Rainy Heart

Rainy Heart
Chapter 16


__ADS_3

Kyuhyun melangkahkan kakinya pelan memasuki sebuah ruangan di panti asuhan tersebut. Merebahkan tubuhnya di salah satu ranjang yang ada di sana. Terdiam memandang langit-langit kamar. Ia sedikit khawatir untuk acara tanda tangan besok, selama ini ia menyemnunyikan dirinya karena ia tak menyukai hal seperti itu. Tapi kini, bahkan ia tak memikirkan dua kali untuk memutuskan tampil di depan public.


Entah apa yang dalam pikirannya, ia hanya ingin menyampaikan salam perpisahan kepada mereka yang selalu mendukung karyanya selama ini. Meskipun mereka tak melihatnya. Ia ingin berterimakasih secara langsung.


Namun.....


Sedikit kekhawatiran menyusup ke dalam relung hatinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka saat melihat penulis Fourteen, dan bisakah ia menghadapi mereka? Bisakah ia melayani mereka tanpa membuat kesalahan? Ini akan menjadi kali pertama baginya untuk muncul dihadapan banyak orang sebagai seseorang yang dikagumi pula. Memikirkan hal itu, membuat Kyuhyun hanya bisa menghela pelan dan menutupi wajahnya dengan lengan.


Dan satu lagi yang membuatnya khawatir, Juhyun! Ia tak bisa mengabaikan 'ancaman' wanita itu tadi. Apa yang dia ketahui? Mengapa dia ingin membuat perhitungan dengannya? Kyuhyun benar-benar ingin tahu! Helaan kembali terdengar meski ia tak merubah posisinya. Pikirannya memang sering dipenuhi dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang tak seharusnya, dialah tipe pemikir itu!


.


.


Senyuman Juhyun dapatkan dari Ahra saat ia memasuki kamar yang ia tinggali seminggu yang lalu. Saat ia masuk, Ahra sedang beristirahat sembari membaca buku. Buku baru dari Fourteen. Melihat itu, Juhyun jadi mengingat Kyuhyun. Kemudian tersenyum simpul, dia pasti sangat terkejut mendengar 'ancaman' nya tadi.


Juhyun meletakkan barang-barangnya diatas tempat tidur. Tak sadar jika Ahra sedang memperhatikannya


"Kau tampak bahagia sekali? Kau juga tidak menyapaku?" Ujar Ahra mengajukan protes, Juhyun menghilangkan


senyumannya dan memandang Ahra


"Maaf...."


"Kau sudah baca buku ini?" Ahra menunjukkan buku yang ada di tangannya. Juhyun mengangguk mantap sebagai jawaban


"Jadi... Apa kau tahu siapa Fourteen?" Juhyun mengangguk kembali, Ahra tersenyum


"Diantara semua fans nya, hanya kau yang akan menyadari siapa Fourteen setelah membaca buku ini" Ahra mengucapkannya dengan nada candaan. Membuat Juhyun tertawa malu.


"Ah... Melihat dari rekspresi wajahmu sepertinya kau sudah tidak sabar ingin menemui Kyuhyun?" Juhyun mengangguk lagi dengan polos. Mengundang tawa geli Ahra, tak bisa berucap karena begitu geli tertawa, Ahra hanya melambaikan tangannya memberi isyarat agar Juhyun keluar.


Dengan langkah seribu, Juhyun berkeliling mencari Kyuhyun. Sudah tak sabar ingin 'memarahi' pria itu. Namun ia tak melihat seorangpun disana. Sambungan teleponnya juga tak terjawab, Juhyun menghela haruskah ia menunggu lagi kali ini?


Juhyun menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan. Bukankah ia sudah bilang pada Kyuhyun untuk menunggunya? Tapi mengapa dia tidak ada? Sepertinya Juhyun akan benar-benar marah sekarang. Kembali ia edarkan pandangannya, berharap melihat Kyuhyun, dan kembali menghubunginya saat ia masih tak melihat seorangpun.


Suara dering telepon terdengar dari dalam ruangan. Juhyun menoleh dengan heran, kemudian memutuskan sambungannya. Deri itu berhenti. Dengan penasaran, Juhyun melihat ke dalam ruangan melalui jendela kaca di depannya, tak bisa ia lihat dengan jelas, ia hanya melihat kaki seseorang yang sedang berbaring di salah satu ranjang. Juhyun menggeser dirinya untuk melihat lebih jelas.


