Ramadhan Merindukan Bulan Suci

Ramadhan Merindukan Bulan Suci
SEBUAH TAKDIR... (POV Ramadhan)


__ADS_3

Terdengar oleh kedua telinga ku, sebuah alunan indah nan merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di bacakan oleh orang-orang dengan terduduk mengelilingi seorang manusia_terbaring ditengah-tengah mereka.


Ku mulai mendekati seorang manusia_terbaring tersebut yang sangat ku kenali sejak kecil.


"Ayah!!" Batin ku menjerit histeris, ku tahan tangis ku, sesak! Dada ku sangat sesak!


"Hikss... Hikss... Kakak,," Ku menoleh kearah sumber suara lembut sang adik kecil ku yang sedang menangis.


Aku terdiam, menatap sayu kearahnya.


"Apa semua ini?? Aku tidak akan menerima nya!" Batin ku mengelak dengan takdir yang telah di tetap Allah untuk ku.


Aku, perlahan menghampiri adikku dan membawa nya masuk ke dalam dapur rumah bambu ku.


"Mengapa? Mengapa harus dia?!" Batin ku menyiksa diriku sendiri, ku mulai mengambil pisau lalu menyayat pergelangan tangan ku.


Srekk..


Keluarlah darah segar dari pergelangan tangan ku, itu memang lah membuat tangan ku terasa sakit nan perih. Namun, itu semua tidak bisa sebanding dengan hati ku yang amat sakit.


"Mengapa? Mengapa?" Ujar ku yang terus menyalah kan takdir.


"Kakak..." Lirih Jalila sedih saat melihat diri ku seperti orang tidak waras yang terus saja menyalahkan takdir.

__ADS_1


"Mengapa?! Mengapa? Ayah meninggalkan kita, Dek?!!" Bentak ku yang membuat adik kecil ku itu ketakutan melihat diri ku seperti monster dengan mata melotot.


"Kita juga harus ikut pergi! Menyusul ayah!" Tukas diri ku dengan mencengkram kuat pergelangan tangan adik ku. Lalu, ku menarik diri nya, Menuju ruang tamu yang dimana masih ada orang-orang_melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Berhenti semua nya!" Teriak ku yang membuat semua orang terdiam serya berhenti melantunkan ayat suci nan merdu itu.


Ku kembali menyayat pergelangan ku, yang membuat para warga ketakutan.


Srekk...


"Apa yang dia lakukan? Didepan anak kecil?!" Kejut para warga yang melihat secara langsung, Mereka melihat ada Jalila di samping ku dengan ketakutan.


Tubuh mungil Jalila bergetar hebat! Tatkala menyaksikan kakak yang terus menyayat pergelangan tangan sendiri ber ulang kali.


"Kenapa, Dek? Kita akan pergi menyusul ayah,, Ayuk?!" Ujar ku seraya menarik paksa tangan kecil adik ku melewati seluruh warga yang terlihat shock.


"Apa yang dia lakukan?! Dia benar-benar sudah G*la!" Umpat para warga tanpa mempedulikan Jalila nya yang terus memberontak dan merintih kesakitan.


"Astagfirullahal'azim! Istighfar Ramadhan! Istighfar!" Kejut seorang Ustadz yang baru saja ingin memasuki rumah bambu itu terkejut tatkala melihat Jalila kesakitan saat di tarik olehku.


Aku merasa jika tubuh tak terkendalikan lagi, dengan kasar aku terus menarik tangan adik kecil ku menuju jembatan dekat rumahku.


"Ramadhan, sadar!!" Teriak Pak Ustadz Zaki yang mengikuti ku.

__ADS_1


"Dek! Lompat!" Tegas ku yang membuat adik kecil ku itu terus menangis histeris ketakutan.


"Hikss... Huahh! Kakak seperti monster!" Jerit Jalila yang seketika membuat diriku tersadar.


Bruukk... Tubuh ku terjatuh menyentuh tanah dengan tengkurep, ku melihat adik ku 'Jalila' yang terus menangis didepan ku.


"Kakak,, Hikss... Hikss..." Ku mendengar samar-samar tangisan adik kecil ku dengan pandangan ku sedikit demi sedikit pudar.


...Aku lelah......


...Aku ingin menghilang......


...Dari bumi ini......


...Karena takdir nya......


...Yang terus menyiksa batin ku......


..."Ramadhan!" Ku juga mendengar samar-samar suara Ustadz Zaki yang terus memanggil nama ku....


...'Ramadhan' "Aku sangat suka nama ku..." Batin ku yang pada akhirnya diriku pingsan tidak sadarkan diri....


Bruuk*!

__ADS_1


__ADS_2