Reinkarnasi Yang Mantap

Reinkarnasi Yang Mantap
Usaha Hampir Membuahkan Hasil


__ADS_3

Setelah sebelumnya satu tahun dilewati oleh Haris tanpa disadarinya, sekarang dia bisa mengakses berbagai fitur yang sudah terkunci lama, dan tentu saja itu yang membuat Haris sampai penasaran sekali.


Kini di kamarnya sendiri, Haris mencoba untuk melihat layar statusnya terlebih dahulu, dengan sangat serius dia memandangi satu persatu dari statusnya atau lebih tepatnya statistik.


[Haris Lodgradae]


Lvl: 80


Hp: 800/800


Mana: 553/553


Swordsmanship: 11%


Str: 95


Int: 75


Vit: 65


Agi: 56


Aura: 20



— Pantang Menyerah


— Teman Pedang


— Regenerasi (Rendah)


(Bisa Diakses)


Poin Sistem: 253,350 


Poin Stat: 0


Melihat statusnya Haris mengangguk puas dengan peningkatannya setelah menghadapi penyiksaan di pelatihan sebelumnya. Dia setiap hari selalu dikejar oleh Monster yang berbeda-beda, dan tentu itu meningkatkan pengalamannya dalam bertarung, tapi itu juga sangat menyimpan ingatan buruk yang membekas di dalam hatinya.


'Woah, ternyata ini bentuk statusku yang sebenarnya? Meski hanya ada satu tambahan saja sih.' Batin Haris penasaran dengan 'Poin Stat' dan tanpa pikir panjang lagi dia langsung menekan bagian tersebut untuk memperjelas tentang informasinya.


<>


Poin statistik merupakan poin yang bisa digunakan oleh pengguna untuk meningkatkan angka statistik anda yang tercantum di jendela status. 


Untuk mendapatkan Poin statistik, pengguna harus bisa meningkatkan level anda sebesar 10, dan Poin statistik yang akan diberikan sebesar 10 Poin.


Jika anda terlalu tidak sabar menunggu Poin statistik, maka anda bisa juga memakai Poin Sistem untuk dikonversikan sebagai Poin statistik.


1 Poin Stat: 100 Poin Sistem.


Informasi bisa terpampang jelas di layar biru itu, dan Haris yang melihat itu hanya bisa menghela nafas berat ketika mengetahui jika persyaratan yang diberikan agar bisa mendapatkan Poin statistik, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.


Namun, sebenarnya dia tidak memerlukan hal itu, karena Stat dia bisa terus bertambah meski tidak memakai Poin Stat. Hal itu tentu menguntungkannya, tetapi dibalik keuntungan itu dia harus melakukan sesuatu yang begitu keras, karena cara agar Stat nya naik adalah menaikan level hingga minimal 5 level.


'Hmmm, tampaknya aku tidak terlalu membutuhkan Poin Stat, tapi kurasa di masa depan aku membutuhkan itu.' Batin Haris berpikir keras, tetapi dengan segera pikirannya teralihkan oleh Fitur Shop yang sudah bisa diakses olehnya.


Seperti sebelumnya, dia langsung menekan bagian 'Shop' dengan rasa penasaran yang tinggi, dan ketika fitur itu terbuka, dia bisa melihat banyak sekali barang-barang yang dijual. 


Dari buku teknik berpedang, buku sihir, senjata, potion, pakaian, dan bahkan ada buku cerita rakyat di dalamnya. Meski itu tidak dibutuhkannya, tapi jika dilihat dari harganya yang mahal, maka bisa dipastikan jika kegunaan buku itu melebihi sampulnya.


'Apa aku harus membeli salah satu barang disini, ya?' Batin Haris kembali berpikir keras, tetapi jawaban yang didapat adalah penundaan. Ya, dia menunda untuk membeli barang-barang yang ada di dalam toko.


Setelah itu dia langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang empuk, lalu melamun sejenak hingga pada akhirnya tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Kuharap dia tidak membentuk sebuah danau yang bisa menimbulkan polusi udara.


Seminggu kemudian.


Di pagi hari yang cerah, tampak dua orang pria sedang berlatih bersama. Namun, pria yang memiliki otot dan perawakan tinggi itu hanya mengajarkan kepada anaknya tentang teknik dasar ilmu berpedang.


Ya, mereka berdua adalah Haris dengan Louis.

