Reinkarnasi Yang Mantap

Reinkarnasi Yang Mantap
Mempelajari Aura


__ADS_3

Menatap layar sistemnya dengan teliti, Haris mencoba untuk membeli satu barang yang menurutnya akan berguna, dia menggeser terus digeser layarnya, hingga pada akhirnya berhenti di satu barang, yaitu: Teknik Aura.


Dia sedikit tertarik dengan barang itu, karena bukan hanya bisa mempelajari teknik aura, tapi dia juga bisa semakin mendekat ke mimpinya. Karena menjadi Swordsman, dia diharuskan untuk mempelajari aura hingga ketingkat yang cukup. Namun, karena Haris memiliki potensi tanpa batas, dirinya bisa mempelajari aura bahkan hingga ketingkat yang bahkan tidak bisa diraih siapapun.


Dia langsung membeli barang tersebut yang memiliki harga 5.000 Poin Sistem. Meski sangat mahal, tapi Haris yakin dengan itu dia bisa meningkatkan kemampuannya, karena ada beberapa alasan yang terus mendorong dia untuk melakukan itu.


[Haris Lodgradae]


Lvl: 86


Hp: 1560/1370


Mana: 620/620


Swordsmanship: 11,05%


Str: 126


Int: 80


Vit: 83


Agi: 56


Aura: 34



— Pantang Menyerah.


— Teman Pedang.


— Regenerasi (Sedang)


— Peningkatan Fisik.



Poin Sistem: 248,950


Poin Stat: 0


"Hmmm… tidak apalah, lagipula poin ku masih tersisa banyak, dan juga poin itu mudah untuk didapatkan." Gumam Haris sambil menangkap sebuah buku yang sebelumnya mengambang di dekat layar sistem.

__ADS_1


Ya, buku itu adalah Teknik Aura yang akan dipelajari olehnya. Meskipun hari sudah malam namun Haris tetap bersikeras untuk langsung mencoba pelatihannya, tanpa menunda-nunda lebih lama lagi.


Haris langsung membuka buku itu, dan membacanya hingga selesai pada satu bab yang menjelaskan tentang awal-awal teknik, atau bisa dibilang teknik dasarnya. 


Seolah sudah memahami semuanya, dia langsung bangkit dari posisi tidurnya, dan kemudian dia mengambil posisi duduk menghadap ke sisi ranjang, tangan diletakkan di atas lutut, kemudian mata nya perlahan tertipu dengan kesadaran yang semakin menyelam ke dalam alam bawah sadarnya.


Lambat laun, kerja kerasnya terlihat dengan jelas, aura yang sebelumnya tidak pernah menampakkan diri, kini merembes keluar dari tubuh Haris dan menampakkan warna biru gelap. Meskipun itu dikeluarkan secara tidak sadar olehnya, tapi jika ada orang yang melihat keadaannya saat ini, mungkin orang itu akan terkejut.


Karena tidak mungkin untuk anak kecil seusia Haris bisa mempelajari aura, padahal itu bisa dilakukan ketika usianya menginjak pada keremajaan. Namun, meski perawakan Haris sudah tampak seperti orang dewasa, tetapi tetap saja dia masih berusia sepuluh tahun.


Satu hari telah berlalu.


Haris melalui malam dengan berlatih, yang sebenarnya itu dilarang oleh orang tuanya, karena anak kecil harus tidur tepat pukul 9!


Namun, demikian Haris tetap melatih aura nya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Matahari sudah terangkat sedikit, dan saat itu juga Haris langsung membuka matanya. Dia selalu terbangun ketika matahari sudah menampakkan diri, padahal matahari sudah memulai pekerjaannya di pukul 5 pagi.


'Sudah pagi, kah?' Batin Haris mencoba untuk menarik kembali kesadarannya yang terjebak di dalam alam bawah sadarnya.


Setelah itu dia membuka jendela kamarnya, dan bisa melihat pemandangan indah yang selalu dilihatnya ketika memulai kehidupan baru. Pemandangan Gunung besar yang sedikit berkabut dengan ditutupi oleh gumpalan awan putih.


Ketika melihat itu, hati Haris menjadi lebih tenang hingga membuatnya terus memandangi pemandangan tersebut. Setelah cukup lama menghabiskan waktu untuk melihat pemandangan, dia langsung pergi ke kamar mandi, seperti biasa dia akan mencuci wajahnya yang terlihat seperti baru bangun tidur.


Tetapi, pelatihan aura memang bisa terbilang seperti tidur. Karena ketika mempelajari aura, kita diharuskan untuk masuk ke dalam alam bawah sadar sendiri, yang dimana itu juga dilakukan oleh seseorang ketika sedang tidur.


Dan itu sedang terjadi kepada Haris. Setelah mencuci wajahnya, dia langsung pergi ke kamarnya Kemabli, lalu merebahkan diri diatasnya. Beberapa waktu kemudian, dia sudah tertidur pulas dengan posisi yang aneh, kaki berada di bantal, lalu kepala menjuntai di sisi ranjang dan bahkan hampir terjatuh jika kehilangan keseimbangan sedikitpun.


Setelah itu datang ibunya ke kamar Haris untuk memberitahu jika sarapan sudah siap. Namun, ketika dirinya melihat keadaan Haris, dia tersenyum tipis kemudian membenarkan posisi anaknya yang kacau.


'Kamu sudah besar…' Batin Riana merasa sedih tapi juga bahagia ketika melihat anaknya sudah tumbuh dengan sehat, dan menjadi kepribadian yang baik.


Posisi Haris sudah menjadi normal, lalu kemudian Riana pergi dari kamar anaknya, dan memilih untuk sarapan terlebih dahulu bersama dengan suaminya.


