
Setelah melakukan persiapan yang seadanya, mereka langsung melakukan pertahanan karena para skeleton sudah memulai pertarungan dengan tebasan pedang kecil yang berada di setiap arah dan titik.
Dom menjaga para gadis di barisan belakang, sedang dua Swordsman yakni Haris dan Harley bertarung di barisan depan untuk meringankan beban ketiga orang di belakang.
Serangan demi serangan dilakukan, Alisa melemparkan sejumlah sihir yang bisa membuat kerusakan tinggi terhadap para skeleton. Sedangkan untuk Tina, dia terus menerus melakukan heal dan Buff kepada teman-temannya terutama pada Dom.
Untuk menaklukkan skeleton, Haris dan Harley tidak terlalu kesulitan. Namun, mereka dibuat geram karena para skeleton, lagi dan lagi terus bangkit, bahkan jumlahnya sama sekali tidak berkurang padahal mereka sudah bertarung cukup lama.
Hal itu membuat mereka menjadi kewalahan, mereka tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk melakukan penaklukan ini. Namun, karena keegoisan, akhirnya mereka dihadapkan dengan situasi yang berada di garis antara kehidupan dan kematian.
Satu kesalahan maka kematian akan menghampiri.
Karena itu, mereka melakukan penjagaan dan penyerangan yang begitu hati-hati. Takutnya karena tingkat kefokusan mereka berkurang, akan ada serangan yang nyasar. Terutama untuk Alisa, dia sudah menghabiskan sejumlah mana yang cukup besar dan sepertinya cukup untuk mengisi tabung kosong yang ukurannya besar.
Sebenarnya Alisa sudah lelah, secara mental maupun fisik. Namun, dirinya tetap tegar, karena jika tidak, maka kematian dia dan kawannya akan datang menjemput.
'Kalau seperti ini terus, maka akan menjadi berbahaya.' Batin Haris serius.
Haris menoleh ke arah Harley yang sedang melakukan pertarungan sengit, dia berteriak keras agar bisa terdengar olehnya, "Harley! Apa kamu masih memiliki kekuatan terkahir!?"
Butuh cukup waktu untuk Harley memahami kalimat Haris, dia kemudian menoleh kembali dan menjawabnya dengan anggukan sehingga membuat Haris menjadi lebih tenang.
"Aku minta kau serang langsung ke boss nya! Biarkan aku yang mengurus semua pasukannya, hanya ini tidak akan membuatku mati." Ujar Haris sambil tetap melakukan pertarungan, tangannya sangat gesit dalam menangkis dan melancarkan serangan balasan.
Mendengar perkataan Haris, Harley berdiam sejenak untuk berpikir, kesadarannya sudah terbang menjauh darinya untuk mencari sebuah jawaban, meski begitu bukan berarti dia berhenti dalam bertarung.
Detik dan menit sudah berlalu, akhirnya Harley mendapatkan setitik cahaya yang merupakan sebuah jawaban. Dia menggapai cahaya tersebut dan kemudian secara tiba-tiba kesadarannya kembali ke dalam raga nya.
__ADS_1
Setelah itu, Harley menoleh ke arah Haris. Disana terlihat Haris sedang bertarung, tebasan yang dilakukannya menimbulkan kehancuran menyeluruh terhadap pasukan skeleton. Namun sayangnya mereka kembali bangkit. Entah seberapa besar mana yang terkandung dari Lich itu, tapi yang pasti mana dia tidak bisa disamakan dengan sebuah gunung.
"Baiklah." Singkat Harley dengan suara kecil, tapi itu bisa terdengar jelas oleh telinga Haris. Dia bersyukur, sebab dia yakin bahwa Harley lebih kuat darinya dan juga dari Lich itu, namun tanpa alasan jelas dia lebih memilih untuk menyembunyikan kekuatan tersebut.
Setelah menjawab pertanyaan itu, Harley langsung melesat cepat melewati kerumunan skeleton tanpa menabrak mereka sedikitpun. Dia seperti cahaya berwarna kuning keemasan yang sedang melesat dengan kecepatan tinggi.
Butuh beberapa detik hingga akhirnya Harley mencapai titik paling belakang dari barisan skeleton. Disana bisa terlihat singgasana yang begitu besar, dia mendongak ke atas dan melihat seorang Lich sedang memasang seringai kejam sambil menatap Harley layaknya semut kecil.
"Kau terlalu rendahan untuk seukuran bidak." Gumam Harley dengan rasa kesal sudah menumpuk di dalam dirinya karena secara gamblang dia ditatap seperti itu oleh Lich tersebut.
