RAINBOW STORY

RAINBOW STORY
part 2 (screning kandungan)


__ADS_3

Tanpa ku sadari, kehadiran Mas Pras dalam hidupku membuat hari – hari ku selalu bahagia. Aku menemukan teman berdiskusi yang menyenangkan. Aku menemukan teman mengajar yang bisa menjadikan suasana riang dan menggembirakan. Ada rasa tenang dan nyaman ketika aku mengobrol dengan mas Pras.


“Nak, menurutmu Pras bagaiaman orangnya ?” tanya ibu padaku


“emmm...mas pras baik bu orangnya. Rajin ibadan dan sayang anak juga”, jawabku enteng pada ibu.


“Apakah kamu bersedia jika Pras menjadi pendampingmu nak?” suara bapak mengagetkanku.


“apakah mas Pras mau denganku pak ? aku hanya perempuan biasa yang bahkan bukan seorang hafizah quran” tanya ku pada bapak.


Sore itu aku berjalan ke warung mbok nah untuk membeli sayur dan lauk makan malam nanti. Teringat perbincangan dengan bapak mengenai mas Pras. Entahlah hati ini rasanya tak ingin menolak, tapi ada kecemasan yang tak kunjung padam.


“shaki, malam nanti apakah kamu luang?” tanya Pras tiba-tiba.


Aku menjadi semakin gelisah. Terkaan demi terkaan tak jelas ada di pikiranku. Aku menjadi gugup bertemu mas Pras sekarang. Aku takut jika bapak telah berbicara dengan Mas Pras mengenai keinginan Bapak untuk menjodohkanku dengannya. Aku belum siap jika nantinya Mas Pras lebih memilih untuk meninggalkan kota ini.


Lepas sholat isya aku segera menuju ke cafe tak jauh dari rumah. Mas Pras telah lebih dulu sampai disana ternyata. Kemeja berwarna biru tua dengan sedikit aksen garis putih membuatnya semakin tampak gagah.


“shaki disini”triaknya sambil melambaikan tangan.


Segera kulangkahkan kakiku menuju meja nomor tiga puluh dua. Aku menghampiri mas Pras dengan penuh perasaan cemas. aku terlihat begitu grogi dan salah tingkah malam itu. Mas Pras yang sepertinya mengetahui hal itu berusaha mencairkan suasana.


“mau pesan apa ? disini milkshake coklatnya enak sekali lho dek” terang Mas Pras.


“oke mas milkshake coklat sama spagethi teriyaki ya mas” jawabku.


“Shakin gak salah denger mas panggil shaki dek? Tanyaku menyelidiki.


“kamu keberatan aku panggil adek shaki nih” kata Mas Pras sambil tertawa kecil.

__ADS_1


“enggak keberatan sih mas, Cuma aneh aja sih mas panggil gitu” jawabku agak malu.


Rasa bahagia terpercik saat mas Pras memanggilku dengan kata adek. Rasa yang berbeda membuatku merasa ada ruang istimewa dihatinya. Benarkah Mas Pras menyediakan ruang istimewa itu untukku atau hanya karena aku lebih muda darinya. Bahagia bercampur khawatir menyelimuti hari hariku beberapa waktu ini.


“dek shaki, maukah kamu menjadi bagian penting dalam hidupku? Tiba-tiba suara Mas Pras membuyarkan lamunanku


“duh, jangan bercanda ya mas. Hati ini bukan tempat untuk bercanda atau bahkan sekedar untuk bersinggah sebentar” jawabku tegas.


“dek, mas serius dek. Mana bapakdek ? mas mau bertemu ? tanya mas Pras sambil clingukan didepan rumah.


Glagapan aku dibuatnya. Ribuan pertanyaan terkumpul dalam otak. Tentunya dengan perasaan campur aduk semakin membuat tak karuan diri ini. Benarkah Mas Pras meminangku, batinku bertanya.


Dering telephon ku berbunyi. Bu Retno, salah satu dosen pembimbingku dikampus menelpon. Mengabarkan jadwal yudisiumku yang ternyata maju menjadi pekan depan.


Bahagia rasanya, aku akan segera menyelesaikan studi S1 ku. Segera ku berlari menghampiri Bapak dan Ibu. Mereka tampak begitu bahagia mendengar bahwa aku akan segera menamatkan studiku lebih cepat dari yang ku targetkan.


