
"Impianku hanya satu... Menebar senyuman dan kebahagiaan seperti dulu, dengan begitu mungkin aku bisa pergi dengan tenang......"
~Rainy Heart~
Pemakaman kedua orang tuanya telah selesai dilakukan. Kedua kakak beradik ini telah kembali ke rumah mereka dengan diantar oleh supir. Sang adik yang seperti orang gila sejak mendengar kabar kematian kedua orang tuanya itu, melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki kamar. Sementara sang kakak yang terlihat lebih tegar dari adiknya itu hanya bisa memandang punggung sang adik dengan sendu
"Kyujong, duduklah! Aku buatkan makanan"
"Tidak ajumma.... Terimakasih" Kyujong menganggukkan kepalanya dan beranjak pula dalam kamarnya. Berbeda dengan sang adik yang merasakan kesedihan mendalam, ia justru merasakan sebuah penyesalan dalam dirinya. Sebuah kekecewaan untuk dirinya yang begitu egois. Jadilah hari ini menjadi hari terkelam dalam keluarga itu.
*Hari berlalu, aktifitas kembali seperti semula. Kyujong sudah mulai sibuk dengan jadwal keartisannya. Dan dia harus rela untuk meninggalkan apartemennya untuk tinggal di rumah keluarga menemani sang adik yang hingga kini masih tampak terpuruk. Bahkan ia masih tak juga beranjak dari atas tempat tidurnya. Ia hanya berbaring tak berdaya meratapi kesedihannya. Tak makan juga tak mengganti pakaiannya*.
*Ahra memasuki kamar itu, memandangnya sendu. Ia harus berhasil membujuk remaja yang mungkin akan segera mati ini. Perlahan ia duduk di sampingnya, tak ada reaksi, Kyuhyun masih setia membelakanginya. Dan itu membuat Ahra tak kuasa menahan kesedihan. Dengan pelan ia sentuh lembut bahunya, sambil berharap Kyuhyun akan bereaksi. Namun nihil, tak ada reaksi apapun*
"*Semua orang pasti akan pergi. Ini bukanlah kehidupan abadi... Tolong jangan seperti ini, kami semua mencemaskanmu..." Ujarnya dengan sangat lembut seolah jika ia berkata sedikit keras itu bisa menghancurkan hati Kyuhyun*
"*Aku tahu ini berat, akupun pernah ditinggalkan, sama sepertimu! Mereka kedua orang tuaku, tapi bukan berarti hidupmu berhenti sampai disini. Ketika harus ada yang pergi, maka tugas kita adalah bertahan..... Bertahan.... Kuatlah!" Diluar dugaan tubuh itu bergerak dan bangun keposisi duduk*
"*Aku tidak akan pernah memaafkannya...." Gumam Kyuhyun pelan namun terdengar penuh kemarahan*
\*\*\*\*\*
*Satu minggu kemudian*....
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, dalam ruangan kecil itu masih tampak kesibukan sang pemilik. Ia sedang melembur untuk tulisannya. Ditemani secangkir kopi yang sudah beberapa kali ia buat ulang. Demi menghilangkan rasa kantuknya. Tangammya tampak begitu lincah mengetik, tak ada suara yang menemani, selain suara detik jam dan suara '*tik*' yang berasal dari gerakan lincah tangannya.
Pekerjaan ini sudah Kyuhyun lakukan sejak tiga tahun yang lalu, merasa memiliki bakat, ia salurkan kesedihannya dalam tulisan. Tak disangka buku yang ia terbitkan pertama kali mampu menarik perhatian pembaca. Dan telah di cetak berulang-ulang kali. Enam bulan kemudian, ia hadir dengan buku keduanya. Buku pertama masih begitu diminati, pun dengam buku kedua yang juga memiliki level yang sama. Hingga dalam kurun waktu tiga tahun ini, ia mampu menerbitkan hampir 20 buku yang semuanya menjadi idaman.
Karena rasa terpuruk, ia bangkit menjadi penulis terkenal yang sukses. Namun tak ada seorangpun yang tahu jika ia adalah seorang penulis. Untuk karyanya ia memakai nama samaran. Karena ia tak ingin diusik oleh ketenaran. Ia tak gila ketenaran seperti Kyujong yang bahkan rela mengorbankan keluarga. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Kyuhyun. Yang membuatnya begitu membenci Kyujong sejak kedua orang tuanya meninggal enam tahun yang lalu.
