Rainy Heart

Rainy Heart
Chapter 9


__ADS_3

Sebenarnya seperti apa rasa benci itu? Apakah ketika kau tak menyukai sesuatu, itu disebut benci? Apakah karena luka dalam hati dan membuatmu merasa muak ketika melihat pelakunya, itu bisa disebut benci? Benci. Tak ada bedanya dengan cinta, itu adalah perasaan yang sedikit sulit untuk dijabarkan. Entahlah.... Tapi bisa jadi memang sulit. Haruskah membenci ketika ada cinta?


~Rainy Heart~


"Jadi... Kau akan kembali sekarang?" Juhyun bertanya sembari mengantar Kyujong ke luar rumah. Kyujong tersenyum dan mengangguk.


Sudah waktunya ia kembali ke Seoul, memulai aktifitasnya kembali. Juhyun mengangguk sembari menarik nafas panjang. Tak ia sangka dua hari ternyata begitu singkat. Juhyun menunduk, ia tak tahu perasaan apa yang muncul dalam hatinya saat ini. Hanya saja, ia merasa seperti ada awan mendung diatas kepalanya, tinggal menunggu waktu akan turun hujan


"Tolong jaga Kyuhyun sampai aku datang kembali...." Tanpa sadar Juhyun menghela membuat Kyujong mengerutkan keningnya heran


"Tiga hari lagi dia juga akan kembali..." Pelan Juhyun tak bersemangat


"Iya?" Kyujong memandang Juhyun sedikit terkejut


"Dia bilang, tesis nya sudah selesai...." Juhyun mengangkat kepalanya dan memandang Kyujong, kemudian tersenyum


"Aku pasti akan kesepian..." Keluh Juhyun dengan pelan


Ia tak sadar keluhan itu membuat Kyujong memandangnya lebih dalam. Juhyun mengeluh seperti itu, pasti mereka sangat dekat. Kyujong menghela


'Jangan mengambil apa yang bukan milikmu..'


Bukankah kalimat itu lebih seperti peringatan dari Kyuhyun, bahwa ia tak boleh mengambil miliknya. Apakah Juhyun sudah menjadi milik Kyuhyun saat ini? Pembahasan tentang cinta memang tak akan pernah berakhir. Akan sulit menemukam ujungnya, karena begitu banyak jalan. Bahkan mungkin kau akan tersesat disana.


Dalam hal ini, seharusnya Kyujong yang unggul. Namun sepertinya tidak. Bahtera cinta yang tadinya mengarah pada pelabuhannya, kini seakan berbalik arah dan mencari pelabuhan lain? Benar memang apa kata pepatah. Mungkin semua itu terjadi karena mereka selalu bersama. Kyujong menarik nafas panjang, masalah seperti ini, bukan hal mudah untuk diserahkan begitu saja, jika memang kenyataannya Kyuhyun menyukai Juhyun, Kyujong masih tak sanggup untuk memutuskan akan seperti apa?


"Bukankah kau harus segera pergi?" Tanya Juhyun, Kyujong tersenyum


"Kau ingin sekali aku cepat pergi?"


"Ah... Tidak.. tidak...! Jangan salah paham seperti itu! Aku hanya takut kau ketinggalan kapal..." Senyuman Kyujong semakin lebar, dan dengan ringan tangan kanannya mengacak rambut Juhyun dengan gemas, Juhyun menunduk dan tertawa kecil


"Baiklah... Aku akan pergi sekarang!"


"Baik... Hati-hati di jalan!" Kyujong mengangguk


"Aku akan menunggu keputusanmu, kuharap itu tidak akan lama..." Juhyun hanya tersenyum salah tingkah.


.


.


'Kriing... Kriing...'


Juhyun yang semula memandang kepergian mobil Kyujong dengan senyuman, menoleh keasal suara. Kakaknya pergi, adiknya datang dengan sepeda. Bukankah sekarang Juhyun sudah seperti seorang pemeran utama wanita yang sedang diperebutkan?


"Kau mau naik?" Tanya Kyuhyun sembari menghentikan sepedanya


"Kau mau kemana?"


"Ke pelabuhan...."


"Apa?" "Untuk apa?"


