
'Setiap hari aku selalu berharap waktu mengerikan itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak ingin mati dan meninggalkan semuanya. Aku ingin terus bersamamu dan menjalin kebahagiaan hingga kita menua. Aku memohon kepada Tuhan, agar Dia memberiku satu kesempatan lagi untukku menikmati hari-hari membahagiakan bersamamu.. aku tak ingin melewatkan satu haripun tanpa melihat senyumanmu. Beri aku sedikit waktu lagi, sedikit lagi! Maka aku akan melakukannya, dan bersiap untuk kemungkinan terburuk.... Beri aku kesempatan untuk menghilangkan ketakutan ini... Sekali saja.... Sekali saja....'
~Rainy Heart~
"Maaf... Kau mengenalku?"
Juhyun masih duduk di tempat itu dengan kepala tertunduk sempurna. Langit perlahan telah berubah warna menjadi kelam. Juhyun masih bertahan di tempat itu meskipun Kyuhyun telah pergi. Airmata menetes dari pelupuk matanya setelah ia menahan sejak tadi, ia tak ingin menangis. Namun ia tak bisa bertahan.
Suara isakan keluar dari mulutnya, Juhyun terisak pilu sembari menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Perasaannya begitu sesak, sedih, hancur saat melihat Kyuhyun seperti itu. Bukan karena dia tak mengenalinya, tapi ia merasa kebersamaannya dengan Kyuhyun akan semakin terasa singkat.
Juhyun masih menangis dengan keras, ia akan tumpahkan semuanya disini. Dimana tak ada seorangpun yang mengenalnya. Ia akan luapkan semua kesedihan ini. Menangis sejadi-jadinya dengan hati yang terus berdoa. Jika Kyuhyun mungkin akan segera menghilang, ia ingin tetap berada di sampingnya sampai detik-detik terakhir kebersamaan mereka.
"Aku tidak suka taman bermain, tapi kau membuatku menikmati semua wahana ini, kau mengagumkan ajumma.... Terimakasih"
"Ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku! Aku tidak akan melupakannya. Tapi aku tidak berjanji...."
Kepalanya semakin menunduk, ia merasakan sakit yang tak tertahankan dalam dadanya. Begitu menyesakkan hingga ia tak mampu untuk menghentikan tangisannya.
"Aku mohon..... Aku mohon...." Ujarnya disela-sela isakan.
......
Kyujong menghentikan mobilnya di depan taman bermain yang didatangi Kyuhyun dan Juhyun tadi. Wajahnya tampak khawatir, dengan segera ia mengeluari mobilnya diikuti oleh Marin. Ahra menghubunginya jika Kyuhyun tiba-tiba tidak mengingat Juhyun, dan pergi meninggalkannya di taman bermain tersebut. Disisi lain ia mengkhawatirkan Kyuhyun, namun ia memilih untuk menjemput Juhyun kembali. Karena Ahra bilang, Kyuhyun telah sampai di rumah dengan selamat.
Sesaat setelah Kyuhyun pergi tadi, Juhyun segera menghubungi Ahra dan meminta untuk memastikan Kyuhyun sampai dengan selamat. Tak ia pedulikan dirinya yang akan sendirian di taman bermain itu.
Kyujong berlarian mencari keberadaan Juhyun, diikuti oleh Marin di belakangnya
"Sebaiknya kita berpencar..." Ujar Marin
"Iya..." Kyujong mengangguk dan tanpa interuksi lagi, mereka berpencar. Bagaimanapun ini tempat baru bagi Juhyun. Dan taman bermain akan tutup dalam waktu 15 menit lagi. Suasana memang sudah sepi
"Juhyun...! Seo Juhyun!!!" Kyujong masih berlarian sembari memanggil nama Juhyun
Sampai beberapa saat kemudian, ia hentikan langkahnya ketika melihat Juhyun masih menunduk dengan sempurna di salah satu kursi. Kedua bahunya masih berguncang, menandakan jika gadis ini masih menangis. Perlahan Kyujong mendekatinya, wajahnya juga menyiratkan kepdihan. Ia tahu bagaimana perasaan Juhyun, dia pasti terkejut. Itu yang ia rasakan saat suatu kali Kyuhyun tak mengingatnya.
