RAINBOW STORY

RAINBOW STORY
part 8 (siapa perempuan itu ?)


__ADS_3

Aroma coklat tercium dibalik kamarku. Bergegas aku menuju sumbernya. Siapa lagi kalo bukan ibu yang menyiapkan segelas coklat panas untukku. Goregan tempe dan sukun tersaji bersama dengan coklat panas di meja. Nikmatnya pagi ini.


Setelah beberes urusan rumah dan bersih diri aku segera menyiapkan diri untuk menuju rumah sakit lagi. Kali ini bukan di poli kandungan, karena jadwal poli kandungan masih dua pekan lagi. Aku sudah reservasi dengan dokter Tika di poli kulit kelamin rumah sakit. Semoga konsultasi dengan dokter Tika menemukan solusi terbaik untuk wajahku yang semakin tak karuan.


"Dek shaki sudah siap ?" Tanya mas pras di depan rumah.


"Sebentar lagi ya mas, shaki tinggal pakai jilbab" triakku dari dalam kamar.


Sengaja hari ini aku ditemani mas Pras, karena mas Pras tidak ada kegiatan. Kami berpamitan dengan bapak dan ibu. Mobil dipacu cukup kencang oleh mas Pras. Karena jalanan masih lumayan sepi jadi mas Pras mengendarai mobil dengan cukup kencang. Selama perjalanan kami saling berbincang dan sesekali tertawa bersama.


"Adek setelah dari rumah sakit mau diantar kemana lagi?" Tanya mas Pras


"Emmm ... Kemana ya mas ?" Tanyaku balik.


"Mas itu tanya kok malah balik nanya sih" jawab mas Pras dengan sedikit tersenyum.


"Nanti lah mas kita lihat situasi aja, kalo dirumah sakit gak terlalu lama kita mampir kemana gitu ya mas" jawabku sambil nyengir.


"Siap tuan putri" jawab mas Pras.


"Kita bisa mampir di kedai kopi dekat rumah sakit juga lho" papar mas Pras.


"Emmm shaki pengen ice cream mas" jawabku nyengir.


"Es krim ya ? Di kedai kopi itu juga ada es krim dek, wafel es krim juga ada dek" terang mas Pras seperti waiters di kedai.


Aluna musik jazz menemani sepanjang perjalanan kami. Mas Pras senang sekali dengan musik jazz dan aku tak masalah musik jenis apapun. Asalkan nyaman ditelingaku. Tanpa sadar kami telah sampai di parkir area rumah sakit.


Kami segera menyusuri lorong rumah sakit. Sesampainya di poli kulit ternyata sudah ada beberapa pasien yang mengantri. Tentu banyak, dokter Tika ini salah satu dokter spesialis kulit di rumah sakit ini. Wajar jika pasiennya banyak, walaupun masih tak sebanyak pasien dokter Aisyah.


"Pasien atas nama Dzakia talitta Shaki" suara perawat memanggilku.


"Assalamualaikum" suaraku sambil masuk ruangan.

__ADS_1


"Walaikumsalam, ada yang bisa dibantu nak?" Tanya dokter dengan sangat ramah.


"Dok, ini wajahku berjerawat banyak. Sangat mengerikan" tuturku.


"Sebentar saya cek dulu ya nak" jawab dokter Tika sambil melihat wajahku dengan senternya.


"Apakah kamu sedang mengkonsumi obat hormon nak ?" Tanya dokter Tika sambil menyalakan komputer diruangannya.


"Iya dok benar, saya PCOS. Sebentar lagi saya menikah dan saya melakukan treatmen sekaligus promil dengan dokter Aisyah" jawabku.


"Begini nak shaki, jerawat PCOS ini memang sangat khas. Hanya muncul dibagian bagian tertentu saja. Seperti yang kamu alami sekarang, jerawat dengan ukurang yang bisa dibilang besar dan bernanah dan hanya tumbuh di bagian sekitar pelipis, dagu serta punggung" papar dokter Tika sembari memperlihatkan gambar di monitor komputer.


"Owh, jadi ini efek konsumsi obat-obat selama shaki treatmen ya dok?" Tanyaku penasaran.


"Benar nak, selain karena khasnya jerawat PCOS juga karena efek dari konsumsi obat KB maupun obat hormon" jawab dokter Tika.


"Apakah aku bisa mulus lagi wajahnya dok?" Tanyaku.


