
Berbeda dengan kemarin, cuaca hari ini begitu baik hingga sore tiba. Beberapa pelayan di rumah megah milik keluarga kaya ini tampak sibuk mempersiapkan halaman berumput rumah itu. Mendekor sedemikian rupa dengan dipimpin langsung oleh bibi yang memang memiliki tugas sebagai kepala pelayan disana. Dua jam lagi, tuan mereka akan melangsungkan pernikahan sederhana di sana. Tak ada tamu undangan, hanya kerabat dan keluarga saja.
Kegiatan mereka terhenti sejenak saat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Kyujong dan Marin keluar dari mobil dengan wajah keheranan dan mendekati mereka
"Ajumma... Apa yang terjadi?" Tanya Kyujong. Memang hingga kini tak ada yang mengabarinya tentang pernikahan mendadak ini. Sampai saat ini, Kyuhyun hanya menghubungi Ahra dan ibu Shin. Sementara Juhyun hanya mengabari ayah dan ibunya yang tak bisa datang karena memang terlalu mendadak.
"Deoryenim belum memberi tahumu?"
"Kyuhyun?" Bibi mengangguk "Memberi tahu apa?"
"Dia akan menikah dengan pacarnya hari ini..."
"Hari ini???" Kyujong dan Marin bertanya bersamaan, mereka terlihat sangat terkejut. Bibi hanya mengangguk, Kyujong menghela dan beranjak memasuki rumah.
Meski ia tahu Kyuhyun dan Juhyun saling mencintai, tapi pernikahan ini terlalu mendadak. Ia perlu tahu mengapa mereka melakukannya dengan begitu tiba-tiba seperti ini. Sementara Marin hanya memandang Kyujong yang beranjak dengan langkah lebar itu, kemudian menghela
"Lanjutkan lagi!" Seru Marin pelan kemudian beranjak menuju mobil untuk mengemasi barang-barang bawaan mereka. Meski sang supir juga melakukannya.
.
"Kyuhyun.ah...." panggil Kyujong begitu memasuki rumah, namun tak ada jawaban hingga beberapa kali.
Kyujong menaiki tangga untuk melihat sang adik di dalam kamarnya, namun ia tak menemukan siapapun. Dan memutuskan untuk kembali ke lantai satu, dan melanjutkan pencarian di ruang keluarga. Dan disanalah ia menemui Juhyun seorang diri tengah merangkai bunga untuk buket yang akan ia bawa nanti
"Eoh... Kyujong? Kau sudah pulang?" Juhyun tersenyum pada Kyujong yang mendekatinya
"Kyuhyun dimana?"
"Dia keluar untuk mengurus sesuatu..." Juhyun menjawabnya dengan ramah. Berbeda dengan Kyujong yang memandangnya lain, dan itu sulit diartikan. Yang pasti ia sangat terkejut sekarang. Perlahan Kyujong duduk di sampingnya, membuat Juhyun memandangnya heran
"Apa yang ada dalam pikiran kalian?" Tanyanya pelan
"Ne?" Juhyun mengerutkan keningnya tak mengerti, Kyujong menghela pelan
"Ada apa dengan situasi saat ini?"
"Ah... Kau sudah tahu..." Juhyun melebarkan senyumannya, ia mengerti. Pasti Kyujong sangat terkejut
"Mengapa begitu mendadak? Kalian bahkan tidak membicarakannya dulu denganku? Bagaimana bisa aku menjadi orang yang terakhir tahu?" Senyuman Juhyun menghilang mendengar nada bicara Kyujong yang terdengar tak bahagia itu
"Kau marah karena ini?" Juhyun balik bertanya dengan santai sembari mengalihkan pandangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Kyujong terdiam, menyadari jika reaksinya berlebihan
"Kau tidak bahagia kami akan menikah? Kau merasa keberatan? Atau kau masih tak sanggup melihat kami akan menikah? Apa kau juga lupa jika kau baru pulang dari berbulan madu?" Juhyun masih bertanya dengan nada santai namun sedikit membanting rangkaian bunga yang ia pegang di meja. Ia merasa kesal sekarang.
Dengan keras Juhyun menghela dan kembali memandang Kyujong yang masih berada di sampingnya itu dengan tajam. Sementara Kyujong masih tertegun, mendengar rentetan pertanyaan yang diajukan Juhyun itu, membuat ia merasa ragu dengan dirinya yang bereaksi seperti ini. Apakah memang benar yang dikatakan Juhyun atau tidak? Kini pandangan Juhyun berubah menuntut jawaban.