"Menyusul Kyujong!" Juhyun memandangnya keheranan, untuk apa? Mana bisa tersusul dengan menggunakan sepeda? Bukankah Kyuhyun membawa mobil?


"Ah.... Kau terlalu lama berpikir!" Kyuhyun berdecak dan melajukan sepeda kembali,


Juhyun menghela dan tertawa kecil, hingga terpingkal-pingkal. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cara berpikir Kyuhyun? Jika ia sedang terburu-buru, mengapa ia masih mengajaknya mengobrol? Juhyun menghela kembali dan semakin kesal


"Dia benar-benar menyebalkan!" Gerutunya kemudian berdecak


.


.


Sebenarnya seperti apa rasa benci itu? Apakah ketika kau tak menyukai sesuatu, itu disebut benci? Apakah karena luka dalam hati dan membuatmu merasa muak ketika melihat pelakunya, itu bisa disebut benci? Benci. Tak ada bedanya dengan cinta, itu adalah perasaan yang sedikit sulit untuk dijabarkan. Entahlah.... Tapi bisa jadi memang sulit. Haruskah membenci ketika ada cinta?


Mungkin dia melukaimu begitu dalam, hatimu terasa sakit, tak tertahan dan menghapuskan perasaan cinta. Tapi pantaskan perasaan cinta yang suci ternodai oleh rasa benci yang pastinya tak akan bertahan selama cinta? Perasaan benci biasanya akan hadir ketika hatimu marah, sakit, dan terluka. Namun dia akan lenyap begitu kenangan indah memutar syahdu di dalam benak.


Sama halnya dengan seorang adik yang satu ini, kebenciannya enam tahun yang lalu telah terhapus, bahkan kini ia merasa kasihan pada sang kakak, hingga memupuk kecintaan pada kakaknya. Hidupnya mungkin tak akan lama, namun tak bisa ia lewati sisa hidup singkat ini dengan kebencian yang membakar hati. Cara berpikirnya telah berubah, ia akan relakan kematian kedua orang tuanya yang menurut prmikirannya masih misterius. Dan tak akan ia menyalahkan sang kakak atas apa yang terjadi. Sang kakak hanya ingin menggapai mimpinya, sama seperti ia yang ingin mencapai impiannya pula. Menebarkan kebahagiaan,


"Hyung...!!!!!!" Ia mencoba memanggil ketika sepeda yang ia kayuh berada di belakang mobil hitam itu


"HYUNG!!!!"


'Kring... kring....'


Mobil berhenti, dan sepedanya yang sudah terlanjur melaju kencang itu harus di rem secara mendadak. Bannya yang kecil mengalami selip karena jalanan yang tak rata. Sang pengayuh, terjatuh bersama sepedanya, hingga menyebabkan siku tangannya terluka dan berdarah. Sang kakak yang dipanggil tadi segera keluar dari mobil dan membantunya bangun


"Kau tak apq-apa Kyuhyun.....?" Sang adik mengangguk dan menutupi sikunya yang terluka dengan tangan


"Kenapa kau mengejarku?"

__ADS_1


"Hyung.... Kyujong hyung...." Nafas Kyuhyun jadi ngos-ngosan karena mengayuh dengan cepat tadi, tentu saja Kyujong terpana mendengar panggilan itu, tak seperti biasanya, panggilan itu keluar dengan begitu lembut dari mulut Kyuhyun


"Maafkan aku...." Tambah Kyuhyun sembari tersenyum. Dan bohong jika Kyujong tak berkaca-kaca sekarang


"Aku sangat merepotkan selama enam tahun ini... Sementara banyak hal yang harus kau pikirkan. Sungguh... Aku minta maaf...." Tanpa mengatakan apapun, Kyujong menarik adiknya itu dalam pelukan


"Tidak perlu ada yang dimaafkan, semua ini memang kesalahanku.... Maafkan aku.... Aku akan menjadi hyung yang lebih baik lagi...." Mengingat fakta menyedihkan tentang Kyuhyun, membuat Kyujong tak bisa menahan airmata dan mengeratkan pelukannya.


.