Bibirnya tersenyum melihat wajah damai itu tertidur. Dan memutuskan untuk memasuki ruangan tersebut. Dengan langkah pelan ia mendekat, wajahnya terlihat bersinar karena terpaan sinar matahari melalui jendela yang berada sedikit di belakang Kyuhyun berbaring. Juhyun duduk di salah satu kursi dan memperhatikannya dengan diam, ia akan menunggu sampai dia terbangun.


Perlahan senyumannya menghilang, saat ia mengingat semua yang dikatakan Ahra melalu telepon beberapa hari yang lalu. Kemudian ia menghela saat perasaan sedih menyusup dalam benaknya. Hari ini, ia tak ingin bersedih, ia hanya ingin bersenang-senag seperti tak mendengar apapun. Insiden seminggu yang lalu, Juhyun tak menyangka, Ahra akan mengatakan yang sejujurnya saat ia beranikan diri untuk bertanya.


Ia pikir, Ahra akan menyembunyikan semuanya seperti halnya Kyuhyun. Saat itu, bukan hanya ia yang menangis, Ahrapun menangis memohon kepadanya untuk membujuk Kyuhyun menjalani pengobatan. Memohon padanya untuk tetap berada di samping Kyuhyun meskipun hanya satu pekan sekali.


Kenyataan ini mengejutkan bagi Juhyun, selama ia mengenal Kyuhyun, ia tak pernah melihat Kyuhyun mengeluh kesakitan, bahkan saat ia menemukan ia tergeletak tak berdaya di rumahnya waktu itu. Kyuhyun masih membuatnya kesal. Juhyun tersenyum getir mengingat saat itu.


Sampai saat inipun, pria ini masih saja membuatnya kesal. Kini Juhyun tersenyum lebih tulus untuk Kyuhyun yang sedikit banyak memberikan hiasan dalam hidupnya yang monoton. Meskipun bukan hanya Kyuhyun yang melakukannya, tapi Kyujong juga ikut andil dalam menghiasi hidupnya.


Kyujong memberikannya sebuah kasih sayang yang lain dan membuat hatinya terasa hangat, dan Kyuhyun memberikannya perasaan lain yang membuatnya ingin terus memperjuangkan perasaan itu, mengajarkannya tentang indahnya berbagi. Baiklah! Kali ini tujuannya berubah. Bukan lagi perasaan Kyuhyun yang ia harapkan, bukan lagi bagaimana caranya cinta yang ia sampaikan terbalaskan, tapi bagaimana caranya agar cinta itu tetap dekat dengannya. Tujuannya adalah Kyuhyun! Tetap menebarkan keceriaan dan mengajarkannya banyak hal, itu terasa lebih dari cukup dengan cintanya yang mungiin tak akan berbalas.


Juhyun menghilangkan senyumannya kembali, saat Kyuhyun terbangun dan meregangkan otot-ototnya sebelum bangun ke posisi duduk. Juhyun masih diam menunggu Kyuhyun menyadari kehadirannya.


Kyuhyun membuka kedua matanya dengan sempurna setelah menghela


"Eoh kau mengangetkan...!" Serunya berjengit kaget melihat ekspresi marah di wajah Juhyun. Untuk beberapa saat Kyuhyun tak ingat mengapa Juhyun terlihat marah, sampai sesaat kemudian ia mengingat perbincangan mereka di telepon beberapa saat yang lalu


"Kau sudah bangun?" Tanya Juhyun dengan suara dingin, Kyuhyun mendehem dan mengangguk. Juhyun memandangnya datar kemudian mendekat. Entah kenapa Kyuhyun reflek bergerak menjauh


"Ajumma..."


"Dasar pria jahat..!" Sela Juhyun dingin


"Kenapa aku? Apa yang terjadi?"


"Beraninya kau membodohiku! Mahasiswa yang sedang mengerjakan tesis? Hah...." Juhyun kini berkata dengan suara cukup keras.


Kyuhyun menunduk, ia sudah memperkirakan akan seperti ini reaksi Juhyun setelah mengetahui yang sebenarnya.


"Sudah berapa kali kau membuatku menangis huh?" Kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang Juhyun dengan heran


"Menangis?"


Juhyun menghela dan semakin mendekat. Pandangan matanya melembut, tak bisa ia terus berpura-pura marah. Apalagi melihat wajah Kyuhyun dari dekat. Kyuhyun masih memandangnya dengan heran, melihat tatapan itu rasanya Juhyun ingin menangis


'Berulang kali kau membuatku menangis akhir-akhir ini.... Kau harus bertanggung jawab!'


