Rainy Heart

Rainy Heart
Chapter 22


__ADS_3

Suara gemericik hujan terdengar hingga ke dalam ruangan. Menandakan betapa deras hujan turun malam ini. Juhyun mendekati jendela kamar itu dan memperhatikan tetesan demi tetesan air dari balik kaca jendela. Ekspresinya datar dan tak mudah untuk di tebak. Ia hanya memandang tetesan air hujan seolah dengan memandangnya seperti itu ia bisa mendapatkan sebuah kekuatan super. Kyuhyun telah kembali pulang, setelah memastikan demamnya turun. 30 menit yang lalu.


Perbincangan mereka berakhir dengan menggantung. Baik dirinya ataupun Kyuhyun, tak ada yang berniat untuk melanjutkan percakapan mengejutkan itu. Juhyun menghela, ia sama sekali tak bisa menerka, apakah Kyuhyun mengucapkannya dengan serius atau itu hanya keluar dari mulutnya begitu saja, tanpa ia sengaja. Juhyun menghela kembali, haruskah ia menanyakannya sementara Kyuhyun tak melanjutkan lagi perkataannya itu? Ini pasti akan membuat hubungan mereka menjadi canggung jika Juhyun memutuskan untuk menanyakannya kembali.


Tapi hatinya benar-benar dibuat tak berdaya saat ini. Telinganya mendengar jika Kyuhyun mengucapkan sebuah kalimat lamaran, meski itu sama sekali tak dapat dipastikan. Sebagai wanita biasa, tentu ia merasa ada yang aneh dengan hatinya. Dan semakin aneh saat ia tak tahu apakah lamaran itu serius atau tidak.


Entah sudah keberapa kalinya ia merasa jika hatinya tak nyaman ketika hujan turun. Juhyun berbalik dan duduk diatas tempat tidur dengan tak bersemangat.


"Kau sedang melamun?" Juhyun berjengit kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba itu


"Dia memintaku untuk memastikan kau baik-baik saja..." Ujar Ahra kembali sembari menghampirinya. Juhyun hanya tersenyum menanggapi itu


"Ah... Payah sekali, bahkan saat aku demam, dia tidak seperti ini. Aku iri..."  Juhyun tertawa kecil mendengar Ahra merajuk seperti itu


"Terimakasih eonni, sudah merawatku..."


"Tidak... Kyuhyun yang merawatmu..!"


"Iya" singkat Juhyun sembari menunduk, Ahra memperhatikan itu dengan penuh selidik


"Apa dia memperlakukanmu dengan tidak baik? Jika dipikir-pikir, dia pergi begitu saja tadi... Ah... Alih-alih memintaku melihat kondisimu, bukankah sebaiknya dia bertanya langsung padamu? Pasti ada yang tidak beres...!" Juhyun mengangkat kepalanya dengan cepat dan menggeleng dengan cepat pula, menepis semua yang Ahra katakan


"Tapi kau bilang dia pergi begitu saja?" Tanya Juhyun kemudian, Ahra mengangguk mantap sebagai jawaban


"Wajahnya keruh sekali! Kalian bertengkar?"


"Eonni!" Ahra nyaris melompat saat dengan tiba-tiba Juhyun menyergap kedua tangannya dan menatapnya penuh keyakinan


"Kenapa?" Tanya Ahra waspada


"Kapan hari itu?"


"A.ap.apa?"


"Operasi Kyuhyun!" Ahra menghela pelan dan melepaskan diri dari sergapan itu


"Sebenarnya..... Dokter sudah menjadwalkannya dua hari lagi, tapi Kyuhyun meminta waktu kembali..."


"Dia menundanya?" Ahra mengangguk tak bersemangat. Ia sudah kehabisan cara untuk membujuk Kyuhyun yang sangat keras kepala itu.


Sementara itu Juhyun berdiri dan mendekati jendela kembali. Mungkinkah Kyuhyun menunda untuk melakukan pernikahan dengannya? Mungkinkah lamaran itu serius? Pikirannya mulai berkecamuk dengan segala kemungkinan. Dan tanpa sadar ia mengabaikan Ahra karena terlalu sibuk dengan pikirannya. Ia remat jemarinya merasa bimbang


"Juhyun...." panggil Ahra pelan, Juhyun tersadar bahwa ia tak sendirian, kemudian menoleh pada Ahra


"Kenapa? Kalian benar-benar bertengkar?" Entah apa yang ada dalam pikiran Juhyun ketika Ahra menanyakan hal itu. Tanpa memberi jawaban apapun, ia bergegas keluar. Tak peduli hujan masih turun dengan cukup deras.


