Reinkarnasi Yang Mantap

Reinkarnasi Yang Mantap
Ibukota


__ADS_3

"Apa kamu akan baik-baik saja?" Tanya cemas Riana kepada Haris yang kini sedang bersiap-siap.


Setelah menoleh, Haris pun tersenyum sambil menjawab, "Tidak apa Bu, aku akan baik-baik saja. Ibu juga tidak perlu khawatir, karena tiga bulan sekali aku akan menjenguk kalian." 


Tanpa menaruh cemas lagi Riana langsung tersenyum, "Baiklah. Ibu hanya berpesan agar kamu jangan terlalu memaksakan diri, oke?" Ujar Riana lembut.


Melihat pemandangan itu membuat Louis bahagia namun sedih juga karena harus berpisah dengan anaknya, dengan tangan dilipat di dada, dia menatap sendu kepergian anaknya.


"Ayah! Kamu jangan encok lagi, ya!? Kita akan bertemu lagi setelah aku menjadi lebih kuat, untuk itu ayah harus berjaga-jaga!" Haris berteriak di kejauhan sambil melambaikan tangannya.


Tanpa membalas perkataan anaknya, Louis mengangkat jari jempolnya dengan ekspresi tidak berubah. Jawaban itu diterima oleh Haris yang tersenyum kemudian berbalik untuk melanjutkan langkahnya lagi.


Kepergian anaknya tentu membuat hati orang tua akan menjadi sedih, karena anak itu sudah lahir dengan banyak perjuangan dan juga tumbuh baik bersama keluarganya. 


Hanya orang bodoh yang tidak sedih ketika berpisah dengan anaknya, mau sepandai apapun mereka menyembunyikan ekspresi, pasti di dalam hatinya terdapat rasa sakit yang membuat diri tidak nyaman. Lihat saja Louis yang sebelumnya pura-pura tegar, kini sedang menangis sesenggukan di bahu istrinya.


"A-anakku, p-pergi…" Ujarnya di bahu istrinya.


Melihat kesedihan suaminya, Riana dengan lembut mengelus kepala Louis sambil tersenyum dan berkata, "Hahaha… ternyata kita memiliki kesedihan yang sama." Saat itu juga Riana langsung mengikuti tangis Louis.


Berbeda dengan mereka, kini Haris malah sedang tersenyum lebar sambil celingak-celinguk memandangi pemandangan dunia luar. Terkadang dia berhenti di tengah jalan untuk menyentuh sesuatu yang tampak asing baginya.


Sungguh, dia itu seperti anak kecil yang polos, apakah membuat dia terlalu maniak dalam latihan merupakan hal yang kurang tepat?


"Wooaah!! Apa ini!?" Haris berseru ketika melihat tumbuhan yang menjulang tinggi, "Ini mirip seperti 'Putri malu'! Coba aku sentuh…" Ujar Haris kemudian menyentuh ujung daun dari bunga tersebut.


Selang beberapa detik daunnya mengerut membuat Haris tertawa terbahak-bahak, "Hahaha! Ini sih bunga Tsundere!!" 


Selesai bermain lama dengan kumpulan bunga itu, Haris langsung melanjutkan perjalanannya dengan wajah kembali datar. Sebenarnya Haris memiliki kepribadian yang dingin, namun dia selalu humoris jika dekat dengan keluarganya.


Karena melangkah memakan banyak waktu, Haris yang sudah tidak tahan ingin makan sesuatu yang berbumbu pun langsung berlari secepat kilat ke ibukota yang jaraknya lima kilometer di depan.


Dia berlari tanpa hambatan karena meskipun rute yang digunakan itu seperti hutan, namun sebenarnya rute itu selalu digunakan oleh orang-orang desa untuk berpergian ke ibukota.

__ADS_1


Dalam kurun waktu puluhan menit, akhirnya Haris sudah menunjukkan batang hidungnya di ibukota. Tanpa merasa lelah, dia berjalan menuju gerbang kota yang sedang dijaga oleh para ksatria.


Ketika dia hendak masuk, tiba-tiba sebuah tombak menghalangi jalannya, dan dilanjutkan dengan suara berat dari pria yang mencoba menagih sesuatu ke Haris. Apa jangan-jangan itu rentenir!? Aaaaa lari!!


"Mana kartu identitas mu!?" 


Mendengar itu Haris langsung menoleh dengan wajah kebingungan, "Kartu identitas? Ktp? Saya tidak memiliki itu pak…" Jawab Haris dengan wajah pura-pura bodoh.


Merasa asing dengan kata "KTP" kstaria itu mengernyit heran, namun segera menggelengkan kepalanya dan kembali bertanya, "Saya tidak tahu "KTP", tapi saya akan bertanya kembali, tunjukkan kartu identitas anda!" Ujar ksatria itu sedikit mengintimidasi.


Namun, merasa Haris tidak terpengaruh oleh intimidasi nya dan malah memasang raut kebodohan, ksatria itu semakin ingin melihat kartu identitas Haris yang sepertinya merupakan orang kuat. 


"Tunjukkan kar—"


"Gua bilang ga ada ya ga ada, dasar Gobl*k!"


