
Matahari...
telah tergantikan oleh sang rembulan....
yang selalu menerangi disetiap malam... dengan ditemani bintang-bintang yang berkelap-kelip diangkasa....
Sangat indah... "Indah sekali,," Gumam Ramadhan yang sedang berjalan pulang kembali ke kontrakan dengan orang itu.
"Bro! Kau sahabat terbaikku!" Ujar orang itu dengan merangkul pundak Ramadhan seraya tersenyum.
Ramadhan menoleh kearahnya, rasanya ia telah terbiasa dengan bau badan orang itu yang sentiasa menemani nya sehari setelah berada dikota.
"Kita sahabat!" Teriak Ramadhan walau hanya beberapa jam yang lalu pertemuan mereka, tidak membuat mereka merasa asing melainkan merasakan rasanya menjadi saudara...
Ia juga merangkul pundak orang itu lalu berjalan dengan satu kaki yang terus ditendang kedepan dengan kompak bersama orang itu.
Keesokan harinya...
Tidur berdua didalam kontrakan yang lumayan sempit, membuat Ramadhan merasakan rasa sakit pada seluruh tubuhnya.
"Rasanya,, tubuh ku remuk semua," batinnya setelah terbangun.
"Bro! Ini hari apa?" Tanya orang itu dengan menggunakan kuku panjang nya untuk membersihkan sela-sela giginya.
"Hari Senin,," jawab Ramadhan.
"Hahah,, senin adalah hari terakhirku berada di negaraku!" Teriak orang itu dengan tubuhnya yang bergerak seperti monyet.
__ADS_1
"Di negaramu? Kamu tinggal di negara mana??" Tanya Ramadhan keheranan.
"Negaraku,,??" Pikir orang itu dengan berusaha mengingat sesuatu.
"Entahlah! Hahah!" Ujar orang itu yang tidak ingin mengambil pusing dan kembali mempergerakkan tubuhnya seperti monyet.
"Sepertinya,, dia juga lupa ingatan," Batin Ramadhan seraya membawa orang itu ketempat kamar mandi yang hanya ada satu untuk semua penghuni kontrakan.
"Harus ngantri lagi,," Gumam Ramadhan dengan lesuh saat melihat antrian yang sangat panjang itu.
"Lebih baik, kesana sajalah!" Gumamnya kembali seraya membawa orang itu ketempat warung makan.
"Buk,, apakah boleh kami tumpang mandi disini??" Tanya Ramadhan kepada ibu penjual warung makan yang kemarin.
"Boleh,, setelah itu kamu langsung kerja saja!" Ujar ibu tersebut yang sedang menyiapkan bahan-bahan masakan.
"Hahah! Dingin, dingin," tawa orang itu karena ini masih jam 06:00 WIB.
"Aku, jadi teringat Jalila," batin Ramadhan senang melihat tawa orang itu.
"Ternyata benar,, dia orang luar negeri!" Jerit Ramadhan dalam hati dengan terbelakak kaget saat melihat wajah orang itu yang sangat putih nan bersih setelah dimandikan.
"Matanya pun sipit,, yang biasanya orang bermata sipit itu bukankah China? Atau Korea??" Gumam Ramadhan setelah membersihkan serta merapihkan rambut gimbal orang itu yang terus saja menutupi kedua bola mata sipit itu.
"Nah! Gini kan bagus! Bila dilihat oleh para pengunjung,," ujar ibu penjual itu saat melihat mereka baru saja keluar dengan penampilan berbeda.
Orang itu berpenampilan layaknya seorang anak sekolah menengah atas, sedangkan Ramadhan berpakaian layaknya seorang pekerja kantoran.
__ADS_1
"Hanya baju itu yang bisa ku berikan untuk kalian,," ujar ibu penjual itu dengan tersenyum.
"Ini,, baju putra, Ibu?" Tanya Ramadhan saat merasakan pakaian itu pas dengan ukurannya.
"Iya,, tetapi, dia sudah meninggal," Lirih Ibu penjual tersebut seraya mengalihkan pembicaraan dengan melayani pelanggan.
"Meninggal? Hem... Begitu rupanya,," Batin Ramadhan seraya memperhatikan orang itu yang terlihat senang dengan baju baru nya.
"Nama? Bukankah dia belum mempunyai nama,," Gumam Ramadhan seraya memperhatikan tulisan di saku depan baju orang itu.
"Omar? Namanya hampir mirip dengan sahabat nabi Muhammad SAW," Batin nya kembali.
"Hahah! Baju baru! Baju,, baru!" Girang orang itu dengan menjingkrak-jingkrak.
"Mulai sekarang! Namamu,, Omar!" Ujar Ramadhan seraya merangkul pundak orang itu yang ia beri nama 'Omar'
"Omar?? Hahah! Aku sangat suka!" Teriak Omar yang membuat Ibu penjual itu tersenyum mendengarnya.
"Kamu menyukai nya?" Tanya Ramadhan senang melihat tampang Omar yang selalu ceria.
"E'emm... "
"Sudah! Ram,, bantuin, Ibu!" Ujar Ibu penjual itu yang kewalahan karena dengan adanya Omar berpenampilan sangat tampan seperti itu, membuat para siswi yang lewat langsung mampir untuk memesan makanan dan berkesempatan melihat ketampanan Omar tiada duanya.
"Dengan penampilan Omar sekarang, jadi semakin ramai warung makan ini," Gumam Ramadhan senang seraya membawa pesanan ke satu persatu pelanggan di sana.
Beberapa bulan telah berlalu, ternyata! Tanpa di sangka, warung Ibu itu telah bangkrut akibat suami nya yang sedang sekarat di rumah sakit membutuhkan biaya yang sangat mahal.
__ADS_1