Kini Kyuhyun kembali dengan perasaan tenang. Beban pikiran yang ia tanggung selama enam tahun ini telah ia lepaskan. Semua akan kembali normal setelah ini, Kyuhyun merasa sangat lega. Namun ada satu masalah. Kyuhyun meringis saat siku tangannya terasa nyeri, ia memang ceroboh dan tidak berhati-hati. Masalahnya, tangannya kini terasa sakit, ia tak tahu, terkena apa saat terjatuh tadi.


Kyuhyun menghentikan sepedanya dan turun dari sana saat tiba di depan rumah. Kemudian memeriksa tangannya yang terluka. Kaos abu-abunya sudah berdarah dan sedikit sobek, ia yakin, lukanya pasti cukup dalam. Perlahan Kyuhyun menggulung lengan bajunya itu untuk memastikan.


"Ah... Pantas saja sangat sakit...." Gumamnya


Ponsel yang ada di saku celanabya berdering, Kyuhyun mengalihkan perhatian dan mrnerima telepon yang masuk


"Iya...."


'Kau yakin dengan naskah ini?'


"Hmm... Kenapa?"


'Terjadi sesuatu di Jeungdo? Apa yang kau pikirkan...?' Kyuhyun menghela


"Bicarakan saja intinya!"


'Kyuhyun.... kau adalah seorang Fourteen. Kau adalah penulis terbaik di abad ini, rasanya sangat aneh jika kau menulis naskah seperti ini, dengar! Ini benar-benar seperti bukan dirimu....'


"Kau salah.... Itulah diriku yang sebenarnya..."


'Kau ingin menjatuhkan namamu sendiri? Siapa yang akan membeli novel dengan jalan cerita yang biasa saja ini? Dan endingnya.... Aish! Kau benar-benar ingin karirmu tamat?' Kyuhyun tersenyum simpul


"Selama ini, aku menulis karena permintaan pembaca, kali ini, aku ingin menulis apa yang ingin aku tulis... Sudahlah.... Kita bicarakan ini setelah aku sampai di Seoul..." Kyuhyun tersenyum dan memutuskan sambungan. Setelah itu menunduk.


Ia sudah mengirim naskah barunya kemarin. Dan diluar dugaan, ia mendapatkan kritikan atas tulisannya ini. Padahal, ia berpikiran jika ini adalah karyanya yang begitu baik, tentang sisi lain kehidupan seseorang yang tak banyak orang tahu dan peduli. Novel ini, ia dedikasikan untuk sang "ajumma" dan untuk kebangkitannya. Tentu saja ia harus merilisnya!


"Ada apa dengan tanganmu?" Kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang Hyukjae


"Tidak apa-apa... Aku terjatuh tadi!"


"Sepertinya ini tidak baik-baik saja, ikut aku!" Hyukjae menarik Kyuhyun berdiri untuk mengantarnya ke klinik.


"Klinik.."


"Ini hanya luka biasa, tidak perlu ke klinik!" Hyukjae menghentikan langkahnya dan memandang Kyuhyun tanpa mau dibantah


"Apa kau mau mati karena terkena infeksi? Luka seperti ini, mungkin akan mendapat beberapa jahitan! Aish... Bagaimana kau bisa mendapatkan luka seperti ini?" Kyuhyun diam memandang Hyukjae dan tersenyum simpul


"Kau seperti hyungku....! Terimakasih...."


*****


"Ommo...ommo...!!"


Kyujong yang tampak serius membaca naskah untuk drama terbarunya itu menoleh pada Jungsoo. Penasaran mengapa ia begitu heboh. Jungsoo tak juga memberitahunya, ia hanya diam terpaku memandang layar ponsel yang sedang di pegangnya. Tak sabar, Kyujong meletakkan naskahnya dan mengambil alih ponsel itu tanpa permisi, kemudian membaca isinya, pasti hal yang serius sehingga membuat Jungsoo begitu terkejut


"Apa???? Hyung!" Kyujong memandangnya protes


"Ide konyol siapa ini?" Tambahnya, Jungsoo hanya menunduk. Ini salahnya


"Hyung!!!" Kini Kyujong tampak marah


"Maaf. ..."


