
Malam terasa bergulir dengan sangat cepat. Bulan telah kalah dari terangnya cahaya matahari pagi. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi, saat Juhyun terusik dalam tidurnya. Semalam, ia tidur dengan sangat nyenyak, ia bahkan tak terbangun sama sekali. Mungkin hatinya telah sedikit tenang, Kyuhyun tidur di sampingnya, dan ia bisa merasakan kehangatannya. Hingga pagi ini ia harus terusik karena suara-suara yang berasal dari kesibukan Kyuhyun, perlahan ia buka kedua matanya, ia ingin tahu apa yang membuat suaminya itu begitu sibuk di pagi hari seperti ini
"Good morning...." Suara merdu itu menyapan pendrngarannya sekuntum mawar merah telah berada di hadapannya, entah darimana Kyuhyun mendapatkannya. Juhyun tersenyum dan bangun ke posisi duduk. Kemudian memperhatikan Kyuhyun dari ujung kepala hingga ujung kakinya
"Kau sudah siap?" Kyuhyun mengangguk sembari tersenyum puas saat Juhyun mengambil bunga itu dari tangannya
"Eoh? Kau juga menyiapkan secangkir hangat teh dan roti lapis untuk sarapan?" Juhyun menarik nafas panjang dan mendekati meja
"Ah... Sebenarnya, aku minta sedikit punya Kyujong hyung...." Jujur Kyuhyun dengan polosnya, mengundang tawa renyah Juhyun yang beralih mendekatinya
"Aku tidak tahu bagaimana harus berlaku romantis, ini yang Kyujong lakukan kepada istrinya di beberapa kesempatan. Dia benar-benar aktor drama romantis yang paling hebat...." Juhyun hanya tersenyum manis kemudian memeluk Kyuhyun dari belakang.
Menyamankan posisinya dan sekali lagi memastikan kehangatan Kyuhyun. Sementara Kyuhyun hanya bisa melirik Juhyun yang tampak cantik meski baru bangun tidur itu dengan perasaan secerah pagi ini
"Ayo... Nanti kita terlambat..." Gumamnya namun Juhyun mengeratkan pelukannya
"Kau sudah berusaha dengan keras, terimakasih... Ini adalah pagi termanis seumur hidupku..." Juhyun menarik nafas panjang dan melepas pelukannya
"Aku akan mandi sebentar..." Ujarnya berpindah kehadapan Kyuhyun, Kyuhyun mengangguk mantap.
Begitu Juhyun memasuki kamar mandi, Kyuhyun mendudukkan dirinya di tempat tidur. Menghela dan meminum obatnya, ia tak ingin merusak satu hari ini. Ia ingin melakukan 10 kegiatan romantis yang sudah ia rencanakan hari ini. Ia akan tuntaskan semuanya hari ini. Karena besok, ia akan berbaring di rumah sakit, mempertaruhkan hidup dan juga matinya.
Setidaknya, jika ia besok tak tertolong, ia telah membuat kenangan manis bersama Juhyun. Dan berharap itu bisa mengurangi kesedihan sang istri ketika ia harus pergi jauh. Kyuhyun menunduk meski sudut bibirnya membentuk senyuman, kemudian mengambil buku diary nya di laci nakas. Membukanya perrlahan, ia akan tulis semuanya, mungkin itu bisa berguna jika ia kehilangan ingatannya setelah operasi selesai. Gerakannya terhenti saat ia menemukan sebuah tulisan yang asing, karena itu bukan tulisannya
'Tak masalah jika kau melupakanku, tak masalah jika kau akan mendiamkanku saat kita berpapasan suatu hari nanti. Karena aku tahu, manusia tak selamanya akan hidup dengan ingatan sebuah masalalu. Tak perlu berusaha keras mengingatku ketika kenangan itu menghilang, hiduplah dengan sehat dan bahagia. Jangan ingat aku jika itu sulit! Aku akan pergi jika melihatku membuatmu kesakitan. Aku hanya ingin mengatakan padamu, jika hari ini aku sangat bahagia, kau yang mencampakkanku pada awalnya, kini datang dan membuatku merasa memiliki harapan.... Aku hanya ingin berterimakasih padamu, karena telah membagikan kebahagiaan ini untukku! Kau harus hidup meski aku tak disampingmu... Aki mencintaimu, Kyuhyun.ah......'