Marin yang hendak masuk, menghentikan langkahnya di ambang pintu melihat mereka berdua, sepertinya ada hal serius yang sedang mereka bicarkan
"Apa perasaanmu masih sama padaku hingga membuatmu tak rela aku menikahi adikmu yang kini bahkan sedang sekarat?"
Pertanyaan Juhyun itu menghentikan langkah Marin yang akan beranjak pergi. Juhyun memandangnya dengan wajah memerah, ia merasa sangat kesal saat Kyujong bereaksi seperti itu dengan kabar pernikahannya
"Juhyun...."
"Aku juga tak ingin menikah dengan cara seperti ini, aku juga menginginkan pernikahan yang indah seperti kau dan Marin. Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya mencoba gaun pengantin dan meminta pendapat Kyuhyun apakah pantas aku kenakan atau tidak? Aku juga ingin semua teman-temanku tahu jika aku sedang menikah! Dan membanggakan seperti apa suamiku pada mereka. Aku juga ingin berjalan di depan para tamu dengan tangan yang digandeng mesra oleh Kyuhyun. Tapu aku tidak punya pilihan! Jika aku boleh memilih, aku tidak menginginkan kisah cinta yang menyakitkan seperti ini. Ketika waktu terasa begitu menakutkan bagi kami berdua, ketika kesempatan terasa begitu kecil untuk kami dapatkan, ketika kebahagiaan terasa ragu untuk mendekati kami. Apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya bisa memutuskan hal ini! Karena musuh kami hanyalah waktu!"
Juhyun terisak membuat Kyujong menunduk. Menyesali kesalahannya. Ia benar-benar tak mengingat hal ini. Ia lupa jika kesempatan Kyuhyun mungkin menipis,
"Ahhh..... Sakit sekali saat aku harus memutuskan hal ini.... Dia bahkan menunda operasinya hanya untuk menghabiskan waktu denganku.... Ahh...." Juhyun masih terisak dan memegangi dadanya yang terasa sangat sesak karena rasa sedih, membuat Kyujong semakin tak berdaya dan hanya bisa memandang Juhyun sendu.
••••
Menjelang sore, langit menjadi lebih cerah. Secerah wajah Kyuhyun sekarang. Meski mereka tak memiliki kesempatan untuk memilih gaun pengantin bersama, Kyuhyun masih ingin mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan Juhyun. Saat ini, ia sedang berada di salah satu butik. Memilih gaun pengantin yang terdapat disana. Mencari satu gaun yang cocok untuk Juhyun kenakan. Ia juga sudah menghubungi Ahra untuk segera datang ke rumahnya dan membantu Juhyun untuk berhias.
Karena terlalu mendadak, mereka tak punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya. Namun Kyuhyun tak ingin Juhyun merasa sedih dengan pernikahan sederhana ini. Meski hanya bisa menyiapkan semua dengan sangat sederhana, Kyuhyun ingin semuanya berkesan untuk Juhyun. Dan berkesan untuk dirinya sendiri.
Langkah Kyuhyun terhenti di depan sebuah manekin yang mengenakan gaun putih sepanjang lutut, dia terlihat sederhana. Namun juga terlihat indah jika Juhyun mengenakannya. Kyuhyun masih memandang gaun itu, masih bimbang akankah membelinya atau tidak. Sampai seorang pramuniaga mendekatinya
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanyanya dengan sopan, Kyuhyun menoleh dan tersenyum
"Aku sedang mencari gaun pengantin yang sederhana namun terlihat elegan..."
__ADS_1
"Ah... Kebetulan, gaun ini adalah yang terbaru tuan, saat ini memang sangat tren pernikahan yang digelar dengan sederhana. Jadi designer kami membuat khusus gaun ini, mungkin terlihat sederhana. Namun beberapa detail di bagian dada dan lengan gaun ini membuat gaun ini terlihat elegan...." Kyuhyun mendengarkan sembari memperhatikan gaun itu, jika dipandang dengan baik, ia bisa melihat gaun ini begitu hidup dan menjelaskan banyak arti, Kyuhyun menyukainya
"Ne... Aku memang berpikir untuk membelinya..."
"Pilihan anda sangat bagus, kami hanya memproduksi lima gaun saja tuan. Anda beruntung jika menghadiahkan ini untuk kekasih anda..."