Kedua mata Kyuhyun melebar saat jarak mereka begitu dekat. Bukan hanya itu jantungnya juga berdetak tak katuan. Perlahan Kyuhyun menelan ludahnya merasa gugup, dan mundur untuk menghindari jarak itu, ini tidak benar menurutnya


"Ajumma..." Gumamnya


"Juhyun, Juhyun...." Pelan Juhyun sembari berdiri tegak kembali, kemudian mengambil sebuah buku di tasnya dengan wajah riang,


"Ini sangat menyentuh! Awalnya aku mentertawakan buku ini saat membaca judulnya. Tapi... Setelah membacanya, aku benar-benar terkesan... Berikan aku tanda tanganmu! Aku harus menjadi yang pertama sebelum yang lain tahu..." Kyuhyun tertegun sejenak, dan mengambil buku tersebut dengan setengah hati


"Akhirnya aku menemukanmu! Atau kau sengaja menunjukkan identitasmu karena aku?" Juhyun bertanya sembari berhias senyum dan memberikan sebuah bolpoin padanya, Kyuhyun menerimanya dengan diam dan membubuhkan tanda tangan di bukunya dengan diam pula. Ia sedang mengatur perasaan terkejutnya tadi


"Kau tidak ingin minta maaf padaku?" Kyuhyun menghentikan gerakan tangannya dan memandang Juhyun. Wanita itu menghela dan berdecak


"Kau sudah menipuku!"


"Aku tidak merasa menipumu karena sebuah niat jahat! Aku pikir ini tidak salah!" Kyuhyun berucap dengan santai dan kembali menulis, bibirnya tersenyum simpul melihat Juhyun memanyunkan bibirnya

__ADS_1


"Baiklah! Sebagai penggemarmu, yang menyadari siapa dirimu untuk pertama kalinya, kau harus menuruti satu permintaanku! Lagi pula kau seharusnya memberiku royalti..." Kyuhyun memandangnya lagi


"Aku akan kirimkan ke rekeningmu nanti" Juhyun menggeleng


"Ehem... Tidak! Aku tidak akan menerimanya dalam bentuk uang atau barang!"


"Lalu?"


"Karena aku penggemarmu, aku minta kau memberiku sebuah hadiah.... Kita kencan hari ini!"


"APA?????" Juhyun hanya tersenyum lebar melihat keterkejutan Kyuhyun itu.


-------------------


Marin telah selesai melakukan pekerjaannya. Ia bergegas pulang begitu yang akan menggantikannya datang. Seperti biasa ia selalu tampil cantik setiap saat, sepertinya merubah wajahnya membuat ia semakin percaya diri. Mungkin karena tidak ada lagi yang mengrnalnya.


Marin melangkah keluar dari cafe setelah berpamitan, jika dilihat saat ini, ia tak tampak seperti seorang pegawai disana, ia terlihat seperti seorang tamu VIP. Sudah menjadi kebiasaan untuk Marin, ketika pekerjaannya selesai, ia akan berganti penampilan. Sepatu hak tinggi, dress anggun, coat mahal, dan juga tas bermerk. Ia akan menjadi seorang "nyonya" ketika selesai bekerja. Langkahnya terhenti setelah ia berada di luar.


Seorang pria tinggi dan tampan berdiri di depan mobilnya. Sebuah topi dan kaca mata hitam melengkapi penampilannya. Ia juga mengenakan scraf yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Tapi Marin mengenali pria itu, bibirnya tersenyum dan mendekat


"Kau datang?" Tanyanya sembari tersenyum


Pria itu –Kyujong– membukakan pintu mobil utuk Marin. Ia memandang pria di hadapannya itu sejenak. Kyujong tak mengatakan apapun, ia hanya mempersilahkan dengan gerakan tangannya. Marin mengangguk kemudian masuk.


Mobil melaju dengan santai. Kyujong telah melepas atribut yang ia kenakan kecuali kaca mata hitam. Hingga 30 menit awal ini, mereka tak mengatakan apapun. Perjalanan mereka lalui dengan tenang. Marin sendiri memilih untuk menikmati suasana di luar mobil, saat ini mereka tengah melewati sebuah jalanan sepi menuju sebuah pedesaan, ia tak tahu kemana Kyujong akan membawanya, dan apa yang akan ia lakukan. Marin tak ingin bertanya, ia akan tunggu Kyujong mengatakannya.


