Rainy Heart

Rainy Heart
Chapter 8


__ADS_3

"Burung bangau ini mewakili doa dan harapan mereka tentangku....."


"Maukah kau menikah denganku, Juhyun.sshi?"


"APAA????"


Juhyun merasa seperti sedang disambar petir sat ini. Menurutnya pertanyaan ini jauh berkali-kali lipat mengejutkannya daripada pertanyaan "maukah kau menjadi kekasihku?" Juhyun benar-benar tak habis pikir, ternyata Kyujong adalah orang yang sangat suka memberi kejutan. Dia sangat berhasil membuatnya terkejut. Bahkan sekarang, ia tak tahu harus mengatakan apa. Menikah? Memikirkannya saja ia tak pernah. Meskipun kali ini ia berharap bisa menjadi milik Kyujong, tapi bahkan ia masih ragu dengan perasaannya. Juhyun tersenyum kikuk saat Kyujong menampakkan senyuman hangat, seoalah tak terjadi apa-apa


"Kau pasti heran, mengapa aku lebih memilih pertanyaan itu dibandingkan dengan pertanyaan, 'maukah kau berkencan denganku?' benar kan?" Juhyun mengangguk polos, Kyujong tersenyum kembali


"Apa kau tahu, di semua drama yang aku perankan tidak pernah ada adegan ciuman antara aku dengan pemeran wanitanya?" Kali ini Juhyun menggeleng dengan polos


"Itu karena aku tidak ingin memberikannya pada selain istriku...."


Juhyun benar-benar meleleh mendengar pernyataan itu. Kyujong adalah tipe setia. Juhyun menunduk untuk menyembunyikan semu merah dipipinya.


"Aku tidak memintamu untuk menjawab dalam waktu dekat ini, tapi aku akan menunggu jawabanmu. Jangan merasa terbebani atau terikat.... Kau bebas menentukan pilihan. Kau bebas memberikan keputusan..." Juhyun masih menunduk. Ia benar-benar masih sangat terkejut.


.


.


'Kyuhyun....'


Kyuhyun menarik nafas panjang mendengar panggilan dari ponselnya itu. Kemudian tersenyum untuk menormalkan perasaannya


"Bagaimana kabar anak-anak?"


'Mereka merindukanmu! Pulanglah....'


"Aku juga merindukan mereka, begitu selesai aku akan pulang....."


'Kau sudah menerima titipanku? Kenapa tidak berterimakasih?' Ahra merajuk karena tak ada ucapan terimakasih dari Kyuhyun, padahal ia sudah bekerja keras bersama anak-anak untuk membuat burung bangau itu


"Titipan apa?"


'Ouch... Jadi dia belum memberikannya padamu?'


"Siapa? Hyung?"


'Hmmmm...'


.


.


Juhyun masih menunduk, ia terlalu salah tingkah untuk bereaksi, sementara Kyujong masih memandangnya dengan senyuman. Ia merasa sikap Juhyun ini sangat lucu dan menggemaskan. Mereka masih seperti itu hingga tak menyadari keberadaan Kyuhyun di depan mereka. Memperhatikan adegan itu dengan senyuman kecut


"Permisi..." Ujar Kyuhyun sembari menepuk kedua tangannya, tentu panggilan itu mengejutkan mereka berdua. Reflek Kyujong turun dari gazebo dan menjauhi Juhyun, begitupun dengan Juhyun yang juga melakukan hal yang sama. Kyuhyun memandang mereka dengan mimik jengah namun terlihat lucu


"Ehem..." Kyujong dan Juhyun mendehem bersamaan. Mengundang tawa Kyuhyun


"Tenanglah... Tidak akan ada berita, aku bukan orang yang seperti itu. Kyujong.sshi... bisa kita bicara?" Kyujong tertegun memandang Kyuhyun, sanggupkah ia bicara dengan Kyuhyun saat ini? Sanggupkah ia bersikap biasa saja seakan tak mengetahui apa-apa?


"Ajumma... Aku pinjam dia sebentar!" Setelah mengatakan itu Kyuhyun beranjak


Kyujong masih tertegun memandang Kyuhyun yang telah berlalu. Kemudian menarik nafas panjang beberapa kali setelah menunduk. Juhyun memandangnya dengan heran, pasti ada sesuatu diantara kedua kakak beradik ini. Ah.... Sial! Juhyun menggerutu dalam hati, saat Kyujong beranjak menyusul Kyuhyun. Juhyun meremas jari tangannya, menahan diri untuk tak perlu ikut campur. Kyujong sendiri yang bilang jika ia ingin membangun ruang privasinya.