.


Juhyun sampai di tepi jalan raya. Setelah untuk beberapa waktu ia berjalan dari panti asuhan. Ia lindungi dirinya dari hujan dengan sebuah payung. Saat ini, ia sedang menunggu sebuah taksi melintas. Sedikit tak sabar karena taksi yang ia tunggu tak juga melintas. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah taksi berhenti karena seseorang telah menghentikannya. Namun Juhyun yang terburu-buru menyerobot taksi itu


"Heyy nona!!!"


"Aku minta maaf..! Aku dalam keadaan darurat..." Juhyun menganggukkan kepalanya beberapa kali dari dalam mobil meminta pengertian


"Tolong jalankan mobilnya pak..."


Kemana dia akan pergi dengan terburu-buru seperti itu?


Juhyun mengeluarkan ponsel dalam saku jaketnya dan menghubungi Kyuhyun. Namun pria itu mengabaikan panggilannya. Dengan kesal Juhyun menghembuskan nafas


"Aku harus mengantarmu kemana?" Tanya sang sopir


"Eoh? Jalan saja dulu pak..!"


Bodohnya Juhyun tak bertanya dimana alamat rumah Kyuhyun pada Ahra tadi. Juhyun terdiam dan tampak berpikir untuk beberapa saat. Kemudian beralih menghubungi Kyujong karena Kyuhyun terus saja mengabaikan panggilannya


"Eoh.. Kyujong...!"


"Ada apa Juhyun.sshi?" Juhyun tertegun saat bukan Kyujong yang mengangkat telepon darinya. Ia pasti mengganggu acara bulan madu Kyujong


"Juhyun..sshi? Kau perlu bicara dengan Kyujong?"


"Tidak! Aku hanya ingin minta alamat rumahnya... Bisa kau kirimkan padaku?"


"Baiklah...!"


••••


Juhyun akhirnya sampai berkat alamat yang ia dapatkan dari Marin. Untuk sesaat ia tertegun setelah menuruni mobil. Ia kagum dengan penampakan depan rumah itu. Ini bahkan masih pagar yang ia lihat, tapi ia sudah bisa memastikan jika rumah dibalik pagar ini pasti mengagumkan. Ia edarkan pandangan matanya dengan tak percaya, kemudian tersenyum simpul. Ia tak menyangka telah mencintai seorang pria yang terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya


"Daebak (Luar biasa)...." Gumamnya.


Sedetik kemudian, Juhyun menggelengkan kepalanya kuat. Berharap imajinasi dalam otaknya berterbangan keluar. Kemudian mendekati pintu dan menekan bel saat teringat tujuannya datang ke rumah itu. Hujan telah reda dan ia merasa bersyukur.


'ting tong... ting tong...'


.


Bibi mendekati layar kecil di dinding ruang tengah itu. Melihat siapa yang bertamu malam-malam seperti ini. Ia perhatikan wajah yang tampil di layar, namun ia tak mengenali siapa pemilik wajah itu


"Aku tanyakan atau aku abaikan?" Gumam bibi, bersamaan dengan itu Kyuhyun melintas, ia dari dapur untuk mengambil air minum

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Kyuhyun menghentikan langkahnya dan melihat ke layar


"Aku tidak tahu... Apa aku harus buka pintunya?" Kyuhyun diam sejenak sebelum berkata


"Aku saja..!" Singkatnya sembari berjalan mengeluari rumah, meskipun sebenarnya ia bisa membuka pintu tanpa harus keluar


.


Juhyun masih menunggu pintu gerbang itu terbuka. Ia edarkan pandangannya ke setiap penjuru, sedikit merasa khawatir. Kyuhyun tak akan membukakan pintu. Pintu terbuka saat ia membelakanginya, dengan segera ia berbalik dan tersenyum ketika melihat Kyuhyun disana. Kyuhyun memandangnya dari ujung kaki hingga kepalanya. Dan bahkan tak mempersilahkannya masuk. Juhyun tersenyum simpul mendapat perlakuan seperti itu? Apakah Kyuhyun sekarang tengah melupakannya atau ia sedang marah padanya? Tapi kenapa dia harus marah?