Kyuhyun memandang tulisan itu dengan serius. Kapan Juhyun menulis ini? Untuk orang yang tak pernah menulis surat, ini terasa sangat menyentuh. Setelah terdiam sejenak, akhirnya ia tersenyum lebar, bersamaan dengan itu Juhyun keluar dari kamar mandi
"Kenapa tidak memulai sarapan dulu....?" Kyuhyun menoleh dan menutup bukunya
"Aniya... Bagaimana bisa aku memulainya tanpa dirimu..."
"Manja..."
•••••
"Ahhhh ini sangat menyebalkan...!" Kyuhyun merajuk diatas sepedanya, sementara Juhyun hanya memandang suaminya itu dengan santai dan tersenyum. Sejak 15 menit yang lalu Kyuhyun terus menggerutu. Dan Juhyun masih mendiamkannya
"Ah....! Padahal kita bisa pergi bersepeda mengelilingi kota, kita bisa melakukan dua kegiatan sekaligus! Tapi kenapa?" Kyuhyun masih saja merengek, seperti seorang bocah yang sedang merajuk karena tak boleh memakan permen favoritnya. Namun kali ini Juhyun justru tertawa. Mereka masih dengan santai mengayuh sepeda mereka. Mengelilingi rumah megah keluarga Kim
"yobo....." Rengek Kyuhyun kembali
"Aku menyukai rumah ini, bagiku tidak ada yang lebih menarik dibandingkan dengan rumah ini, jadi kita keliling saja disini eoh?" Kyuhyun berdecak dan masih saja mengeluh, Juhyun yang mengayuh sepedanya sendiri di samping, melirik suaminya itu sembari tersenyum simpul
"Ah..ah...." Seru Juhyun tiba-tiba sembari menghentikan sepedanya. Dan hal itu membuat Kyuhyun juga menghentikan sepedanya
"Kau baik-baik saja?" Dengan khawatir, Kyuhyun bertanya dan mendekati Juhyun setelah meninggalkan sepedanya begitu saja
"Kenapa?" Juhyun yang menunduk mengangkat kepalanya kemudian memandang Kyuhyun
"Aku lelah... Istirahat sebentar ya?" Juhyun mengedipkan kedua matanya dengan manja diiringi senyuman jahil.
Kyuhyun menghela kemudian duduk diatas rerumputan di belakang rumahnya itu. Masih dengan senyuman, Juhyun mendekat dan memberikan sebotol air pada Kyuhyun. Mereka memang sudah 15 kali mengelilingi rumah yang memiliki halaman megah itu. Juhyun sama sekali tak merasa lelah, wanita desa sepertinya lebih tangguh daru wanita kebanyakan. Ia hanya ingin Kyuhyun beristirahat. Masih ada delapan hal yang belum mereka lakukan.
"Setalah ini apa yang akan kita lakukan?" Juhyun bertanya sembari memijati kaki Kyuhyun yang tengah minum. Kyuhyun menoleh dan tampak berpikir
"Ehmmm... Menulis surat?" Ujarnya begitu selesai minum
"Baiklah...! Aku merasa menemukan banyak sekali inspirasi disini... Tunggu sebentar aku akan mengambil kertas dan bolpoin..." Juhyun beranjak menuju sepedanya dan melajukannya menuju pintu utama. Kyuhyun tersenyum
"Dia lincah sekali...." Gumam Kyuhyun kemudian berbaring memandang langit yang tampak bersih
"Oke... Aku sudah cukup bahagia...." Gumamnya kembali, ia sudah siap untuk melakukan operasinya esok hari. Beberapa saat kemudian...
'Kriing... Kriing...'
Kyuhyun menoleh dan tertawa kecil melihat Juhyun mendekatinya. Dia turun dari sepeda dan berlari kearahnya, dan nyaris terjungkal karena tersandung kakinya sendiri
"Eoh... Hati-hati!" Reflek Kyuhyun bangun dan berteriak, kemudian menghela lega saat Juhyun mampu menjaga keseimbangan. Juhyun mengangkat kepalanya dengan posisi yang masih belum berubah. Condong ke depan dengan kedua tangan mengepak sepertu sayap, Kyuhyun menghela lagi dan memandangnya gemas. Sementara Juhyun tertawa dengan polosnya. Kyuhyun berdiri dan tak bisa menahan tawa juga, kemudian merangkul Juhyun dan membawanya duduk
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Kyuhyun dengan lembut setelah mereka duduk, Juhyun mengangguk
"Eoh.. aku tidak apa-apa..! Ini..." Dengan antusias, Juhyun memberikan kertas dan bolpoin kepada Kyuhyun
"Surat ini akan kita kirim melalui pengiriman regular..." Ujar Juhyun dengan bersemangat
"Kenapa tidak pengiriman ekspres saja?"