"Baiklah...." Kyuhyun angguk-angguk
"Boleh saya tahu berapa ukurannya?" Kyuhyun berbalik dan memandang pramuniaga itu, ia tidak tahu ukuran baju Juhyun
"Ah... Aku tidak tahu, tapi dia memiliki tubuh hampir sama denganmu..."
"Baiklah.... Aku rasa yang ini akan pas untuknya.."
••••
Mereka masih duduk bersama meski tak ada lagi obrolan. Juhyun melanjutkan pekerjaannya setelah merasa tenang, sementara Kyujong masih duduk di sampingnya tanpa kata. Dering telepon Juhyun memecahkan kesunyian, dengan segera Juhyun menjawab panggilan masuk tersebut
"Ne..." Ujarnya sembari tersenyum lebar
"Kau ingin aku memberikan hadiah apa untuk pernikahan?" Juhyun tergelak,
"Kyuhyun.ah... kau tidak perlu memberiku hadiah apapun. Menjadi istrimu adalah hadiah terbaik untukku...." Terdengar suara tawa diseberang sana
"Aku bertanya karena aku tidak tahu akan menanyakan apa... Eoh.. aku sedang memilih cincin untuk kita. Jika dipikir-pikir aku tidak tahu ukuran cincinmu..."
"10" singkat Juhyun
"Ah... Baiklah... Aku akan mengirim beberapa gambar padamu..."
"Aniya... Aku akan menyukai semua yang kau pilih...."
"Jeongmal? Baiklah kalau begitu..."
Juhyun menunduk dan memasang wajah sendu kembali begitu sambungan terputus. Ia kembali merangkai bunga-bunga itu dengan diam. Sementara Kyujong masih memperhatikannya.
"Jeongmal mianhae...." Ujar Kyujong pada akhirnya, membuat Juhyun mengalihkan pandangan padanya
"Kau harus mencintai istrimu lebih dari siapapun!" Seru Juhyun dingin sembari beranjak karena pekerjaannya telah selesai. Kyujong menunduk, dan beranjak pula
••••
Langit jingga kemerah-merahan turut menjadi saksi sebuah janji suci yang di ucapkan dua insan yang tengah dilanda cinta ini. Lampu-lampu yang di tata sedemikian rupa menyala karena langit akan segera gelap. Tak ada banyak tamu seperti pesta pernikahan mewah sang kakak. Hanya ibu Shin, Ahra, Hyukjae, Marin dan juga Kyujong yang menyaksikan pernikahan ini. Namun sama sekali tak menghilangkan senyuman di wajah yang kedua mempelai.
Juga tak ada makanan pernikahan yang beraneka ragam. Bibi dan pelayan yang lain bertugas untuk membuat makanan sederhana, mereka akan makan malam biasa dengan daging panggang sebagai perayaan.
Kyuhyun dan Juhyun saling berhadapan, benar yang dikatakan pramuniaga tadi, gaun itu sangat menawan apalagi saat melekat di tubuh Juhyun. Kyuhyun memandangnya dengan sangat lembut, begitupun dengan Juhyun. Tak ada yang mengganggu momen hikmat ini, mereka terkesima dan terharu memandang mereka.
Ahra sampai harus meneteskan airmata harunya, diam-diam ia menyembunyikan tangisnya di belakang punggung Hyukjae yang berdiri di sampingnya. Ia tahu alasan Juhyun segera menikahi Kyuhyun, ia tahu alasan Juhyun merelakan pernikahan impiannya. Semua karena Kyuhyun, semua untuk Kyuhyun. Hatinya benar-benar mulia, seperti malaikat. Juhyun hanya ingin Kyuhyun segera melakukan operasi tanpa merasa khawatir dan takut. Ini benar-benar mengharukan
"Mereka membuatku menangis..." Gumam Ahra di balik punggung Hyukjae, hingga pria itu meliriknya
"Aku tidak menyangka mereka akhirnya menikah, jika kau tahu seperti apa mereka di Jeungdo, kau tidak akan percaya...." Hyukjae juga berkata pelan
"Benarkah?"
