Reinkarnasi Yang Mantap

Reinkarnasi Yang Mantap
Latih Tanding


__ADS_3

Di dalam ruang makan, tampak ada tiga orang sedang melakukan malam malam dengan sunyi, tetapi setelah itu suasana menjadi mencair dengan beberapa pembahasan yang selalu dilontarkan oleh ketiga orang itu secara bergantian.


Namun, semua itu terhenti ketika seorang pemuda, yaitu Haris mengajukan permohonan latih tanding dengan ayahnya, Louis. Mereka awalnya khawatir karena anaknya terlalu terburu-buru, apalagi latih tanding itu memang nama nya saja begitu, tapi sebenarnya latih tanding merupakan kegiatan yang saling menguji kekuatan satu sama lain tanpa sedikitpun mengalah.


"Apa kamu yakin, nak? Meski aku ini ayahmu, tapi aku tidak akan segan-segan, loh?" Ujar Louis dengan sedikit ancaman.


Namun, Haris yang mendengar itu tetap tidak bergeming, dengan mata tajam menatap intens Louis, dia berkata, "Aku sudah besar ayah, dan kekuatan ku sudah meningkat pesat, harusnya aku yang lebih khawatir kepada ayah karena sekarang tulangnya sudah encok. Puahahahaha!" Intonasinya tiba-tiba berubah, dan itu membuat ayahnya tertawa kecut karena sudah ditertawakan oleh anaknya.


"Cih, kamu kira ayah akan menyerah?" 


"Memang benar, bukan? Lagipula ayah sudah, "Aduh, aduh, sayang tolong pijat aku, tulangku sudah encok…" Pfft, hahahaha!!" Haris semakin memprovokasi ayahnya dengan menirukan gaya Louis yang sebelumnya pernah terkena encok.


Melihat tingkah laku anaknya, Riana terkekeh, tapi berbeda dengan Louis yang menahan amarah dengan mengepalkan tangannya kuat.


"Anak ini…!!" Kesal Louis, "Baiklah! Ayah akan melawan mu minggu depan, sementara itu jangan lengah, oke!?" Ujar ayahnya, kemudian pergi ke kamar entah untuk alasan apa. Namun, tak lama kemudian dia sudah keluar dengan memakai mantel tebal.


"Kamu akan kemana, ayah?" Tanya Haris ketika tidak sengaja melihat ayahnya hendak untuk keluar rumah.


Mendengar suara di belakangnya, Louis langsung mematung dengan bulir-bulir keringat mulai membasahinya, dia yakin apabila dirinya berkata jujur, maka anaknya akan menertawakan nya dengan sedemikian rupa.


"Ayah hendak ke gudang." Jawab Louis mencoba tenang.


Sedangkan untuk Haris, dia hanya menatap ayahnya dengan senyuman tipis terpampang di wajahnya. "Baiklah, hati-hati latihannya, nanti tidak bisa melakukan latih tanding!" Ujar Haris berteriak keras karena ayahnya sudah berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu jawabannya.


'Sialan.' Batin Louis merasa terhina.


Satu Minggu kemudian.


Di arena yang cukup besar, tampak banyak sekali warga desa yang berkumpul memenuhi arena tersebut dengan berdesak-desakan. Alasan mereka hingga rela seperti itu, dikarenakan akan ada pertunjukan latih tanding dari ayah dan anak. Dan juga mereka merupakan keluarga kepala desa, entah kenapa Louis dipilih menjadi kepala desa selanjutnya oleh para warga.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tokoh utama mulai memasuki arena dengan zirah kulit menutupi tubuh mereka, dan tak lupa juga salah satu dari mereka memegang satu pedang kayu yang memiliki panjang sekitar 80 cm.


Mereka memasuki arena, kemudian saling membungkuk pertanda salam. Dan lalu setelah itu, sebelum melakukan pertarungan, mereka sempat mengobrol satu sama lain.


"Hei nak, ayah sudah mengembalikan kekuatan ayah, loh?" Ujar Louis dengan senyuman menyebalkan.


"Hmm, ya? Oke, mungkin ayah memang sudah mengembalikan kekuatan ayah, tapi tidak dipungkiri bahwa ayah itu sudah berusia 48 tahun." Jawab Haris dengan datar.


"Memang apa masalahnya kalau ayah sudah tua?" Tanya Louis heran.


"Mungkin sudah menjadi lemah?" Jawab Haris meledek ayahnya.

__ADS_1


Mendengar ejekan dari anaknya, Louis hanya bisa tersenyum kecut karena tidak terasa anaknya sudah semakin tumbuh besar, sehingga bisa memprovokasi dirinya.


"Kamu memang anak ayah yang tersayang, tapi sebagai orang tua, ayah harus mendidik mu lebih keras lagi!" Louis langsung menerjang ke arah Haris yang sudah dalam posisi siap tempur.


Saat posisinya sudah semakin dekat dengan anaknya, Louis langsung melancarkan serangannya dengan kuat serta cepat. Namun, begitu pula dengan Haris yang sudah menunggu serangan tersebut, dia tersenyum lalu mengangkat pedangnya ke atas kepalanya untuk menahan serangan ayahnya.