"Tidak!" Juhyun berujar dengan yakin dan tak ingin dibantah, sebagai suami yang sabar, Kyuhyun hanya menghela pasrah
"Baiklah...!"
"Ok! Kita mulai...!!" Juhyun beranjak menjauh "jangan mengintip eoh..!" Kyuhyun tertawa kecil mendengar seruan yang terdengar seperti seruan anak SD itu.
Mereka melakukannya dengan tenang. Entah apa yang ada dalam pikiran Kyuhyun, hingga menulis surat seperti ini menjadi hal yang romantis? Bukankah bisa mengungkapkan perasaan secara langsung itu jauh lebih romantis? Tapi sepertinya Kyuhyun menyukai cara-cara klasik. Ia bahkan membuat pengakuan cinta melalui tulisan yang dibacakan di radio, itu pasti membuat Juhyun meleleh. Bagaimana tidak? Kyuhyun terkesan ingin menunjukkan rasa cintanya kepada semua orang. Bukankah ia sangat manis?
Karena takut tulisan mereka bocor, mereka bahkan sampai harus saling membelakangi dengan jarak sekitar dua meter. Mereka terkesan seperti pelajar SMA yang sedang jatuh cinta, dan sesekali mereka saling menoleh
"Kau harus menulisnya dengan sebagus mungkin, jangan lupakan latar belakangku, aku ini mantan penulis...! Ah... Waktunya dua menit lagi? Aku hampir menyelesaikan tulisanku..." Kyuhyun berkata dengan santai
"Aish... Sejak kapan aku bilang jika ada tenggat waktu? Ini curang! Aku bahkan menulis apapun?" Protes Juhyun dengan kesal, karena harus memaksa otaknya untuk berpikir, ia tidak bisa menulis surat
"Kau bilang menemukan banyak ide disini?"
"Ahh... Diamlah! Suaramu membuatku tidak bisa berpikir!!!" Juhyun berseru kesal kembali dan terdengar menggelikan di telinga Kyuhyun hingga ia ingin terus menggodanya
"Satu menit lagi...."
"Aish...! Kau mau membuatku gila? Jangan membuatku gugup, itu semakin sulit untuk menulis sesuatu! Diam dan tenanglah!" Juhyun berbalik dan semakin kesal, dan saat itu Kyuhyun memandangnya dengan lembut dan tersenyum tulus
"Maaf maaf... Lanjutkan! Aku akan menunggumu...!" Seru Kyuhyun dengan lembut, membuat kekesalan itu runtuh. Juhyun menghela kemudian melanjutkan kembali tulisannya.
"Kenapa harus menulis surat?" Gerutu Juhyun
••••
Surat telah mereka tulis dan telah mereka kirimkan melalui pos. Karena melalui pengiriman regular, mungkin akan sampai di tangan masing-masing dalam waktu lima sampai satu minggu lagi. Waktu makan siang akan segera datang, kali ini mereka memutuskan untuk berbelanja dan memasak bersama.
Sudah 15 menit Kyuhyun menunggu Juhyun yang sedang bersiap di ruang tengah. Mengambil sebuah majalah dan membukanya dengan kurang sabar, ia merasa telah lama menunggu, tapi Juhyun tak juga keluar. Marin yang baru saja dari kamar mendekati Kyuhyun dengan senyuman lebar
"Jangan memasang wajah kesal seperti itu!" Seru Marin sembari mendekat dan duduk di sebelahnya, Kyuhyun menoleh dan tersenyum kikuk
"Ini adalah kali pertamanya keluar denganmu sebagai seorang istri, tentu ia akan berpenampilan cantik..." Kyuhyun tertawa
"Dia sudah cantik tanpa berdandan.. eoh, aku tidak melihat Kyujong hyung..."
"Ada pekerjaan di luar kota, dia akan kembali lusa.." Marin menjawabnya sembari tersenyum. Berbeda dengan Kyuhyun yang berdecak tampak kecewa, Marin meliriknya heran
"Kenapa?"
"Tidak... Biasanya dia tidak pernah telat memberitahu jadwalnya padaku... Dulu aku tidak peduli, tapi sekarang ketika dia lupa aku jadi begini.." ujar Kyuhyun disela-sela tawa malu-malunya. Marin juga ikut tertawa
"Karena aku yang nomor satu sekarang..." Candanya kemudian. Membuat Kyuhyun semakin tertawa. Sampai Juhyun datang dengan penampilan yang biasa saja...