"Tahan Juhyun.... Kau tidak boleh seperti ini!"


.


.


.


Masih di lokasi yang sama. Tak jauh dari gazebo tadi, Kyuhyun dan Kyujong sedang berhadapan. Juhyun bisa melihat mereka dari jauh, namun ia memilih untuk menundukkan kepalanya, dibandingkan memperhatikan mereka. Duo Kyu ini masih terdiam, saat Kyujong hanya bisa menunduk tak berdaya, Kyuhyun malah memandangnya dengan pandangan menyelidik. Ia merasa heran dengan sikap Kyujong kali ini


"Berikan padaku!" Seru Kyuhyun setelah puas menatapnya, Kyujong mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun heran


"Jangan mengambil apa yang bukan milikmu!"


"Apa?"


Kyuhyun menghela dan menoleh kearah gazebo, memastikan Juhyun tak melihat mereka, ia sedikit khawatir Juhyun tahu hubungannya dengan Kyujong. Sedikit lega saat Juhyun tampak tak perduli. Kyujong mengikuti arah pandangan itu, mencoba berpikir apa maksud dari pernyataan Kyuhyun tadi. Mungkinkah? Dengan cepat Kyujong memandang adiknya yang masih betah memandang Juhyun itu


'Kau menginginkannya?' Kyujong hanya mampu bertanya dalam hatinya


"Benda apa itu?" Kyuhyun beralih memandang Kyujong sekarang


"Iya?"


"Aish! Titipan Ahra nuna...." Kesal Kyuhyun pada akhirnya, karena Kyujong tak juga mengerti. Benar-benar bukan Kyujong biasanya


"Ouch... Itu.... Aku tidak membawanya sekarang?" Kyuhyun mengerutkan keningnya mendengar jawaban itu


"Berikah padaku setelah kau kembali nanti!" Kyuhyun segera beranjak setelah mengatakan itu. Namun ia kembali lagi


"Jangan bersikap seperti ini lagi! Kau aneh, dan jangan mengikutiku lagi..." Setelah mengatakan itu, Kyuhyun benar-benar beranjak. Kyujong menghembuskan nafasnya kencang dan berpegangan pada pohon yang menaungi mereka. Rasanya begitu berat untuk berhadapan dengan Kyuhyun saat ini, ia benar-benar tak sanggup


"Eoh...?" Juhyun berdiri melihat Kyujong tampak tak berdaya itu, dengan segera ia mendekatinya


"Apa kau baik-baik saja?" Juhyun bertanya dengan cemas, Kyujong memandangnya


"Iya..." Ia tersenyum dan berdiri tegak kembali


"Apa yang dia lakukan padamu? Aish... Kenapa dia sama sekali tidak menghormatimu?" Kyujong tersenyum dan memijat keningnya


"Jangan bicara seperti itu, dia tidak melakukan apapun padaku... Aku hanya tiba-tiba merasa tidak enak badan"


"Ah benarkah? Kalau begitu kita pulang sekarang..."




Perasaan cinta memang sulit untuk dijabarkan. Sulit untuk di deskripsikan. Seseorang bisa saja jatuh cinta pada pandangan pertama, itu bisa terjadi karena mungkin dia adalah orang pertama yang kita lihat sempurna, namun seiring berjalannya waktu, cinta lain akan datang dan membuat hati menjadi bingung. Bingung menentukan, mana yang benar-benar rasa cinta, dan mana yang hanya sebuah belas kasihan.



Ketika yang satu datang dengan terang-terangan, yang satu akan datang dengan pengorbanan. Lidah memang mampu berbohong, namun mata selalau gagal membohongi. Posisi ini yang sekarang Juhyun rasakan. Ia benar-benar bingung, yang mana yang harus ia percayai sebagai cintanya?



Hari ini, Kyujong melamarnya, padahal dia belum menyatalan cinta kepadanya. Bukankah itu pertanda jika Kyujong serius kepadanya? Namun disisi lain, ia melihat tatapan sedih dibalik sikap menyebalkan Kyuhyun tadi. Apakah ia berada ditengah-tengah persaingan kakak dan adik sekarang? Juhyun pasti merasa sangat beruntung saat ini, atau mungkin.... Ia merasa bersalah? Hubungan mereka tak baik, dan mungkin saja bisa memburuk jika hal ini terus terjadi.



"YA!!!! Apa yang kau lakukan?" Pertanyaan itu membangunkan Juhyun dari lamunannya. Ia menoleh pada sang ibu



"Ibu...."



"Kau mau rumah ini banjir?"