__ADS_1


Tak hanya Haris yang tampak serius menjalani pelatihannya, tetapi Louis juga tidak kalah serius untuk memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan oleh anaknya. Namun, dia malah tercengang ketika melihat teknik dasar yang diajarkan olehnya tampak seperti dimodifikasi hingga ketitik sempurna.


'Gerakannya begitu halus namun begitu menusuk, matanya yang terus menatap tajam ke sekitarnya membuatnya tidak akan mudah terkena serangan tiba-tiba, aku bisa berharap lebih kepadanya.' Batin Louis kagum saat sedang melihat anaknya berlatih.


Sedangkan disisi Haris, dengan kaki kiri ditarik kedepan hingga tertekuk dan kaki kanan tetap dibelakang dengan posisi lurus menyamping. Tangannya yang menggenggam erat pedangnya di angkat ke kanan hingga sejajar dengan ketiaknya, setelah itu ia melakukan serangan menusuk yang menghasilkan hembusan angin yang kuat dan bahkan bisa membuat pohon sejauh lima meter di depan menjadi bolong.


Louis yang melihat itu hanya bisa menahan rasa kagumnya, dia tercengang, tentu saja. Namun, dia tidak mengekspresikannya karena tidak ingin membuat anaknya menjadi besar kepala.


"Bagus-bagus, kamu sudah menguasai teknik dasar dari serangan menusuk, menebas, dan juga bertahan!" Ujar Louis sambil bertepuk tangan hingga membuat Haris tersenyum senang.


"Hehe… terimakasih, ayah." Ujar Haris malu-malu dengan kepala menunduk malu.


Melihat reaksi anaknya, Louis hanya bisa tersenyum tipis, "Tapi, kamu tidak boleh lengah di segala situasi. Karena…" Louis menggantung kalimatnya, lalu secara cepat tiba-tiba muncul hembusan angin besar menerpa Haris, tapi dengan segera dia menghunuskan pedangnya kembali lalu menahan serangan ayahnya.


"Apa-apaan ini, ayah…?" Tanya Haris sambil mencoba untuk menahan serangan kuat ayahnya. Namun, Louis yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, entah kenapa dia sangat menyukai reaksi anaknya yang seperti itu.


"Haah… padahal ayah ingin menakuti mu hingga terhempas jauh, tapi reaksi mu begitu menyebalkan, Haris…" Jawab ayahnya sambil menarik kembali pedang kayunya.


'Sial, serangannya begitu kuat hanya dengan melambaikan pedangnya, tanganku sampai mati rasa menahannya. Untung saja dia tidak memakai kekuatannya.' Batin Haris yang mencoba untuk tenang dengan kewaspadaan semakin ditingkatkan.


Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak, hari masih siang, jadi tidak masalah untuk melanjutkan pelatihannya.


"Haris, kenapa kamu memilih untuk menjadi Swordsman?" Tanya Louis ketika sedang duduk berdekatan dengan anaknya.


Haris menoleh, lalu kembali menatap langit sambil berkata, "Aku hanya ingin mengikuti jejak ayah, dan lagipula rasanya aku tidak terlalu menyukai Job Healer. Bukan karena apa, tapi aku hanya ingin sekali berada di depan medan perang dengan memakai mantel kuat dan pedang besar yang menghasilkan cahaya terang l." Jawab Haris dengan suara lembut serta pandangan yang tidak lepas dari langit biru itu.


Mendengar penjelasan anaknya, Louis merasa senang. Memang dia sangat senang dengan Haris yang bersedia mengikuti jejaknya, tapi yang membuatnya sangat bahagia adalah harapan Haris yang ingin memakai mantel kuat saat mengikuti perang.


'Syukurlah dia masih memiliki sifat yang biasanya dimiliki oleh anak-anak seusianya.' Batin Louis bersyukur.


"Ayah yakin kamu pasti bisa menggapai itu." Ujar Louis sambil perlahan bangkit dari posisi duduknya.


"Baik." Jawab Haris begitu tegas namun tidak terlalu tinggi.


"Tapi, kamu tidak akan pernah bisa menggapai mimpimu itu, kalau kamu terus bermalas-malasan. Mari, kita mulai latihan selanjutnya?" Ujar Louis dijawab dengan anggukan kecil.


"Baiklah, mulai saat ini kamu harus mengangkat batu besar itu di punggungmu sambil berjalan menaiki gunung." Perintah Louis membuat Haris merasa terkejut, bahkan tangannya sangat gemetar hebat.