Kyuhyun menghentikan tawanya dan memandang sang istri dari ujung rambut hingga ujung kepala, begitupun dengan Marin
"Kenapa?" Juhyun memandang mereka heran, Kyuhyun tersenyum setengah hati. Ia menunggu lama hanya untuk melihat persiapan biasa-biasa saja seperti ini. Kemudian berdiri dan menggandeng tangan Juhyun keluar rumah
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" Juhyun masih bertanya
"Tidak... Kau cantik..." Juhyun tertawa kecil dan melirik Kyuhyun malu-malu
"Benarkah?"
"Aku pasti akan kerepotan menyembunyikan kecantikanmu..." Kali ini Juhyun tertawa cukup kencang dan memukul bahu Kyuhyun semakin merasa malu.
.
.
Tangan itu terus tertaut seakan tak mau lepas. Kyuhyun terlihat menikmati momen ini, tak masalah meski geraknya berkurang karena harus mendoronh troli dengan tangan yang terus digandeng oleh Juhyun. Begitu kentara jika Juhyun tak ingin momen seperti ini berakhir. Sesekali mereka berhenti berjalan untuk mengambil produk yang ingin mereka beli di rak
__ADS_1
"Jangan... Yang itu tidak begitu enak.." ujar Kyuhyun pelan sembari menggeleng saat Juhyun akan mengambil sebuah produk makanan, Juhyun menoleh dengan polos
"Benarkah?" Karena Kyuhyun bicara dengan suara pelan, Juhyun juga berbisik. Kyuhyun hanya mengangguk sebagai jawaban
"Aku tidak yakin, memangnya kau pernah membelinya?" Kyuhyun menghela
"Aku tidak membelinya tapi aku memakannya..." Juhyun tersenyum puas melihat wajah kesal Kyuhyun. Kemudian menepuk pipi sang suami dengan gemas
"Bagaimana dengan yang ini?" Kekesalan Kyuhyun seketika menghilang saat Juhyun mengikuti sarannya. Tak menjawab, Kyuhyun hanya mengacungkan kedua jempolnya. Juhyun tersenyum kemudian mengambil dua bungkus
"Kau ingin makan apa siang ini?"
"Apapun asal kau yang memasaknya..."
"Ouh... Manis sekali...." Dengan gemas Juhyun menarik pipi Kyuhyun.
Mereka terus saja seperti itu, seakan ingin semua orang tahu jika mereka adalah pengantin baru. Mereka juga tak terusik saat beberapa orang memperhatika.
Berbelanja kebutuhan sehari-hari telah mereka lakukan. Mereka keluar dari swalayan tersebut setelah membayar. Dengan segera Juhyun mengambil satu kantong plastik yang Kyuhyun bawa, mereka berbelanja cukup banyak memang. Kyuhyun memandangbya protes, bagaimanapun membawa barang-barang adalah tugas pria
"Tidak apa-apa... Jika kita melakukannya bersama semua akan terasa ringan.."
Setelah meletakkan belanjaan-belanjaan itu di dalam mobil, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar menikmati cerahnya langit. Tangan mereka masih bertaut seperti tadi. Berjalan di trotoar tanpa tahu akan kemana. Juhyun menghentikan langkahnya di depan sebuah cafe. Berjalan seperti ini sambil menikmati minuman hangat akan terasa semakin menyenangkan
"Tunggu sebentar..." Setelah mengatakan itu, Juhyun beranjak masuk untuk membeli minuman hangat.
Lima menit kemudian, ia keluar dengan dua cup minuman hangat. Menyerahkan satu pada Kyuhyun dan kembali menggandeng tangan itu kemudian melanjutkan perjalanan
"Waktu kecil, aku sering berkhayal... 'Jika aku sudah dewasa aku akan menikahi seorang pangeran' aku hanya seorang gadis desa, yang tudak tahu bagaimana menakjubkannya keramaian dan kemudahan yang dilalui orang-orang dikota besar seperti ini. Karena itu aku memimpikan hidup bersama dengan seorang pangeran... Dan ketika aku beranjak dewasa, aku merasa sangat lega, harapanku terkabul..." Ujar Juhyun memandang langit membayangkan masa kecilnya yang polos, kemudian menoleh pada Kyuhyun, tersenyum dengan tulus
"Kau adalah hadiah yang Tuhan kirimkan untuk seorang gadis kecil yang berharap menikahi pangeran ketika telah dewasa... Cukup hanya Kim Kyuhyun hadiahku...." Kyuhyun menoleh, memandang Juhyun pula dengan kedua mata berkaca-kaca. Tanpa mengatakan apapun, ia berbalik dan memeluk hangat tubuh Juhyun. Airmata mengalir perlahan dari kedua mata Kyuhyun.
