
'Aku tahu kini kau hidup demi memperjuangkan cintaku. Aku tahu dan tak pernah menutup mata serta telingaku untuk semua perjuanganmu. Aku tahu ini pasti terasa berat untukmu. Ini pun terasa berat untukku... aku juga ingin berjuang sebagaimana perjuanganmu. Aku pun juga tak ingin melukaimu dengan pedang cintaku. Tapi apa yang bisa aku lakukan dalam keadaan seperti ini? Aku hanya akan menodai perjuanganmu, aku hanya akan melukai perasaanmu, aku hanya akan membuatmu merasa menderita jika aku menerima perasaanmu. Jika kau berjuang untuk mencintaiku, akupun akan berjuang untuk menjaga pedang cintaku agar tak melukaimu..... Maafkan aku.... Maafkan aku.... Maafkan aku.... Juhyun......'
~Rainy Heart~
Juhyun menghapus airmatanya dengan cepat saat tak ada tanda-tanda jika Kyuhyun tertidur. Dengan segera pula ia merubah posisinya dan menyandarkan Kyuhyun pada sandaran kursi. Pria dihadapannya ini terlihat begitu lemah dan sama sekali tak bereaksi dengan panggilannya
"Kyuhyun.... kau dengar aku!" Tak tahu apa yang harus ia lakukan, Juhyun terus saja memanggil Kyuhyun.
Kedua matanya masih tertutup rapat, dengan sedikit gusar Juhyun memegang kedua pipi Kyuhyun, airmatanya telah tumpah, situasi ini terlalu tegang untuk tak membuatnya panik. Kemudian menyentuh leher Kyuhyun untuk memeriksa denyut nadi disana
"Ouch...." Keluh Juhyun dengan airmata yang telah membasahi seluruh pipinya. Meski ia bukan dokter, ia tahu Kyuhyun tidak dalam kondisi baik saat ini.
Dengan semakin panik, Juhyun merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, setelah itu menghubungi ambulance. Ia tak bisa memikirkan apapun selain menghubungi ambulance. Begitu selesai menghubunginya, Juhyun melepas jaket yang ia kenakan untuk menyelimuti Kyuhyun yang mungkin kedinginan. Airmatanya sudah tak terbendung lagi, bahkan penampilannya telah kacau karena menangis tiada henti. Ia sangat cemas. Kemudian ia dekap erat tubuh itu sembari masih terus menangis
"Apa yang terjadi padamu?" Gumamnya dengan suara bergetar
"Juhyun.sshi...?" Juhyun menoleh lekas ke asal suara, dari samping kanannya Ahra berlari mendekat, raut wajahnya juga terlihat sama tegang dengan dirinya
"Apa yang terjadi?" Juhyun hanya bisa menggeleng sambil menangis
"Ambulance akan datang sebentar lagi..." Ujar Juhyun disela-sela tangisnya
"Kyuhyun.ah kau dengar aku? Kyuhyun... bangun...!!" Seru Ahra tak kalah panik dengannya. Juhyun tertegun melihat reaksi Ahra itu. Pasti ada sesuatu yang membuat Ahra sampai sepanik ini
'Apa yang Kyuhyun rahasiakan dariku?'
.
.
Juhyun duduk di samping sebuah ranjang rumah sakit. Ia masih menunggu seseorang yang berbaring di atas sana membuka kedua matanya. Mengabaikan kapalnya yang telah berlayar sejak satu jam yang lalu. Sudah tiga jam ia duduk disana, namun pria dihadapannya ini masih belum juga terbangun. Perlahan ia genggam tangan pria itu, kedua matanya terpejam untuk mengusir rasa khawatir. Beberapa kali ia menghela, sudah sejak pagi ia menunggu, dan sekarang ia harus menunggu lagi.
Ia berjaga sendirian, Ahra masih harus pulang karena ada yang harus ia kerjakan. Sehingga membuatnya tak bisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Perlahan......
