
hari sudah sore, Boni berbaring di kamar kos, merasa kesepian akan dirinya yang sendiri.
" mana nya si roni ini, jam segini belum juga pulang. "
kebiasaan menghabiskan waktu bersama roni benar - benar membuatnya merasa kesepian. bingung mau melakukan apa. akhirnya dia keluar kamar, duduk sambil memandangi taman kos. kosnya dan rumah ibu kos berseberangan hanya di antarai oleh taman itu. tapi tamannya sedikit berantakan. wajar saja. ibu kos hanya tinggal sendiri. di ujung penglihatan dia melihat ibu kos yang sedang menyirami beberapa bunga.
" bah, daripada sepi gini, mending ku bantuin ibu kos, mana tau dapat nasi lagi kan lumayan hahaha " gumamnya berbicara dengan diri sendiri.
" ada yang bisa di bantu Bu?"
"aaaaa " ibu kos berteriak, kaget akan kehadiran Boni yang tiba - tiba.
" maaf Bu hehe" sambil menggaruk - garuk kepalanya.
" kamu bon, buat ibu kaget aja. hmmm apa ya, yasudah kamu ambil air aja disitu, teruss.. nyiram bunga - bunga ini juga."
boni pun melaksanakan apa yang di suruh ibu kos. sambil menyiram boni kagum akan detailnya ibu kos menjaga tanamannya, sampai - sampai daunnya saja benar - benar di lap hingga mengkilat.
" kita itu harus menjaga tanaman dengan benar - benar bon, mereka juga kan makhluk hidup. setiap makhluk hidup perlu kasih sayang. ingat itu bon."
" eh i..iya.. bu" jawabnya, lagi - lagi sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
" kok tumben kamu sendiri ? roni mana? belum pulang? "
" itu lah bu. bandel kali anak itu. jam segini belum pulang juga dia bu, mau jadi apa la anak itu."
" hahaha " ibu kos benar - benar tertawa melihat tingkahku menanggapi pertanyaan nya.
" ibu marahi la dia nanti ya, biar gak lama - lama lagi dia pulang."
" Lo..kenapa di marahi? kamu gak boleh gitu boni hehe. Kitakan belum tau dia kemana. kita harus denger dulu penjelasannya, gak boleh langsung ambil keputusan sepihak gitu."
" bah, pilih kasih ibu ini ah, coba kalo aku yang pulang lama, pasti ibu marahi."
" hahaha ya kalo gak jelas kemana, ibu marahin la. tapi ibu pasti denger alasan kamu dulu."
" kalian itu lucu bon dan sangat semangat untuk belajar. ibu seneng banget liatnya. ibu beruntung kalian kos disini jadi ibu juga punya temen."
" memangnya kemana keluarga ibu?"
tapi raut wajah ibu kos berubah. dia tampak sangat sedih.
" bah salah ngomong aku ya bu? minta maaf aku ya bu."
__ADS_1
" gak bon, kamu gak salah kok, cuman ya.. ibu teringat aja sama keluarga ibu."
Boni pun diam, bingung bagaimana dia menanggapinya. tapi Boni juga sebenarnya penasaran dengan keluarga ibu kos.
" harusnya anak ibu udah sebesar kalian bon."
" terus mana dia bu? kenapalah di biarinnya ibu sendiri"
" dia gak biarin ibu sendiri bon, dia selalu ada kok di hati ibu, cuman..dia udah gak lagi disini. dunianya sudah berbeda dengan kita."
" bah.. minta maaf aku bu."
" dulu ibu merasa kalau ibu sangat beruntung punya suami yang sangat baik dan anak yang begitu lucu. anak itu selalu datang ber manja dengan ibu, setiap saat. bahkan kalau orang bertanya dia anak siapa, dia pasti langsung bilang kalau dia anak mama hehehe"
boni diam mendengarkan cerita ibu kos dengan seksama.
" dia anak yang sangat berprestasi. suatu hari ketika dia baru saja mendapatkan ranking terbaik di kelasnya ibu ajak suami ibu untuk membawanya liburan ke luar kota, sebagai hadiah untuknya dan suami ibu setuju. kami bertiga pergi ke luar kota dengan mobil kami. Senda gurau bertaburan di mobil itu. kami sangat bahagia. tapi.. itu juga kenangan terakhir ibu bersama mereka. itu terakhir bon.."
ibu kos benar - benar menangis. bonipun tak sanggup menahan air matanya.
" saat itu ibu sedang bercanda dengan suami ibu, anak ibu tertidur di bangku belakang. tiba - tiba ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang, dia mencuri bahu jalan dan akan tabrakan dengan kami, suamiku berusaha menghindar, dia membanting setir kiri. ibu gak ngerti mungkin gak sengaja tangan ibu membuka pintu mobil, karna manuver yang begitu kuat sampai ibu melayang keluar dari mobil. ibu jatuh di jalan. tapi mereka berdua masih di dalam mobil, sampai mobil jatuh ke jurang yang sangat dalam."
__ADS_1
ibu kos benar - benar menangis. kami menangis bersama. siapa yang tidak menangis mendengar cerita begini.
bersambung...