"Kita kembali sekarang, aku akan memasak makanan yang enak untukmu. Tidak perlu menemaniku membelikan pakaian, bersamamu seperti ini sudah membuatku sangat bahagia... Tak perlu memaksakan diri untuk menyelesaikan 10 kegiatan romantis itu. Kau harus beristirahat, besok kau akan melakukan operasi...." Kyuhyun mengeratkan pelukannya dan mengangguk
••••
"Yobo... Kau sudah sampai?"
"Iya... Kau baru saja menghubungiku lima menit yang lalu, kenapa? Ada yang merisaukanmu?"
Marin menghela nafas panjang dan menunduk mendapat pertanyaan dari Kyujong itu. Ia memang sudah berkali-kali menelpon suaminya itu, namun ia selalu tak bisa berkata. Pada akhirnya ia hanya menanyakan hal-hal kecil seperti itu
"Yobo..." Marin menarik nafas panjang mendengar panggilan itu, namun tak segera menjawab
"Marin... Ada apa? Kau membuatku tidak bisa bekerja dengan tenang..."
"Maafkan aku... Kau tidak lupa dengan jadwal operasi Kyuhyun kan? Dia menanyakanmu tadi dan mengatakan hal-hal aneh..."
Untuk beberapa saat tak ada sahutan dari seberang sana. Entah apa yang dilakukan Kyujong, tapi Marin masih setia menunggu. Hingga akhirnya Marin mengecek ponselnya, khawatir jika sambungannya terputus, namun itu tidak terjadi
"Kyujong.ah...." terdengar tarikan nafas dari seberang sana
"Bagaimana bisa aku melupakan sesuatu yang sangat penting seperti ini dan pergi keluar kota..." Gumam Kyujong terdengar menyesal
"Tidak apa-apa? Kau tidak bisa membatalkan pekerjaan ini..."
"Aku tahu...! Jam berapa operasinya?"
"Pukul 08.00 malam..."
"Aku akan usahakan datang sebelum operasinya berlangsung..."
"Baiklah..."
••••
Dua kantung belanjaan tergeletak begitu saja di atas meja makan. Entah pergi kemana dua manusia yang baru saja datang dari berbelanja itu. Setelah sempat terjadi keributan saat mereka datang tadi, kini rumah menjadi sangat sepi. Marin yang keluar dari kamar karena mendengar keributan tadi mengedarkan pandangannya keheranan.
Perlahan ia menuruni tangga, ia penasaran keributan apa yang terjadi tadi. Namun di lantai bawah pun ia tak menemukan tanda-tanda adanya seseorang. Ia hanya melihat dua kantung plastik belanjaan di atas meja makan.
"Kyuhyun.ah... Juhyun.ah...." panggilnya sembari memasuki dapur
"Aku bilang ambilkan olive oil, bukan ini... Bagaimana bisa kau payah sekali?"
"Tapi kau tidak bisa memasak dengan minyak yang ini.. aku harus banyak mengajarimu tentang bahan-bahan dapur..."
Marin mengerutkan keningnya mendengar cekcok kecil dibawah meja pantri itu. Mereka bertengkar namun dengan cara yang unik, itu membuat Marin tertawa kecil. Setelah itu mendekat dengan perlahan, mengintip dari atas meja pantri tersebut
"Waktu kita membakar ikan itu aku sudah ajarkan padamu, mengapa kau tidak mengerti juga....?"
"Aish... Bukan salahku jika aku tidak mengerti, itu karena kau terlalu cepat saat mengajarkannya.."
"Ehem..."
Deheman Marin mampu menghentikan bisik-bisik itu. Secara bersamaan, Kyuhyun maupun Juhyun mendongak memandang Marin yang tersenyum kepada mereka.
"Eoh..." Seru mereka bersamaan sembari berdiri bersamaan pula. Berdiri secara mendadak membuat tubuh Kyuhyun sedikit limbung
"Kau baik-baik saja?" Juhyun menahan lengan Kyuhyun dan bertanya dengan cemas
"Iya... Ini karena aku berdiri dengan tiba-tiba..." Kyuhyun tersenyum menenangkan
"Ah... Benarkah? Ini pasti karena kau kelelahan..." Juhyun memanyunkan bibirnya dan mengusap wajah Kyuhyun. Mengabaikan Marin yang masih berada disana
"Aku baik-baik saja...! Aku bukan bayi...!"
