
Selesai memperkenalkan diri, mereka langsung memasuki topik utama setelah Haris mengatakan terimakasih kepada mereka yang telah menyelamatkannya di dalam hutan. Tanpa berekspresi apapun lagi, mereka hanya mengangguk.
Kemudian setelah itu Harley membuka mulutnya, "Sebenarnya, saya sendiri ingin mengajukan permintaan kepada anda…" Ujar Harley dengan tatapan serius.
Sedangkan untuk teman-temannya, mereka saling menatap satu sama lain dengan bingung, bukan hanya itu, mereka juga awalnya bingung dengan maksud kedatangan orang asing hingga harus disambut seperti itu. Mereka pikir yang datang adalah pejabat, tapi ternyata bukan. Dia hanyalah seorang pria tampan dengan pakaian yang biasa saja.
Namun, Haris tidak mempedulikan reaksi mereka, dia tetap menatap serius ke arah Harley dan kemudian menjawab dengan sedikit kebingungan, "Permohonan? Untuk apa?"
"Tolong gabung lah ke kelompok kami." Jawab singkat Harley mengejutkan semua orang yang ada disana.
Bahkan Dom sampai tersentak mendengar hal itu, dia awalnya kebingungan namun kemudian dia menggebrak meja dengan keras yang menyebabkan kayu itu menjadi terbelah.
*Brak…
"Harley!? Kenapa kau memutuskan hal itu dengan sendirinya!" Ujar Dom mengajukan keluhan.
"Benar! Kau selalu memutuskan apapun tanpa mempedulikan pendapat kita!" Tina melanjutkan keluhannya sambil berteriak keras.
Tidak seperti yang lainnya, Alisa hanya bisa mengangguk tanpa mengeluh, namun kemudian dia menatap Haris dengan tatapan instens membuatnya merasa tidak nyaman.
"Sudah hentikan omong kosong kalian! Aku saja tidak ingin berhubungan dengan kalian. Aku kesini hanya untuk bertemu penyelamatku, tapi siapa juga kubayangkan ini akan terjadi!" Keluh Haris menghentikan perdebatan mereka.
Mereka semua serempak mengalihkan pandangannya ke arah Haris yang sedang duduk diam dengan raut wajah tak nyaman. Namun, untuk Alisa dia hanya terdiam tanpa berekspresi. Kuyakin dia merupakan wanita yang dingin, shessh…
"Lihat, kalian seperti anak kecil yang memperebutkan hal tidak pasti. Kalian belum mendengar pendapatku, dan kalian juga memutuskan semaunya seenak hati. Sumpah, lebih baik aku segera pergi dari sini." Haris beranjak pergi dari tempat itu, namun langsung dihentikan oleh Harley yang sebelumnya selalu diam ketika diprotes oleh temannya.
"Tunggu tuan, anda bisa penuhi saja permintaanku? Aku yakin anda juga diuntungkan dalam hal ini, dan tentu saja saya tidak akan merenggut kebebasan anda." Ujar Harley menjelaskan semua tawaran ketika melihat Haris menghentikan langkahnya.
"Aku akan mencobanya dalam sekali, setelah itu aku putuskan mau atau tidaknya. Kalau begitu aku pamit." Jawab Haris tanpa berbalik, lalu dia melanjutkan langkahnya dan pergi dari mansion besar tersebut.
Sedangkan saat dia sudah sampai di penginapan, Harley bersama temannya langsung melanjutkan perdebatan sebelumnya. Namun, Harley tidak menggubris mereka, dan malah memilih pergi dari tempat itu untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Semakin hari dia semakin aneh, apa kalian merasakan hal yang sama?" Ujar Tina di tengah keheningan.
"Benar, aku merasa seperti itu." Jawab Dom yang tiba-tiba selalu membuka mulutnya untuk berpendapat.
"Tapi bukankah itu bagus?" Timpal Alisa membuat kedua temannya dengan serempak mengalihkan pandangannya.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Tina dengan tatapan tajam.
"Tidak, hanya saja kita sudah mengetahui kepribadiannya, dan itu bisa membuat kita semakin bisa meningkatkan kewaspadaan jika ke depannya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Jelas Alisa tanpa merubah wajahnya yang selalu datar.
Tanpa membalas pernyataan itu, Tina dan Dom hanya tertunduk sambil merenungkan perkataan temannya yang ada benarnya juga. Mereka terlalu dalam memikirkan semua itu, sehingga tidak menyadari Alisa yang sudah menghilang di dekat mereka.
Alisa berjalan di lorong masion yang tampak lebih mirip seperti istana. Dia berjalan dalam hening, situasi sekitar pun sangat sunyi sebab mereka hanya memiliki satu pelayan yang mengurusi masion sebesar ini. Mereka terlalu waspada, takut jika pelayan yang mereka sewa merupakan mata-mata dari pihak iblis.