Kedua mata Kyuhyun terbuka, Kyuhyun masih menyesuaikan kedua matanya dengan ruangan terang itu. Kemudian menoleh ke samping kanannya, dengan diam ia memandang Juhyun yang masih menunduk, ia juga bisa merasakan genggaman tangan Juhyun. Kedua mata Kyuhyun tampak sayu saat memandang Juhyun yang seperti itu
'Akan jauh lebih menyakitkan bagiku jika kau harus berada pada posisi seperti ini daripada aku harus melepaskanmu...' batin Kyuhyun bergumam pilu
Ia masih diam hingga Juhyun mengangkat kepala dan menemuinya telah siuman. Juhyun tersenyum lebar melihat itu, ia juga menghela merasa sangat lega
"Kau sudah bangun? Apa kau sudah merasa baikan?" Tanyanya khawatir, Kyuhyun hanya diam memandangnya. Juhyun menunduk kembali dan menghapus airmatanya dengan cepat, saat tiba-tiba mengalir
"Maaf..." Ujar Juhyun menyesal karena tak bisa menahan tangis, namun terdengar ada getar dalam suaranya.
Juhyun harus berbalik untuk menenangkan perasaannya. Kyuhyun masih setia memandangnya dengan tatapan yang membuat Juhyun semakin tak bisa untuk menahan airmata
"Ah.... Mataku perih sekali..." Gumam Juhyun sembari tertawa kecil. Namun saat berbalik, ia masih menemui Kyuhyun menatapnya dengan begitu sedih. Sekuat tenaga Juhyun menahan diri untuk tak menangis lagi
"Apa... Apa kau bertemu dengan seekor anjing tadi?" Tanya Juhyun kemudian, kali ini Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya masih datar menahan rasa sedih
"Anjing itu mengejarmu?" Airmata Juhyun mengalir lagi
"Hentikan!... Jangan menangisiku seperti ini! Memangnya aku akan mati?" Ujar Kyuhyun pada akhirnya namun sama sekali tak memandang Juhyun
"Maaf... Aku sangat terkejut saat tiba-tiba kau pingsan.."
"Aku hanya kelelahan..."
"Iya... Benar... Istirahatlah! Aku akan pergi!" Juhyun berdiri perlahan dan berbalik akan beranjak.
Namun urung saat tangannya di tahan oleh Kyuhyun. Perlahan Juhyun menoleh, Kyuhyun masih tak memandangnya meski tangan mereka saling bertaut. Ia hanya bisa menatap tautan tangan itu dengan diam. Beberapa saat kemudian
"Terimakasih...." Juhyun mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang kini juga memandangnya. Kemudian tersenyum simpul dan mengangguk. Setelah itu beranjak, membiarkan tautan tangan itu terpisah. Ia merasa sangat sedih saat ini dan ia tak ingin menangis di depan Kyuhyun.
Kyuhyun hanya bisa memandang kepergiannya dengan sendu. Kemudian memejamkan kedua matanya kembali. Bersamaan dengan itu airmatanya menetes, dia juga merasa sedih.
.
.
Sepulang dari syuting, Kyujong menyibukkan dirinya di dapur untuk memasak makan malam. Meski wajahnya tampak keruh, Kyujong tetap sibuk dan tak memberikan kesempatan pada dirinya untuk melamun. Ia memang piawai di dapur, karena itu dari jauh ia terlihat sangat sempurna ketika memasak. Ia sedang menyiapkan makanan kesukaan sang adik. Nanun wajahnya sama sekali tak terlihat baik-baik saja, ia terlihat murung di bawah cahaya lampu dapur yang menyala. Hanya lampu dapur yang ia nyalakan.
Keputusannya untuk melepas Juhyun, bukanlah keputusan yang mudah untuk ia ambil. Ia telah kehilangan cintanya sekarang, demi Kyuhyun dan juga Juhyun tentunya.
Tak ia hiraukan ponselnya yang bergetar terus menerus, disaat berada pada mood buruk seperti ini, Kyujong lebih senang menyibukkan dirinya di dapur dan menjauhkan diri dari ponsel.
'drrrt drrrrrrttttt..'
Sekali lagi ponselnya bergetar. Entah sudah ke berapa kalinya, ponsel itu bergetar sejak sore tadi. Namun ia mengabaikannya.
'drrrtt drrrrrrttttt....'