"Hebat! Kalian membuatku cemburu... Aish... Begitu Kyujong datang, aku akan mengajaknya memasak bersama..." Bersamaan kembali Kyuhyun dan juga Juhyun memandang Marin
"Maaf... Kami sangat sibuk sekarang, tunggulah diluar, kami akan siapkan makan siang..!" Ujar Kyuhyun sembari tersenyum. Dan seketika mendapat pukulan di bahu dari Juhyun
"Maafkan kami..." Juhyun meminta maaf atas sikap tidak sopan Kyuhyun. Marin hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya kemudian keluar.
.
Acara memasak mereka mulai setelah Marin keluar dari dapur. Semua bumbu yang mungkin dibutuhkan sudah Juhyun keluarkan dan tertata rapi di atas meja pantri. Sementara Kyuhyun memasukkan belanjaan ke dalam kulkas, Juhyun mencuci beras. Sembari memberikan intruksi pada Kyuhyun dengan cerewet. Sementara Kyuhyun hanya menurut dengan pasrah
"Keluarkan wortel, lobak dan juga paprika...!" Seru Juhyun
"Baik...." Jawab Kyuhyun dengan cepat dan melakukannya.
"Cuci sampai bersih!" Seru Juhyun kembali sembari meletakkan beras yang telah ia cuci ke dalam alat penanak nasi. Kemudian beralih mengambil cumi-cumi di dalam wadah plastik itu dan membawanya ke tempat cuci piring
"Kau harus menggosok bagian ini!" Juhyun berseru kembali dan memprotes pekerjaan Kyuhyun yang menurutnya salah
"Iya..." Ujar Kyuhyun dengan sabar
"Begitu selesai bersihkan ini juga...!" Kali ini Kyuhyun tak langsung menjawab, ia masih memastikan apa yang harus ia cuci
"Cumi-cumi?"
"Eoh..."
"Ahh... Bolehkah aku menolak?" Tanyanya dengan manja. Juhyun menghela
"Baiklah... Kalau begitu iris sayuran ini..!" Seru Juhyun sambil menampakkan senyuman manisnya. Kyuhyun mengangguk dengan semangat dan beralih ke depen meja pantri. Sementara Juhyun menggantikan posisinya mencuci cumi-cumi.
Kyuhyun menoleh kebelakangnya, dimana Juhyjn tampak sangat serius membersihkan cumi-cumi tersebut. Kemudian mendekat, dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang langsing Juhyun. Juhyun sedikit terkejut dan menoleh. Namun kemudian tersenyum dan memengang tangan Kyuhyun dengan lembut
"Saranghae..." Bisik Kyuhyun, senyuman di bibir Juhyun semakin lebar
"Aku tahu... Karena itu kau harus bertahan...!" Juhyun juga berbisik
"Aku tidak akan mengecewakanmu... Tapi aku bukan Tuhan.."
"Tuhan akan mendengarkan doa kita..." Ujar Juhyun dengan cepat
"Apa kau akan membenciku jika ternyata aku harus pergi?" Kyuhyun menyamankan kepalanya di atas kepala Juhyun
"Tidak..! Apapun yang akan terjadi, aku akan tetap berterimakasih padamu. Tapi bolehkah aku menangis..."
"Jangan terlalu lama bersedih...!" Juhyun tersenyum beberapa kali sembari tersenyum
__ADS_1
Kyuhyun melepas pelukan itu dan beralih untuk memotong sayuran-sayuran yang telah ia cuci tadi. Ia tak mahir memegang pisau dapur tapi ia akan mencobanya. Pertama-tama ia pandang lobak dihadapannya itu dengan intens, kemudian menyiapkan pisau di tangan kanannya sementara tangan kiri memegang lobak itu
"Kenapa kau lamban sekali saat belajar di dapur... Kau sangat pa...."
"Akh...!"
