Reinkarnasi Yang Mantap

Reinkarnasi Yang Mantap
Bertemu Seseorang


__ADS_3

Setelah kekalahan sebelumnya, Haris langsung dalam keadaan terpuruk karena keangkuhannya berakhir dengan menyakitkan, tapi dia kembali bahagia ketika ayahnya, Louis, di pukuli oleh ibunya, Riana, menggunakan batu sebesar kepalan tangan, hingga membuat kepalanya berdarah meski hanya luka kecil.


Semenjak melahirkan Haris, Riana menjadi wanita yang temperamen jika menyangkut masalah Haris. Padahal waktu dulu dia memiliki sifat yang lemah lembut, selalu tersenyum, dsb. Intinya wanita itu menjadi orang yang berbeda setelah melahirkan Haris. Mungkin karena… Haris anak saya, wakakaka.


Akhir-akhir ini Riana selalu murung dan suka meninggalkan jam makan karena otaknya yang penuh dengan pikiran tentang Haris. Karena anaknya sudah tumbuh dewasa, dan tahun ini dia sudah menginjak usia 17 tahun yang dimana sudah memasuki masa remaja.


Biasanya para remaja akan mencari tahu dunia dan mencari berbagai pengalaman yang menurut mereka menyenangkan. Semua pikiran itu lah yang mengganggu Riana selama ini, sehingga membuat keluarganya menjadi khawatir. Mereka selalu membujuk Riana dengan lemah lembut, tapi yang mereka lakukan bukanlah yang sesuatu yang diinginkan oleh Riana.


Karena, Riana sangat menginginkan anaknya untuk tetap di sampingnya.


Di dalam hutan, tapi lebih ke tempat terbuka, tampak ada seorang pemuda sedang berlatih keras dengan telanjang dada.


Meski terik matahari sangat panas, dia tetap tidak menghiraukannya dan terus melakukan latihannya dengan tekad kuat. Hingga pada akhirnya dia berhenti pada saat terik matahari sudah tidak menunjukkan keberadaannya.


"Sungguh melelahkan, dan lebih melelahkan ketika kalah karena kesombongan diri…" Gumam Haris sambil menyeka keringatnya, kemudian dia berbalik dan mengambil pakaiannya yang tersimpan rapi di atas batu besar. 


Dia langsung mengenakannya, dan setelah itu mulai berjalan keluar hutan untuk pergi ke desa karena hari masih belum terlalu larut, yang pastinya desa masih penuh dengan orang-orang.


Di Perjalanan pulangnya dia tidak diganggu oleh para monster hutan, karena dia sudah mengenal betul setiap rute yang terdapat di hutan ini. Dan pada akhirnya dia bisa keluar dengan selamat setelah berjalan cukup memakan waktu sekitar sepuluh menit.


Meski langkah kakinya terasa biasa-biasa saja bagi Haris, tapi sebenarnya jika dilihat oleh mata orang lain, langkah dia itu begitu cepat dan bahkan lebih tampak ke orang yang memaksakan untuk berjalan.


Sesampainya di desa, dia bisa melihat banyak sekali lentera menggantung di atas dengan bantuan seutas tali yang dililit di antara tiang jalanan yang memang memiliki peran seperti itu jika berada di desa. Berbeda dengan kota yang dimana mereka memakai lampu jalan, layaknya kota pada umumnya.


Dan selain itu, di desa ini masih banyak gerai yang menjual berbagai jenis makanan yang bisa menggiurkan, dan itulah yang menjadi tujuan Haris untuk datang ke desa.


Seperti yang kalian ketahui, Haris itu tipe orang yang selalu memaksakan diri untuk mencapai tujuannya, dan karena itu juga dia tidak terlalu sering berkeliling desa nya sendiri.

__ADS_1


Meski begitu, dia masih memiliki seorang teman, mereka sudah saling mengenal ketika masih berusia 9 tahun dan juga hubungannya cukup dekat sehingga akan selalu bertegur sapa apabila berpapasan di tengah jalan.


"Halo, tolong bungkus satu roti!" Ujar Haris kepada wanita yang diduga sebagai penjaga tokonya.


Wanita itu menoleh ke sumber suara, lalu wajahnya tiba-tiba menjadi cerah dengan senyuman lebar secara tidak sadar terlukis di wajahnya. 


Dia langsung berlari dengan anggun melewati etalase tokonya. Tentu saja dia berlari ke Haris, karena ditempat itu tidak ada orang lagi selain Haris seorang. Setelah berada cukup dekat dengan Haris, wanita itu langsung melompat sambil membuka tangannya untuk memeluk tubuh kekar pria didepannya.