Kyujong mneghela saat penelpon tersebut begitu tak sabaran dan gigih. Kyujong meraih ponsel tersebut dan mematikannya. Itu telepon dari Jungsoo. Ia sedang tak ingin membahas pekerjaan. Setelah itu ia kembali sibuk di dapurnya menyiapkan makan malam untuk Kyuhyun.
.
.
"Kenapa dia?" Gumam Jungsoo sembari memandang ponselnya sedikit kesal, sedetik kemudian ponselnya berdering
"Eoh..." Ujarnya menjawab telepon dari Ahra
"Tidak... Dia tidak menjawab teleponku, memangnya ada apa? Kenapa kau tidak hubungi dia sendiri?"
'Kalau dia menjawabnya, aku tidak akan minta tolong padamu! Baiklah... Aku akan ke rumahnya saja'
Berkali-kali Ahra menghubungi Kyujong, bermaksud untuk mengabarinya bahwa Kyuhyun dilarikan ke rumah sakit. Namun Kyujong tak menerima panggilannya.
.
.
Tepat pukul tujuh malam, Kyujong selesai menata makanan yang sudah ia masak di meja makan. Kemudian beranjak keluar untuk memeriksa apakah Kyuhyun sudah pulang atau belum. Sampai di ruang tengah, ia hentikan langkahnya saat melihat Kyuhyun baru memasuki rumah dan berjalan perlahan menaiki tangga. Suasana rumah memang temaram, Kyujong tak menyalakan semua lampu. Itu sudah menjadi kebiasaannya ketika ia merasa sedang dalam kondisi mood buruk.
"Kyuhyun... kau baru pulang?" Pertanyaan itu menghentikan langkah Kyuhyun. Kyuhyun menoleh pada sang kakak yang telah mendekat
"Iya..." Singkatnya dengan suara parau
"Kebetulan, makan malam dulu!"
"Maaf hyung, aku lelah....." Kyuhyun menganggukan kepalanya pelan dan melanjutkan langkah menuju kamar. Kyujong mengerutkan keningnya merasa heran dengan sikap Kyuhyun malam ini
"Dia terlihat kurang sehat...." Gumam Kyujong kemudian menyusul sang adik ke lantai dua.
Kyuhyun menutup pintu perlahan setelah memasuki kamarnya. Berjalan ke tempat tidurnya dan berbaring disana. Ia masih lemas, seharusnya memang ia masih di rumah sakit sekarang. Tapi dia memaksa pulang. Kyuhyun menghela dan dalam sekejab ia tertidur. Ia benar-benar lelah hari ini, kondisi hatinya juga menambah ketidak berdayaannya.
Kyujong memasuki kamar dengan perlahan, kemudian mendekati adiknya yang sudah tertidur itu. Menarik selimut dan menyelimutinya perlahan, kemudian mengecek suhu tubuh sang adik. Ternyata benar adiknya tengah demam sekarang. Kyujong menghela dan keluar kembali mengambil peralatan untuk merawat adiknya itu.
.
.
Keesokan harinya, langit masih tetap secerah kemarin. Kyuhyun membuka kedua matanya saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Kamarnya masih lumayan gelap, karena sinar matahari terhalang oleh gorden tebal di kamarnya. Kyuhuun mengerjapkan kedua matanya perlahan dan melihat ke sekeliling, kemudian menghela saat mengingat apa yang terjadi kemarin.
__ADS_1
Setelah itu bangun ke posisi duduk, dan saat itulah ia melihat sang kakak masih tertidur di sofa. Kyuhyun menunduk melihat handuk kecil yang terjatuh ke tangannya, kemudian tersenyum simpul
"Dia merawatku semalaman...." Gumamnya kemudian menuruni tempat tidur.
Hari ini ia sudah membaik, sepertinya Kyujong telah merawatnya dengan sangat baik. Dia benar-benar menggantikan peran sang ibu. Ketika mereka sakit dahulu, sang ibu selalu berjaga semalaman untuk merawat mereka. Kyuhyun mengambil selimut dalam lemarinya dan menyelimuti Kyujong dengan perlahan
"Terimakasih hyung..!"
