan bu Lastri karena melanjutkan kuliah S2 nya di Jogja. Pras kuliah di jurusan managemen syariah. Itu saja yang kutau dari bu Lastri tentang Pras.
Pras, lelaki yang pernah kutemui didalam bus waktu itu. Lelaki yang sandalnya tertukar dimasjid lepas isya semalam. Lelaki yang lantunan adzannya menentramkan. Lelaki yang sekarang membantuku mengajar anak – anak mengaji di masjid. Senang rasanya, aku tak sendirian mendampingi anak – anak belajar mengaji sekarang.
Semakin hari aku semakin mengenal sosok Pras. Lelaki yang kufikir tak bersahabat dan ketus ternyata sungguh berbeda. Dia adalah lelaki yang sangat menyayangi anak – anak, sabar dan pandai menhibur anak – anak. Pantas saja anak – anak bahagia sekali dengan hadirnya Pras di kompleks masjid ini. Walaupn Pras bukan tipe orang yang banyak bicara tapi dia cukup menyenangkan dijadikan teman bercerita.
“Shaki, kamu kapan wisuda”, tanya pras tiba-tiba
“tiga bulan lagi mas, ini masih proses yudisium”, jawabku.
“lalu apa rencanamu setelah ini?” tanya Pras lagi
“emmm... aku sih inginnya lanjut pendidikan mas” jawabku mantap
Aku memanggil Pras dengan kata mas. Mas dalam bahasa jawa seperti kakak atau abang yang artinya dituakan. Usia ku dua tahun lebih muda dari Pras. Pantas jika aku memanggilnya Mas Pras. Selain itu juga sebuah bentuk rasa hormat ku pada yang lebih tua dariku.
🤗🤗
selamat menikmati kisahnya yaa...
__ADS_1
update an selanjutnya ditunggu kuy 😀
jangan lupa berikan like 👍 dan tinggalkan jejak komentar yaaa pembaca 💕