"Haris!" Wanita itu berteriak gembira sambil mengelus-elus kepalanya di dada bidang yang dimiliki oleh Haris.


"W-woah! Kamu terlalu bersemangat Sophia, aku terlalu lelah untuk menerima pelukan erat ini!" Keluh Haris tapi pada akhirnya dia memeluk tubuh mungil dari wanita tersebut.


Merasa nyaman dengan pelukan lembut dari Haris, Sophia itu langsung membenamkan wajahnya di dada Haris tanpa sedikit rasa malu. Setelah selesai berpelukan sebagai penghilang rasa rindu, mereka langsung duduk di kursi yang tersimpan di depan toko roti tersebut.


Suasana disekitar mereka menjadi canggung karena telah lama tidak berjumpa, dan saat ini tanpa diduga Haris menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman lamanya.


"Hahaha, aku juga sama. Tidak terasa kita akan bertemu lagi setelah beberapa tahun tidak seperti ini." Sophia tampak sedikit malu-malu dengan kepala terus menunduk.


"Hei, kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah Sophia suka melihatku dari kejauhan?" Haris kembali terang-terangan tanpa merasa enggan untuk mengatakan hal-hal seperti itu.


Mendengar perkataan Haris membuat Sophia menjadi semakin malu, karena tidak diduga juga Haris bisa mengetahui kalau dirinya suka melihat Haris dari kejauhan. Meskipun dia tidak pernah mengikuti Haris sampai ke hutan juga, sih.


"Jangan malu-malu seperti itu. Aku disini ingin mengatakan sesuatu." Tanpa ingin berlama-lama di luar rumah, Haris langsung mengatakan tujuannya mampir ke toko Sophia.


Sophia bingung dengan perkataan Haris, dia kemudian menoleh ke arahnya untuk bertanya sesuatu, "Apa yang ingin Haris katakan?" Tanya Sophia dengan wajah penuh kebingungan.


"Tidak kah kamu melayaniku terlebih dahulu? Mana pesanan roti ku?" 

__ADS_1


"Ahahaha! Maaf, aku akan membawanya terlebih dahulu. Kamu tunggu disini, oke?" Sophia bangkit kemudian menatap tajam ke arah Haris yang sedang duduk manis dan memintanya untuk tetap berdiam diri.


Haris yang melihat itu hanya bisa tersenyum, kemudian mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, Sophia langsung memasuki tokonya kembali, dan tak lama kemudian dia keluar dengan membawa roti panjang di dalam kertas berwarna coklat.


Dia langsung memberikannya kepada Haris dengan penuh senyuman sebagai pelayanan, dan setelah itu dia duduk kembali di tempat sebelumnya.


'Jadi ini yang namanya "Baguette"?' Batin Haris ketika melihat roti didepan mata nya, dan sebelum melanjutkan pembicaraannya, dia langsung memotong ujung roti kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.


Menunggu hingga roti itu selesai di makan olehnya, Sophia terus menahan rasa penasaran dengan maksud dari perkataan Haris sebelumnya. Selesai memakan ujung roti tersebut, Haris langsung kembali ke topik utamanya.


Dia langsung menoleh ke arah Sophia, dan menatapnya dengan serius hingga membuat wanita itu menjadi salah tingkah. 


"A-apa?" Tanya Sophia tanpa melihat pria didepannya.


Haris yang menyadari tingkah aneh Sophia disebabkan oleh dirinya pun langsung kembali ke posisi sebelumnya. Menatap ke arah depan sambil duduk tegak.


"Aku kesini hanya untuk mengatakan salam perpisahan saja…" Ujar Haris membahas tujuannya dan membuat sebuah batu besar dikepala Sophia kemudian menghantamkannya dengan kuat.


Wajah tersipu Sophia langsung berubah menjadi kusut, lalu dengan enggan dia bertanya, "K-kenapa?"


"Tidak, hanya saja dalam kurun waktu 1 Minggu, aku akan memulai perjalananku." Ujar Haris menjelaskan.


"Begitukah?" Semangat Sophia kembali lagi setelah mendengar penjelasan dari Haris. Dia bersyukur pria itu tidak akan pergi dalam waktu yang singkat, karena bukan hanya rindu, tapi dia juga ingin melakukan sesuatu yang spesial baginya untuk dikenang.


--------------


Maaf kawan saya menyerah dalam menulis adegan romantis... Sepertinya saya akan menghapus cerita romantis yang sudah saya tentukan dari awal. Ah bikin pusing kalau terlalu banyak bikin dialog percakapan!!! Dan juga rasanya bingung dengan reaksi kaum hawa ketika sedang bersama dengan pria yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2