RAINBOW STORY

RAINBOW STORY
part 6 (poli kandungan vs poli kulit)


__ADS_3

Hari ini aku kembali ke poli kandungan untuk melakukan observasi lanjutan dan tindakan lanjutan. Aku bertemu dokter Aisyah kemudian dicek lagi kondisi ovariumku. Dokter Aisyah memberikan resep untuk dua obat. Obat hormon untuk melancarkan siklus haid dan Metformin untuk mengurangi resistensi insulin dan masalah kesuburan akibat PCOS.


Lorong rumah sakit ku telusuri. Aku masih belajar untuk menerima keadaan ini. Aku masih berharap mas Pras beserta keluarga besarnya menerima kondisiku. Karena menikah bukan sekedar aku dan mas Pras, tapi dua keluarga yang akan menjadi satu.


Lalu lalang pengunjung rumah sakit membuatku menjadi lebih bersyukur. Beberapa diantara mereka kondisinya jauh lebih buruk dariku. Beberapa diantara Meraka ada yang nikmat sehatnya Allah cabut melalui beberapa organnya. Rasanya, aku telah kufur ketika tidak mampu menerima kondisi ku saat ini dengan penuh ikhlas.


Tak terasa langkahku telah terhenti di depan pintu masuk poli farmasi. Kutebus resep dari dokter Aisyah di apotek rumah sakit. Obat hormon yang bentuknya tablet kecil kecil berwarna merah dan Metformin yang juga berbentuk tablet hanya saja ukurannya lebih besar dari obat hormonnya. Obat hormon ini harus diminum sehari satu kali dan tidak boleh berubah jadwalnya. Harus konsisten, jika lupa atau tidak minum sehari saja maka obat diulang dari awal.


Kupasang alaram agar tidak lupa minum obat tepat waktu. Pukul 18.00 ku setting dialaram smartphone. Ku ulang sampai 30hari kedepan, karena obat habis di hari ke tiga puluh.


Hari pertama ku minum obat, badan rasanya jadi menggigil dan lemas. Hari kedua rasanya badan kedinginan dan mual. Hingga hari ke tujuh rasanya tak karuan. Selain itu juga tumbuh banyak jerawat di wajah dan punggung ku.


Rasanya aku tidak pernah absen menggunakan skincareku. Mulai dari facial wash, toner, day cream, night cream hingga serum. Semua kugunakan rutin tanpa lupa sedikitpun. Aku merasa ada yang tidak beres dengan wajahku kali ini.

__ADS_1


Wajahku semakin mengerikan. Jerawat besar bahkan ada yang bernanah tumbuh banyak. Jerawat jerawat yang tak biasa ini tumbuh di pelipis hingga dagu. Beberapa ada di punggung. Membuatku sangat tak nyaman.


Menggunakan jilbab terasa perih di pinggiran wajah. Melepas jilbab pun perih sekali karena banyak jerawat yang bernanah. Selain itu berat badanku naik sepuluh kilogram setelah sepuluh hari pengobatan. Bisa dibayangkan bukan betapa buruknya fisikku kali ini.


Oiya mas Pras, bagaimana jika mas Pras melihat kondisi fisiku yang seperti ini. Jijik mungkin mas Pras melihatku sekarang. Bagaimana ini, rasaku semakin terpuruk. Kondisi fisik yang mengerikan ditambah kondisi kesehatan ku yang tidak stabil. Kuputuskan untuk bertemu dokter Aisyah kembali walaupun obat belum habis.


"Bu kenapa aku jadi begini ya ? Mas Pras masih mau denganku tidak ya Bu?" Tanyaku pada ibu.


"Mungkin itu efek obatnya nak. Percayalah laki laki yang baik tidak akan pernah memandang fisik sebagai kekurangan" jawab ibu


"Adek kenapa lagi kok chat mas gak dibalas ?" Tanya mas Pras mengagetkanku di teras depan.


"Shaki malu mas, wajah shaki penuh jerawat". Jawabku sambil menutup muka.

__ADS_1


"Hai dek, kalo cuma masalah wajah karena jerawat kemudian mas meninggalkan mu itu namanya mas pengecut dek" jawabnya sambil tertawa.


"Lah kok gitu sih mas ? Shaki udah takut ini lho" rengekku.


"Kota ini daerah maju, pasti ada spesialis kulit yang bisa menyembuhkan wajahmu lagi dek. Bahkan bisa membuat wajahmu seperti artis Korea dek" jawabnya dengan tertawa ringan.


Mas Pras memang berbeda dari laki-laki lain. Kali ini mas Pras lagi lagi tak mempermasalahkan hal yang menurutku besar. Betapa tidak, wanita elok dengan keayuan wajahnya. Hati ini semakin jatuh hati pada mas Pras. Selalu ada kebahagian disetiap pertemuanku dengannya.


🤗🤗


selamat menikmati kisahnya yaa...


update an selanjutnya ditunggu kuy 😀

__ADS_1


jangan lupa berikan like 👍 dan tinggalkan jejak komentar yaaa pembaca 💕


__ADS_2