Juhyun menoleh dengan cepat mendengat keluhan itu. Wajahnya tegang bercampur cemas. Ia tinggalkan cumi-cuminya dan mendekati sang suami
"Kenapa? Kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir, Kyuhyun menoleh dan menunjukkan jari telunjuk yang telah ia 'iris' itu. Juhyun menghela lega, ia berpikir jika sakit Kyuhyun kambuh tadi, namun ia lega karena Kyuhyun hanya terluka kecil
"Sakit..." Manjanya, Juhyun meraih tangan itu sembari tersenyum. Kemudian mengecupnya. Seperti seorang ibu yang tak ingin buah hatinya merasa kesakitan. Sementara Kyuhyun terus memandang jauh ke dalam mata sang istri
"Tunggu sebentar...!" Seru Juhyun kemudian beranjak mengambil kotak P3K yang terletak tak jauh dari sana. Sesaat kemudian dia kembali dengan membawa salep dan juga plaster. Mengobati luka itu dengan sabar
"Kau benar-benar tak perlu ke dapur jika seperti ini..." Celetuk Juhyun
"Terimakasih..."
••••
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Kyujong tengah memacu mobilnya meninggalkan lokasi syuting. Ia bersyukur mendapat waktu luang untuk menemani Kyuhyun menjalani operasi. Namun ia tak bisa melajukannya dengan kencang karena jalanan licin akibat hujan. Apalagi jalanan yang berkelok-kelok. Ia tak ingin membahayakan dirinya, ia harus sampai di Seoul dengan selamat
"Eoh... Aku sedang berada di perjalanan. Sutradara memberiku waktu.... Ehmm... Aku bahagia sekali... Tunggu aku...!"
Berbeda dengan suara Kyujong yang terdengar ringan, Marin justru merasa khawatir. Entah mengapa perasaannya jadi tidak nyaman seperti itu. Ia nyalakan kembali ponselnya untuk melihat ramalan cuaca disana
"Ah.. hujan deras..." Gumamnya
.
.
Meski tak sejelas di Jeungdo, mereka masih bisa melihat bintang-bintang di langit. Cuaca di Seoul akhir-akhir ini seakan menggambarkan kedua perasaan Kuhyun dan Juhyun. Begitu cerah dan hangat. Dengan diam mereka menengadah memandang bintang-bintang itu. Kyuhyun berbaring di rerumputan hijau itu dengan menjadikan paha Juhyun sebagai bantal
"Jika kau merasa lelah, kita masuk saja..." Kyuhyun menggeleng sembari memejamkan kedua matanya dan kening berkerut menahan sesuatu
"Apa kepalamu terasa sakit? Kau sudah minum obatmu? Kyuhyun.ah... kita masuk saja ne...?" Juhyun bertanya dengan cemas sembari mengelus rambut Kyuhyun. Kyuhyun kembali menggrleng
"Aku tidak bohong, kau terlihat lelah dan wajahmu sangat pucat..." Juhyun masih mencoba untuk merayu Kyuhyun
"Sebentar saja..." Ujar Kyuhyun menyerupai bisikan kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Juhyun sudah tidak bisa lagi menahan rasa khawatirnya, ini pasti terjadi karena Kyuhyun terlalu lelah, ia bahkan tak membuka matanya
"Kyuhyun.ah...."
"Disini sangat segar.... Jangan paksa aku untuk masuk..." Juhyun menghela namun tetap mengelus rambut Kyuhyun. Meski ia merasa sedih dan khawatir saat ini. Namun ia sudah siap dengan ponselnya
.
.
Kyujong menghentikan mobilnya setelah melewati jalanan sepi. Ia merasa lelah dan bermaksud untuk istirahat sejenak. Masih tinggal beberapa puluh kilo meter lagi untuk sampai di Seoul, namun dengan kondisi lelah, ia tak bisa untuk melanjutkan perjalanan.
Mengatur posisi jok setengah berbaring, kemudian mengambil botol air mineral di sebelah kanannya. Dan menghubungi Marin
"Kau sudah sampai?" Tanya Marin dengan cepat
"Maafkan aku... Aku sedikit lelah jadi aku berhenti untuk beristirahat..."
"Kau di hotel?"
"Emm.. ne..." Terpaksa Kyujong berbohong, Marin pasti akan khawatir saat tahu ia beristirahat di pinggir jalan
"Baiklah... Segera istirahat..!"
Kyujong berbaring setelah sambungan terputus. Namun cahaya menyilaukan menembus kaca depan mobilnya. Ja harus memincingkan kedua matanya karena terlalu silau, tapi cahaya itusemakin mendekat. Saat itulah Kyujong menyadari jika itu adalah sebuah mobil atau truk yang tengah hilang kendali. Kyujong menekan klakson mobilnua dengan panik, namun cara itu tak berhasil membuat mobil atau truk yang mengarah pada mobilnya berbelok arah.
Kyujong semakin merasa panik dan berusaha membuka pintu mobil untuk menghindar. Namun karena panik ia merasa kesulitan untuk membuka pintu, reflek tangan kanannya memencet klakson kembali.