Setelah mengatakan hal itu, Kyuhyun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini ia tak akan pergi kemana-mana. Pingsan di tempat terbuka dan dilihat orang yang tak seharusnya melihat itu, membuat Kyuhyun merasa harus menyendiri untuk hari ini. Ia tak bisa bayangkan betapa banyak pertanyaan di benak Juhyun setelah melihatnya pingsan kemarin.
Sekitar 15 menit kemudian, Kyuhyun selesai membersihkan diri. Sang kakak masih tertidur. Sepertinya dia benar-benar tak tidur hingga pagi. Kyuhyun keluar dan menutup pintu dengan perlahan. Menuju dapur dan melihat bibi tengah sibuk menyiapkan sarapan
"Bibi..."
"Eoh... Tuan sudah bangun" Kyuhyun tersenyum
"Aku saja yang siapkan sarapannya" bibi mengerutkan keningnya. Jika Kyujong yang meminta, ini tak akan mengherankan. Tapi Kyuhyun? Dia bahkan tidak tahu caranya menyalakan kompor, apa yang akan dia masak?
"Kenapa?" Tanya Kyuhyun penuh selidik
"Tuan...."
"Bibi meragukan aku? Aku bisa! Memangnya Kyujong hyung saja yang jago memasak?" Kyuhyun merajuk dan menggembungkan pipinya, bibi hanya tersenyum salah tingkah, kemudian beranjak.
Ia baru akan mulai memasak tadi, dan kini Kyuhyun mengusirnya dari dapur. Ia berharap dapur tidak berantakan seusai Kyuhyun memasak nanti. Kyuhyun tersenyum dan tampak berbinar
"Baiklah.... Saatnya dimulai" gumamnya sembari melakukan peregangan pada tangannya. Setelah itu beranjak menuju lemari es untuk mengambil bahan.
Namun ia mematung saat membuka kulkasnya, ia tak tahu akan memasak apa? Tak pernah sekalipun ia menyentuh dapur. Kyuhyun tampak serius berpikir, namun tak ada satu idepun yang muncul. Sekeras apapun ia memikirkannya. Kyuhyun menghela saat otaknya tiba-tiba menjadi buntu
"Aish....." Mimik wajahnya begitu menggemaskan, saat ia berpikir keras hanya untuk memasak.
Kyuhyun menutup kulkasnya kembali dan mengeluarkan ponselnya dari saku. Memcari resep mudah di internet
"Tidak...tidak... Ini sulit dibuat, aish... Kenpa semuanya begitu sulit dibuat?" Gumam Kyuhyun sembari menscrol layar ponselnya. Wajahnya menjadi keruh saat tak ada satu resep pun yang bisa ia masak.
'ting tong'
Kyuhyun tampak heran saat mendengar bunyi bel, siapa yang bertamu sepagi ini? Jika itu Jungsoo, ia tak akan menekan bel. Dia pasti akan langsung masuk. Penasaran, Kyuhyun beranjak untuk membuka pintunya sendiri.
.
.
Kyujong terbangun, dan meregangkan otot-ototnya. Tidur di sofa tentunya terasa tidak nyaman. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian bangun ke posisi duduk, dan merasa heran saat tersadar ada selimut yang menghangatkan tubuhnya. Ia toleh tempat tidur Kyuhyun, adiknya tidak ada disana. Kyujong tersenyum simpul dan memandang selimutnya kembali.
"Baiklah... Apakah dia sudah baikan pagi ini?" Gumamnya sembari berdiri dan mengeluari kamar.
