Ramadhan Merindukan Bulan Suci

Ramadhan Merindukan Bulan Suci
BERTEMU WANITA ITU


__ADS_3

Keesokan harinya...


Diriku terbangun di sebuah kursi besi panjang dengan ramainya orang berpakaian seragam berlalu lalang.


"Aku, di kantor polisi?!" Kejut ku tak percaya jika Aku tertidur di sana.


"Minumlah!" Ujar seorang berseragam itu yang ku kenali.


"Pak Herman,, apa saya tertidur di sini dari semalam??" Tanya ku seraya menerima minuman kopi yang di berikan nya.


"Iya,, kau, sampai membasahi kertas gambaran mu sendiri," ujar Pak Herman dengan mengambil gambar Omar yang telah basah akibat air mata ku.


"Hmm..." Lirih ku lesuh.


Sruup...


"Kau, sampai seperti ini hanya karena orang tidak waras itu?" Tanya Pak Herman yang membuat ku menatap tajam kearahnya.


"Dia adikku!" Tegas ku yang tidak mau ada orang lain menghina Adik ku 'Omar'.


"Tatapan nya... Sangat terasa mencekam!" Batin Pak Herman saat melihat tatapan tajam diriku kearah nya.


Pukk...


"Baiklah,, tidak usah jadi serius begitu!" Ujar Pak Herman dengan menepuk pundak ku agar mencairkan suasana tadi yang terasa mencekam.


"Rencana mu kali ini apa?" Tanya nya lagi.


"Hhm... Bila dia tidak di temukan oleh polisi, maka akulah yang akan terus mencari nya hingga nafas terakhir ku!" Tekad ku yang membuat Pak Herman tersenyum.


"Ternyata begitu!" Gumam Pak Herman yang merasa bangga dengan anak muda di sebelahnya.


"Aku akan pergi,, masih ada urusan yang harus ku selesai kan," ujar ku dengan memasukkan kedua tangan kedalam kantung.


"Kertas?" Batin ku terkejut seraya mengeluarkan sesuatu dari kantung celana ku.


"Pergilah! Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari adik mu!" Ujar Pak Herman seraya menepuk kedua bahu ku lalu pergi meninggalkan ku.


"Mungkin, 'kah? Ini beneran? Ada seseorang yang menunggu ku disana?" Batin ku tak percaya. Namun, langkah ku berlari menuju alamat tersebut.

__ADS_1


"Besar sekali!" Gumam ku terbelakak kaget melihat perusahaan itu sangatlah besar! Baru saja sampai di gerbang, sudah di sambut oleh para satpam.


"Selamat datang tuan,, Mari! Saya antarkan," ujar seorang satpam yang membuat ku menjadi orang linglung dengan mengikuti nya.


"Ma-maaf, Pak. Saya datang kesini hanya karena kertas ini,," ujar ku yang membuat satpam tersebut berhenti lalu menoleh kearah secarik kertas yang Aku tunjukan.


"SAYA AKAN, MENUNGGU ANDA DI PERUSAHAAN ABDIJAYA GROUP".


"Ini terlihat seperti tulisan Nyonya, berarti saya tidak salah!" Batin satpam tersebut.


"Benar! Kau, memanglah orang nya," ujar satpam tersebut yang membuat ku terkejut.


"Karena... Tidak mungkin nyonya kami, susah payah mau menulis sesuatu untuk seorang lelaki yang tidak penting!" Batin satpam tersebut seraya kembali berjalan dengan di ikuti oleh diriku dari arah belakang.


"Wahh..." Kagum ku dengan terpana melihat isi dalam perusahaan tersebut.


"Dia, ingin bertemu Nyonya Kirana," ujar satpam tersebut kepada seorang wanita cantik berhijab di depan meja resepsionis.


"Baiklah, Mari... Tuan, saya antarkan," ujar wanita tersebut, di jawab anggukan oleh ku.


Chett... (Lift terbuka)


"Selamat pagi, Nyonya." Ujar wanita tersebut dengan menunduk kearah seorang wanita berhijab panjang yang sedang fokus pada layar tipis didepannya.


Tekk... Tekk..


"Ada apa, 'ya?" Tanya nya dengan fokus mengetik laptop nya.


"Dia disini, Orang yang Nyonya cari," ujar wanita tersebut yang membuat wanita berhijab panjang itu menoleh ke arahku.


"Dia?" Batin nya tak percaya.


"Hmm... Baiklah, kamu boleh pergi," ujar wanita berhijab panjang itu yang membuat wanita tersebut pergi.


"Siapa namamu?" Tanya nya.


"Ramadhan,," ujar ku sopan dengan terus berdiri di dekat pintu ruangan itu.


"Masuklah! Jangan di depan pintu," ujar nya yang membuat ku terdiam di tempat.

__ADS_1


"Bukan mahram, Nyonya." Ujar ku karena takut timbul fitnah.


Tanpa Aku sadari, ternyata wanita berhijab panjang itu menarik tipis kedua sudut bibirnya.


"Baiklah, perkenalkan! Nama saya Kirana!" Ujar nya dengan mengulurkan tangan nya.


"Maaf Nona, kita bukan mahram," ujar ku dengan mengatupkan kedua tangan ku.


"Aakhh... Iya, maaf!" Ujar nya malu seraya kembali menarik tangan nya.


"Aku bukannya tidak tau aturan dalam Islam. Namun, Aku hanya menguji dirinya," Batin Kirana.


"Maaf, mengapa nona mencari saya?" Tanya ku.


"Saya membutuhkan asisten, maukah kamu menjadi asisten ku?" Tanya Kirana to the poin yang membuat ku terbelakak kaget.


"Tetapi, jika Aku menjadi asisten nya. Maka, pastinya kami akan selalu berduaan,," Batin ku bimbang.


"Saya tidak berkenan, Nona," Ujar ku tidak enak hati.


"Mengapa? Gaji nya besar, 'loh?" Tanya nya keheranan.


Aku terdiam, karena tidak bisa menjawab.


"Baiklah, kalau begitu. Apa kamu mau bekerja disini selain menjadi asisten ku?" Tanya nya lagi yang membuat ku refleks menjawab.


"Mau!" Ujar ku ke ceplosan. Tetapi, memang lah diriku sedang membutuhkan pekerjaan.


"Puufftt... Sangat bersemangat, 'yah?" Ujar nya dengan tertawa kecil.


"Hehehe!" Ujar ku cengengesan.


Ia berjalan kearah telfon lalu menelfon seseorang.


"Dan berikan pekerjaan apapun yang cocok untuk nya," ujar nya kepada orang di sebrang telfon.


"Mari, Tuan," ujar seorang wanita berhijab pendek yang datang secara tiba-tiba, setelah Kirana mematikan telfon.


Aku menoleh seraya mengangguk lalu mengikuti nya.

__ADS_1


"Maaf tuan, sepertinya hanya ada lowongan kerja menjadi OB... Apakah Tuan berminat?" Tanya wanita berhijab pendek itu setelah mengecek beberapa pekerjaan kosong.


__ADS_2