Dengan perlahan, Kyujong duduk di sampingnya. Tak berkata apapun, dengan gerakan lembut, Kyujong meletakkan tangan kanannya di pundak Juhyun. Mengelus dan menepuk pelan beberapa kali untuk menenangkannya
"Seharusnya aku tahu sejak awal...." Isak Juhyun, Kyujong tak bisa mengatakan apapun, ia juga terlambat mengetahui kenyataan ini
"Dia pasti sangat kesakitan..." Ujar Juhyun kembali, dan terdengar semakin pilu. Kyujong masih menepuk pundak itu, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Juhyun. Kepalanya juga menunduk menyembunyikan airmata. Tak jauh dari mereka, Marin berdiri terpaku menyaksikan mereka berdua. Mungkin wanita itu yang Kyujong sukai, Marin tersenyum simpul, merasa iri dengan wanita itu.
---------
Suara musik pembangkit semangat mengalun di rumah megah itu. Kyuhyun tampak sibuk di dapur pagi ini, sesekali ia menari mengikuti irama musik. Meski tak jago ia cukup lentur untuk menari. Dan sesekali pula ia ikut bernyanyi dengan suara pas-pasan. Pagi ini ia akan membuat sarapan, sarapan yang mudah di buat karena ia tak bisa memasak.
Hanya roti panggang yang akan ia isi dengan beberapa sayuran dan sosis panggang. Hanya itu yang bisa ia buat. Kakaknya sedang tidur, dia pasti akan senang saat bangun sarapan sudah siap di meja makan.
Pagi ini ia akan berjalan-jalan sebentar sebelum mulai sibuk, berolah raga untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa berat. Ia tak tahu mengapa hari ini ia merasa badannya pegal-pegal. Ia juga merasa lelah, mungkin dengan berolah raga ia bisa merasa lebih segar.
Kyujong terbangun karena suara musik yang menghentak, dengan berjalan santai, ia menuju dapur. Ia tersenyum saat melihat adiknya tak menyerah untuk bisa membuat sarapan
"Kau masih ingin membuatkan sarapan untukku?" Kyuhyun yang sedang menata sayuran di atas rotinya itu memandang Kyujong dan tersenyum simpul
"Eoh..." Singkatnya
"Kau mau berolah raga?" Tanya Kyujong setelah mengambil irisan tomat dan memakannya, Kyuhyun hanya mengangguk
"Kau akan makan dulu?" Kyuhyun mengangguk lagi menjawab pertanyaan yang kembali keluar dari mulut kakaknya itu
"Aku lapar..." Ucapan itu mengundang tawa Kyujong, kemudian ia acak rambut Kyuhyun gemas sebelum beranjak. Kyuhyun tampak tak peduli dan tetap melakukan pekerjaannya.
Kyujong menghentikan langkahnya setelah menutup pintu dapur dan memperhatikan adiknya itu dengan diam. Kyuhyun mengingat dirinya pagi ini, setelah semalam ia bertingkah seperti orang asing. Kyujong tak tahu apakah dia mengingat kejadian kemarin atau tidak? Kyujong menghela kemudian beranjak.
Dari dapur, Kyuhyun memandang sang kakak yang meninggalkannya. Pandangan matanya tampak sedih. Mengingat kemarin telah meninggalkan Juhyun sendirian. Ia tak ingat pasti mengapa ia meninggalkan Juhyun kemarin, namun yang pasti, itu terjadi karena penyakit dalam otaknya. Kyuhyun menghela dan menunduk. Musik penuh semangat itu seakan tak berarti apa-apa saat ini.
'Setiap hari aku selalu berharap waktu mengerikan itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak ingin mati dan meninggalkan semuanya. Aku ingin terus bersamamu dan menjalin kebahagiaan hingga kita menua. Aku memohon kepada Tuhan, agar Dia memberiku satu kesempatan lagi untukku menikmati hari-hari membahagiakan bersamamu.. aku tak ingin melewatkan satu haripun tanpa melihat senyumanmu. Beri aku sedikit waktu lagi, sedikit lagi! Maka aku akan melakukannya, dan bersiap untuk kemungkinan terburuk.... Beri aku kesempatan untuk menghilangkan ketakutan ini... Sekali saja.... Sekali saja....'