Dia kembali menghunuskan pedangnya secara perlahan, dan di bilah pedangnya aura hitam pekat mulai menyelimutinya. Kekejaman, ketakutan, penderita, dan keresahan bisa dirasakan hanya dengan menatap aura hitam tersebut.
Tidak hanya bilah pedangnya, bahkan aura tersebut merembes keluar dari tubuhnya, sehingga membuat atmosfer disekitar keduanya menjadi lebih berat.
Tentu saja perubahan besar itu membuat Lich menjadi terkejut, mulutnya yang sudah menjadi tengkorak tersebut dibuka lebar-lebar. Di dalam pikirannya dia baru mengingat sesuatu, bahwa seseorang yang sudah memanggil dirinya melalui ritual pernah mengatakan bahwa: "Akan ada seorang pria yang bisa membuatmu musnah dalam satu detik, dan kuharap kau tidak menyinggungnya apalagi melawannya, karena aku juga tidak berani dengan pria itu."
Seorang pria bertubuh tinggi kekar, rambut hitam, mata merah terang, luka tebasan di hidungnya, serta seringai lebar layaknya seorang psikopet. Itulah yang dibayangkan oleh Lich tersebut.
Tapi siapa sangka yang dipikirkan olehnya melenceng jauh, karena pria yang dimaksud ada seseorang berwajah polos dan juga berambut kuning keemasan. Itu sangat berbeda!
Melihat Harley yang semakin menjadi menakutkan, Lich tersebut hanya bisa menahan rasa takutnya, tulang-tulangnya terlihat gemetaran, singgasana sedikit demi sedikit mulai menunjukkan keretakan karena atmosfer yang berat.
'Habislah aku…'
Lich tersebut hanya bisa mengumpat di dalam dirinya dan menyerah layaknya anjing yang sedang berhadapan dengan seorang singa.
Tak ada jalan lain untuknya, yang ada hanyalah jalur ke arah pintu neraka yang kini sedang terbuka lebar. Percikan api panas terlihat ada yang keluar melewati pintu tersebut, dan tentu saja itu sudah menakutkan baginya.
__ADS_1
Tapi, pria yang berada di depannya lebih menakutkan dari itu.
"Sudahlah… sepertinya aku akan mengacaukan rencana besar yang sudah diatur oleh tuan. Tapi, aku tidak peduli…" Gumam Harley begitu menakutkan, matanya perlahan berubah menjadi merah darah, kulitnya seperti diganti oleh sisik hitam yang tajam. Tapi perubahan itu tidak terlihat oleh kelompoknya, sebab pandangan mereka terhalang oleh pasukan skeleton yang berjajar menghalangi.
Harley mengangkat pedangnya ke atas meskipun kepalanya tertunduk dengan kosong. Perlahan, tangannya dihempaskan kembali kebawah, dan hal itu membuat sebuah tebasan tipis dari aura hitamnya.
Serangan tersebut melesat ke arah Lich dengan cepat, dan secara cepat juga tebasan tersebut menghantam tulang Lich tersebut.
Tapi, untuk sepersekian detik tidak terjadi perubahan apapun, dan itu membuat Lich menjadi percaya diri kembali. Namun, tak disangka setelah mencapai detik kesatu, tulang yang semulanya tersusun layaknya manusia, kini sudah berubah menjadi tulang belulang yang berserakan di lantai bos dungeon.
Hal itu tentu saja membuat para pasukan skeleton menjadi musnah seperti abu hitam yang tertiup hembusan nafas berat dari kelompok pahlawan.
Melihat penampakan itu, para kelompok pahlawan yang berada dibelakang langsung menjatuhkan diri dengan wajah seolah tak percaya namun bahagia.
"K-kita menang…" Tina bergumam dalam suara gemetaran.
"Ini adalah kenyataan yang membahagiakan." Timpal Alisa secara lemas, kemudian secara perlahan matanya mulai kehilangan kehidupan dan kesadarannya juga ikut menghilang. Hal itu membuat tubuh Alisa terkapar tidak sadarkan diri di atas lantai bos dungeon.
Sedangkan untuk Haris, dia masih memandangi Harley yang masih tertunduk didekat mayat Lich. Wajahnya tidak bisa tampak jelas, namun Haris bisa melihat aura hitam yang belum sepenuhnya menghilang meskipun perubahan dari Harley sudah tidak terlihat.
'Dia…' Batin Haris menggantungkan kalimatnya karena author sudah pusing.
***
Maaf telat update karena saya sendiri sudah mati ide karena terlalu membuat lawan yang kuat tapi tidak tahu cara mengalahkannya. Hahaha!
Tapi, untung saja ada Harley yang sudah dijadikan kartu As. Terimakasih Harley, seribu kehormatan saya berikan untukmu.
__ADS_1