"Apa...?" Juhyun menunduk dan betapa terkejutnya ia saat melihat air dari pencucian piring mengalir ke lantai. Dengan segera ia mematikannya



"*Ck*..*ck*... Kau harus membersihkannya, eoh?" Juhyun mengangguk patuh



"Ah, apa Kyujong baik-baik saja?"



"Dia agak demam, tapi dia meminta untuk jangan khawatir. Sekarang dia sedang istirahat! Jangan coba-coba mengganggunya...!" Juhyun menghela



"Baik yang mulia..."



"Ini, dia menitipkan ini padamu!" Nyonya Kim memberikan putrinya itu satu toples burung bangau dari origami



"Ini apa?"



"Dia memintamu untuk memberikannya pada Kyuhyun! Katanya Kyuhyun akan mengerti..."



"Ah... Baiklah, aku bersihkan ini dulu!"



.


.



Begitu selesai membersihkan dapur, Juhyun beranjak untuk mengantarkan titipan itu. Hatinya tertawa, tak bisa menyembunyikan perasaan lucu. Bagaimana bisa ada orang dewasa menitupkan benda kekanak-kanakan seperti ini? Bibirnya tersenyum dalam perjalanan. Terkadang ia tak habis pikir dengan Kyuhyun, dia benar-benar menggemaskan untuk ukuran pria dewasa, dia juga menyebalkan. Namun telinganya terasa kurang saat Kyuhyun tak datang untuk menggodanya tentang Kyujong, dan ia merasa ada yang hilang saat nama Kyujong tak menjadi bahan ledekan Kyuhyun kepadanya.


__ADS_1


Juhyun menghentikan langkahnya dan menunduk. Siapa yang salah? Perasaannya yang terlalu naif? Rasa cinta Kyujong? Atau keisengan mulut Kyuhyun?



"Lupakan! Anggap kau sedang berkencan dengan pria lain Juhyun! Mana mungkin mereka memperebutkanmu?"



Ia kemabali melangkah dan mengetuk pintu rumah Kyuhyun. Tapi sepertinya tak ada jawaban dari dalam



"Apa dia pergi?" Gumamnya sembari mengedarkan pandangan. Sepeda Hyukjae masih terparkir rapi



"Ah... Hyukjae!" Hyukjae yang sedang melintas menghentikan langkahnya dan menoleh pada Juhyun yang berada di depan rumah Kyuhyun



"Apa Kyuhyun pergi?"



"Aku tidak melihatnya keluar rumah sejak tadi, masuk saja! Dia jarang mengunci pintu!" Juhyun mengangguk dan membuka pintu depan. Melangkah masuk setelah tersenyum pada Hyukjae.



Pertama yang ia lihat ada Kyuhyun tertidur di ruang tengah dengan laptop yang masih menyala. Kyuhyun tidur begitu saja diatas lantai, Juhyun menghela melihat kelakuan Kyuhyun itu dari pintu. Memang tidak ada kursi di rumah itu, hanya ada meja kecil, semua kegiatan akan dilakukan diatas lantai. Kemudian mendekat



"Hey Kyuhyun.... kalau kau mengantuk tidurlah di kamar! Apa semalam kau tidak tidur?" Juhyun mendekatinya



"Aish.... Hanya orang sakit yang tidur sore hari seperti ini! Kau terlalu berusaha keras mengerjakan tesis.... Astaga!" Juhyun membulatkan kedua matanya begitu ia dekat dengan Kyuhyun, pria itu tak sepenuhnya tersadar, juga tak sepenuhnya tertidur. Wajahnya dibanjiri keringat dingin. Juhyun duduk di sampingnya dan mengangkat kepala Kyuhyun kemudian meletakkannya dalam pangkuan



"Bagaimana kalian bisa sakit bersamaan seperti ini?" Racaunya sembari mengeluarkan ponsel, ia akan meminta bantuan Hyukjae untuk membawa Kyuhyun ke klinik, dia tampak sangat buruk. Namun tangan Kyuhyun menahannya



"Di laci...." Ujar Kyuhyun parau



"Apa? Apa yang kau katakan..."



"Ambilkan.... obatku ..."



"Iya....??"



"Aku mohon...!" Kyuhyun memandangnya penuh pengharapan. Juhyun yang masih terkejut berusaha mencerna apa yang dikatakan Kyuhyun dan segera menurutinya, dengan cepat ia mengambil obat tersebut kemudian kembali secepat kilat.