Kyuhyun sedikit terkejut saat ponselnya bergetar. Dengan segera ia menerima panggilan dari Oh sajangnim itu
"Iya hyung....? Eoh... Aku akan berolah raga dulu, kau bisa kirim orang untuk menjemputku! Tidak... Aku sedang malas naik mobilku sendiri... Baik, hmm..." Kyuhyun segera menyelesaikan pekerjaannya dan beranjak keluar untuk lari pagi.
----------
Juhyun masih berada di kamarnya meski matahari telah meninggi. Ia sandarkan kepalanya pada dinding. Kejadian kemarin benar-benar membuatnya shock. Mungkin karena ini pertama kalinya ia rasakan. Berbeda dengan Ahra atau Kyujong. Mereka mungkin sudah bisa mengatur perasaan, tapi tidak dengannya, ia merasa sangat sedih hingga saat ini. Bagaimana jika Kyuhyun terus melupakannya? Dan terus tak ingat padanya?
Juhyun menunduk dan memandang tanda tangan Kyuhyun yang dia bubuhkan di bukunya. Tangannya dengan lembut mengelus tanda tangan tersebut
__ADS_1
'Tetaplah menjadi seorang ibu yang mengagumkan walau apapun yang terjadi. Aku sangat mengagumimu karena itu'
Membaca pesan itu membuat airmatanya menetes kembali. Dengan cepat ia menghapusnya. Karena pintu terbuka, ia juga menegakkan duduknya. Ahra masuk dan memberinya senyuman sehangat cahaya matahari pagi
"Istirahat saja jika kau merasa tak enak badan...." Ujar Ahra
"Tidak... Aku akan keluar setelah ini!"
"Jangan memaksakan diri! Kau terlihat tidak sehat hari ini..." Ahra duduk di depannya. Juhyun tersenyum menenangkan
"Aku baik-baik saja eonni (kakak) aku hanya terkejut" ujar Juhyun dengan cepat, seakan jika ia mengatakannya dengan pelan, airmata akan mendahuluinya. Ahra menghela dan menepuk pundak Juhyun beberapa kali, memandang Juhyun penuh harap. Ia sangat berharap Juhyun bisa membujuk Kyuhyun
"Apakah Kyuhyun sering mengalami hal ini?"
"Suatu hari dia tahu siapa dirinya namun melupakan kami, di hari lain, dia tidak mengingat siapa dirinya. Dan di hari yang lain lagi, dia lupa telah membuat suatu rencana? Dokter bilang, semakin ke belakang Kyuhyun mungkin akan kehilangan semua ingatannya. Itu karena tumor yang ada dalam otaknya telah menekan saraf memori nya....." Juhyun menghela pelan, benar-benar tak tahu harus berkomentar seperti apa lagi, hanya rasa sedih yang menyusup dalam dadanya saat ini
"Kenapa dia tidak mau menjalani operasi?" Tanya Juhyun kembali mencoba untuk tegar
"Operasi itu tidaklah bisa menjamin Kyuhyun bisa kembali seperti semula. Ada banyak resiko, dia bisa saja lumpuh, hilang ingatan atau mungkin mati di meja operasi... Tapi jika itu berhasil, dia bisa terbebas dari rasa sakit..." Juhyun menghela kembali dengan cukup keras dan mengeluh saat tak bisa menyembunyikan kesedihan.
Dengan cepat Juhyun menunduk dengan begitu airmatanya menetes dengan deras. Entahlah, perasaannya berkecamuk tak menentu, ia bahkan tak tahu perasaan seperti apa yang lebih dominan. Ahra juga merasa sama sedihnya. Juhyun menghembuskan nafas keras kembali kemudian beranjak berdiri.
Melangkahkan kakinya keluar setelah menghela beberapa kali. Tidak bisa ia hanya dia dan meratap seperti ini! Setidaknya ia harus melakukan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya. Ahra memandang punggung Juhyun dengan sendu.
Juhyun mengambil sepasang sarung tangan dan berjalan menuju kebun panti. Ia akan membersihkan rumput-rumput liar dan juga mengurusi kebun saat ini. Mengalihkan perasaannya yang tak karuan, mungkin dengan menyibukkan diri ia bisa merasa lebih baik.