"A-ayah… i-itu… bukankah memiliki berat satu ton…?" Haris merasa tidak percaya dengan ayahnya yang begitu bengis dalam hal memberikan pelatihan seperti ini.


"Tenang saja, kamu itu memiliki fisik seperti ayahmu ini. Lihat saja, anak seusia mu tidak akan pernah memiliki fisik layaknya orang dewasa, kecuali kamu sendiri." Ujar ayahnya mencoba menenangkan kekhawatiran anaknya.


Yang dikatakan oleh Louis merupakan kebenaran, karena entah kenapa Haris memiliki perawakan yang mirip seperti orang dewasa pada umumnya, padahal dia baru saja menginjak usia yang ke sepuluh tahunnya.


'Memang benar, tapi tetap saja, orang dewasa mana yang siap menerima pelatihan seperti itu. Bahkan biarawan saja tidak berani menerima tantangan itu, aku yakin.' Batin Haris sambil melihat batu besar di depan sana.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia langsung menerima pelatihan itu dan dengan segera dia mengangkat batu besarnya lalu di simpan di punggungnya dengan tangan yang masih mengontrol keseimbangan batu tersebut agar tidak terjadi hal-hal membahayakan. 


Kemudian dia langsung berjalan menuju gunung dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk serta kepala yang selalu mendongak untuk melihat jalan.


Berbeda dengan Haris yang sedang berusaha keras untuk melakukan pelatihannya, Louis yang sedari awal berdiam diri di tempatnya tanpa bergeming menatap kaku ke arah anaknya dengan ekspresi tercengang.


'Sial, padahal aku hanya bercanda!' Batin dia seolah tidak percaya dengan kekuatan anaknya yang kini sudah sampai di kaki Gunung.


Setelah itu, hari demi hari berlalu dengan pelatihan yang masih sama. Tidak ada terjadi sesuatu yang berbahaya, karena Louis selalu berada di dekatnya sambil menyembunyikan keberadaannya, dia pikir dia harus meringankan beban anaknya dengan membunuh para monster yang hendak menyerangnya.


'Aku merasa bersalah padamu, nak…' Batin Louis tampak murung karena telah melakukan hal kejam kepada anaknya sendiri.


Namun, pemikirannya itu tidak berguna, karena Haris senantiasa melakukan semua itu jika jaminannya akan membuat dia menjadi kuat. Bahkan melakukan pelatihan seberat itu, dia masih tahan hingga pada akhirnya pelatihannya berhenti ketika Haris berhasil mencapai putaran kedua puluh.


Kini dia sedang melakukan peregangan, karena punggung dia terasa sangat encok karena pelatihan sebelumnya. Dan setiap dirinya melakukan pergerakan, tulang punggungnya akan berbunyi *Krak… hingga beberapa kali.


Meski rasanya seperti orang yang sudah sepuh, tapi jika mengabaikan itu, sejujurnya dia merasakan kenikmatan pada saat tulangnya berbunyi seperti sebelumnya. Rasanya seperti sembuh dari impoten.


Tapi, dengan pelatihan itu, kekuatan fisiknya mulai bertambah banyak, bahkan Haris saja sampai tercengang melihatnya.


[Haris Lodgradae]


Lvl: 86


Hp: 1560/1370

__ADS_1


Mana: 620/620


Swordsmanship: 11,05%


Str: 126


Int: 80


Vit: 83


Agi: 56


Aura: 34



— Pantang Menyerah.


— Teman Pedang.


— Regenerasi (Sedang)


— Peningkatan Fisik.



Poin Sistem: 253,950


Poin Stat: 0


'Dengan kekuatan seperti ini, aku yakin bisa mencapai impianku mejadi seorang Swordmaster.' Batin Haris ketika melihat jendela statusnya, dia sangat bahagia, tapi disisi lain berpikir jika jalannya masih panjang dan pastinya penuh lika-liku.


Setelah memandangi jendela statusnya cukup lama, ia pun langsung membasuh tubuhnya, karena memang sedari awal dia berada di kamar mandi. Namun, saat hendak membasahi tubuhnya, tiba-tiba otaknya menyuruh dia untuk melihat perkembangannya.


Cukup waktu lama dihabiskan oleh Haris hanya untuk mandi saja, dia lebih banyak memakan waktu dengan melamun tanpa alasan pasti. Namun, setelah itu dia keluar dengan handuk menutupi pinggang hingga atas lututnya, sehingga bisa memperlihatkan ukiran otot tahu di perutnya.


