Ramadhan Merindukan Bulan Suci

Ramadhan Merindukan Bulan Suci
BULAN SUCI YANG DI RINDUKAN (POV Ramadhan)


__ADS_3

Aku terbangun... di sebuah gubuk tua yang di dalam nya ada satu keluarga sedang berkumpul, aku pun melihat matahari telah terbenam di ufuk timur memancarkan sinar oranye nan indah yang dapat membuat para mahkluk sentiasa terpana melihat keindahan ciptaan Allah yang Maha Esa.


Bugg... Bugg...


Ku mendengar suara bedug masjid yang di tabuh, seperti di zaman dulu untuk menandakan waktu sholat hingga kini masih di gunakan.


Aku mulai berjalan perlahan masuk kedalam gubuk tua tersebut dengan teringat masa kecil ku.


"Alhamdulillah,," ujar seorang wanita muda yang terlihat cantik alami tanpa di olesi makeup.


"Waktunya berbuka!" Sorak seorang anak lelaki berumur 10 tahun yang ku rasa itu Adalah diriku semasa kecil.


"Pelan-pelan, Mad,," ujar seorang lelaki muda berjenggot yang sangat ku kenali.


"Ayah..." Lirih ku terharu seraya ingin sekali memeluk tubuh ayah ku pada saat itu yang masih sehat nan bugar.


"K-kenapa tidak bisa?" Batin ku bertanya saat diriku seperti bayangan yang dapat menembus tubuh ayah ku.


"Ibu..." Lirih ku kembali seraya memeluk nya. Namun, tubuhku kembali seperti bayangan yang dapat menembus tubuh Ibu ku.


"K-kenapa ini semua?! Aku sangat merindukan kalian!" Teriak ku yang frustasi karena tidak dapat memegang benda apa pun di sana. Namun, kaki ku dapat menginjak tanah.


"Walau pun aku tidak bisa memeluk kalian lagi,, namun, aku akan terus menatap wajah kalian, orang-orang yang sangat ku Cintai," Gumam ku yang tersadar jika tidak ada guna nya aku memberontak untuk terus bisa memeluk mereka. Namun, aku tetap bisa menatap serta menikmati masa-masa Ramadhan dulu disaat ku masih kecil.


"Aku sayang Ibu, Ayah!" Girang anak lelaki itu dengan memeluk kedua orang tua nya setelah melaksanakan sholat magrib berjama'ah.


"Kita akan terus bersama selamanya!" Sorak nya kembali seraya tersenyum bahagia dan di iringi dengan senyuman kedua orang tua nya.


"Senyum itu,, Aku sangat merindukan senyuman hangat kalian,," lirih ku sangat terharu tanpa terasa bulir-bulir air bening jatuh satu persatu membasahi pipi hingga dagu ku.


"Aku akan selalu mengingat jasa kalian,, Ayah! Ibu!" Ujar ku tersenyum.


Whuss...

__ADS_1


Tiba-tiba ku merasakan ada angin berhembus kencang_membawa tubuhku menjauh dari rumah gubuk tua.


"Mungkin... Ini terakhir kali nya diriku dapat kembali melihat senyuman kalian secara nyata," lirih ku kembali dengan melihat keluarga bahagia itu semakin jauh dari penglihatan ku.


"Kak!" Aku kembali mendengar suara lembut, satu-satu nya keluarga ku yang masih ada menemani diriku di dunia yang kejam ini.


"Adikku!" Batin ku menjerit seraya terduduk dari baring ku.


"Aku tidak ingin kembali kehilangan orang yang ku cintai..."


"Adik ku!!" Ujar ku seraya berjalan secara tertatih-tatih menuju adik ku yang berdiri di sebelah ku.


"Maafkan Abang, Dek!" Ujar ku kembali seraya langsung memeluk tubuh mungil itu yang masih bergetar hebat.


"A-aku... Sayang kakak!" Ujar Jalila dengan terpatah-patah, ia mulai membalas pelukan sang kakak.


"Alhamdulillah..." Ujar Ustadz Zaki yang ada di sana.


"Ayah! Di mana Ayah kami, Ustadz??" Tanya diriku saat teringat pahlawan hidup ku.


"Ayah!" Teriak ku, seraya menggendong adik ku lalu berlari kencang menuju TPU.


"Ayah... Ayah kenapa tinggalin kita, Kak?" Tanya Jalila di saat diriku masih berlari dengan tergesa-gesa.


Saat mendengar nya aku terdiam terpaku, seraya menoleh kearah adikku yang terlihat lesuh.


"Ayah tidak apa-apa,, Ayah hanya akan beristirahat! Jadi, kita harus membantu nya agar bisa beristirahat dengan baik," Ujar ku lembut yang di anggukan oleh adikku.


Setelah sampai di sana, aku melihat semua warga satu persatu meninggalkan tempat peristirahatan seseorang.


Aku berjalan perlahan menghampiri gundukan tanah yang masih basah tersebut dengan sebuah papan nama yang tertancap di ujung nya.


"Ayah... Yaa! Itu adalah nama pahlawan ku yang tertulis disana!" Batin ku dengan menahan sesak di dada, aku mulai menuruni adikku lalu berjongkok didepan makam nya.

__ADS_1


Aku secara perlahan melantunkan Adzan yang pernah dulu ayah ajar kan kepada ku.


Suara ku serak! dengan air mata yang terus ku usap agar tidak mengenai tanah basah itu.


"Kini... Diriku lah yang meng Adzan kan mu, Ayah..." Batin ku dengan terus melantunkan Adzan dengan suara serak.


Flash black On.


Pada Bulan Ramadhan


tahun 1998


"Owee... Owee..."


Terdapat seorang bayi laki-laki yang baru saja lahir dari rahim seorang wanita kuat yang rela mempertaruhkan nyawa nya untuk melahirkan sang buah hati ke dunia ini.


"Alhamdulillah..." Ujar kedua orang tua tersebut yang berbahagia melihat buah hati mereka lahir dengan sehat.


Cupp...


"Terimakasih, Sayang..." Lirih sang Suami kepada istri nya.


Setelah bayi tersebut di bersihkan, suster memberikan bayi itu untuk di Adzan kan oleh ayah nya.


"Owee... Oowee..."


Dengan suara yang merdu sang


Ayah meng adzan kan sang putra pertama nya, tepat di telinga sang bayi lelaki tersebut.


Bayi itu seketika terdiam bagaikan menghayati di setiap alunan merdu Adzan yang ia dengar pertama kali nya.


"Dia lahir di bulan Ramadhan,, kita beri dia Nama RAMADHAN..." Ujar sang ayah setelah selesai Adzan.

__ADS_1


"Ramadhan Al-Ghazali ," Ujar sang Ibu yang memberikan nama panjang untuk anak nya.


Flash black Of.


__ADS_2