Dari lantai dua ia melihat bibi sedang sibuk membereskan ruang tengah. Kyujong menuruni tangga dengan santai dan beranjak ke dapur untuk mengambil air minum, namun langkahnya terhenti diambang pintu. Adiknya tampak sibuk disana, Kyujong tersenyum melihat itu. Saat akan membuka pintu, gerakan tangannya terhenti, ketika ia melihat seorang wanita datang sembari membawa sayuran dari arah lemari es, Kyujong memandang wanita itu dari pintu kaca dihadapannya
"Ah.... Jadi begini caranya...." Gumam Kyuhyun sembari mengaduk kuah yang sedang dimasaknya
"Bagaimana kau bisa mengenal hyungku?" Wanita itu tersenyum
"Kau tidak mengingatku?" Alih-alih menjawab ia malah balik bertanya
"Memangnya siapa kau?" Tanya Kyuhyun kembali sembari memandang wanita itu intens. Dia masih saja tersenyum
"Kau tidak ingat suaraku?" Kyuhyun menggeleng
"Jang Marin, sudah ingat?" Kyuhyun mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-mengingat nama itu dan kapan ia bertemu dengan pemilik nama itu, Kyuhyun menggeleng lagi saat tak mengingatnya
"Coklat panas....." Kyuhyun berdecak dan masih menggeleng. Wanita itu tertawa, karena menurutnya ekspresi Kyuhyun sangat menggemaskan ketika sedang berpikir
"B.berikan...i.ini...p.pada hyungmu...." Marin mengatakan itu dengan tergagap, dan itu berhasil membuat Kyuhyun membulatkan kedua matanya, Marin tersenyum, spertinya Kyuhyun telah mengingatnya
"Benar!"
"Tapi bagaimana kau bisa seperti ini? Kau menghilang setelah terlibat sekandal dengan Kyujong hyung, dan kenapa kau jadi tambah cantik seperti ini? Aku benar-benar tidak mengenalimu..." Kyuhyun memandangnya dengan takjub, Marin hanya tersenyum
"Jangan mengatakan pada Kyujong tentang coklat panas dan stalker, aish... Sebenarnya aku tidak setuju kau menyebutku stalker, aku ini orang yang mencintainya secara diam-diam..."
"Ah.. maaf..." Kyuhyun tertawa
Pintu terbuka, dan menghentikan obrolan itu, Kyujong masuk dan memandang Marin intens. Ia mendengar semua percakapan tadi. Marin juga menatapnya dan masih tersenyum. Kyuhyun melirik hyungnya yang tampak serius itu
"Kau sudah merasa lebih baik?" Kyujong beralih memandang Kyuhyun dan menyela ucapannya. Sang adik mengangguk, Kyujong tersenyum lega. Marin menunduk dan menjutkan kegiatannya memotong sayuran itu
"Butuh bantuan?" Tanya Kyujong kemudian
"Tidak...tidak perlu...! Hari ini aku yang akan memasak untukmu!" Jawab Kyuhyun mantap saembari menggeleng
"Baiklah... Ah... Marin.sshi!" Marin menghentikan kegiatannya memandang Kyujong
"Kita perlu bicara!"
"Silahkan! Aku bisa lanjutkan masakan ini..." Ujar Kyuhyun dengan cepat
------
Juhyun sampai di Jeungdo. Langkahnya pelan memasuki rumah. Hari ini ia cuti tidak mengajar karena terlambat kembali dari Seoul. Namun pikirannya sama sekali tak teralihkan. Ia masih memikirkan apa yang terjadi kemarin, dan ia masih mencemaskan Kyuhyun.
Perlahan ia duduk di sofa ruang tengah rumahnya, kemudian menunduk. Ia bahkan memasuki rumah tanpa salam. Pikirannya benar-benar terganggu saat ini, apa yang dikatakan Kyuhyun kemarin masih saja terngiang-ngiang ditelinganya. Hingga sekarang, Kyuhyun masih ingin ia bersama Kyujong, dia bahkan menitipkan Kyujong padanya untuk ia jaga.
"Apa dia akan pergi jauh?" Gumamnya
"Ommo!!!" Juhyun mengangkat kepalanya dan memandang ibunya yang terkejut
"Aish! Kapan kau datang?"
"Baru saja...."
"Ibu sangat khawatir saat Hyukjae bilang kau ketinggalan kapal, bagaimana bisa?"
"Entahlah.. Aku lelah..." Juhyun beranjak menuju kamarnya. Nyonya Kim memandang putrinya itu heran, wajahnya juga terlihat sangat keruh, apa terjadi sesuatu di Seoul?
------
"Stalker? Apa maksudnya itu?" Kyujong bertanya dengan terang-terangan begitu mereka telah mengeluari dapur. Marin menghela dan memandang Kyujong yang duduk di sampingnya, kemudian tersenyum simpul
"Jadi kau mendengar percakapan kami?"
"Marin...."