Mengambilkan air minum, setelah itu membantu Kyuhyun bangun ke posisi duduk. Kemudian menyuapkan satu butir obat itu ke dalam mulutnya, saat ia rasa Kyuhyun tak bisa melakukannya sendiri



"Kau harus ke klinik Kyuhyun....!" Kyuhyun kembali berbaring setelah meneguknya dan memejamkan kedua matanya



"Setelah tidur... Aku akan membaik..." Gumamnya



"Tapi...." Juhyun menghela, sepertinya akan sia-sia membujuk Kyuhyun. Baiklah, ia akan menunggu sampai Kyuhyun bangun dengan tenang. Ia akan percaya ucapannya. Tho dia sudah minum obat, meskipun Juhyun tak tahu obat apa itu.



Juhyun masih duduk tenang di samping Kyuhyun. Mengawasi wajahnya, ia ingin memastikan pria itu membaik. Jika tidak ia akan memaksanya ke klinik. 10 menit kemudian, ia mulai bisa melihat wajah Kyuhyun tak sepucat tadi, meski ia masih berkeringat. Ia akan menunggu Kyuhyun bangun dan meminta penjelasan dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu



"Terimakasih....."



"Kau sudah bangun?"




"Kenapa?"



"Kau harus menjelaskan padaku!"



"Menjelaskan apa?"



"Kenapa kau tidak mau ke klinik, dan obat apa ini?" Kyuhyun terdiam, ia merasa tak sanggup bicara mendapat serangan mendadak seperti ini. Ia tahu, kejadian tadi mencurigakan



"Ajumma...." Panggilnya pelan



"Iya?" Kyuhyun menghela



"Sebenarnya aku ingin merahasiakannya, tapi aku sudah ketahuan..."



"Apa itu??" Juhyun bertanya dengan antusias



"Kau harus berjanji untuk merahasiakannya juga..."



"Baiklah, aku janji!" Jawab Juhyun cepat, Kyuhyun tersenyum



"Sebenarnya... Aku.... Ah, bagaimana mengatakannya?"



"Katakan saja Kyu!" Kesal Juhyun, karena ia sudah sangat penasaran



"Ini memalukan" Kyuhyun menggelengkan kepalanya



"Aku sudah berjanji, katakanlah!" Kyuhyun masih menggeleng, dan tentu membuat Juhyun sang ratu yang selalu penasaran menjadi kesal



"Ayolah.... Katakan! Jangan sampai aku berpikiran macam-macam... Aku janji tidak akan memberi tahu siapapun" Juhyun mengangkat satu tangannya bersumpah



"Jangan tertawa..."



"Tidak akan!" Juhyun menggeleng mantap



"Sebenarnya, tadi aku di kejar-kejar anjing, aku sangat ketakutan... Aku seperti ini karena sangat ketakutan! Dan obat itu, itu obat penenang" Juhyun memandangnya tak percaya, Kyuhyun lebih terlihat seperti orang sekarat daripada ketakutan tadi



"Aku besungguh-sungguh, aku akan langsung terserang panik jika bertemu anjing...." Kali ini Juhyun menyipitkan kedua matanya semakin tak percaya



"Lihat kan? Kau tidak akan percaya padaku!" Kyuhyun menggembungkan pipinya dan menunduk



"Aku sungguh sangat takut pada anjing..." Gumamnya

__ADS_1



"Aigoo, aku benar-benar merasa seperti ajumma yang sebenarnya sekarang!" Juhyun geleng-geleng kepala dan beranjak menuju dapur. Sementara Kyuhyun hanya memandangnya dengan diam



"Nyalakan lampunya! Ini hampir gelap!" Serunya dari dapur, Kyuhyun hendak beranjak namun ia merasa lemas. Obatnya belum begitu bereaksi



"Nyalakan saja sendiri!"



"Yaa!!!" Hardik Juhyun, dia terdengar sangat tidak sopan



"Aku baru saja terserang panik, tenagaku serasa lenyap!"



"Baiklah baiklah...." Kesal Juhyun kemudian beranjak menyalakan lampu



.


.



"Marin.... kau mau kemana?" Wanita cantik bernama Marin itu menoleh dan tersenyum kepada temannya, ia bekerja paruh waktu disebuah coffe shop



"Maafkan aku... Hari ini ada yang harus aku urus...." Marin tersenyum dan beranjak.



Urusan. Urusan yang sangat penting, ini menyangkut masa depannya. Begitu mengeluari kafe, Marin mengambil ponsel dalam tasnya dan melihat sebuah alamat di dalam sana. Setelah ia yakin, ia menghentikan sebuah taksi. Duduk tenang saat taksi yang membawanya melaju melewati keramaian jalanan. Ia sudah menghubungi orang yang bersangkutan, dan kali ini ia mendapatkan ijin untuk datang.