Namun........
Kini ia tak pantas untuk membenci kembali, ia tak pantas untuk terus marah. Ia harus menghapus perasaan itu. Karena tidak akan lama lagi ia akan menjadi buih yang akan segera menghilang. Sisa waktunya tak banyak, ia ingin berubah dan menebar rasa cinta dibandingkan rasa benci. Jeungdo menjadi titik balik kehidupannya enam tahun terakhir ini, dimana rasa cinta tumbuh kembali dan menghapuskan kebencian. Dan Juhyun adalah penghapus segala rasa marah dan kekecewaan yang telah bersarang selama bertahun-tahun dalam hatinya.
Entahlah, Kyuhyun tak tahu tepatnya kapan ia merasakan hal itu. Yang ia ingat, ia merasa tertarik pada Juhyun semenjak ia melihat gadis itu tampak ceria dan bahagia saat mengajar anak muridnya. Dan saat ia memutuskan untuk menulis novel tentangnya. Perasaannya semakin kuat, seiring ia terus menulis, kata per katanya mampu menguatkan perasaan itu. Namun Kyuhyun sadar, ia tak mungkin untuk memilikinya. Ada Kyujong di dalam mata gadis itu, dan hal yang sama ia lihat dalam mata sang kakak. Biarlah, akan ia sampaikan perasaannya dalam novel itu.
Kyuhyun menghentikan kelincahan tangannya secara tiba-tiba. Sejenak ia terdiam dan menunduk, menghembuskan nafasnya perlahan dan memijat kepalanya, mengira hal itu bisa mengurangi rasa nyeri yang tiba-tiba datang. Kyuhyun beru-buru berjalan menuju laci nakas di samping tempat tidurnya, mengambil obatnya disana.
'Ada rindu bila kau jauh, namun kebencian ini membuatku muak..... Pergilah, dan biarkan saja aku tersiksa dengan rasa rinduku daripada harus terus membencimu......'
__ADS_1
Juhyun menghela dan menutup buku karangan Fourteen penulis yang selalu menelurkan karya nomor satu itu. Entah sudah berapa kali ia membaca buku itu, namun ia selalu saja menangis saat membaca buku itu. Kata per kata yang tertuang benar-benar membuatnya terbawa dalam arus cerita sang penulis. Tak mungkin jika ini bukan dari hati, tulisan ini adalah keresahan Fourteen. Dan itu membuatnya penasaran ingin menemuinya. Ia sangat mengaguminya.
Juhyun mengambil ponselnya dan menulis sebuah pesan, meski ia yakin, pesannya tak akan terbaca atau terbalas. Karena ini sudah lewat tengah malam. Ia sedang tak bisa tidur, dan ia tak tahu apa yang membuatnya sulit tidur
'Akui saja ajumma.... Kau tak mungkin membuat hatimu menjadi sakit karena membohongi dirimu sendiri... Aku juga melihat hal yang sama dimata Kyujong...'
Mungkin pernyataan Kyuhyun sore tadi yang membuatnya tak bisa tidur. Kyujong telah kembali tiga minggu yang lalu, di tengah-tengah kesibukannya sebagai selebriti yang kembali dimulai, Kyujong masih tetap menjaga janjinya untuk tetap mengajar di sekolahnya.
"Apakah ini begitu terlihat? Ini aneh, mana mungkin rasa cinta datang secepat ini?"
'tok..tok..tok..'
Juhyun terperanjat kaget saat pintu kamarnya terketuk. Setelah merapikan rambutnya, Juhyun membuka pintu dan melihat Kyujong berdiri disana
"Apa aku membangunkanmu?" Tanya Juhyun
"Tidak... Aku belum tidur" Kyujong tersenyum, Juhyun mengangguk
"Kau tidak bisa tidur?" Tanya Kyujong, Juhyun hanya tersenyum simpul sebagai jawaban
"Mau aku buatkan sesuatu.."
"Tapi...."
"Tak apa, keluarlah!"
.
.
Juhyun duduk tenang menunggu Kyujong yang tengah menyiapkan ramen di dapur. Diam-diam ia mrmperhatikan kesibukan Kyujong dari meja makan. Benarkah terlihat seperti yang Kyuhyun katakan? Benarkah ini perasaan cinta?