Mobil mereka berhenti salah satu paviliun. Tanpa menunggu interuksi dari Kyujong, Marin membuka pintu dan keluar. Suasana disana sangat menyenangkan, pepohonan rindang dengan daun-daunnya yang menguning tampak sangat indah dipandang mata. Batu-batu kecil yang dipijaknya membuat Marin serasa menyatu dengan alam. Bibirnya tersenyum bahagia, ia tolehkan kepalanya cepat kepada Kyujong yang berada disisi lain mobil itu


"Ini indah sekali...." Ujarnya dengan wajah berseri-seri


"Hmm... Aku juga menyukai tempat ini" Marin beralih mendekati Kyujong


"Tapi... Kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini?" Tanya Marin begitu ia mendekat


"Kau masih dengan tawaranmu untuk menjadi temanku, kan?" Marin mengangguk mantap


"Aku ingin meminta bantuanmu..." Senyuman Marin menghilang, kebahagiaannya berganti dengan sebuah kekhawatiran. Bantuan seperti apa yang Kyujong inginkan darinya.


Marin masih tak menjawab, hingga Kyujong membawanya memasuki paviliun tersebut. Tak bisa dipungkiri, Marin begitu mengagumi tempat itu begitu mereka memasukinya. Ia tak menyangka akan datang ke tempat seindah dan semenenangkan ini. Hanya Kyujong yang bisa melakukannya.


Kicau burung menjadi lagu penyambutan untuk mereka. Sebuah kolam ikan dengan air yang begitu jernih terhampar di hadapan mereka. Kyujong menuntunnya untuk melewati jembatan kayu itu, sungguh Marin merasa seperti seorang putri dimasa Joseon saat ini.


"Kyujong.sshi, boleh aku tahu mengapa kau membawaku ke tempat seperti ini?" Tanya Marin sekali lagi, ia masih tak percaya dengan apa yang ia alami saat ini. Kyujong menghentikan langkah di tengah-tengah jembatan kemudian memandang Marin, memandang wanita itu dengan sedih. Dan membuat wanita itu semakin keheranan


"Aku terluka......" Marin membulatkan kedua matanya


"Dimana?" Tanyanya dengan cemas "kenapa malah kesini? Seharusnya ke rumah sakit!" Kyujong tersenyum simpul melihat reaksi polos itu, penampilannya memang berubah, tapi Marin yang ia kenal dua tahun yang lalu sama sekali belum berubah. Kyujong mengalihkan pandangannya dan menghela


"Aku tidak tahu harus membaginya dengan siapa?" Kyujong menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya


"Kyuhyun... dia mungkin akan meninggalkanku! Sebenarnya, aku ingin sekali lagi egois, tapi rasanya aku tidak boleh mengalami kehilangan seperti dulu lagi..."


"Terjadi sesuatu?" Tanya Marin pelan


"Aku mencintai wanita yang dicintainya, aku tidak ingin jauh darinya. Jika aku ingin egois sekali lagi, aku ingin hidup bersama wanita itu dan tua bersamanya. Tapi.... Aku tidak bisa mengabaikan perasaan Kyuhyun, waktunya mungkin tidak akan lama lagi.... Aku sungguh tidak ingin menyesal seperti saat itu kembali. Tapi... Aku..."


"Kau tak bisa melepaskannya?" Sela Marin masih dengan suara pelan. Kyujong mengangkat kepalanya perlahan dan memandang wanita di sampingnya ini dengan diam


"Jika cinta telah menancap di dalam di dada, tentu akan berbekas luka ketika kau melepaskannya. Karena itu, sulit untuk melepaskannya. Tapi kau akan menyebabkan luka untuk orang lain jika kau mempertahakannya.... Marin tersenyum dengan lembut


"Kau sudah melakukan dengan benar. Ketika kau telah memperjuangkannya, namun kau tak mampu memilikinya. Maka sudah waktunya untuk kau berkorban! Awal-awal akan terasa sakit, tapi luka itu akan mengering.... Kau meminta bantuanku? Itu keputusan yang tepat, aku sudah terbiasa dengan luka seperti itu! Datanglah padaku kapanpun kau mau aku menyembuhkan lukamu! Aku temanmu...." Kyujong tertegun mendengar kalimat tulus itu. Sementara Marin masih mempertahankan senyumannya.


----------------


Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia benar-benar tak percaya Juhyun meminta untuk membawanya ke taman bermain. Dan ia juga tidak percaya menuruti kemauannya. Kyuhyun tidak menyukai taman bermain, sejak dulu.


