RAINBOW STORY

RAINBOW STORY
part 9 (cemburu)


__ADS_3

"Kita kemana ini dek ?" Tanya mas Pras sambil menyalakan mobil.


"Emmm... Terserah mas aja" jawabku malas.


"Jadi es krim gak nih ?" Goda mas Pras


"Terserah mas" jawabku singkat.


"Lagi cemburu atau ngambek nih ?" Goda mas Pras.


"Apaan sih cemburu, siapa juga aku cemburu sama kamu mas" jawabku ketus


"Adek kan calon istri mas, berhak dong cemburu. Tandanya sayang" jawab mas Pras.


"Baru calon mas, belum jadi istri" jawabku.


"Semoga menjadi istri" jawabnya lagi.


"Semoga gak ada yang namanya penghianatan mas" jawabku menyindir.


"Nabila namanya. Mantan pacarku. Tapi sudah lama sekali. Sejak SMA. Kami putus sejak kuliah S1" terang mas Pras.


"Lama juga ya pacarannya. Pasti banyak kenangan" jawabku.


"Dia sudah menjadi masa laluku. Masa depanku ya kamu dek" jawab mas Pras.


"Kita gak ada yang tau mas, perjalanan kisah kita akan sampai mana" paparku.


"Lagipula Nabila kan sudah menikah dan beranak satu, ngapain juga dipikirin dek" jawab mas Pras.


"Lebih tepatnya janda beranak satu mas" jawabku makin kecut.


"Kenapa memang jika dia janda ? Ada masalah ?" Suara mas Pras mulai sedikit serius.


"Kamu masih punya kesempatan untuk kembali pada masa lalu mu mas" jawabku sedikit gemetar.


"Kamu fikir mas ini tipe laki laki yang mudah tergoda dek ? Kebanyakan nonton sinetron ah adek ini" Jawabnya dengan terkekeh.

__ADS_1


"Siapa tau aja mas, setan gak ada yang tau datang kapan" jawabku.


"Mas itu kan udah bilang, kalo akan setia sama Adek. Buktinya sekarang aja mas masih di samping adek" jawab mas Pras.


Perbincangan selama perjalanan sangat membuatku tak nyaman. Rasa khawatir dan takut kehilangan mas Pras muncul. Keraguan dalam menjalani hubungan ini ada secara tiba-tiba. Cobaan lagi yang akan kami temui menjelang pernikahan kami. Aku jauh jika dibandingkan dengan perempuan tadi.


Nabila. Perempuan yang berparas putih blasteran timur tengah. Badan bongsor seperti model. Seorang dokter spesialis anak. Tentu sangat dekat dengan dunia anak anak dan pastinya keibuan. Sempurna. Tinggi juga selera mas Pras ini, batinku.


Mobil berhenti di sebuah parkiran cafe tak jauh dari rumah sakit. Seperti yang direncanakan sejak sebelum ke rumah sakit. Mampir cafe yang ada es krim nya.


"Sampai tuan putri, mari turun" ajak mas Pras


"Hemmm" jawabku sambil membuka pintu mobil.


"Duh masih ada yang ngambek nih" goda mas Pras.


"Percayalah, mas untukmu selamanya" lanjut mas Pras sambil mempersilakan duduk


"Iya mas, shaki percaya sama mas" jawabku


Seketika aku melayangkan senyum termanis ku. Walaupun sebenarnya aku masih sedikit ragu. Lebih banyak penasaran, mengenai masa lalu mas Pras. Sudahlah itu masa lalu, dan sekarang masa depan ku bersama mas Pras. Semoga benar yang mas sampaikan bahwa dirinya telah move on dari Nabila.


"Es krim nya enak gak dek ?" Tanya ku


"Enak mas tapi sayangnya suasanya gak enak" grutuku.