"Kyuhyun selalu membuat Juhyun.ah kesal...." Ahra tertawa kecil, ia bisa bayangkan bagaimana menyebalkannya Kyuhyun
Tak jauh dari mereka berdiri, Kyujong juga memandang Kyuhyun dan Juhyun dengan diam. Ekspresi wajahnya tak mjdah di tebak. Marin yang berdiri di sampingnya pun tak membuat Kyujong mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun dan Juhyun
"Apa hatimu terasa sakit melihat ini?" Pertanyaan pelan dari mulut Marin itu mampu membuat Kyujong beralih memandangnya, Marin tersenyum saat itu
"Gwaenchan... Aku tahu bagaimana perasaanmu... Tidak perlu menyembunyikannya dariku!" Ujar Marin lagi dengan lembut diiringi senyuman yang semakin lebar dan elusan lembut ditangan Kyujong yang mengelusnya
"Aniya... Bukan seperti itu! Aku hanya merasa sangat sedih.. dan aku tidak tahu mengapa ini justru membuatku merasa seperti ini. Ekspresi itu tak pernah aku lihat dari Kyuhyun sejak kematian kedua orang tua kami... Seharusnya aku merasa bahagia melihatnya bisa tersenyum selebar itu. Tapi sebaliknya, seperti ada yang menghimpit di dada ini...."
Senyuman Marin menghilang, namun ia tetap memandang suaminya itu. Bukan Juhyun alasan Kyujong merasa sedih. Marin menghembuskan nafas pelan dan mengelus pundak Kyujong untuk menenangkan perasaannya
"Ya!!! Lakukan yang selanjutnya! Jangan hanya saling menatap!" Celetuk Hyukjae, membuat Kyuhyun maupun Juhyun tersadar dan tersenyum malu. Hingga akhirnya mereka saling menatap kembali, perlahan Kyuhyun meraih tangan Juhyun, ia akan sematkan cincin di jari manisnya
'Maafkan aku jika tiba-tiba aku meninggalkanmu.... Gomawo Juhyun.ah...'
__ADS_1
'Aku selalu berdoa kepada Tuhan, jika waktu menakutkan itu tiba, aku bisa menjaga janjiku.... Entah mengapa ini terasa sangat berat Kyuhyun.ah... aku merasa sangat sesak, aku merasa tak akan sanggup menahan beban ini.... Kuatlah! Bertahanlah sekali lagi, agar aku tak goyah....'
Meski batinnya pilu, Juhyun masih mempertahankan senyumannya. Cincin itu telah tersemat manis di jarinya, kini giliran ia yang menyematkan cincin di jari Kyuhyun. Dengan lembut ciuman di kening ia dapatkan setelah ia berhasil menyematkan cincin itu tanpa jatuh. Tepuk tangan meriah mereka dapatkan. Ahra memeluk ibu Shin yang juga menangis terharu
"Dia sudah menemukan kebahagiaannya..." Ujar ibu Shin. Ahra hanya mengangguk
••••
Kyuhyun membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan nyaman. Menjadikan paha Juhyun sebagai bantal, Juhyun tersenyum sembari mengelus rambut Kyuhyun penuh kasih sayang. Sementara Kyuhyun mendongak memandang istrinya itu. Tak bisa menahan senyuman, Kyuhyun tertawa kecil dan mengelus pipi Juhyun
"Lusa...." Juhyun mengangguk dengan ekspresi lega
"Aku akan ganti waktu bulan madu kita dengan ini..." Kyuhyun mengangkat sebuah buku yang ada di tangannya. Juhyun memandang buku itu dengan heran dan mengambilnya '100 hal sederhana dan romantis bersama pasangan' itu adalah judul bukunya. Juhyun tertawa kecil dan membuka buku yang terlihat seperti buku dongeng itu, sudah ada beberapa tanda disana. Sepertinya Kyuhyun sudah memilih akan melakukan apa saja bersamanya
"Aku rasa tidak akan bisa melakukan semuanya sekaligus. Aku sudah tandai, semua ada 10 hal romantis yang akan kita lakukan bersama..."
"10? Coba kulihat..." Ujar Juhyun sembari membuka lembar buku itu satu persatu, wajahnya sedikit keruh melihat kegiatan yang Kyuhyun pilih
Berbelanja bersama pasangan
Mengantar pasangan membeli baju
Memasak bersama pasangan
Membersihkan rumah bersama
Berkebun bersama pasangan
Membacakan dongeng untuk pasangan
Menulis surat untuk pasangan
Saling memberikan hadiah kepada pasangan
Berkeliling kota bersama pasangan
Bersepeda bersama pasangan
Juhyun tertegun membaca judul-judul itu, entah mengapa ia merasa semua kegiatan itu bermakna sebuah salam perpisahan. Tanpa sadar ia bernafas dengan cepat dan menunduk. perpisahan terasa sangat nyata saat ini, tapi ia masih berharap masih akan ada keajaiban. Kyuhyun memandangnya dengan sedikit heran, namun ia masih berusaha untuk tetap mempertahankan senyumannya
"Kenapa? Apakah ini sulit?" tanya Kyuhyun dengan hati-hati
"Aniya.... Ayo kita lakukan!" Juhyun melebarkan senyumannya dan menarik Kyuhyun perlahan dalam pelukannya. Kyuhyun menghela lega dan membalas pelukan itu, saat itulah air mata Juhyun menetes dan ia menangis dengan diam
"Eoh... Tunggu!" Kyuhyun melepas pelukannya tiba-tiba dan beranjak menuju rak buku ya ada dalam kamarnya itu.