"SMA Gookil, aku alumni disana" Kyujong mengerutkan keningnya, itu sekolahnya dan juga Kyuhyun
"Karena kau sudah mendengarnya, aku akan ceritakan!" Marin tersenyum
*****
Sebagai siswi yang jauh dari kata popular, dan siswi yang sangat pemalu. Marin hanya bisa menyukai teman seangkatannya secara diam-diam. Kepribadiannya tertutup dan pemalu, Marin hanya bisa memperhatikan Kyujong dari jauh, menyukainya diam-diam, dan hanya berharap dalam hati bisa menjadi kekasih siswa tampan dan kaya raya itu.
Bukan karena dia berasal dari keluarga chaebol (sebutan untuk keluarga konglomerat) atau karena dia tampan, sebenarnya Marin menyukai kepribadian siswa ini. Dengan segala apa yang dia miliki, dia begitu baik hati dimata Marin, dia juga ramah. Suatu kali, Marin pernah mendapatkan bantuannya, ketika itu ia sedang membawa beberapa peralatan yang harus ia kembalikan ke laboratorium. Tak hanya satu alat praga, tapi lumayan banyak.
Disaat tak ada seorangpun yang membantunya, Kyujong datang dan tanpa mengatakan apapun ia mengambil setengah peralatan yang ia bawa. Saat itu Marin hanya bisa memandangnya, dan tak mengatakan apapun selain berterimakasih. Kyujong juga hanya tersenyun menerima ucapan terimakasih itu. Memang bukan hanya pada dirinya Kyujong bersikap baik seperti ini, tapi kepribadian seperti ini sudah cukup membuat Marin menyukainya.
__ADS_1
Suatu hari, entah mengapa cuaca begitu dingin. Lebih dingin dari biasanya. Dan entah mengapa saat itu Marin melihat Kyujong tengah membersihkan sampah di halaman sekolah, dan sepertinya dia sedang menjalani hukuman. Marin adalah seorang pengamat, tak jauh dari sana, ia bersembunyi dan memperhatikan Kyujong diam-diam. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan
"Dia pasti kedinginan...." Gumamnya merasa kasihan.
Seorang siswa lain datang, dia duduk dan hanya memperhatikan Kyujong seperti seorang mandor
"Aish... Kyuhyun... jangan disini!" Seru Kyujong, siswa itu adalah adiknya
"Aku bantu ya?" Tanya Kyuhyun, adiknya masih SMP, sepertinya dia meninggalkan kelasnya untuk melihat sang kakak yang tengah di hukum
"Tidak! Kau harus kembali ke kelas sekarang juga!"
"Tapi... Kenapa hyung di hukum?" Kyujong tak menjawabnya
"Cepat kembali..." dan malah berseru, Kyuhyun menghela
"Baiklah... Baiklah......"
Kyuhyun beranjak meninggalkan kakaknya yang sedikit keras kepala itu. Kali ini perhatian Marin tertuju pada sang adik. Kyuhyun melewatinya begitu saja dengan menggerutu kesal. Namun langkahnya terhenti, kemudian menoleh pada Marin yang kini sudah memperhatikan Kyujong kembali
"Haruskah aku memberikannya minuman hangat?" Gumam Marin, Kyuhyun mendekat dengan perlahan dan berdiri tepat di belakang Marin
"Ah... Tapi bagaimana aku memberikannya? Aish..."
"Kau stalker ya?" Marin menoleh dan memandang Kyuhyun terkejut, ia menjadi gugup karena tertangkap basah
"B.bukan..."
"Kau menyukai hyungku?"
"Eoh?"
"Jadi hyungku punya penggemar? Namaku Kyuhyun..." Kyuhyun mengulurkan tangannya
"Ah.. iya, aku Jang Marin..."
"Kau mau memberinya minuman hangat kan? Titipkan padaku jika kau terlalu malu untuk memberikannya sendiri..." Ujar Kyuhyun tanpa berbasa-basi
"Apa?" Kyuhyun mengangguk mantap, Marin menelan ludahnya dan kemudian beranjak untuk membeli minuman hangat. Sesaat kemudian dia datang, Kyuhyun masih menunggunya
"B.berikan..i.ini....p.pada hyungmu!"