"Yasudah, gimana caranya biar suasana nya enak dek ?" Tanya mas Pras


"Entahlah mas, shaki juga gak tau" jawabku


"Setelah ini ikut mas ya, mas mau bikin suasana jadi enak lagi" rayu mas Pras


Kuhabiskan es krim dan spagethi yang mas Pras pesankan untukku. Sebenarnya enak banget es krim disini. Hanya saja suasana hatiku yang sedang tak jelas, membuat nikmatnya es krim coklat Oreo ini berasa biasa aja.


Setelah kami menghabiskan makanan dimeja, mas Pras langsung menuju kasir. Aku membuntuti mas Pras tentunya. Setelah selesai mas Pras membayar kami segera ke mobil.


"Sudah siap tuan putri ?" Tanya mas Pras

__ADS_1


"Sudah mas" jawabku sambil memakai sabuk pengaman


"Sudah siap ke suatu tempat yang akan membuat hati bahagia tuan putri?" Tanya mas Pras memastikan


"Insyaallah siap mas, asal bersama mu selalu" jawabku sambil menebar senyum.


Aku penasaran dengan kata mas Pras. Tempat yang membuat hati bahagia. Sepertinya aku belum pernah menemukan tempat yang bisa membuat bahagia selain rumah. Selama hidupku, tempat yang membuat ku bahagia dan membuat hati sedih menjadi bahagia hanya rumah. Rumah yang riuh oleh celotehan ibu, bapak dan adek. Entahlah, maksud mas Pras seperti apa. Aku hanya bisa mengekor dan mengikuti keinginan mas Pras.


"Dek, bangun udah sampai ini" suara mas Pras membangunkan ku


Ternyata sepanjang perjalanan aku tertidur. Sampai tak tahu dibawa kemana aku oleh mas Pras. Untungnya mas Pras bukan orang jahat yang akan mencelakakan ku. Seperti janjinya, mas Pras membawaku ke sebuah tempat yang katanya bisa membuat hati bahagia kembali.


Mataku membuka sedikit demi sedikit. Kukucek mataku sambil membenarkan posisi dudukku. Merapikan jilbab dan mengambil tasku. Aku turu dari mobil dengan langkah sedikit pelan karena masih mengantuk.


Tempat yang benar-benar bisa membuat hati menjadi bahagia kembali. Ternyata ada selain rumahku. Aku terkesima. Pemandangannya begitu menawan. Udaranya sangat sejuk. Hamparan luas didepan mataku. Aku merasa lebih lega dan tenang.


"Kok mas Pras tau tempat ini ?" Tanyaku


"Tau dong, gimana ? Bahagia ?" Tanyanya.


"Iya mas, shaki suka sekali. Tempatnya sejuk dan indah pemandangannya" jawabku sambil mengepakkan kedua tanganku.


"Tempat ini salah satu tempat wisata yang masih asri di kota ini. Udaranya masih sangat sejuk, tidak ada polusi dan jauh dari hingar bingar perkotaan. Tempat ini lebih asyik jika dikunjungi malam hari. Tapi kan kita belum halal jadi sekarang siang aja ya kesininya. Kalo sudah menjadi istri ku mas akan bawa adek kesini lagi" terang mas Pras


"Janji ya, setelah menikah mas harus ajak shaki kesini. Tapi jangan sampe shaki ketiduran, biar shaki hafal jalannya" protesku


"Mas tidak menyuruhmu tidur lho dek, kamu yang tiba-tiba ngorok" ledek mas Pras


"Masa aku ngorok sih mas, gak mungkin lah mas" protes ku lagi.


"Yuk kesana, kita nikmati indahnya alam ini" ajak mas Pras


Kami memilih duduk di bawah pohon rindang. Lesehan dengan tikar yang sudah di sediakan pedagang jajanan disana. Ada banyak jajanan disana, pilihan menu yang beraneka macam juga menjadikan tempat ini semakin diminati wisatawan.


"Shaki mau kelapa muda, gorengan dan mie goreng ya mas" pesanku pada mas Pras.


"Siap tuan putri, harap ditunggu ya pesanannya" jawab mas Pras sambil menuju salah satu gubuk jualan diseberang tempat kami duduk.

__ADS_1


__ADS_2