
Ayahku pernah menceritakan tentang Elf yang selalu memandangi bintang, Dwarf yang selalu menambang dan menempa, serta iblis yang selalu membuat kekacauan.
Dulu, karena aku sangat tidak mengetahui cerita itu. Aku pun meminta ayah untuk menceritakan yang diketahuinya, sehingga aku bisa mengetahui tentang Ras-ras yang berada di dunia ini.
Karena mungkin ini permintaan pribadi dari anaknya, dia bercerita dengan tenang namun tidak membosankan. Aku mendengarnya dengan seksama, bagaimana asal mula dari Elf dan bagaimana kehidupannya. Tapi tak hanya itu, aku juga suka dengan cerita tentang Dwarf serta Iblis.
Apalagi Iblis yang termasuk ke dalam Ras menyebalkan. Mereka selalu melakukan kekacauan di daerah Ras lainnya, seolah semua itu sudah menjadi hal wajar bagi mereka.
Ya, karena itu juga Iblis begitu dibenci oleh Ras lainnya. Tapi, menurutku semua Ras itu sama saja. Mereka melakukan ini untuk kesenangan mereka, sedangkan kita juga selalu melakukan hal itu, bahkan meski harus memakai segala cara, kita akan tetap melakukannya.
Ras Elf dikenal sebagai makhluk tertua di dunia, mereka lahir sebelum bulan dan matahari diciptakan, namun kala itu mereka sudah bisa melihat indahnya bintang bersinar. Dan juga, Ras Elf memiliki kekuatan yang luar biasa, dengan roh yang abadi. Tapi, meski mereka memiliki roh yang abadi, namun tetap saja tubuh mereka akan menua meskipun penuaannya sangat lambat dibandingkan dengan ras lainnya.
Ras Dwarf dikenal sebagai makhluk terkecil dengan fisik yang menyerupai manusia. Namun, meski begitu mereka memiliki keterampilan yang jauh dibutuhkan untuk Ras lainnya, bahkan bagi dunia. Karena, setiap karya seni yang ditempa oleh mereka semuanya merupakan barang berharga, dan bisa menciptakan perang bahkan menghentikan peperangan.
Meskipun mereka termasuk ke dalam Ras lemah, namun tetap saja, dengan keterampilan menempa yang sangat hebat, mereka bisa menciptakan apapun dan bahkan bisa menjinakkan seekor naga. Jadi, bukan hal yang tidak mungkin bagi mereka untuk memulai peperangan atau memusnahkan sesuatu.
Dan jika kita membahas tentang Ras Iblis. Kurasa itu akan menjadi panjang, sebab Ras ini memiliki cerita yang panjang, dari awal mula terciptanya hingga akhirnya. Mereka juga termasuk ke dalam musuh para dewa disaat peperangan akhir, tentu itu hal yang pasti.
Bahkan Dewa yang memiliki kedudukan tinggi pun dimusuhi oleh mereka, apalagi Ras-ras yang setara atau bahkan lebih rendah dari mereka. Mungkin itu bisa dibilang sebagai berkah untuk kaum mereka.
Karena itu, aku begitu terkejut serta takjub ketika melihat Bos dungeon yang kini sedang memperlihatkan karismanya. Begitu kuat, bahkan sebagian dari anggota kelompok ku harus tertunduk dengan wajah pucat.
Ya, begitupula aku.
Bagaimana tidak? Jika aku harus membandingkan level kita dengan-nya, maka itu sudah seperti langit dan tanah. Eh, langit dan bumi.
[Lich/Bos dungeon]
Lvl: 500
Hp: 7000/7000
Mp: 10000/10000
Necromancer
__ADS_1
Strength: 469
Intelegensi: 1300
Vitalitas: 765
Agility: 200
—********
—********
—********
Lihatlah… bahkan kemampuannya saja tidak bisa kulihat, mungkin dia sudah mencapai titik dimana makhluk fana hanya berada diujung kukunya. Melihat status yang disensor seperti ini, mengingatkanku kepada Harley, tapi dia semua Statusnya tidak bisa kulihat. Entah kenapa itu bisa terjadi, tapi aku tidak peduli selagi dia tidak berada di pihak musuh. Ya, mungkin.
Untuk bos yang memiliki level hingga 500 seperti itu, aku hanya bisa bergidik ngeri. Apalagi dengan pasukannya yang sudah memadati ruangan sebesar lapangan bola ini. Jika dihitung mungkin, satu, dua, tiga… arghhhhh!! Terlalu banyak!
Sial, aku menyesal sudah masuk ke dalam kelompok mereka…
20 menit yang lalu…
"Apa kau yakin untuk tetap memasukinya?" Ujar Tina dengan wajah panik.
Harley sempat melihat ekspresi itu, namun dia tetap menegaskannya kembali, "Iya, hanya ini jalan satu-satunya." Jawab dia tanpa mengalihkan pandangannya.
Sedangkan untuk Haris, Alisa, serta Dom. Mereka hanya menatap satu sama lain, kemudian mengangkat bahunya seolah sudah pasrah dan akan mengikuti semua keinginan ketuanya.
Merasa tidak terima dengan keputusan Harley, Tina menghampirinya kemudian menggoyangkan tubuh Harley dengan penuh emosi.