Esok harinya.


Haris saat ini sedang melihat ayahnya mengambil ancang-ancang untuk memukul pohon besar dihadapannya dengan tangan kosong. Memasang kuda-kuda bertarung, kaki dibuka lebar dengan pundak yang sedikit turun. Tangannya di simpan di atas pinggulnya sambil mengumpulkan tenaga.


Setelah itu Louis langsung melayangkan satu serangan terlebih dahulu, awalnya memang ayunan tangannya terlihat lemah, tapi setelah mengenai kulit pohonnya tiba-tiba muncul angin kuat bahkan hampir menerbangkan Haris yang awalnya tidak berpikiran akan terjadi hal ini.


Tak cukup satu kali, meski pohon di depannya sudah lubang seukuran tubuh manusia, tapi Louis menambahkannya lagi dengan melayangkan satu pukulan tangan kiri yang saat ini tenaganya lebih kuat dari pukulan sebelumnya.


Pukulan hebat terjadi, lubang di pohon besar itu semakin melebar dan bahkan hanya menyisakan beberapa inci di setiap sisi nya. Namun, sebelum Haris bertepuk tangan karena terpukau, tiba-tiba ayahnya menyuruh dia untuk segera berlari menjauh beberapa meter.


Tanpa pikir panjang dia langsung menurutinya dan langsung berbalik lalu berlari mengikuti ayahnya yang sudah kocar-kacir di depan. Dan pada saat dia sedang berlari, tiba-tiba muncul angin hebat menerjang ke arahnya.


Pada saat Haris menoleh kebelakang, bisa terlihat pohon besar yang sebelumnya di pukuli oleh Louis, kini sedang melakukan terjun bebas.


'Tak disangka pohon itu bukan hanya besar, tapi tinggi juga.' Batin Haris saat melihat pohon dibelakangnya hampir menimpanya. Namun, dengan responnya yang cepat, dia secara tidak sadar sudah melompat kedepan sehingga bisa menghindari timpaan pohon besar tersebut.


Setelah dirinya selamat, dia langsung menoleh ke arah ayahnya yang kini sedang terkesima dengan pemandangan di depannya. Namun, Haris yang sudah terlanjur emosi malah berteriak.


"Ayah! Apa yang ayah pikirkan hingga membuat pohon besar seperti itu menjadi tumbang!? Lihat, pohon itu menimpa banyak sekali pohon!!" Tegur Haris menghilang kesenangan ayahnya.


"Hehehe… ayah terlalu bersemangat ingin menunjukkan betapa kuatnya ayahmu ini, Hahah—?" Sebelum dia tertawa lepas, tiba-tiba kepalanya mendadak tersungkur.


Haris mendadak tersenyum ketika melihat ibunya sedang memegang batu besar dan dengan sengaja dia menimpanya kepada Louis. Meski itu tidak terlalu berdampak besar untuknya, tapi Haris tetap merasa senang dengan tindakan ibunya.


"Ibu! Ayah ingin menimpaku dengan pohon besar itu!!" Teriak Haris yang tiba-tiba, membuat terkejut Louis serta Riana.


"Apa!?" Riana berteriak hebat, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Louis yang masih terkapar dengan wajah memucat.


"Ah, eh, ya… tadi itu kamu tau, hehe maafkan aku…" Ujar Louis ingin menjelaskan sesuatu, tapi tidak bisa karena istrinya sedang mengepalkan tangan dengan aura hitam pekat terpancar dibelakangnya.


Dan setelah itu, teriakan kesakitan Louis terdengar menggelegar di dalam hutan hingga membuat para hewan menjadi berlarian kocar-kacir karena takut dengan predator.


Sedangkan untuk Haris, dia tetap mencoba untuk bersandiwara seolah sedang ketakutan sehingga bisa membuat amarah ibunya semakin meningkat, dan setiap pukulan lemah yang dihasilkan oleh tangan ibunya ke tubuh Louis, membuat perut Haris menjadi tergelitik hebat.


---------------

__ADS_1


Keasikan nulis, tiba-tiba tulisan udah seribu kata lebih, malahan mencapai dua ribu. Padahal tujuan saya satu bab seribu kata, tapi ya sudahlah ga salah juga.


Ngomong-ngomong terimakasih sudah mendukung saya, entah kenapa rasanya seneng banget di dukung seperti itu. Hahaha!


__ADS_2