Kyuhuun masih melakukan itu dan membuat Juhyun merasa semakin heran. Untuk beberapa saat mereka masih saling menatap


"Bagaiamana kau bisa kemari?" Tanya Kyuhyun kemudian, ternyata ia hanya merasa heran, Juhyun bisa sampai ke rumahnya


"Apa? Ah... Aku naik taksi..." Juhyun menjawabnya dengan jujur dan terkesan polos, membuat Kyuhyun tak bisa menyembunyikan senyumannya. Bukan itu jawaban yang Kyuhyun mau dari pertanyaannya. Ia hanya ingin tahu bagaimana Juhyun tahu rumahnya


"Masuklah!" Seru Kyuhyun sembari membuka pintu lebih lebar, dan menepi memberi Juhyun jalan.


Juhyun benar-benar tak bisa menyembunyikan kekaguman melihat rumah dihadapannya ini. Ia bahkan tak bisa mengatupkan mulutnya, rumah Kyuhyun terlalu luar biasa dimatanya. Halaman luas yang bahkan bisa digunakan untuk bermain golf, berada di depan sebuah bangunan mirip istana itu. Bangunan itu terlihat sangat elegan dengan di dominasi cat putih, pilarnya yang besar menambah kesan kokoh pada bangunan itu. Untuk sementara ia lupa dengan maksud kedatangannya, ia merasa seperti Cinderella yang sedang mampir ke istana sang pangeran


"Wooaahh... Daebak..." Gumamnya tanpa sadar, Kyuhyun yang berjalan di sampingnya, menoleh dan memperhatikan Juhyun yang masih saja terkagum-kagum dengan rumah keluarganya itu


"Apa kau keturunan darah biru?" Juhyun bertanya dengan antusias, membuat Kyuhyun membulatkan kedua matanya tak mengerti dengan pertanyaan itu


"Aku dengar Kyujong berasal dari keluarga kaya raya, tapi aku benar-benar tidak menyangka keluarga kalian sekaya ini...! Tapi... Satu hal yang membuatku penasaran, siapa yang mengelola perusahaan keluarga? Kau jadi penulis dan Kyujong menjadi aktor... Siapa?"


"Aku ralat! Aku sudah berhenti menulis..."


"Ah... Benar, berarti kau yang menjalankan perusahaan keluarga sekarang? Wooaahh... Apakah aku akan menjadi nyonya besar?" Juhyun mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun, air mukanya masih terlihat antusias, Kyuhyun tak tega jika harus mematahkan keantusiasan wanita dihadapannya tu. Baiklah, ia akan tunda untuk bertanya maksud kedatangan Juhyun itu. Ia hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Juhyun dan mengajaknya masuk.


Dan Juhyun semakin antusias melihat bagian dalam rumah itu. Jika tidak sedang menahan diri, ia pasti akan berlarian kesana kemari melihat setiap sudut ruangan yang ada dan menyentuh semua furniture disana. Tapi ia berusaha tidak terlihat kampungan, ini memang kali pertamanya melihat bangunan semegah ini. Kyuhyun masih memandangnya dengan diam, namun bibirnya masih saja tersenyum. Ia merasa tingkah Juhyun malam ini sangat menggemaskan, kedua matanya bersih seperti seorang malaikat saat seperti ini.


"Jadi benar kau yang sekarang mengelola perusahaan?" Tanya Juhyun lagi masih penasaran


"Kau berharap sekali seperti itu? Apa sekarang kau terobsesi menjadi seorang nyonya besar?" Canda Kyuhyun kemudian tertawa, melihat Juhyun cemberut


"Pamanku...." Juhyun angguk-angguk dan duduk di sofa yang berada di ruang tengah


"Empuk sekali...." Gumam Juhyun lagi, Kyuhyun menyusulnya duduk


Dan saat itu, Juhyun menghela. Sepertinya ia mengingat tujuannya datang. Ini saat yang tepat untuk Kyuhyun bertanya


"Untuk...."


"Kau pasti sangat kesepian tinggal berdua dengan Kyujong di rumah sebesar ini?" Kyuhyun menghentikan ucapannya saat Juhyun menyela, gadis itu sedang merasa iba padanya. Kyuhyun masih memandang Juhyun sembari tersenyum, meski raut kesedihan ada dalam wajahnya. Perlahan Juhyun menoleh dan memandang Kyuhyun  jauh lebih sedih daripada dirinya sendiri dan itu membuat pertahanan Kyuhyun runtuh, senyumannya berganti sebuah senyuman getir


"Kau memiliki semua yang aku impikan selama ini, kekayaan, kekuasaan, tapi kau tidak memiliki apa yang aku miliki..... Ah... Kenapa aku jadi sedih begini..?" Juhyun menghela dan mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat emosional sekarang, selama ini ia ingin merasakan bagaiman rasanya menjadi orang yang kaya raya memang. Tapi memang tidak semua hal yang ia ingin rasakan seindah yang ada dalam bayangannya. Semua yang ada dalam dunia ini hanyalah sesuatu yang fana, dan tak sempurna


"Omong-omong, ada sesuatu yang membawamu kemari?" Kyuhyun mengalihkan pembicaraan, ia tak tahan melihat ekspresi Juhyun itu.