"Haris? Kemana dia?" Tanya Louis di seberang kursi Riana, dia mencari-cari keberadaan Haris, tapi tidak terlihat sedikitpun batang hidungnya.


"Dia sedang tertidur. Mungkin karena terlalu lelah berlatih aura kemarin…" Jawab Riana sambil menarik kursi makannya kebelakang, lalu menjatuhkan pantat di atasnya.


"Begitukah?" Ujar Louis sedikit sedih dengan kepala menunduk sambil memainkan makanannya.


Riana yang melihat pemandangan di depannya, hanya bisa tersenyum tipis. Karena sejujurnya, meski wajah Louis sangat menakutkan, bahkan dengan tatapan tajamnya dia bisa membuat lawan bicara ketakutan. Namun, dibalik wajahnya itu, dia memiliki kepribadian yang lembut, penyayang, serta romantis. 


"Jangan sedih seperti itu, jika Haris memilih untuk pergi, maka itu sudah menjadi pilihannya, bukan?" Ujar Riana menenangkan kesedihan Louis. "Dan lagipula anak kita harus bahagia, mungkin di luar sana dia bisa mendapatkan teman dan bahkan bisa juga kekasih?" Lanjutnya lembut.


Louis mendengarkan perkataan istrinya dengan seksama, dia juga sesekali mengangguk kecil ketika Riana mengatakan sesuatu yang ada benarnya juga. Saat sedang seperti itu, tiba-tiba tersirat ingatan masa lalu di dalam kepalanya, dia langsung tersenyum dan berkata,

__ADS_1


"Mendengar kata "Kekasih" aku langsung teringat masa lalu ketika bertemu denganmu…" Ujar Louis yang di dalam perkataannya penuh dengan rasa nostalgia.


"Aku pun begitu." Timpal Riana sambil tersenyum lembut, dan langsung mengingat kembali masa lalunya ketika bertemu dengan Louis…


Oya, aku tidak akan menceritakannya, tunggu aja ketika Riana menyatakan cinta kepadaku,. Hahaha.


Esok harinya.


Ketika sudah selesai makan hingga terus tambah beberapa kali, Haris langsung pergi ke dalam hutan sesudah izin kepada orang tuanya. Alasan dia memasuki hutan, karena ingin mencoba aura yang sebelumnya sudah ditingkatkan hingga ketingkat yang lumayan.


'Cara meningkatkan aura juga harus mencari pengalamannya. Menarik.' Batin Haris penasaran dengan kekuatannya ketika digabungkan dengan aura.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya dia bisa melihat sekelompok Monster yang sebelumnya pernah dibunuh olehnya. Haris tersenyum ketika melihat keberadaan mereka, dia sangat percaya diri bisa memenangkan pertarungan setelah mengetahui tingkat kekuatan mereka.


Namun, saat Haris hendak keluar dari persembunyiannya, dia menyempatkan diri untuk melihat jendela status milik mereka. Dan alangkah terkejut dirinya ketika melihat status mereka memiliki statistik yang dua kali lipat lebih kuat dari Monster sebelumnya.


Tetapi, dia tidak mempedulikan itu karena semuanya akan menjadi menarik.


'Mereka semua kuat? Tak masalah, tapi karena itulah semuanya akan menjadi menarik!' Batin Haris ketika melaju ke arah kelompok Monster itu.


Menyadari ada kehadiran lain, para Monster dengan serempak mengalihkan pandangannya ke arah Haris yang sedang melesat cepat sambil menyeringai.


Karena tak ingin mengambil keputusan gegabah meskipun sedang beramai-ramai, para Monster langsung mencoba menghindari serangan kejutan itu dengan melompat jauh kebelakang.


Namun, tindakan mereka tidak berpengaruh, karena Haris masih bisa menghentikan lajunya, kemudian berbelok ke salah satu dari mereka.


'Karena yang lainnya saling berdempetan, maka aku akan memilih yang ini!' Batin Haris sambil melaju kencang ke arah Monster besar yang kini sedang berdiam diri di ujung samping kiri.


Ketika pedang Haris hampir terangkat, tiba-tiba posisi para Monster langsung berubah, karena mereka mendadak berani dan langsung menerjang Haris secara serempak.


'Cih, trik ini lagi.' Batin Haris sambil menahan muak dengan trik yang sudah pernah melukainya sekali.


Seketika sebelum para Monster menerjangnya, di bilah pedang Haris tiba-tiba keluar aura berwarna biru gelap. Meski kelihatannya sangat lemah karena aura yang keluar itu sedikit, tetapi sebenarnya kekuatan yang terkandung di dalam aura nya sangat kuat, karena dia sengaja menahan aura nya agar tidak terlalu keluar banyak.


Haris langsung menghentikan gerakan kakinya, lalu memegang erat pedangnya, kemudian dia memutar tubuhnya dengan gerakan pedang yang sangat cepat.


Slash…


Tujuh kepala Monster yang sebelumnya menerjang Haris, tiba-tiba terlepas dari tubuhnya dengan darah segar muncrat dari luka yang dihasilkan, dan darah mereka mengenai tubuh Haris hingga menutupinya dengan warna merah darah.


"Sial! Kenapa aku harus bermandikan darah segar!!" Gerutu kesal Haris, kemudian menatap tajam ke arah mayat Monster di sekelilingnya, dengan kesal Haris langsung memotong semua bagian tubuh dari para mayat hingga tidak memiliki bentuk utuh. Semua itu dilakukan olehnya karena merasa kesal dengan darah yang dihasilkan oleh mereka.


Setelah melakukan semua tindakan tak bermutu itu, Haris langsung bergegas pulang dengan tubuh yang sudah bersih, karena menyempatkan diri untuk mandi di danau yang sebelumnya pernah dijadikan tempat minum olehnya.

__ADS_1


__ADS_2