Alisa terus berjalan, hingga pada akhirnya berhenti di balkon mansion. Dia langsung mendekati pagar yang terbuat dari batu, lalu menyimpan tangan di atas pagar tersebut.
Dia menatap bulan indah yang berada di atas langit, mata nya tampak menyimpan banyak sekali pikiran namun tak bisa diungkapkan, karena setiap ingin berpendapat, di kepalanya selalu tersirat ingatan yang paling dibenci olehnya.
Meski begitu, Alisa tidak pernah membenci pria itu, sebab cinta yang dia pendam selalu membesar ketika melihat pria tersebut.
"Aku begitu terkejut ketika mendengar kematiannya… aku tidak tahu penderitaan seperti apa yang dia pendam sehingga mengakhiri hidupnya sendiri… tapi, kuharap dia baik-baik saja di atas sana." Gumam Alisa sambil memandangi bulan seperti sebelumnya.
***
Di dalam penginapan, tampak Haris sedang ditatap tajam oleh wanita tua di depannya, dia juga merupakan wanita yang sama dengan penjaga kasir. Yap, ternyata wanita tua itu adalah pemilik penginapan bunga mawar tersebut.
"Kenapa kau belum bayar sewa selama 12 hari!?" Tanya dirinya marah.
"Ibu, tenanglah dulu! Haris pernah bilang kalau dirinya akan membayar biaya sewa!" Ujar Sylphy mencoba menenangkan ibunya.
Merasa tidak terima anaknya membela Haris, wanita tua itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sylphy.
__ADS_1
"Kenapa kamu membelanya? Apa kamu menyukainya?" Tanya wanita tua itu dengan selidik karena sikap anaknya membuat dirinya kebingungan.
Meski awalnya dia tersipu, namun dengan segera dia kembali menatap ibunya sambil menjawab, "Ya, aku menyukainya dan juga apa yang kukatakan merupakan kebenaran!" Jawabnya serius.
""Eh?""
Semua orang yang berada disana langsung terkejut dengan pernyataan Sylphy, bahkan Haris saja sampai tersentak karena merasa tidak percaya ternyata Sylphy menyimpan rasa kepadanya.
Namun, merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang berubah tiba-tiba, Haris beedeham untuk mencairkan suasana sambil merogoh kantong kecil yang berisikan banyak kepingan koin.
"Ehm! Sebaiknya kalian berhenti berdebat, tidak enak dipandang jika seorang keluarga berdebat hanya karena aku telat membayar sewa. Ini satu keping emas serta satu keping peraknya, dan ini untuk sewa kedepannya." Haris menambahkan dua keping emas ke telapak tangan ibu Sylphy. Setelah itu dia memandang ke arah Sylphy yang sekarang sedang menahan malu karena perkataannya sendiri.
"Mari ikuti aku." Ujar Haris sambil menarik lengan Sylphy untuk mengikutinya ke kamar pribadinya.
Sesampainya di dalam kamar, Haris mempersilahkan Sylphy untuk duduk di ranjangnya, dan untuk Haris dia duduk di samping wanita tersebut.
"Untuk sebelumnya, apa itu benar?" Tanya Haris sambil memandangi Sylphy dengan serius.
Perlu waktu lama untuk Sylphy membuka suaranya, dengan wajah tersipu dia menoleh ke arah Haris, "I-iya… maafkan aku…" Jawab Sylphy sedikit menunduk.
"Haah… bukan seperti itu maksudku. Justru aku sangat bahagia karena perasaanmu padaku sama seperti apa yang kurasakan padamu." Haris menghela nafasnya berat, tapi dia langsung melanjutkan perkataannya dengan santai.
Mendengar pernyataan Haris, Sylphy terkejut, dia membelalakkan matanya kemudian mendongak untuk melihat Haris. Dia mendapati Haris sedang tersenyum ke arahnya, dengan wajah sedikit berseri Sylphy kembali bertanya namun suara meninggi.
"A-apakah itu benar!?" Tanya dirinya tidak percaya, tapi ketika melihat Haris mengangguk, dia tidak bisa menahan kebahagiannya hingga secara tidak sadar memeluk Haris dan menjatuhkannya ke atas ranjang.
"Woah, jangan terlalu bahagia seperti itu!" Tegur Haris berbahagia.
"Maafkan aku…" Ujar Sylphy mendadak malu dengan tindakannya. Namun segera dia merasakan sentuhan lembut di mulutnya yang membuat dia kembali terbelalak kaget.
Dia menatap Haris yang secara mendadak menciumnya tanpa sedikitpun meminta persetujuannya, tapi kemudian dia menikmati sentuhan dan sensasi dari beradunya mulut mereka…
__ADS_1
Stop, stop, stop, sepandai-pandainya tupai melompat, saya tidak bisa menulis scene erotis.