Juhyun memandangnya sejenak dan mendehem. Kemudian tersenyum, bagaimana bisa ia melupakan niat awal kedatangannya?


"Eemm...." Dia tampak ragu untuk mengatakan, dan hanya bisa menunduk malu, membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya merasa heran


"Ee... Bagaimana aku mengatakannya?"


"Katakan saja..." Seru Kyuhyun sembari tersenyum


"Kau... Jangan terkejut...." Kini Kyuhyun memandangnya ragu, apa yang akan Juhyun katakan hingga ia tak boleh terkejut? Namun begitu, ia tetap mengangguk agar Juhyun mau mengatakannya


"Sebenarnya.... Ah... Mari kita persingkat saja...! Kyuhyun.... ayo kita menikah!" Kyuhyun membulatkan kedua matanya mendengar pernyataan yang Juhyun sampaikan dengan cepat dan lugas itu. Meski tadi ia juga melakukan hal yang sama, tapi ini tetap mengejutkan baginya. Ia sudah berpikir jika Juhyun tak akan membahas hal ini lebih dalam. Namun diluar dugaan, Juhyun justru mengajaknya dengan terang-terangan. Begitu terkejut, hingga Kyuhyun tak tahu harus bereaksi seperti apa?


••••


Marin tersenyum pada Kyujong yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi berwarna coklat muda itu. Mereka baru saja datang dari berkeliling menikmati liburan singkat mereka. Benar! Sangat singkat, besok pagi mereka akan kembali ke Seoul. Dengan perlahan, Kyujong mendekati sang istri yang tengah membaca buku di atas sofa berwarna putih, kakinya ia selonjorkan sehingga tidak ada tempat untuk Kyujong duduk.


Setelah tersenyum tadi, Marin kembali melanjutkan kegiatannya. Dan terkesan mengabaikan Kyujong.


Begitu sampai di depan sofa, Kyujong mengangkat kaki itu dengan lembut, kemudian duduk dan meletakkan kedua kaki Marin di pangkuannya


"Kau tidak puas dengan bulan madu ini?" Tanyanya dengan lembut, mengalihkan perhatian Marin dari buku. Kemudian menatap sang suami diiringi senyuman


"Bukan tidak puas, aku hanya merasa....."


"Intinya pasti sama, seharusnya memang kita melakukannya lebih lama.. maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa tenang meninggalkan..."


"Aku mengerti...." Marin menyela dengan lembut dan tersenyum semakin lebar


"Ah... Juhyun menelpon tadi..."


"Juhyun? Kenapa?" Kyujong memandang Marin penasaran, apa yang membuat Juhyun menghubunginya


"Dia hanya bertanya alamat rumah kalian..." Kyujong terdiam memikirkan kemungkinan apa yang terjadi, hingga membuat Juhyun ingin datang ke rumahnya?


"Apakah terjadi sesuatu?"


"Aku tidak tahu, dia hanya bertanya dan dia juga terdengar terburu-buru...."


"Mungkinkah....."


"Tidak mungkin..." Sela Marin sembari menurunkan kakinya dan mengelus kedua pundak Kyujong lembut. Ia tak ingin Kyujong memikirkan yang tidak-tidak

__ADS_1


"Mereka sedang jatuh cinta, pikirkan saja hal yang positif...." Kyujong menarik nafas panjang dan menghela, kemudian memandang Marin dan mengangguk.


••••


Keesokan harinya......


Hyukjae tiba di panti asuhan awan putih, dengan membawa pakaian Juhyun. Seperti biasanya, ia selalu mendapatkan sambutan hangat. Baik dari anak-anak, ibu Shin, Ahra dan beberapa relawan yang lain. Namun yang membuatnya sedikit heran, ia tak melihat Juhyun, ini masih terbilang pagi, apakah dia sudah pergi bersama Kyuhyun?