Sekarang Juhyun mengerti. Ia sangat mengerti mengapa Kyuhyun menjauhinya. Betapa baik hati lelaki itu, dia rela berkorban ditengah rasa sakit dan putus asa hanya untuk seorang wanita sepertinya. Kyuhyun tak ingin membuatnya terluka. Tapi apakah Kyuhyun tidak berpikir jika Juhyun akan semakin terluka jika mengetahui semuanya setelah dia benar-benar menghilang?
"Kyuhyun bodoh!" Gerutu Juhyun
---------
Suara tepuk tangan serentak terdengar begitu Kyuhyun memasuki ruang acara. Sebenarnya ia sedikit gugup, tapi ia mencoba untuk tersenyum ramah kepada mereka yang meluangkan waktu untuk melihatnya. Kyuhyun memandang mereka semua, ada begitu banyak orang, ia tak menyangka mereka akan seantusias ini. Senyumannya semakin melebar melihat semua itu.
Seorang MC memulai acara itu dengan melakukan bincang santai bersama Kyuhyun seputar buku-buku yang di tulisnya. Terutama buku terbarunya ini
"Ah iya... Mengenai karya pertamamu enam tahun yang lalu, banyak desas desus jika tulisan itu adalah kisah pribadimu, sehingga kau memutuskan untuk tidak mengungkap identitas aslimu. Apakah itu benar?" Kyuhyun tersenyum sebelum menjawab
"Pertama-tama tetap kenali aku sebagai Fourteen..." Kyuhyun tersenyum kembali
"Aku juga mendengar tentang isu itu, tidak semua apa yang tertuang di dalam buku, adalah kisah pribadi hanya karena ceritanya begitu menyentuh, aku menulis tentang masalah-masalah yang mungkin akan dialami oleh banyak orang. Dan untuk alasanku menggunakan nama pena, mudah saja, aku hanya tidak ingin ruang privasiku terganggu..." Kyuhyun mengakhirinya dengan senyuman
"Benar, tepatnya satu bulan aku disana, satu hal yang membuatku begitu mengagumi kondisi sosial disana, buku ini sejujurnya aku dedikasikan untuk seorang teman..."
"Kekasih?" Kyuhyun tertawa mendengar pertanyaan itu namun tak memberi pernyataan apapun
"Jadi benar?" Sang MC masih menuntut jawaban darinya
"Bukan" Kyuhyun menjawabnya sembari tersenyum.
Begitu selesai melakukan sesi bincang-bincang Kyuhyun melanjutkan acaranya untuk memberikan tanda tangan kepada semua yang hadir, lumayan banyak dan akan sedikit melelahkan, namun Kyuhyun tampak menikmati. Ia tak menyangka begitu banyak orang yang mengapresiasi tulisannya.
.
.
"Eoh... Stalker?" Ujar Kyuhyun saat menanda tangani buku terakhirnya.
Marin tersenyum, dia yang menjadi pemilik buku terakhir yang Kyuhyun tanda tangani. Kyuhyun juga tersenyum padanya.
"Maksudku Jang Marin.sshi..." Marin tersenyum semakin lebar
"Aku yang terakhir, tidak keberatan kan jika aku ajak makan siang bersama?" Ujar Marin
"Kau yang traktir..." Kyuhyun menunjuknya dengan yakin
"Baiklah..."
-----------
Juhyun menghela kencang ketika menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Kebun tersebut telah rapi dan bersih. Ia sandarkan tubuhnya pada sebuah batang pohon yang ada disana, duduk sebentar untuk melepas penat. Sejak ia memulai pagi tadi, hingga saat ini ia tak mengistirahatkan tubuhnya. Seseorang menyodorkan minuman padanya, Juhyun menoleh dan mendongak memandang siapa orang itu. Kemudian tersenyum simpul saat melihat Kyujong
"Kau baik-baik saja?" Tanya Kyujong sembari duduk disebelahnya, Juhyun mengambil botol minuman itu dan meneguknya hingga tinggal setengah
"Pelan-pelan!" Seru Kyujong, Juhyun menghela setelah meminum air itu dengan sedikit bernafsu
"Ahra bilang kau mengerjakan semua ini sendirian?" Juhyun mengangguk sembari bergumam
__ADS_1
"Kau yakin baik-baik saja?" Kyujong mengulangi pertanyaannya kembali
"Iya..." Juhyun tersenyum menenangkan Kyujong
"Mau pergi jalan-jalan?"