Juhyun menunduk dan menghapus air matanya dengan cepat. Kyuhyun tak boleh tahu ia menangis sekarang.
Sesaat kemudian, Kyuhyun kembali dengan sebuah buku dongeng di tangan. Wajahnya terlihat cerah, membuat Juhyun tertawa kecil. Suaminya itu kembali duduk di tempat tidur, meletakkan buku dongeng itu dan membaringkan Juhyun perlahan. Juhyun tak menolak, ia terima perlakuan lembut itu tanpa mengatakan apapun. Ia akan nikmati momen ini selagi ia bisa. Begitu ia telah berbaring sempurna, Kyuhyun menarik selimut untuk Juhyun dan menepuk dada Juhyun perlahan sebagai isyarat agar istrinya itu tidur
"Kau juga harus istirahat ..." Seru Juhyun pelan
"Setelah membacakanmu ini, aku juga akan tidur..." Kyuhyun mengambil buku dongeng itu dan menunjukkannya pada Juhyun. Kemudian membukanya
'Di sebuah desa yang begitu asri, hiduplah seorang anak bernama Shamsin.... Dia tinggal bersama neneknya yang bekerja mencari kayu bakar. Shamsin adalah gadis yang cantik dan juga pintar, dia juga sangat ceria.....'
'...... Seorang penyihir jahat mengincarnya, dia ingin mengambil batu berlian biru yang dimiliki Shamsin, berlian biru itu memiliki kekuatan ajaib yang bisa membuat seseorang tetap terlihat cantik meskipun telah menjadi tua. Siapapun yang memiliki berlian itu, dia akan memiliki kehidupan yang abadi....'
'...... Shamsin melarikan diri dari desanya, ia akan melindungi berlian biru itu. Bukan karena ia tamak, tapi ia tak ingin berlian itu jatuh ke tangan yang salah.....'
Kyuhyun menghentikan bacaannya saat melihat kedua mata Juhyun tertutup. Istrinya telah tidur untuk menjemput mimpi indahnya. Kyuhyun tersenyum dan mengelus rambut Juhyun perlahan.
"Kau cepat sekali tertidur? Aku bahkan belum membacakan akhir kisahnya...." Gumam Kyuhyun
"Shamsin.... Dia bisa hidup abadi jika dia memegang berlian biru itu. Namun dia mengorbankan hidupnya demi orang yang dia cintai.... Berlian berharga itu ia berikan kepada sang kekasih ketika mereka berdua bergelantung bersama dibibir jurang karena kecelakaan. Tidak semua dongeng berakhir indah, Shamsin pergi meninggalkan kekasihnya yang akan merasa kesepian sepanjang hidupnya. Mengapa dia tidak buang saja berlian biru itu, agar mereka bisa mati bersama-sama? Bukankah penulis dongeng ini tidak adil? Bukankah dia terlalu realistis? Hidup ini tak akan berakhir sesuai kehendak kita. Pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Meninggalkan dan di tinggalkan.... Tapi kau tahu pada akhirnya sang kekasih menghancurkan berlian biru itu dan menunggu kematiannya datang....."
Kyuhyun menutup buku itu dan beranjak keluar kamar. Ia butuh menghirup udara segar. Juhyun membuka kedua matanya sepeninggal Kyuhyun dan membuka buku dongeng itu. Tidak ada nama Shamsin dalam buku itu. Apa Kyuhyun sedang mencemaskannya sekarang? Apa Kyuhyun khawatir Juhyun akan goyah jika ia tak tertolong saat menjalani operasi lusa?
__ADS_1
"Jika kau pergi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku..... Aku mohon bertahanlah! Agar aku punya alasan untuk tetap hidup disisimu..." Gumam Juhyun