Ramadhan Merindukan Bulan Suci

Ramadhan Merindukan Bulan Suci
SANG PAHLAWAN TELAH....


__ADS_3

KANTOR POLISI.


"Kami bukan,, orang tidak waras!" Ngelak Ramadhan seraya memeluk tubuh Omar yang bergetar hebat ketakutan akibat tatapan tajam para Polisi kepada mereka berdua.


"Tetapi,, mengapa dia menggigit orang??" Tanya seorang Polisi.


"I-itu,," ujar Ramadhan tidak bisa menjawab.


"Karena aku membela kakak ku! Apa salah?!" Ujar Omar yang sudah mulai mengerti.


"Baiklah,, kalau begitu, kami lepaskan kalian,," ujar Pak Polisi dengan mempersilahkan mereka untuk keluar.


"Tidak! Saya tidak setuju! Orang ini harus di penjara karena mencoba melukai tangan saya!" Tegas Pak Darmi(orang berjas tersebut)


Semua polisi terdiam karena di depan mereka adalah orang sangat terkaya segajat raya.


"Mengapa kalian diam saja?! Cepat,, penjarakan mereka berdua!" Perintah Pak Darmi yang membuat seorang Polisi langsung menarik paksa mereka berdua untuk masuk ke gerbang besi.


"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Kepala Polisi yang baru saja masuk dan sudah tau permasalahan nya.


Seorang Polisi itu terdiam, saat ia melihat Kepala Polisi yang sudah berumur itu.


"Mereka tidak bersalah,," ujar Kepala polisi tersebut yang bernama Tedi seraya menghampiri mereka.


"Paman??" Kejut Ramadhan yang sangat mengenal kepala Polisi tersebut.


"Ramadhan,, ternyata kamu merantau ke kota A ini?" Tanya Paman Tedi.


Ramadhan mengangguk.

__ADS_1


"Dia anak saya!" Ngaku Paman Tedi yang membuat semua polisi terdiam menatap nya.


"Mari kita bicarakan sebentar, Pak!" Ujar seorang Polisi yang mengajak Pak Darmi untuk menjauh sebentar dari orang-orang.


"Ramadhan,, pulang lah... Ayahmu,," lirih Paman Tedi.


"Ayah? Kenapa dengan ayah,, Paman??" Tanya Ramadhan khawatir.


"Pulang lah,, kamu akan tau semuanya... " Ujar Paman Tedi.


"Ini! gunakan uang ini untuk kembali ke kampung,," Ulang Paman Tedi dengan memberikan uang yang cukup untuk ia kembali ke kampung.


"Baiklah,, Paman! Aku akan pulang sekarang juga!" Gumam Ramadhan setelah menerima nya, ia berlari keluar kantor polisi tanpa Omar.


"Kakak!" Teriak Omar yang mengejar Ramadhan.


"Kakak? Sejak kapan Ramadhan mempunyai adik selain Jalila??" Batin Paman Tedi.


"Ck! Kalian yang akan menanggung nya!" Ancam Pak Darmi dengan berjalan tegap keluar kantor polisi.


"Lagak nya! Mentang-mentang pejabat,, bukan berarti se enak nya saja langsung Memenjarakan orang lain!" Gumam Paman Tedi.


"Ayah!" Batin Ramadhan yang hanya mengingat keadaan Ayahnya saja, tanpa menghiraukan Omar yang terus saja mengejar nya dari arah belakang.


Angkot berhenti, tepat setelah Ramadhan mengayunkan tangannya dan ia langsung masuk kedalam.


"Jalan, Pak!" Ujar Ramadhan dengan menatap kedepan.


Bruuk...

__ADS_1


"Kak!" Jerit Omar saat melihat angkot itu kembali berjalan, dengan tubuhnya yang terjatuh akibat mengejar angkot itu pula.


"Ada apa dengan orang itu?" Ujar para Warga yang melihatnya terduduk di aspal.


"Dia sangat tampan!" Gumam para Siswi yang sedang lewat.


"Kakak,, pergi??" Gumam Omar yang mulai sedikit mengerti, namun tetap saja! semua orang yang menatap kearah nya membuat rasa takut kembali menyelimuti tubuhnya.


"Tatapan mereka,," Batin nya ketakutan seraya berdiri lalu berjalan entah kemana.


*Sesampai nya,


Di Desa Sukasari.


Ku melihat...


Ada bendera kuning,


Berkibar di setiap sudut,


Rumah bambu ku...


Ayah...


Apa itu engkau?


Kadang ku tak percaya,


Jika kau secepat ini,

__ADS_1


Meninggalakan ku Selama nya...


"Apa yang terjadi?" Batin ku sesak dengan nafas terengah-engah ku mulai berjalan pelan memasuki rumah bambu ku*.


__ADS_2