"Ah... Jadi ini idemu? Jangan minta maaf! Jelaskan padaku!" Jungsoo memandangnya tak berdaya. Ia hanya asal bicara pada pimpinan perusahaan tentang itu, dan tak menyangka sama sekali mereka menyetujuinya. Ia menyesal, Kyujong bukan orang yang suka dengan cara semacam ini


"Hyung.... Kau pengkhianat jika tidak menjelaskannya padaku! Bagiamana bisa mendongkrak popularitas dengan cara menjijikkan seperti ini?" Kyujong berdiri dan hampir meledak, ia sudah mulai marah srkarang


"Kyujong.... kau tidak dituntut untuk menghamili wanita itu, kau hanya perlu berpura-pura menjalin hubungan dengannya. Jika perusahaan sudah menentukan, aku yakin ini adalah cara terbaik. Kau sudah sangat jauh terperosok ke dalam jurang.... Terimalah ide ini..."


"Apa kau sudah gila?" Hardik Kyujong gusar


"Apa keuntungannya?"


"Kau akan kembali dibicarakan! Dan itu bisa mendongkrak popularitasmu kembali, kau juga tidak ingin karirmu hancur seperti ini kan?" Jelas Jungsoo


"Hyung, kemampuanku memang menurun, aku juga tidak profesional, ini kesalahanku! Biarkan aku atasi sendiri, aku akan berlatih lebih keras, aku akan bangkit dengan cara yang baik, menjadi figuran kembali itu bukan hal yang buruk, kau tahu, aku dapat peran dalam drama "Sometime" itu sudah cukup untukku merangkak ke atas kembali.... Aku tidak setuju ide ini...." Jungsoo terdiam saat Kyujong melembut


"Tidak Kyujong! Kau tidak boleh merangkak, kau harus berdiri kemudian berlari untuk kembali ke puncak! Peran di "Sometime" hanya peran kecil! Kau adalah aktor yang baik, tidak seharusnya kau merangkak.... Aku lebih setuju dengan keputusan perusahaan...." Kyujong kembali menatapnya tajam, namun Jungsoo tak akan gentar kali ini. Ia menghidupi keluarganya dengan menjadi menejar Kyujong, jika Kyujong tamat, ia juga akan tamat


"Demi kebaikan kita berdua.... Aku mohon..." Kyujong duduk dengan gusar dan menunduk, ia akan melukai hati seseorang jika menyetujui ini

__ADS_1


"Jika kau tidak peduli dengan dirimu, tolong pikirkan keluarga yang aku hidupi dengan menjadi menejermu.... Aku juga kesal, saat mereka menjatuhkanmu hanya kau melempar naskah pada sutradara Jung, tapi aku mohon! Ini hanya akan berlangsung tiga bulan..." Kyujong menghembuskan nafasnya panjang


"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Bagaimana dengan kehidupannya setelah ini...?"


"Kau tenang saja, perusahaan pasti akan bertanggung jawab...."


"Kau sudah menemukannya?" Jungsoo menggeleng


"Aku akan menghubungimu begitu menemukan wanita yang cocok..."


*****


Begitu sampai di Seoul, Kyujong tak langsung kembali ke rumahnya. Ia sudah mendengar semua tentang Marin dari Jungsoo tadi, membuatnya sedikit terbebani sekarang. Dan ia masih membutuhkan udara segar untuk sedikit menenangkan pikiran. Marin datang setelah hampir dua tahun menghilang. Tidak! Kyujong sama sekali tak melupakan Marin, ia bahkan terus memikirkannya, rasa bersalah membuatnya seperti itu. Dua tahun ini, ia diam-diam mencari tahu tentang keberadaan Marin, namun semuanya terasa sulit untuk diketahui.


Dan sekarang dia datang. Dengan drama yang sedikit jahat namun pantas untuk di dapatkannya. Skandal terakhir yang menjeratnya seakan menjadi ultimatum dari Marin, bahwa wanita itu tidak akan tinggal diam. Kyujong tahu, pasti ada rasa sakit di dalam hatinya setelah apa yang ia dan perusahaannya lakukan, dan itu pasti berdampak buruk untuk Marin.