*****
Kyujong tertegun memandang Marin setelah mendengar ceritanya. Ia tak menyangka, Marin satu sekolah dengannya, dan menyukainya bahkan hingga sekarang. Wanita dihadapannya ini benar-benar memiliki rasa yang sangat tulus. Kyujong masih tertegun hingga ia lupa menanyakan untuk apa dia datang
"Kau tahu betapa aku ingin menghancurkanmu setelah kejadian dua tahun yang lalu kan? Aku mengumpulkan semua informasi tentang dirimu, dan merencanakan sebuah balas dendam. Aku ingin kau jatuh seperti aku dua tahun yang lalu, tapi....! Aku hanya bisa mengumpulkan semua rencana itu tanpa bisa merealisasikannya..."
Marin tersenyum getir dan menunduk, mengasihani dirinya sendiri. Ia begitu naif hingga hanya bisa melihat wajah satu pria saja. Kyujong masih memandangnya
"Lakukan saja....! Aku pasti telah membebanimu...." Ujar Kyujong pelan
Marin mengangkat kepalanya dan memandang Kyujong intens. Hati pria dihadapannya ini begitu baik, bagaimana bisa ia menghancurkannya? Marin menggeleng pelan
"Seperti yang sudah ku katakan, apa yang terjadi dua tahun yang lalu bukanlah salahmu..."
"Sarapan siaaapppp....!" Ujar Kyuhyun dari dapur. Mereka berdua serentak menoleh, kemudian saling pandang sejenak
"Sarapan disini..." Ujar Kyujong, Marin mengangguk.
.
.
Kyuhyun memandang mereka bergantian. Makanan telah siap di hadapan mereka. Namun sama sekali mereka tak menyentuh makanan itu. Baik Kyujong maupun Marin, mereka hanya duduk memandang kuah sup yang telah dibuatnya. Penampilan makanan itu memang tak seperti biasanya, sepertinya Kyujong dan juga Marin ragu untuk memakannya. Marin menghela pelan, ia sudah mengajari Kyuhyun dengan resep yang benar tadi, tapi ia sedikit heran dengan hasil akhirnya. Sementara Kyujong, dia lebih terlihat sedang menahan tawa.
Kyuhyun masih memandang mereka bergantian dengan kening berkerut. Ini sudah lima menit, tapi apa-apaan reaksi mereka?
"Apa ini beracun?" Tanya Kyuhyun pelan. Namun mampu mengalihkan pandangan mereka padanya, Kyuhyun tersenyum simpul tanpa rasa bersalah
"Aku rasa ini akan menyebabkan diare..." Ujar Marin terlalu jujur hingga menghilangkan senyuman Kyuhyun
"Aku gagal membuatnya?" Kyuhyun bertanya lagi dengan wajah memelas
"Gwaenchana... Ini masih bisa dimakan!" Ujar Kyujong menghibur kemudian melahap sup tersebut, ia tak ingin membuat Kyuhyun yang sudah bersusah payah memasak merasa kecewa
"Eoh!" Dengan cepat Kyuhyun mendekati sang kakak dan memgambil sendok di tangan Kyujong, Kyujong memandangnya heran
"Siang nanti kau ada syuting! Tidak lucu jika kau keracunan karena memakan sup yang aku buat" ujar Kyuhyun cepat membuat Kyujong tertegun untuk sesaat kemudian tertawa kecil. Marin menghela kemudian berdiri
"Biar aku membuat yang baru!"
Pada akhirnya mereka sarapan dengan makanan yang dimasak oleh Marin. Kyuhyun telah gagal membuat sang kakak terkesan.
.
.
~Akhir pekan berikutnya....
Setelah sarapan bersama beberapa hari yang lalu, Kyuhyun benar-benar tak pergi kemanapun. Ia habiskan waktunya di kamar untuk membaca buku. Hingga akhirnya ia menampakkan dirinya kembali setelah tiga hari kemudian. Kondisi "mental" nya sudah membaik, dan ia tak lagi mengingat kejadian pingsan ditempat terbuka itu.
Sekarang, ia sudah kembali memulai aktifitasnya, menghabiskan waktu bersama anak-anak di panti asuhan dan memantau penjualan novelnya. Besok, dia akan melakukan acara tanda tangan dan bedah buku untuk pertama kalinya.
