Ramadhan Merindukan Bulan Suci

Ramadhan Merindukan Bulan Suci
MAMPU KAH, AKU?


__ADS_3

"Kamu kuat! Kamu kuat, Ramadhan..." Ujar seseorang di belakang diriku yang sedang memejamkan mata memeluk nisan bertuliskan nama pahlawan ku.


Aku mulai membuka secara perlahan kedua bola mata ku dengan air mata yang hampir saja mengenai tanah itu. Namun, dengan gesit ku kembali mengusap nya lalu menoleh kearah sumber suara tersebut.


"Pak Ustadz!" Ujar ku.


Ustadz Zaki tersenyum seraya mengusap lembut rambut depan ku yang berantakan.


"Kamu kuat, Ramadhan! Allah mengambil orang yang sangat kamu cintai, karena Allah tau kamu kuat!" Ujar Ustadz Zaki.


"Allah tidak mungkin memberikan beban di luar batas kemampuan Hamba nya, kecuali karena Allah tau jika kita sanggup menghadapi nya," ujar nya kembali.


"Tetapi mengapa? Mengapa harus orang-orang yang sangat ku cintai, Ustadz??" Tanya ku.


"Itu, karena kamu sanggup menghadapi nya Ramadhan," ujar Ustadz Zaki yang membuat ku terdiam terpaku.


"Aku sanggup? Menghadapi nya?" Batin ku bertanya, tak percaya jika Allah sangat mempercayai diri ku untuk mendapatkan ujian hidup ini.


"Ustadz, mengapa ayahku di masukkan kedalam tanah?" Tanya polos Jalila.

__ADS_1


"Karena itu,, sudah takdir. Jika, kita akan kembali ke tanah, Nak!" Jawab Ustadz Zaki.


"Hmm... Kalau begitu, apakah nanti aku juga akan di masukkan kedalam tanah?" Tanya Jalila polos.


"Iya, pada waktunya kita semua akan kembali ke tanah," ujar Ustadz Zaki yang sangat menyukai Jalila karena pertanyaan nya.


"Baiklah Ustadz, Terimakasih karena telah menyadari saya. Saya akan kembali ke kota A untuk bisa mencapai cita-cita kedua orang tua kami yang ingin membangun panti asuhan di desa ini,," ujar ku tanpa terasa diriku pun menoleh kearah adik kecil ku.


"Tetapi, Adikku?" Gumam ku bimbang yang tidak tega meninggalkan nya seorang diri.


"Biar Saya beserta Istri saya membantu mengurusi nya," ujar Utadz Zaki.


Aku mulai kembali berangkat menuju kota A dengan membawa bekal serta Uang 300rb yang di berikan ustadz Zaki untukku.


"Bismillah! Dengan menyebut nama mu, Ya Alllah. Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang..." Ujar ku seraya mengusap wajahku. dengan tekad yang tinggi, ku kembali berjalan menuju halte bus.


Setelah sampai, Aku melihat bus tujuan ku datang kemudian ku langsung memasuki nya.


"Mas!"

__ADS_1


Tanpa aku sadari, ternyata ada seorang wanita berhijab panjang sedang memanggil diriku yang telah terduduk di dalam bus.


"Mas! Tunggu!" Teriak wanita itu yang tetap tidak Aku sadari saat bus telah berjalan.


Aku menoleh kearah jendela, ternyata ada sebuah kertas yang tertancap di jendela bus itu.


"Kertas siapa itu?" Gumam ku keheranan.


*SAYA AKAN, MENUNGGU ANDA DI PERUSAHAAN ABDIJAYA GROUP* tulisan yang aku lihat di balik jendela bus.


"Apakah itu beneran? Atau hanya penipuan??" Gumam diriku tak percaya. Namun, dengan perlahan ku geser jendela bus lalu mengambil kertas tersebut.


"ABDIJAYA? Perusahaan apa itu?" Gumam ku kembali.


"Perusahaan ternama yang berada di kota A," ujar seseorang di sebelah ku.


Aku mulai menoleh kearah sumber suara itu, ternyata ada seorang kakek tua yang duduk di sebelah kursi ku.


"Perusahaan ternama?! Maaf, apakah Kakek tau alamat nya?" Tanya ku kagum sekaligus bingung.

__ADS_1


"Iya, Saya tau. Ini! Pakailah ini untuk mencari nya,," ujar Kakek tersebut dengan memberikan secarik kertas kepada ku.


__ADS_2