"Kenapa tidak bisa tidur?" Pertanyaan itu seketika membuat Juhyun mengalihkan pandangannya
"Aku tidak tahu.... Kau sendiri juga belum tidur" Kyujong tersenyum dan memandang Juhyun yang kini tengah memandangi jari tangannya
'Aku juga' batin Juhyun mengeluh
"Tentang apa?"
"Bukan apa-apa...." Jawab Kyujong sembari berjalan mendekat dengan membawa semangkuk ramen dan menyajikannya di depan Juhyun
"Bukan apa-apa, tapi kau memikirkannya hingga sulit tidur...." Ucapan Juhyun yang memprotesnya itu membuat Kyujong tertawa kecil
"Selama ini, aku merasa tidak memiliki ruang privasi yang layak.... Dan sekarang aku ingin membangunnya .." Juhyun menghela mendengar pernyataan itu
"Makanlah! Mungkin jika perutmu kenyang, kau akan bisa cepat tidur..."
"Ini tidak adil, kau membuatku makan sebelum tidur! Bagaimana denganmu? Ah... iya aku lupa, kau ini kan selebriti, tubuhmu adalah yang terpenting..." Juhyun menggerutu sebelum memakan ramennya, Kyujong hanya tersenyum simpul.
"Apa kau tahu siapa Fourteen?" Tanya Juhyun disela-sela makannya
"Fourteen? Aku baru tahu ada nama seseorang seperti itu?"
"Sudah ku duga....!" Juhyun menghela "Haruskah aku datang ke kantor penerbitnya untuk mengetahui siapa Fourteen?" Keluh Juhyun dengan lucu
"Dia penulis?"
"Iya??? Kau tidak tahu hal itu? Semua orang di Korea mengeluh-eluhkan namanya. ." Juhyun berkata dengan begitu ekspresif
"Benarkah? Apa hebatnya dia?"
"Aish... Dengan berkata seperti itu, kau melukai perasaanku sebagai penggemarnya"
"Ah.... maafkan aku..." Kyujong tersenyum salah tingkah
"Ah sebentar!" Juhyun beranjak ke kamarnya. Dan kembali dengan membawa satu buju favorit karangan Fourteen
"Setelah membaca ini, kau tidak akan pernah meremehkannya..."
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya....
.
.
Seorang wanita cantik tengah duduk tenang memandangi sebuah foto di hadapannya. Bukan pandangan kagum pada seseorang yang berada dalam foto tersebut. Kedua matanya berkilat jahat. Ada dendam di dalam sana. Ruangan gelap dan hanya memperoleh penerangan cahaya matahari dari celah gorden itu tampak misterius. Begitupun dengan wanita pemilik ruangan itu.
"Kau tak mengingatku?" Kyujong hanya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu
Wanita itu tersenyum getir mengingat bagaimana reaksi Kyujong saat ia bertanya seperti itu. Sepertinya Kyujong benar-benar melupakannya
"Satu tahun lalu kita bertemu, bagaimana kau bisa melupakanku setelah mempermalukanku seperti itu Kyujong? Aku bahkan masih mengingatnya dengan jelas...." Gumamnya
"Sejak saat itu, aku lebih menyukaimu! Dan ingin sekali menarikmu dalam genggamanku! Kemudian menghancurkanmu!" Wanita ini menajamkan pandangannya pada foto Kyujong dihadapannya
"Menghancurkanmu.... Atau.... Melenyapkanmu....?" Bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti
.
.
Semilir angin mengantarkan udara segar pedesaan. Kyuhyun keluar dari rumah dan memilih untuk mengerjakan tulisannya di teras. Udara sebaik ini tak seharusnya di lewatkan begitu saja. Tenggat waktunya hanya tinggal seminggu lagi. Dan sebenarnya ia sedikit stres memikirkan hal itu. Karenanya ia butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Kebetulan mrmang kali ini, ia kesulitan untuk menulis.
Tak lama, beberapa waktu yang lalu, ia pernah pergi ke pantai, mungkin dengan duduk memandang pantai ia bisa menjadi lebih baik. Kyuhyun menutup laptopnya dan beranjak pergi tanpa mengunci pintu rumah.