"Juhyun belum pulang..." Ujar Ahra seakan mengerti kebingungannya itu


"Apa? Memangnya kemana dia pergi?" Ahra menghela, Juhyun tak memberitahunya dan ia tak bisa menerka kemana gadis itu pergi sekarang


"Entah... Dia tidak mengatakan apapun padaku.. sebenarnya aku sangat khawatir, sejak pergi tadi malam ia tak bisa aku hubungi, Kyuhyun juga seperti itu..." Hyukjae membulatkan kedua matanya, terkejut dan juga khawatir datang bersamaan. Jika Juhyun menghilang atau terjadi hal buruk padanya, bagaimana ia akan mengabari keluarga Juhyun di Jeungdo?


"Ahra.sshi... kau benar-benar tidak tahu?"


"Maafkan aku...! Bagaiamana kalau kita cari sekarang?"


.


.


Menggelar sebuah tikar di atas rerumputan hijau halaman keluarga Kim yang kaya raya. Sebuah radio kecil menemani mereka, jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ada sekitar tiga bantal sofa berbeda warna tergeletak di atas tikar. Posisi mereka sama, berbaring di atas tikar itu dengan menjadikan bantal sofa sebagai bantal. Pandangan mereka sama, memandang langit yang tampak bersih tanpa noda sama sekali, menandakan betapa cerahnya pagi itu.


Tak ada percakapan yang terdengar, hanya sebuah lagu romantis dari radio itu yang terdengar. Entah mengapa begitu pas suasana saat itu dengan lagunya. Mereka terlihat menikamati lagu yang terputar dengan bibir terkembang membentuk senyuman. Suara gemericik air mancur di dekat mereka menambah kesan tenang, rumah besar itu memang sangat sunyi.


'Senda gurau akan membuat harimu menjadi lebih baik, pendengar.... tak ada peringatan hari sepesial hari ini, namun langit tampak begitu cerah dan menyenangkan, bukan? Seperti langit pada pagi hari ini aku ingin mengajak kalian untuk berbagi kebahagiaan.... Berbagi kehangatan untuk orang-orang terkasih kalian yang akan memulai aktifitas..... Sampaikan salam kalian....'


Suara ceria seorang DJ perempuan itu menemani pagi mereka yang terasa manis. Entah mengapa hingga saat ini mereka masih betah berdiam diri, meski bibir mereka tak lepas dari senyuman


'Ah... Semua orang sangat bersemangat hari ini, ada beberapa pesan yang datang bahkan sebelum acara ini di mulai. Baiklah..  aku akan membacakannya setelah, satu lagu berikut. Selamat mendengarkan....'


Lagu kembali terputar dan saat itu mereka saling pandang. Juhyun benar-benar tak bisa menyembunyikan senyuman kebahagiaannya


"Kau yakin tidak akan memberitahu Kyujong sekarang?" Tanya Juhyun mengawali


"Mmhemm.." Kyuhyun bergumam sembari mengangguk. Posisi mereka masih tetap sama seperti tadi


"Aku bahkan sudah mengabari keluargaku..."


"Ini akan menjadi kejutan untuk Kyujong hyung...." Juhyun tertawa kecil, entah mengapa ia teringat percakapan semalam


"Kau juga terkejut..." Celetuknya kemudian, membuat Kyuhyun tersipu malu


"Eoh... Kau menembak tepat pada sasaran, sepertinya kau berbakat untuk menjadi penembak runduk..." Juhyun semakin tertawa


••••


"Bagaimana...? Ayo kita menikah!" Juhyun mengulangi kembali saat Kyuhyun hanya terpaku memandangnya


"Kau menganggap apa yang aku ucapkan siang tadi serius?" Juhyun mengangguk mantap mendengar pertanyaan itu


"Tidak mungkin kau mempermainkanku..." Ujar Juhyun penuh keyakinan, membuat Kyuhyun mengalihkan pandangannya.


Memang benar, dia ingin menikahi Juhyun, secepat mungkin. Namun... Ia juga merasa ragu akan itu. Apakah prnikahannya akan berjalan lancar atau malah sebaliknya. Ia benar-benar merasa telah berada diambang kematian sekarang. Jadi ia selalu berpikir, bagaimana mungkin ia melukai hati seseorang di detik-detik terakhirnya?