"Whoooo.... Kau punya banyak waktu luang?" Juhyun lagi-lagi tersenyum
"Kebetulan hari ini aku free.. kau mau kemana?"
"Tidak usah, aku akan disini saja" namun kali ini Juhyun mengatakannya dengan lesu dan menunduk. Saat sibuk tadi ia sempat melupakan kesedihannya, tapi begitu ia diam seperti ini, ia merasa sedih kembali. Kyujong memandangnya merasa prihatin, ia tak ingin membahas Kyuhyun sekarang, itu pasti akan menambah kesedihan Juhyun
"Mau makan sesuatu? Aku pesankan!" Juhyun mengangkat kepalanya kembali dan memandang Kyujong, kemudian tergelak
"Kau seperti sedang menghibur anakmu yang sedang merajuk..." Juhyun berucap di sela-sela tawanya. Berbeda dengan Juhyun, Kyujong justru memandanya dengan sendu.
Sangat terlihat betapa Juhyun ingin tertawa. Juhyun masih tertawa hingga akhirnya ia menunduk dan justru terisak. Ia tak bisa tertawa, semakin lama tangisannya semakin kencang. Penjelasan Ahra tadi justru membuatnya semakin sedih. Kyujong mendekat dan memegang pundak Juhyun menguatkan
"Berat sekali menerimanya....." Isaknya dengan pilu, Kyujong menghela kemudian memeluk gadis yang tengah bersedih ini dan mengelus punggungnya dengan perlahan
"Kau pasti bisa!" Ujar Kyujong menguatkan
"Kau ingin menemuinya?" Tanya Kyujong setelah melepas pelukan itu, Juhyun menggeleng. Juhyun masih tak sanggup untuk menemuinya. Ia tak ingin menangis dihadapan Kyuhyun sekarang, lagipula ia juga tak tahu apakah Kyuhyun sudah mengingatnya atau tidak. Ia hanya ingin menenangkan diri untuk beberapa waktu ke depan ini.
.
.
Dua minggu kemudian.....
.
.
Ini akhir pekan, namum Juhyun tampak santai dan tak sibuk mempersiapkan diri untuk ke Seoul. Dia malah mengeluarkan sepedanya, berencana untuk bersepeda keliling desa. Sementara Hyukjae telah siap akan berangkat. Minggu ini Juhyun memutuskan untuk tidak datang lagi ke panti asuhan. Ia masih ingin menenangkan dirinya.
Dua minggu ini ia habiskan waktunya bersama anak-anak. Bersama mereka benar-benar memperbaiki perasaannya. Tentang kondisi Kyuhyun, mungkin dia menjadi satu-satunya yang merasa sangat terpuruk. Namun tak seharusnya ia merasa hancur sperti itu. Tentu Kyuhyun yang paling hancur dalam hal ini, bukankah seharusnya ia yang menjadi penyemangat bagi Kyuhyun? Karena bagi Kyuhyun, hanya Juhyun yang tak mengerti bagaimana kondisinya itu.
Seperti kata Ahra, ia harus bersikap seakan tak tahu apapun. Tugasnya adalah meyakinkan Kyuhyun tanpa menampakkan jika ia tahu Kyuhyun sakit. Tapi bisakah? Juhyun menghela, ini adalah tugas yang berat. Tapi ia juga tak boleh menunda-nunda waktu, semakin cepat akan semakin baik bagi Kyuhyun. Juhyun menghela, memikirkan bagaimana caranya?
"Eoh, kau tidak ikut lagi?" Pertanyaan itu menyadarkan Juhyun dari lamunannya, ia pandang Hyukjae datar
"Tidak, aku merasa kurang enak badan hari ini"
"Ah... Baiklah, sebaiknya kau istirahat saja" Juhyun mengangguk dan tersenyum kemudian beranjak menuntun sepedanya.
"Tidak enak badan tapi pergi bersepeda?" Gumam Hyukjae
.
.