Ketika anak-anak selalu ingin ke taman bermain, Kyuhyun tidak. Ia tak menyukainya, taman bermain terlalu berisik baginya. Terlalu banyak orang, Kyuhyun tak pernah suka dengan keramaian. Tapi..... Dia bahkan menuruti permintaan Juhyun? Apakah ia sudah tak bisa lagi bersembunyi dari perasaannya?


"Whooaaaahhh...... Di Jeungdo tidak ada tempat seperti ini!" Kyuhyun menoleh pada Juhyun yang tampak begitu antusias


"Kau bahagia?" Tanya Kyuhyun, Juhyun mengangguk berkali-kali


"Ayo segera masuk!" Juhyun memandangnya dan menarik lengan pakaian Kyuhyun, seperti seorang bocah. Kyuhyun menghela dan mengajaknga memasuki taman bermain tersebut.


Berjalan santai di belakang Juhyun yang begitu aktif berlarian, seperti anak kecil. Membiarkan dia menikmati semuanya. Dan senyuman sama sekali tak lepas dari wajahnya. Untuk pertama kalinya Kyuhyun seakan lupa dimana ia berada sekarang, semua kebisingan yang dibencinya itu seakan menjadi senyap, karena siapa? Karena Juhyun?


"Aku ingin kita naik itu!" Juhyun menunjuk wahana roller coster dengan begitu antusias, ia ingin sekali menaiki wahana tersebut.


Seketika senyuman Kyuhyun menghilang, seumur hidup ia tak pernah menaikinya, mendekatpun tidak!


'Itu tinggi sekali...'


"Kau takut?" Kyuhyun memandangnya dengan diam, benar dia takut!


"Kalau begitu aku naik sendiri" Juhyun tersenyum dan melangkah kembali, namun Kyuhyun menahan tangannya, Juhyun menoleh dengan heran


"Kita naik!" Putusnya


.


.

__ADS_1


"Whoaaaaaaahhhhhh..... Whoooooaaaahhh"


Teriakannya begitu memekakan telinga andaikan mereka dalam kondisi tenang di bawah, tanpa diombang ambing di atas kereta yang berjalan diatas kecepatan rata-rata itu. Juhyun yang duduk di sebelahnya menoleh dan tertawa dengan senang.


"Yuhuuuuuu!!!! Ini menyenangkan!" Teriak Juhyun


Beberapa saat kemudian, kereta itu berhenti setelah membuat lenumpangnya pusing. Berbeda dengan Juhyun yang tampak menikmati dan baik-baik saja. Kyuhyun menuruni wahana 'terkutuk' itu dengan kaki lemas. Ia bahkan merasa mual, namun jauh dalam lubuk hatinya ia bahagia. Juhyun membuatnya melakukan apa yang tidak berani ia lakukan selama ini. Benar, Juhyun juga membuatnya berani memutuskan untuk tampil menunjukkan identitasnya sebagai Fourteen. Ini seperti keajaiban


"Ayo....!" Juhyun menggandeng tangannya, Kyuhyun tertawa


"Kau payah sekali!"


"Itu tinggi sekali, aku belum pernah naik roller coster" jujur Kyuhyun


"Wahhh... Jadi bagaimana rasanya?"


"Aku haus..." Kyuhyun menjawab dengan polos, membuat Juhyun harus mengelus kepalanya


"Sementara minum ini dulu! Aku masih ingin naik wahana yang lain" kemudian menyodorkan sebotol air mineral. Kyuhyun tertegun melihatnya


'Wahana yang lain? Lagi?' Kyuhyun merengek dalam hati


"Bagaimana?" Kyuhyun hanya teraenyum sebagai jawaban


Ok! Kyuhyun akan menjadi idola yang murah hati hari ini. Ia juga akan menikmati setiap moment ini. Moment baru yang mungkin akan sulit untuk ia lakukan tanpa adanya Juhyun. Dia begitu bersemangat, dia juga mengundang kebahagiaan untuknya. Sejenak Kyuhyun melupakan ketakutannya akan kematian. Dan dengan mudahnya ia bisa tertawa lepas, tertawa dengan begitu bahagia.


Juhyun begitu lincah hari ini, berpindah dari wahana satu ke wahana yang lain. Sampai akhirnya pertualangan itu berakhir dengan duduk tenang di salah satu kursi sembari menikamati minuman hangat. Juhyun menghela kencang, mungkin ia lelah. Kyuhyun menoleh dan tersenyum lebar.