Berjalan santai sembari menikmati hamparan hijau sawah dan beberapa jenis bunga. Dan sesekali menanggapi keramahan masyarakat di desa. Tanpa ia tahu, Kyujong mengikutinya di belakang secara diam-diam. Memang sejak kembali, ia tak menemui Kyuhyun. Ia masih menguatkan hatinya, agar bisa bersikap seolah tak mengetahui apapun. Sejak hari itu ia merasa sangat bersedih, dia juga merasa semakin bersalah. Uang, ketenaran tak mungkin bisa ditukar oleh kebersamaan. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya tanpa berada di dekat mereka karena kesibukan, kali ini ia tak ingin kehilangan Kyuhyun tanpa melakukan sesuatu untuknya.
"Apa yang sedang...." Kyujong terkejut dan reflek menutup mulut Juhyun sembari bersembunyi. Karena Kyuhyun menghentikan langkah dan menoleh ke belakang setelah mendengar suara Juhyun. Sementara wanita itu hanya menatapnya keheranan. Kyujong melepaskannya setelah Kyuhyun kembali berjalan
"Kyujong? Kau sedang mengikuti Kyuhyun?" Kyujong hanya diam
"Kenapa?" Kyujong kembali hanya diam. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya atau tetap menyembunyikan identitas Kyuhyun
"Kyujong. ....." Kyujong memandangnya, dan agak ragu. Tanpa mengatakan apapun, Kyujong beranjak pergi. Mengurungkan niatnya untuk mengikuti Kyuhyun.
Duduk sejenak memandang ombak yang berkejaran sebelum kembali bekerja. Kyuhyun tersenyum kemudian melanjutkan pekerjaannya.
'Dia pasti akan terkejut. Ku harap dia tidak akan mengecamku.....'
.
.
Mereka duduk berdampingan di sebuah gazebo. Memandang hamparan langit biru yang membiaskan warnanya pada air laut. Mereka berada tak jauh dari Kyuhyun. Namun sepertinya pria itu tak menyadari keberadaannya karena terlalu fokus pada laptopnya. Tak ada percakapan sejak pertanyaan terakhir Juhyun tadi. Mereka hanya duduk diam merasakan sejuknya angin pantai
"Maafkan aku...." Juhyun membuka percakapan membuat Kyujong menoleh padanya
"Kenapa... Minta maaf?"
"Pertanyaanku tadi sepertinya telah menyinggungmu, aku tahu, selama ini kau pasti sangat tak nyaman saat semua orang begitu ingin tahu dirimu, dan aku salah satu dari mereka. Bahkan kau memilih tempat ini untuk menyendiri, menghindari kesibukanmu yang menggila. Tapi ternyata kau bertemu denganku, pasti itu tidak nyaman. Entahlah.... Mungkin aku memang terlahir seperti ini, begitu ingin tahu urusan orang lain...." Juhyun tersenyum simpul namun tetap memandang ke depan, Kyujong masih tak mengalihkan pandangannya pada Juhyun
"Kyuhyun adalah adikku...." Ujar Kyujong setelah cukup lama berdiam diri. Dan tentu membuat Juhyun menoleh padanya. Ia terkejut, bukan karena fakta itu. Karena memang ia sudah mengetahuinya, ia terkejut karena Kyujong mengatakan itu kepadanya dengan jujur
"Dia tidak ingin orang asing mengetahui hubungan kami, tapi....." Kyujong masih menggantung ucapannya dan tersenyum kepada Juhyun "Kau bukan lagi orang asing sekarang...."
Pernyataan itu membuat Juhyun semakin terkejut. Apa maksud dari "bukan lagi orang asing sekarang"? Apakah ia sudah menjadi seseoang yang penting bagi Kyujong sekarang? Teman? Sahabat? Atau kekasih? Juhyun menggelengkan kepalanya pelan
"Maukah kau menikah denganku Juhyun.sshi?"
"APA???????"
Juhyun menutup mulutnya dengan tangan saat tak sengaja memekik, dan tanpa mereka tahu, Kyuhyun memperhatikan mereka dari tempatnya. Ia mendengar pekikan Juhyun itu, dan menemui mereka sedang duduk berdua dengan saling memandang. Bibirnya tersenyum getir melihat itu. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering
"Nuna...... Sepertinya aku sudah siap untuk pergi...... Dia sudah menemukan kebahagiaannya...." Ujar Kyuhyun menerima telepon masuk tersebut.
__ADS_1