Begitu sampai di depan sebuah apartemen mewah, Marin turun dari mobil dan beranjak memasuki gedung. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya ia datang, ini sudah ke tiga kalinya ia berkunjung ke apartemen ini. Dan tanpa alamat yang tertulis di ponselnya, ia sangat hafal tempat ini. Marin memperbaiki penampilannya saat memasuki lift sendirian. Kedatangannya ini pasti akan menjadi kejutan kembali atau mungkin akan meledakkan amarah pemilik unit apartemen yang sempat mereda itu. Lift terbuka, ia kembali melangkah dengan percaya diri. Ia hanya perlu memcari unit dengan nomor 702, maka ia akan sampai pada tempat tujuannya



'*ting tong*..'



Tak perlu menunggu, pintu terbuka dengan sendirinya. Marin tersenyum dan melangkah masuk



"Aku datang....." Ujarnya seakan ia sangat akrab dengan pemilik unit itu, Jungsoo berdiri dan memandangnya datar



"Oh... Ternyata hanya ada kau? Dimana Kyujong?" Marin berjalan santai mendekati sofa dan duduk disana, Jungsoo masih memndangnya intens



"Siapa kau sebenarnya?" Marin tersenyum mendengar pertanyaan itu



"Bukankah sudah ku katakan aku Marin, Jang Marin..." Jungsoo menggelengkan kepalanya



"Jangan coba-coba kau menipu kami! Kyujong sudah berbaik hati untuk melepaskanmu, jangan buat ulah kembali...!" Jungsoo mendekatinya dengan gusar, Marin memandang Jungsoo dan tersenyum tak percaya dengan reaksi Jungsoo



"Bahkan kau melupakanku juga? Ku pikir kau akan ingat saat aku berulah beberapa waktu yang lalu" Ujarnya dengan santai



"Iya?"



"Jadi seperti ini hidup seorang bintang terkenal? Mudah sekali melupakan seseorang...." Marin semakin memandang Jungsoo dalam dan menyeringai, sementara Jungsoo mengerutkan keningnya



"Bagaimama dengan suaraku?" "Whoaah... Jinja? Benarkah ini rumah Kyujong oppa?"



Jungsoo melangkah mundur karena terkejut, sepertinya ia mengingat sesuatu. Dan reaksi itu membuat Marin tersenyum lebar



"Marin.sshi...?"



"Iya, itu aku! Aku bahkan tidak merubah namaku...."



"Tapi bagaimana?"



"Tapi aku mengubah wajahku....! Agar aku bisa tetap hidup..." Jungsoo menutup mulutnya, ia benar-benar terkejut sekarang. Hampir dua tahun, dan apa yang diinginkan wanita ini hingga ia repot-repot mencari Kyujong



"Apa maumu?" Marin hanya menyeringai



"Pertanggung jawaban....."



.


.


.



Malam telah larut, Kyujong masih terjaga. Ia masih terkejut dan tak bisa berhenti memikirkannya, sejak Jungsoo menelpon tadi



"Marin? Wanita itu adalah Marin?"



.


.



Sama halnya dengan Juhyun, percakapannya dengan Kyuhyun tadi membuat ia sulit untuk tidur. Hatinya semakin bergemuruh bimbang. Meski kini, perasaannya sudah mulai condong pada cinta yang mungkin itu benar.



"*Kenapa kau masih disini? Kyujong akan marah...! Kau bilang dia sedang tidak enak badan, dia bahkan tak sanggup mengantarkan benda ini langsung padaku! Seharusnya kau jaga saja dia ajumma*..."



"*Dia tidak separah itu! Sepertinya dia enggan menemuimu..." Juhyun menjawab dengan malas*



"*Jangan begitu...pulanglah*!"



"*Saat ini, aku lebih mengkhawatirkanmu!" Juhyun kembali menjawab dengan acuh tak acuh*



"*Aku baik-baik saja, selama tidak ada anjing..." Kyuhyun tertawa kecil*



"*Ouh... Benarkah? Kalau begitu ambilkan aku mangkuk di atas sana!" Juhyun menunjuk ke arah lemari gantung, Kyuhyun memandang itu dan terdiam. Berpikir bagaimana caranya? Jika ia berdiri dan ternyata masih sempoyongan, dia akan ketahuan*



"*Kau belum baik-baik saja...." Tandasnya*



"Aish.... Kenapa aku bersikap seperti ini...????? Rengek Juhyun saat mengingat itu kembali

__ADS_1


__ADS_2