Sebelum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dia merasa merinding ketika melihat Haris yang sedang menatapnya tajam dengan aura intimidasi yang kuat. Bahkan ksatria yang satunya saja sudah tergeletak karena kehabisan nafas yang disebabkan oleh tekanan intimidasi dari Haris.


Sudah berada di dalam ibukota, Haris sempat menoleh kembali ke arah para ksatria dengan wajah angkuh, dan dia pun berkata, "Ksatria lemah yang pingsan hanya karena intimidasi seperti itu dijadikan sebagai penjaga gerbang? Aku tidak tahu nasib ibukota jika tiba-tiba ada seekor naga datang dengan niat buruk…" 


Selesai berbicara sendiri, Haris kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Seketika matanya terbelalak dan tanpa sadar mulutnya hampir terbuka karena pemandangan ibukota yang sebenarnya sangat,


"Cih, kukira akan terdapat kota apung, ternyata kota biasa. Membosankan." Gumam Haris merasa kecewa. Tapi untung saja dia tidak menghina pemerintah.


Setelah cukup lama berjalan-jalan mencari hal menarik, Haris yang merasa kecewa serta lelah itu pun memutuskan untuk mencari penginapan. Tidak hanya menyediakan kamar sewaan, penginapan juga menyediakan berbagai makanan lezat yang pastinya itu sangat menggiurkan untuk Haris.


Akhirnya dia telah menemukan penginapan yang sudah lama dicari olehnya. Tanpa pikir panjang basa-basi celingak-celinguk, Haris langsung membuka pintu lalu masuk ke dalamnya.


'Whooa, tempat yang nyaman.' Batin Haris ketika melihat isi dari penginapan yang ternyata memiliki tampil dalam sangat nyaman dibandingkan dengan tampilan luarnya.


Haris langsung duduk di kursi pojok, karena karakter utama suka yang pojok-pojok. Setelah itu dia melambaikan tangannya ke arah pelayan wanita yang sedang berada di seberang kursinya.


Pelayan itu menyadari lambaian tangan Haris kemudian berkata, "Tunggu Tuan saya akan segera kesana." Ujarnya kemudian berjalan dengan anggun ke meja Haris.

__ADS_1


"Mau pesan apa Tuan?" Tanya pelayan itu ketika sudah sampai di dekat meja Haris.


"Pesan kamu." Jawab Haris dengan cepat.


Mendengar perkataan Haris, pelayan wanita itu langsung mengernyit heran sambil menatap pria di depannya yang mengatakan itu tapi tidak berekspresi sama sekali.


Merasa situasi langsung sunyi, Haris langsung membuka mulutnya kembali, "Bercanda, tolong buatkan saya menu terbaik di penginapan ini." Pinta Haris dengan datar.


"Baik Tuan, saya akan segera membawanya." Jawab pelayan wanita itu yang masih mencoba untuk profesional.


Wanita itu berbalik lalu berjalan menjauh dari meja Haris, tapi tanpa disadari olehnya ketika dia berjalan pantatnya selalu towew towew sehingga membuat Haris merasa heran.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya makanan telah tiba dan dibawakan kembali oleh pelayan wanita sebelumnya.


"Ini Tuan…" Pelayan wanita itu meletakkan dua piring dengan menu berbeda beserta minumannya yang merupakan sebuah bir.


Melihat makanan di depannya ada dua, Haris kemudian bertanya dengan wajah tampak bingung, "Kenapa saya dihidangkan dua makanan?" 


Pelayan wanita itu menoleh ke arah Haris kemudian menjawab, "Ini tiga menu terbaik di penginapan ini. Satu porsi "Ikan Sidik Tajam", satu porsi "Ayam Api" dan juga satu gelas bir!" Jawab wanita itu penuh senyuman.


"Baiklah…" Haris mengangguk kemudian menatap ke arah makanannya lalu kembali mendongak untuk menatap pelayan wanita yang masih belum pergi.


"Tolong duduk bersama saya, sebenarnya lambung saya itu sangat kecil, dan karena hal itu saya tidak bisa menghabiskan makanan ini sendirian. Jika anda berkenan, mari duduk dan makan bersama saya…" Ujar Haris yang banyak mengandung omong kosong, padahal dia hanya mencari pengalaman saja.


Namun, bukannya menjawab, wanita itu malah tampak ragu-ragu. Dan itu sudah diprediksi oleh Haris. Tanpa ingin berlama-lama karena sudah lapar juga, Haris pun langsung membujuknya sekali lagi.


"Tidak apa, saya akan memberi uang bayar lebih kepada anda dan juga pemilik penginapan ini. Jadi, tolong temani saya untuk makan semua ini, oke?" Pinta Haris yang seolah memahami kekhawatiran pelayan wanita tersebut.


Merasa ajakan Haris tidak memiliki alasan untuk ditolak, akhirnya pelayan wanita itu mengangguk sambil berkata, "Baiklah Tuan, saya terima itu! Dan permisi…" Ujarnya perlahan menurunkan tubuhnya di atas kursi.


Melihat pemandangan anggun di depannya, Haris yang sedari awal mengagumi wanita di depannya itu hanya bisa tersenyum.


'Indahnya…' Batin Haris mengagumi pelayan wanita tersebut.

__ADS_1


__ADS_2