Ia akan menunjukkan diri di saat-saat terakhir ini. Setidaknya, ia pasti akan membuat lega orang-orang yang menyukai tulisannya. Karena akhirnya mereka bisa melihat penulis favorit mereka. Kyuhyun akan melaksanakan acara itu selama satu bulan ke depan.
Kyuhyun duduk di taman panti dan membuka paper bag yang diberikan oleh Ahra hampir sepekan yang lalu. Ia belum membukanya karena alasan "menyendiri" tadi. Dan sekarang ia telah siap untuk membuka titipan dari Juhyun itu. Bibirnya tersenyum lebar begitu melihat isinya, sepucuk surat terdapat pula di dalamnya. Kyuhyun mengambil surat itu untuk dibacanya. Namun ia masih mengedarkan pandangannya, memastikan tidak akan ada yang mengganggu. Perlahan Kyuhyun membuka surat tersebut
'Aku tidak begitu pandai menulis, dan sepertinya ini adalah surat pertama yang ku tulis. Emm... Saengil Chukahae... Aku sama sekali tidak berniat untuk mengacuhkanmu. Jujur saja aku sangat gugup untuk bertemu denganmu! Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, aku merasa kerdil untuk berhadapan denganmu. Ah... Menyangkut hal itu, aku benar-benar minta maaf. Kau pasti merasa tidak nyaman. Aku akui jika aku terlalu gegabah, aku tidak bisa untuk menahannya lagi, apalagi yang harus ku tulis? Ah.. kau boleh tidak menanggapi ucapanku waktu itu, tapi..... Tolong jangan menjaga jarak denganku, jangan menjadi pria jahat! Kau sudah membuka pintu hatiku, dan membuatku terbiasa dengan leluconmu, jadi jangan pergi dan membuatku merasa tak nyaman. Tetaplah disisiku, arrachi?'
Kyuhyun melipat kembali kertas itu dan tersenyum simpul. Kemudian menghela
"Bagaimana caranya aku terus berada disisimu?" Gumam Kyuhyun kemudian mengedarkan pandangannya kembali. Ini akhir pekan, bukankah seharusnya Juhyun dan Hyukjae datang? Tapi sudah sesiang ini mereka belum juga datang. Apa hari ini mereka absen?
Kyuhyun berdiri untuk beranjak masuk. Udara di luar sangat dingin. Sebelum beranjak, ia kembali merapikan hadiahnya kemudian berbalik. Seperti di drama-drama, sebenarnya ia berharap saat berbalik akan ada Juhyun di belakangnya. Tapi ia sedikit kecewa saat ternyata Juhyun tak ada disana. Setelah menghela, Kyuhyun melangkahkan kakinya. Sesaat kemudian ponselnya bergetar, dengan segera ia menerima telepon masuk tersebut, itu dari Juhyun. Apakah dia menrindukannya???????
"Ajumma...." Ujarnya tanpa sadar dengan antusias
"Eoh... Kau terdengar senang sekali aku menelpon?" Kyuhyun merapatkan bibirnya dan merutuk dalam hati mendengar pertanyaan itu
"Kyuhyun.....?"
"Iya" kali ini Kyuhyun menjawab dengan cool, terdengar tawa di seberang sana
"Kau sedang menungguku?"
"Tidak! Kenapa aku harus menunggumu?" Juhyun tertawa kembali
"Aku akan sampai 30 menit lagi"
"Iya... Hati-hati" tak ada percakapan kembali untuk beberapa saat. Kyuhyun juga tampak bingung akan memulai percakapan yang seperti apa, sampai akhirnya.......
"Hey!!! Dasar pria jahat!!!" Kyuhyun terkejut bukan kepalang, saat tiba-tiba Juhyun mengumpat dengan nada dingin
"Apa?" Gumam Kyuhyun terkejut
__ADS_1
"Beraninya kau membohongiku? Aku akan buat perhitungan setelah sampai nanti! Jadi tetap tunggu aku huh!" Kini ucapan Juhyun menjadi ketus, Kyuhyun tertegun. Bingung dengan situasi tiba-tiba ini, apa Juhyun sedang mabuk?