"Marin....." gumamnya


Kyujong berdiri seorang diri di tepian sungai han, membiarkan angin malam yang mulai terasa dingin menerpa wajahnya. Saat ini ia benar-benar merasa sangat tidak baik, semua kabar yang diterimanya seolah menjadi kabar buruk. Meski ada kabar baik tadi, namun itu terasa tak cukup untuk menghiburnya saat ini


"Eoh.... Kyujong.sshi....?" Kyujong mengalihkan pandangannya dan menoleh keasal suara. Seorang perempuan seumuran dengannya mendekat


"Ah... Benar...." Gumam wanita itu, Kyujong tersenyum menanggapi


"Senang bertemu denganmu lagi...." Wanita itu membungkukkan sedikit tubuhnya memberi salam


"Iya..." Kyujong membalasnya dengan ramah


"Aku penggemarmu, bolehkah aku minta tanda tangan?"


"Ah baik..." Kyujong masih memamerkan senyuman manis, perempuan itu buru-buru mengeluarkan sebuah note dan pena dari dalam tasnya


"Selamat...." Ucapan perempuan itu mampu membuat Kyujong menoleh ke arahnya


"Maaf... Apa maksudmu?"


"Aish.... Beritanya sangat ramai...! Tapi sebagai penggemarmu, aku tidak akan menolak, aku akan mendukungmu! Ah... Terimakasih, ini sangat berharga untukku..." Perempuan itu memberikan salam perpisahan sebelum beranjak, sementara Kyujong masih terdiam memikirkan apa maksud dari perkataan penggemarnya itu


.


.


Sepertinya teras rumah yang ditempati saat ini menjadi tempat favorit Kyuhyun. Langit sudah semakin gelap, ia baru saja selesai membaca ulang naskahnya, apa yang dikatakan kepala penerbit tadi terus membuat ia berpikir, dan saat ini, ia sedang mempertimbangkan itu. Lelah membaca, Kyuhyun memandang langit yang bertaburan bintang. Tampaknya pemandangan itu yang membuat dia betah berada disana, karena sulit untuk mendapatkan pemandangan seperti ini di Seoul.


"Kyuhyun.....!" Kyuhyun menoleh pada Juhyun yang datang sembari membawa buku yang pertama kali ia terbitkan


"Kau sedang apa?"


"Menikmati malam sebelum kau datang. Eoh tapi... Akhir-akhir ini kau suka sekali mengunjungiku ajumma....?" Juhyun tersenyum kemudian menunjukkan buku yang ia pegang


"Setiap kali aku membaca buku ini, aku merasa ingin menghibur banyak orang...."


"Lalu kenapa kau datang menemuiku?"


"Karena aku merasa kau butuh penghiburan. Tatapan matamu, mengingatkanku pada pemeran utama dalam novel ini...." Juhyun berkata dengan serius


"Aish... Kau terlalu sentimentil menanggapi sebuah novel...."


"Tidak...! Fourteen ku menulis novel ini dengan hatinya...." Entah kenapa pernyataan itu membuat Kyuhyun tertawa


"Kenapa?" Protes Juhyun


"Fourteen ku?" Kyuhyun tertawa terpingkal-pingkal sekarang, membuat Juhyun mengerutkan keningnya


"Kau seakan-akan ingin memilikinya, kau mau menikah dengan angka?" Cibir Kyuhyun


"Aish... Sepertinya kau memang terlahir sebagai orang yang menyebalkan!" Kyuhyun hanya tersenyum


"Apa kau sudah putuskan?" Tanya Kyuhyun tiba-tiba, membuat Juhyun berkerut heran


"Kau akan menerimanya atau tidak?"


"Apa?"


"Kyujong...."


"Eoh? Bagaimana kau tahu? Kyujong bilang padamu?" Kyuhyun hanya mengangguk singkat


"Aish...."


"Aish? Reaksi macam apa itu? Kau sangat beruntung, bintang besar seperti dia melamarmu... Kau tak berpikiran untuk menolaknya kan?" Juhyun tak mengatakan apapun, ia hanya memandang dalam kedua mata Kyuhyun


"Aigoo... Jangan hancurkan hatinya! Dia berharap padamu, eoh?" Juhyun masih memandang dalam kedua mata Kyuhyun

__ADS_1


'Aku menemukannya lagi.... Selalu seperti ini. Kyuhyun... kau yang membuatku tak segera memberi keputusan. Tatapan matamu......'


__ADS_2