"Insyaallah kita usahakan ya, tapi tidak bisa instan dengan cepat. Saya akan berikan resep untuk krim malam dan krim paginya ya" Terang dokter Tika.


"Untuk facial wash nya masih bisa dipakai seperti biasa, tapi saran saya lainnya di stop dulu ya. Pakai krim pagi dan malam dari saya dulu. Jangan menggunakan bedak maupun foundation yang kadarnya pekat. Kita lihat dua pekan kedepan apakah sudah ada perubahan atau belum ya" terang dokter Tika.


"Baik dok, terimakasih banyak. Dua pekan lagi saya kontrol ya dok" jawabku sambil menerima resep dari dokter Tika.


"Iya nak, semoga dua pekan lagi ada perubahan ya. Jangan lupa atur pola makan dan jaga berat badan. Kurangi gorengan dan makanan instan" jawab dokter Tika.


"Baik dok, sekali lagi terimakasih ya dok. Saya permisi dok" pamitku pada dokter Tika.


Mas Pras yang sejak tadi menunggu didepan ruang priksa segera bangkit mendekatiku setelah melihat aku keluar ruangan. Aku menjelaskan seperti yang dijelaskan oleh dokter Tika kepada mas Pras. Kami bersama menuju apotek rumah sakit untuk menebus resep yang telah diberikan.


Selepas dari apotek rumah sakit, kami segera menuju parkiran. Lumayan jauh antara poli farmasi ke parkiran. Kebetulan kami parkir di sisi Utara rumah sakit. Tiba - tiba ada suara memanggil mas Pras dari belakang kami.


"Pras" suara dari seorang wanita.

__ADS_1


"Owh hai Bil apa kabar ?" Jawab mas Pras dengan senyumannya.


"Kabar baik Pras, kamu sendiri bagaimana ? Menghilang tanpa kabar aja kamu ini" jawabnya.


"Iya aku harus move on dong" jawab Mas Pras sambil terkekeh.


"Pengecut kamu ini, bukannya diperjuangkan malah menghilang tanpa kabar" jawabnya sambil memukul pundak Mas Pras.


"Aku minta maaf ya bil, waktu itu aku tak ada daya untuk menemui orangtua mu. Bahkan untuk bertemu kamu dibandara saja aku tak mampu berucap bil" jawab mas Pras.


"Ah udahlah itu masa lalu. Oiya aku sekarang udah jadi dokter di sini" jawabnya


"Wah selamat ya ibu dokter. Lengkap ya bahagiamu bil. Punya suami keren dokter juga, punya anak ganteng" kekeh mas Pras.


"Aku janda muda Pras. Suamiku meninggal kecelakaan saat aku melahirkan Kamil" paparnya.


"Kamil itu kan nama suami bil" tanya Mas Pras penasaran.


"Mendiang suamiku namanya Kamil Al-Farabi kalo anakku Kamil Al-hazen. Sengaja aku memberi nama Kamil karena hadirnya menggantikan suamiku" jawabnya sambil berkaca kaca.


"Maafkan aku bil, aku tak mengetahui soal ini" jawab mas Pras menepuk punggung Nabila.


"Oiya Pras, aku pamit ya. Ada praktek sebentar lagi" pamitnya.


Aku hanya diam sejak tadi. Bahkan keberadaanku seperti tak dianggap oleh mas Pras. Aku jadi penasaran dengan perempuan itu. Ingin rasanya aku bertanya kepada mas Pras. Entah kenapa masih sungkan rasanya menanyakan masa lalunya.


Rasanya hatiku ada yang tidak nyaman. Ingin marah tapi merasa tak berhak marah. Ingin bertanya banyak hal tapi takut jika nanti mas Pras tersinggung. Rasanya bingung, didada seperti ada yang menimpa dan berat sekali. Ingin menangis tapi aku tak tau apa alasannya menangis.


Siapa perempuan itu tadi ? Apakah dia bagian masa lalu mas Pras ? Kenapa perbincangan tadi menyangkut masa lalu dan memperjuangkan, batinku. Ribuan pertanyaan itu sudah ingin terucap tapi entahlah rasanya seperti terhenti mulut saja.


🤗🤗


selamat menikmati kisahnya yaa...

__ADS_1


update an selanjutnya ditunggu kuy 😀


jangan lupa berikan like 👍 dan tinggalkan jejak komentar yaaa pembaca 💕


__ADS_2