"Kyuhyun.... ayo kita menikah...!" Juhyun berucap kembali dengan lembut, seolah meyakinkan keraguan dari Kyuhyun


"Aku ingin. Tapi sejujurnya, aku takut melukaimu lebih dalam...." Jujur Kyuhyun sembari menundukkan kepalanya. Juhyun masih diam sebelum menjawab, ia juga masih mempertahankan senyumannya


"Apa kau yakin dengan tidak menikahiku, aku tidak akan terluka?" Pertanyaan lembut itu mampu menohok hati Kyuhyun dengan keras. Benar! Ia tak memikirkan hal itu. Ucapan Juhyun ini benar-benar sebuah tembakan yang tepat sasaran. Kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang Juhyun kembali. Melihat ekspresinya, Juhyun yakin pria dihadapannya ini akan setuju


"Kita lakukan besok sore... Begitu Kyujong dan Marin tiba di Seoul..." Ujar Juhyun


"Secepat itu?"


"Benar! Menunda hanya akan menyebabkan keraguan, kau sudah yakin dan aku tidak ingin kau menjadi ragu kembali..."


••••


Kyuhyun tiba-tiba tertawa saat ia dibuat tak berkutik oleh Juhyun semalam. Juhyun yang berbaring di sampingnya menoleh dengan heran. Lagu telah usai, sekarang sang DJ sedang membacakan pesan dari beberapa pendengar setianya.


"Boleh aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu?" Tanya Juhyun penasaran, Kyuhyun menghentikan tawanya dan menoleh


"Aku sedang memikirkanmu...!"


"Iya?"


"Kau sangat berani! Kau selalu bisa mengungkapkan apa yang ada dalam benakmu. Kau bahkan membuatku mati berkali-kali..."


"Apa???" Juhyun semakin tak mengerti


"Kau membenciku karena aku bersikap buruk pada Kyujong hyung, kemudian tiba-tiba kau merasa iba padaku entah apa alasannya, kau yang awalnya jatuh cinta kepada Kyujong hyung, dengan tiba-tiba berbelok arah padaku, dan dengan terang-terangan mengatakannya padaku. Meski aku menolakmu mentah-mentah, kau terus meyakinkanku bahwa kau mencintaiku. Kau menyerangku hingga aku tak bisa berbohong lagi dengan perasaanku dan membuat Kyujong hyung merasa kecewa. Sekarang, kau bahkan menembakku tepat di jantung ini dengan melamarku dan menentukan hari pernikahan secara sepihak! Kau wanita yang sangat berbeda....." Kyuhyun tertawa saat Juhyun mengalihkan pandangan karena malu.


'Bukti sebuah cinta.... Bukan karena ia rela berkorban saja, bukan juga sekuntum bunga yang ia berikan setiap hari kepada pasangannya. Bukan kata-kata manis yang terucap setiap waktu, bukan sentuhan lembut yang tak pernah telat dilakukan. Tapi bukti sebuah cinta, adalah jika ia datang dengan berani, penuh rasa percaya diri, penuh kayakinan tentang perasaannya. Datang dengan pengakuan dan melamar pasangannya dengan penuh keyakinan, menyalurkan cinta yang lebih suci, menjalin hubungan tinggi yang penuh komitmen. Suatu kehormatan, ketika aku mengenalnya dengan sifat yang seperti itu... Meski kami tidak akan tahu apa yang akan terjadi ketika ikatan suci telah berhasil mengikat kami dengan erat. Jika mungkin Tuhan hanya memberiku waktu satu hari saja untuk menemaninya, akan aku genggam erat tangannya dan membahagiakannya disisa waktu itu. Penembak runduk ku.... Terimakasih banyak... Aku mencintaimu.....'


'Waaaahhh..... Tuan K datang lagi dengan pesan yang begitu menyentuh. Penembak runduk! Kau beruntung memilikinya... Pendengar! Adakah yang setuju denganku? Aku pikir tuan K ini adalah seorang penulis yang baik.... Baiklah! Sebuah lagu untuk kalian semua, aku rasa ini cocok sekali dengan pesan tuan K, "Neol Saranghagesseo" selamat mendengarkan....'


Juhyun yang tadi tersipu malu, memandang Kyuhyun kembali dengan airmata yang telah membanjiri wajahnya mendengar pesan dari tuan K itu. Bukan sedih, tapi ia merasa sangat terharu


"Kau mulai lagi...." Gumam Juhyun sembari tersenyum dan menahan tangis

__ADS_1


"Karena pesan itukah kau mengajakku mendengarkan radio? Kau juga menembakku tepat pada sasaran.... aku mencintaimu..." Ujar Juhyun kembali, sementara Kyuhyun hanya tersenyum


__ADS_2