Kyuhyun duduk tenang di atas kursi 'bersejarah' di taman panti asuhan. Kursi itu telah menjadi saksi pertemuannya dengan Juhyun setelah berbulan-bulan tak berjumpa. Dan kini, hampir satu bulan ia tak bertemu dengan Juhyun. Setelah pekan lalu dia tak datang, Kyuhyun berharap Juhyun akan datang pekan ini.
Benar dia sedang menunggunya, ia sedang menantikan kedatangan Juhyun. Entah apa yang ia lakukan pada Juhyun di taman bermain dua minggu yang lalu, entah apa yang ia katakan, dan sikap seperti apa yang ia tunjukkan pada Juhyun dua minggu yang lalu. Sehingga membuat Juhyun tak mau datang lagi ke panti asuhan. Yang ia ingat, ia telah meninggalkan Juhyun. Kyuhyun benar-bebar tak mengingat yang lainnya.
Kyuhyun menghela kemudian bersandar, ia merindukan Juhyun. Bukan hanya saat ini, karena setiap hari ia merindukannya . Namun keegoisan membuat ia tak bisa mengungkapkan rasa rindu itu. Seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya, Kyuhyun menoleh dengan antusias
"Ajumma...!" Seru Kyuhyun dengan antusias sembari tersenyum lebar. Namun senyumannya menghilang ketika sapdar bukan Juhyun yang duduk di sampingnya. Ahra mentertawakan sikapnya itu dan membuat Kyuhyun muram kemudian mengalihkan pandangan kearah lain
"Hyukjae bilang dia tidak datang lagi hari ini" Kyuhyun memandang Ahra datar dan menghela
"Apa aku membuat kesalahan padanya?" Ahra mengangkat kedua pundaknya
"Tidak ada yang tahu apa yang kau lakukan di taman bermain waktu itu, tapi dia menjadi sedih karena itu..."
"Apa dia memutuskan untuk menjauhiku setelah mengetahui semuanya?" Kyuhyun mengutarakan kesimpulan yang sudah berada dalam benaknya setelah insiden di taman bermain itu. Meski Kyuhyun tak bertanya pada Ahra apakah Juhyun sudah tahu atau tidak tentang sakitnya, Kyuhyun yakin Juhyun mengetahui itu, dengan sifatnya, Juhyun tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mengorek berbagai informasi tentang apa yang terjadi padanya
"Kau berpikiran seperti itu? Jadi pikiran seperti itu yang muncul dalam otakmu ketika kau merindu?" Ahra menatapnya dalam dan bertanya dengan sinis. Jika saja Kyuhyun tahu bagaimana Juhyun ingin selalu berada di dekatnya. Dengan kesal Ahra menghembuskan nafas kencang
"Kau tahu Kyujong melepaskannya demi dirimu! Dia juga melukai hatinya sendiri dengan melepaskan cinta yang sangat dia harapkan! Karena dia tahu Juhyun mencintaimu...!" Entah sadar atau tidak, Ahra mengatakan itu dengan berapi-api. Sebenarnya ia sudah muak dengan sikap Kyuhyun yang seakan-akan tak peduli. Kyuhyun memandang Ahra dalam juga dan mengerutkan kening
"Sekali saja kau pikirkan dirimu! Baik! Ini adalah saat-saat terakhirmu! Jika kau memilih untuk mati dengan cara seperti ini, tak inginkah kau memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri?"
"Nuna?"
"Terserah kau akan mati dengan cara seperti apa, tapi jangan bebani kami lagi dengan menjadikan kami prioritasmu! Kau juga punya kebahagiaan yang harus kau perjuangkan, jadi aku mohon padamu.... Kami sudah sangat bahagia, terutama Kyujong, dengan kembalinya kau sebagai adiknya, itu sudah cukup baginya... Aku mohon...." Ahra berkata dengan suara lebih lembut dan menunduk, menangis dengan diam.
__ADS_1
Kedua mata Kyuhyun memanas tiba-tiba memanas, airmata menggenang di pelupuk matanya. Kyuhyun menghela sembari menunduk dan bersamaan dengan itu airmatanya menetes. Semua yang di katakan Ahra sangat mengena dalam hatinya. Ahra lebih mendekat dan memeluk adiknya ini. Pundak Kyuhyun bergetar menahan tangisan yang mungkin akan pecah.
"Hiduplah dengan bahagia selagi kau bisa....."