"Seorang ibu akan mengerti bagaimana cara membahagiakan anak-anaknya" ujar Kyuhyun kemudian menyesap perlahan minumannya


"Ibu?"


"Kau ibu dari anak-anakmu!" Kyuhyun tertawa kecil, Juhyun juga tertawa.


"Ajumma...."


"Juhyun! Belajarlah memanggil namaku!" Protes Juhyun


"Pertama kali aku melihatmu mengajar, aku begitu mengagumimu..." Ujar Kyuhyun tak memperdulikan protes yang diajukan Juhyun, ini pertama kalinya Kyuhyun memujinya, bibirnya tersenyum namun ia tertegun


"Aku tidak suka taman bermain, tapi kau membuatku menikmati semua wahana ini, kau mengagumkan ajumma.... Terimalasih" Kyuhyun tersenyum tulus


"Kenapa kau berterimakasih?"


"Ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku! Aku tidak akan melupakannya. Tapi aku tidak berjanji...." Kyuhyun menunjukkan deretan giginya dan tersenyum menggemaskan, membuat Juhyun tertawa


"Eoh... Sebelum hari berganti malam, kau mau makan ice cream?"


"Ice cream?" Juhyun mengangguk mantap


"Aku akan belikan! Kau mau ice cream apa?"


"Ouuhh kau mau menraktirku? Baiklah! Vanila"


"Ok! Seleramu sama sepertiku! Tunggu sebentar!" Juhyun berlari untuk membeli ice cream


Kyuhyun menarik nafas panjang dan berusaha menikmati suasa sore hari ini. Langit telah berubah warna kemerah-merahan. Mereka telah menghabiskan waktu di tempat yang ia benci. Dan anehnya ia bahagia. Kyuhyun mendongak memandang langit yang tampak begitu indah, namun sedetik kemudian ia menunduk saat ia mendengar tangis seorang anak yang terjatuh di depannya


"Eoh? Kau baik-baik saja?" Kyuhyun mendekatinya dan membantunya bangun


"Balonku...."


"Balon?" Kyuhyun mendongak kembali dan melihat balon tersebut terbang, tak begitu tinggi.


Kyuhyun mengejarnya, ia akan membantu anak kecil tersebut. Setelah berjalan cepat beberapa langkah, Kyuhyun berhasil meraih tali balon tersebut. Bibirnya tersenyum lebar merasa lega. Dari kedai ice cream Juhyun memperhatikan itu dengan senyuman lebar.


Kyuhyun kembali kepada anak tersebut dengan senyuman, anak itu menyambutnya dengan bahagia


'bruk'


Seseorang tak sengaja menabrak Kyuhyun, ia tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut. Dan menyambut permintaan maaf itu dengan baik. Namun....


Ada masalah, Kyuhyun merasa pikirannya tiba-tiba kosong. Senyumannya menghilang, dan entah sadar atau tidak ia melepas balon itu kembali dan membuat anak tersebut menangis lagi. Sementara Kyuhyun hanya tertegun dan memperhatikan ke sekeliling.


Juhyun sedikit berlari mendekati mereka, ia tak mengerti mengapa Kyuhyun melepas balon tersebut dan membuat anak kecil menangis. Dan sekarang, dia bahkan terlihat tak peduli. Juhyun memandangnya dengan heran untuk sejenak, kemudian mendekati anak tersebut


"Eoh... Sudah sudah..."


"Balonku..."


"Maaf ya... Kau mau menerima ice cream ini sebagai gantinya?" Anak itu menghentikan tangisannya dan menerima ice cream tersebut, kemudian beranjak pergi.


Juhyun berdiri kembali kemudian mendekati Kyuhyun yang masih terpaku di tempatnya. Berdiri di sampingnya tanpa mengatakan apapun dan menikmati ice cream miliknya Kyuhyun beralih memandangnya


"Aku tidak bilang akan membelikanmu dua kali! Kau menghilangkan balon anak itu, aku berikan ice cream mu padanya! Kalau kau mau beli sendiri...." Kyuhyun masih memandangnya dengan diam


"Kenapa? Jangan coba-coba mengambil punyaku eoh!" Juhyun menyembunyikan ice cream nya


"Maaf... Kau mengenalku?" Ice cream yang berada di tangannya terjatuh begitu saja mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Kyuhyun itu. Kini Juhyun yang tertegun memandang Kyuhyun


'Ada apa ini?'

__ADS_1


__ADS_2