“Masyaallah, berkah bahagia di bulan ini datang untukku”, batinku sembari menyuguhkan kopi untuk Bapak dan Mas Pras.


Hari demi hari kami lalui seperti biasanya. Aku dan Mas Pras masih menyempatkan waktu untuk membersamai anak-anak belajar mengaji di masjid. Hanya rasa yang berbeda semakin membara. Rasa bahagia yang membuatku semakin bersemangat untuk mengarungi hari-hariku saat ini. Tentu dengan rasa tak sabar aku ingin secepatnya hari itu datang. Hari dimana Mas Pras akan mengucap sumpah didepan Bapak. Hari dimana aku akan menjadi nyonya Prasetya Dzauri.


“nak, ada baiknya kamu screening kandungan untuk persiapan pernikahan nak” kata ibu sambil meletakkan gorengan di meja teras.


“untuk apa bu? Bukannya itu bukan termasuk syarat menikah dari KUA ya bu”, protesku dengan penuh penasaran.


“begini nak, ada baiknya kamu screening kondisi ksehatan beserta kondisi kandungan mu lebih dini. Sehingga jika ada sesuatu yang kurang baik bisa diperbaiki lebih awal dan itu tidak akan merugikanmu nak.” Tutur ibu.


“baik bu, besok pagi Shaki akan ke dokter kandungan untuk screening kandungan yaa” jawabku.


Adzan brkumandang, segera kuambil air wudhu dan berangkat sholat shubuh dimasjid. Setelah sholat shubuh aku mengaji disimak bapak dan ibu. Rutinitas yang diajarkan oleh bapak dan ibu sejak aku kecil hingga saat ini. Sembari minum teh dan menikmati camilan selepas mengaji bersama, kami saling bertukar agenda.

__ADS_1


“hari ini Shaki ada jadwal ke dokter kandungan jam sepuluh pagi ya”, kataku sambil melipat mukena.


“berangkat sendiri atau mau ibu antar nak?”, ibu menawarkan diri


“emmm.... Shaki sendiri saja bu, lagipula kan deket juga Rumah Sakitnya bu”. Jawabku


Aku telah selesai membereskan kamar dan menyiapkan segala perlengkapanku untuk hari panjang ini. Aku bergegas keluar rumah menuju Rumah Sakit untuk melakukan screening kandungan seperti yang ibu sarankan.


Memang sejak aku duduk di bangku Aliyah, haid ku tidak teratur. Tak jarang sampai tiga bulan tidak haid jika sedang banyak agenda di sekolah maupun kuliah. Hal itu yang membuat ibu memintaku untuk melakukan screening kandungan sebelum hari pernikahan tiba.


Aku sudah berada di ruang dokter kandungan dengan didampingi oleh asisten dokter. Dokter Aisyah spesialis kandungan di Rumah Sakit Sejahtera Medical Center. Aku sengaja memilih dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit ini. Begitulah pesan ibu sebelum aku memilih jadwal konsultasi kandungan.


Aku menceritakan kondisiku kepada Dokter Aisyah. Tabel haidku juga kusampaikan pada beliau dengan aplikasi kalender haid yang kupasang di handphonku. Kemudian beliau melihat kondisi rahimku dengan melakukan USG Abdomen. Kondisi rahimku bersih, tidak ada kista ataupun mioum dalam rahimku.


“Shaki, alhamdulillah kondisi rahimmu bersih nak.” Terang Dokter Aisyah


“tapi dok, kenapa haid ku selalu tidak teratur ya?” tanyaku penasaran.


“nah, ada baiknya kita melakukan tindakan lebih jauh Shaki. Saya akan melihat kondisi sel telurmu di ovarium. Tapi karena kamu belum menikah maka tidak bisa dilakukan tindakan USG Trans vaginal, jadi kita akan melakukan USG trans-rectal melalui dubur”, terang dokter.


“baik dok, jadi kapan saya bisa ditindak untuk USG trans-rectal itu dok?”tayaku sembari menghela nafas.


“Haid hari ke-dua kamu langsung jadwalkan bertemu saya kembali ya Shaki. Kita bisa lakukan tindakan tersebut agar maksimal di hari ke-dua ataupun hari ke-tiga haid” jawab dokter Aisyah.


🤗🤗


selamat menikmati kisahnya yaa...


update an selanjutnya ditunggu kuy 😀

__ADS_1


jangan lupa berikan like 👍 dan tinggalkan jejak komentar yaaa pembaca 💕


__ADS_2