"Andwaaaaeeeee..!!!" Teriaknya saat cahaya itu semakin mendekat
.
.
"Kyuhyun.ah.... kau tidur?" Juhyun bertanya saat tak ada suara
"Sayang... Hari ini aku bahagia sekali..." Kyuhyun berbisik
"Aku juga sangat bahagia..." Juhyun berusaha keras menahan getar dalam suaranya
"Terimakasih.... Jangan terlalu lama bersedih..." Juhyun hanya bisa bergumam dan mengangguk, dan diam-diam menekan nomor darurat ambulance. Ia merasa kondisi Kyuhyun menurun sekarang
"Ajumma..."
"Ne..." Gagal! Juhyun gagal menyembunyikan getar pada suaranya, ia juga tak mampu lagi menahan laju airmatanya.
Tak ada suara lagi dari Kyuhyun. Itu membuat jantung Juhyun berdegub semakim kencang. Perlahan ia menunduk untuk melihat wajah Kyuhyun. Dan seketika airmatanya mengalir dengan deras, isakan keluar dari mulutnya dengan kencang. Ia jatuhkan ponselnya begitu saja dan memeluk Kyuhyun. Dan mengis dengan kencang
"Kyuhyun.ah..." bisiknya dengan pilu
••••••••••••••••••••
~2 tahun kemudian....
"Guru Seo.....!!!"
Juhyun yang tengah berjalan cepat menuju kantor guru menghentikan langkahnya dan menoleh. Dasom, ketua kelas dari kelas lima itu berlari mendekati sang wali kelas yang tersenyum padanya
"Ada apa Dasom.ah..."
"Ini..." Dasom menyerahkan sebuah hadiah dari balik punggungnya kepada Juhyun
"Eoh? Untukku?" Dasom mengangguk
"Terimakasih guru Seo..." Dasom membungkuk 90° sebagai sopan santun, dan Juhyun beranjak setelah mengelus kepala Dasom beberapa kali. Ia langkahkan kakinya dengan cepat, karena ia harus segera pulang.
.
Tangis seorang anak berusia tiga tahun itu pecah di sebuah rumah. Ia sedang merajuk karena sang ibu terlambat pulang. Sudah waktunya ia tidur siang, namun sang ibu tak juga segera datang. Biasanya, ia akan minum susu bersama sang ibu dan tidur bersama. Namun kali ini sang ibu belum datang
"Eomma...."
"Iya.. iya... sebentar lagi eomma datang.... Minum susu dulu ya..."
Seorang pria terlihat tergopoh-gopoh membuat susu untuk anak laki-laki yang sangat tampan itu. Dan dengan sedikit berlari, ia mendekati anak itu untuk menggendongnya
"Minum susu dulu ya...."
"Eomma...."
"Iya.... Sebentar lagi datang sayang...!"
"Eomma..." Pria itu menghela dan bersamaan dengan itu sang ibu masuk
"Ah... Akhirnya kau datang juga Juhyun.ah...!"
"Ouh... Anak eomma...! Kemari sayang...!" Juhyun adalah ibunya, kemudian mengambil alih anak itu dari gendongan sang pria
"Terimakasih.. Hyukjae.ah...!" Setelah mengatakan itu, Juhyun beranjak ke kamar. Dan menidurkan putranya di kasur, menepuk pahanya pelan beberapa kali sembari bersenandung kecil.
'Aku benar-benar tidak akan pernah melupakan keisenganmu hari ini! Kau tahu aku tisak bisa menulis surat, kau malah membuatku panik! Baiklah... Paragraf pertama ini yang bisa aku tulis....
Kemarin kita menikah... Dan aku masih tidak mempercayai hal ini, aku merasa tengah bermimpi. Yobo... Aku akan memanggilmu seperti itu sekarang! Kau tahu betapa bahagianya aku? Aku sangat bahagia... Taka apa.. jangan cemaskan apapun! Kau pasti akan membaca surat ini. Aku yakin... Kau tidak akan pernah tega untuk meninggalkanku sendiri, aku tahu kau sangat mencintaiku....
Yobo.... Setelah ini, hiduplah dengan sehat! Aku akan terus berada di sampingmu. Fighting!'
Juhyun menghentikan gerekan tangannya sejenak untuk menyeka airmata yang tak terasa menetes membasahi pipinya. Kemudian menyium pipi putranya dengan lembut
"Tidurlah yang nyenyak....."
__ADS_1
-END-