"Kutanya sekali lagi, apa kau tetap ingin memasukinya!!?" Tanya Tina begitu berharap akan dijawab "Mari kita akhiri penjelajahannya!"
Namun, harapannya langsung sirna ketika Harley sekali lagi menegaskan keputusannya.
__ADS_1
"Tidak, kita akan tetap memasukinya!" Tolak Harley dengan tegas tanpa menatap mata Tina yang penuh harapan.
Mendengar itu, tubuh kecil Tina langsung ambruk tidak berdaya, ekspresinya berubah menjadi tidak memiliki harapan. Alasan dia seperti itu karena intuisinya mengatakan bahwa di balik pintu tersebut, terdapat monster yang begitu kuat. Tidak hanya perasaan murni yang dimiliki manusia, namun Tina memang memiliki intuisi yang begitu kuat dan setiap tebakannya akan selalu tepat sasaran.
Maka dari itu, dia tidak menginginkan kelompok mereka untuk memasuki ruangan bos tersebut, sebab dia merasakan sesuatu yang begitu kuat dan bahaya tengah menunggu kedatangan mereka dengan senang hati.
"Kenapa kau begitu percaya diri untuk memasuki ruangan bos, padahal kau sendiri sudah mengetahui bahwa di dalamnya terdapat monster berbahaya?" Tiba-tiba Alisa membuka suaranya untuk menanyakan sesuatu yang dipikirkan oleh semua orang kecuali Harley.
Masih dengan tatapan lekat ke arah pintu, Harley menjawabnya, "Kenapa? Kenapa, ya… mungkin jika tidak melakukan ini, nanti kedepannya akan jadi lebih merepotkan?" Diakhir kalimat dia menoleh ke arah Alisa dengan wajah datar.
Kecuali Harley, semua orang yang ada disana hanya bisa kebingungan dan heran dengan tindakan yang diputuskan oleh Harley. Meskipun dia memang selalu membuat keputusan sepihak, namun dirinya tidak pernah se gegabah ini untuk memutuskan sesuatu.
Namun, karena mereka hanyalah anggota pahlawan yang mengikuti arahan Harley, maka mau tidak mau mereka harus mengiyakan saja keputusannya.
Usai melakukan perbincangan ringan tersebut, Harley perlahan menyodorkan tangannya ke pintu dan membukanya secara perlahan. Namun, ketika proses itu, kelompok pahlawan sedikit terganggu dengan aura hitam pekat yang merembes keluar. Bahkan Tina sampai mual dan muntah ditempat, tapi segera dibantu oleh Haris dengan diselimuti oleh aura nya untuk menolak intimidasi yang dihasilkan aura hitam pekat tersebut.
Mereka melakukan itu hingga pada akhirnya sampai di dalam ruangan bos, sesampainya mereka pintu ruangan bos langsung tertutup dengan sendirinya. Kelompok pahlawan apalagi Tina mencoba untuk keluar dari sana, namun tidak bisa karena pintu itu seperti sudah dikunci dari luar.
"Hmmh… sial, aku benci sekali aura pekat ini…" Ujar Tina sambil menahan mual, namun lagi-lagi Haris membantunya seperti seorang Hero sungguhan, oooo sosweet
Tak lama setelah itu, tiba-tiba ruangan bos yang tadinya kosong perlahan mulai memuncak sosok tengkorak berjubah dengan tinggi mencapai sepuluh meter. Dia duduk di singgasana besar yang terdapat di jarak 50 meter ke depan.
"Itu kah bosnya? Bukankah ini… berbahaya…" Ujar Dom yang tiba-tiba buka suara. Baru kali ini dia gemetaran saat berhadapan dengan monster, biasanya dia menyeringai layaknya maniak.
Namun, tak hanya Dom yang seperti itu. Alisa, Tina serta Haris merasakan kaki mereka mulai melemas, dan kepala seperti berputar-putar. Tapi, Haris mencoba untuk menghentikan efek samping itu dengan merogoh ruang hampa tanpa diketahui oleh temannya, dia membuka ruang hampa di dalam ranselnya dengan gelagat seperti sedang mencari sesuatu.
Tak lama kemudian dia membawa empat Potion, lalu dilemparkan barang itu ke tiga temannya yang sedang merasakan efek samping yang sama. Mereka menerima itu dengan baik dan langsung meminumnya tanpa berpikir panjang, karena Haris tidak mungkin melakukan kejahatan di dalam situasi seperti ini.
Setelah meminum Potion tersebut, tubuh mereka perlahan diselimuti oleh cahaya terang keemasan lalu setelahnya tubuh mereka kembali pulih tanpa merasakan kembali intimidasi dari monster yang menduduki singgasana tersebut.
"Ini…" Tina seolah tidak percaya dengan barang pemberian dari Haris yang begitu manjur, dia seperti merasakan sedang di lindungi oleh kekuatan ilahi dari dewa.
Sedangkan untuk Dom dan Alisa, mereka hanya membelalakkan matanya tanpa berekspresi apapun lagi.
Usai melakukan itu, mereka kembali bangkit, memegang senjata masing-masing, dan menatap tajam ke arah depan yang kini sudah dipenuhi oleh monster skeleton berkumpul layaknya seorang prajurit perang dengan skeleton besar sebagai komandannya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mati-matian…" Gumam Haris sambil memegang pedangnya dengan erat.