
"Aku hanya ingin balik, jika sudah sukses nanti nya!" Jawab Ramadhan dengan semangat 45 yang membara di dalam hatinya.
"Begitu, yah!" Ujar Kirana, dengan tersenyum menampakkan gigi geraham nya yang putih nan indah.
"Bercahaya, sekali!" Jerit Ramadhan dalam hati seraya pergi meninggalkan Kirana.
"Aku besok, mungkin ... Tidak akan bekerja sementara waktu, aku pun, tidak keberatan jika kau ingin memecat ku ..." Ucap Ramadhan tanpa menoleh dan kembali berjalan.
"Tidak! Aku tidak akan memecat mu," Gumam Kirana seraya memperhatikan punggung tegap Ramadhan yang kini telah menghilang dari pandangan nya.
Terlihat, Matahari tenggelam di ufuk timur dengan memamerkan cahaya oranye yang indah nan menyejukkan kepada seluruh makhluk di bumi.
"Sangat indah! Matahari itu, bagaikan sedang menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan dengan tersenyum," Gumam Ramadhan yang tengah berdiri menatap laut di pinggir jembatan.
"Matahari itu, terlihat seperti menyembunyikan rasa sakit nya, 'kan?" Tanya seseorang di sebelah ku.
"Kakek?!" Kejut ku setelah menoleh kearah nya.
Kakek tersebut tersenyum kearah Ramadhan.
"Kamu lelaki muda yang di bus itu, 'kan?" Tanya sang Kakek.
"Iya, kek. Mengapa Kakek tau aku ada disini?" Tanya Ramadhan.
"Tidak... Saat saya sedang berjalan-jalan bersama cucuku, aku melihat dirimu disini," jelas sang Kakek.
__ADS_1
"Cucu, Kakek dimana?" Tanya Ramadhan dengan tersenyum.
"Lihatlah!" Ujar sang Kakek dengan memperlihatkan foto cucu nya di dalam bingkai foto yang ia pegang.
"Foto?" Tanya Ramadhan tidak mengerti.
"Tetapi, ini bukan hanya foto... Dia memang benar-benar ada disini, dia ada di sebelah ku," jawab sang Kakek dengan memperlihatkan sebelah nya yang kosong tidak ada siapa-siapa.
"Eem.. begitu rupanya," Batin Ramadhan dengan melambaikan tangan nya kearah sebelah Kakek tersebut.
"Nama cucu Kakek siapa?" Tanya Ramadhan dengan tersenyum.
"Rani... Dia sangat cantik! Mirip seperti nenek nya, istri ku," ujar Kakek tersebut.
"Hay! Cantik," Ucap Ramadhan dengan menoleh kearah sebelah Kakek tersebut yang masih kosong.
"Iya, Alhamdulillah, kek. Udah," Ujar Ramadhan ramah.
"Nak, ini jimat keberuntungan untuk mu..." Ujar Kakek tersebut seraya memberikan sebuah gelang dengan batu berwarna biru terpasang disana.
"Aahh... Tidak usah, kek." Tolak lembut Ramadhan.
"Lagi pula, aku pun tidak percaya dengan jimat-jimat seperti itu. Karena termaksud musyrik!" Batin Ramadhan. Namun, dengan secepat kilat kakek tersebut hilang dan gelang dengan batu biru itu telah terpasang di pergelangan tangan nya.
"Hah?! Kek! Kakek, kemana?" Kejut Ramadhan melihat kakek itu telah hilang dari pandangan nya. Namun, seketika ia merasakan ada sesuatu yang terpasang di pergelangan tangan nya.
__ADS_1
"Apa ini?!!" Gumam Ramadhan seraya menarik secara paksa gelang tersebut agar lepas dari pergelangan tangan nya.
"Akhh... Sakit! Kok, tidak bisa di lepas?!" Gumam Ramadhan seraya terus berusaha tanpa mempedulikan kulit pergelangan tangan nya telah memerah.
"Ehh... Udah malam, aku harus pulang!" Gumam nya kembali saat melihat matahari telah hilang dengan rembulan yang telah meninggi untuk menerangi bumi. Lalu, dengan cepat ia langsung pulang ke kontrakan.
Beberapa hari telah berlalu, hari ini adalah hari yang berkah karena... Di sepertiga malam nanti adalah hari pertama sahur untuk puasa bulan Ramadhan yang telah datang.
SAHURR!!
SAHUUR!
Terdengar suara gendang serta suara anak-anak muda yang memanggil para umat muslim untuk 'Sahur' yang bersahut-sahutan di luar kontrakan yang kini masih Ramadhan tinggali.
Ramadhan terbangun dengan tubuh telentang, ia menatap sayu kearah langit-langit tempat tidur nya.
Aku sendirian...
Saat merasakan Ramadhan...
Di tahun ini,
Yang terasa menyakitkan!
Tidak ada kawan,
__ADS_1
Tidak ada keluarga,
Semua terasa sunyi nan sepi..