"Mendengar ayah mengatakan itu, aku merasa tersanjung. Namun, akan ku kalahkan ayah dengan hasil dari penyiksaan mu!" Setelah mengatakan itu, Haris langsung mendorong pedang Louis, dan kemudian dia menyerangnya dengan tebasan di segala sisi.


Louis yang sempat kehilangan keseimbangan langsung memaksa dirinya untuk melompat, kemudian melancarkan tendangan memutar yang bertujuan membuat pingsan anaknya dengan tendangan mengenai kepalanya.


Mereka tidak mengatakan apapun, tapi keseriusan mereka sangat tinggi seakan bukan anak dan ayah, melainkan seorang rival yang sudah lama tidak bertemu. 


Dengan reaksinya yang sudah dilatih menjadi super cepat, Haris langsung menahan tendangan memutar dari ayahnya dengan cara menyilangkan tangannya untuk menahan tendangan itu.


*Dugh…


Terdengar dentuman keras dari serangan itu, dan tentu saja membuat posisi Haris menjadi tergeser sangat jauh karena tendangan ayahnya. 


'Ayah memang sangat hebat.' Batin Haris memuji ayahnya karena bisa membuat tangannya hampir mati rasa hanya karena tendangannya.


Setelah itu Haris mengangkat pedangnya yang sempat ia simpan di pinggul ketika hendak menerima serangan ayahnya. Tanpa basa-basi lagi Haris langsung menerjang ke arah ayahnya yang sedang berdiam di tempat, lalu perlahan muncul aura keluar dari pedang kayunya hingga lambat laun menjadi membesar.


Mereka berdua terlihat imbang, dengan saling bertukar peran antara menahan atau menyerang, dan semua itu tampak sangat menegangkan bagi para penonton yang sekarang sudah membaik karena tidak merasakan tekanan dari kekuatan mereka berdua. Berterimakasihlah kepada para penyihir yang berada di desa, karena telah memasang barrier yang mampu melindungi para penonton.


Berbeda dengan para penonton, bagi mereka berdua pertarungan dahsyat itu sangat mengasyikkan. Apalagi untuk Louis yang pada akhirnya bisa merasakan kesenangan dalam bertarung setelah sekian lama.


Namun, karena mereka seperti itu, bukan berarti mereka akan lengah. Karena selama ini Haris dan Louis tidak bisa menembus pertahanan satu sama lain.


Di sela-sela pertarungan, Haris membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.


"Ayah, tolong jangan tahan kekuatanmu! Kemana kehormatanmu sebagai seorang Swordsman!" Ujar Haris menantang Louis lebih dalam.


Mendengar ocehan anaknya membuat Louis terpaksa untuk tidak tersenyum. "Apa kamu yakin, Haris?" Tanya Louis dengan tekanan yang hebat.


'Hebat, hanya berbicara saja sudah menghasilkan tekanan berat seperti ini. Aku hampir sulit untuk bernafas.' Batin Haris tidak tahan untuk menahan tekanan yang dihasilkan oleh aura ayahnya.


Melihat anaknya yang masih belum serius, Louis langsung berdecak kesal, lalu berkata, "Haris, dimana kamu simpan kehormatanmu sebagai Swordsman? Di tempat sampah? Kalau seperti itu si—" Belum menyelesaikan kalimatnya, Louis tiba-tiba dikejutkan dengan aura biru gelap yang merembes keluar dari tubuh anaknya.


'Ini gila… selama ini dia menyimpan aura sepekat dan sebesar ini? Aku tidak menyadarinya.' Batin Louis sedikit melebarkan matanya, tapi meskipun dirinya merasa terkejut, dia tetap memperlihatkan kewibawaan sebagai ayah sekaligus kepala desa.


Haris yang awalnya hampir berlutut, kini mulai bangkit secara perlahan. Dia mendongak menatap ayahnya sambil berkata, "Apa ini sudah cukup, ayah…?" Ujar Haris memberikan kesan yang aneh sekaligus menakutkan, karena anak yang sebelumnya murah senyum, kini sedang memasang ekspresi menakutkan dengan seringai jelek terpasang di wajahnya.

__ADS_1


Semua orang merinding melihat penampakan itu dimana aura pekat dari dua orang yang bahkan memiliki status keluarga kini sedang beradu, dan juga dampak yang diberikan bukan hanya tekanan berat, tapi tanah-tanah disekitar mereka mulai pecah-pecah lalu hancur. Tetapi untung saja barier nya aman, dan tidak mengalami kerusakan.


"Ini baru anakku." Ujar Louis menyombongkan anaknya dengan penuh senyuman. Namun, seketika itu kesenangan itu berubah menjadi keseriusan, ketika anaknya mulai melancarkan serangan selanjutnya.


Tak… Tak… Tak…


Dentuman yang dihasilkan oleh pedang kayu mereka lambat laun semakin membesar dan mengganggu pendengaran para penonton, sehingga mereka terpaksa untuk menutupi telinga mereka menggunakan tangan masing-masing.


Di tempat lain.


Di halaman rumah, tampak seorang wanita sedang duduk di kursi dengan raut wajah khawatir menunggu kedua orang pria yang saat ini sedang melakukan latih tanding.


Ya, benar. Wanita itu adalah Riana yang memutuskan untuk tidak menonton latih tanding mereka, karena merasa tidak tahan jika harus menonton orang tersayang sedang bertarung seperti itu, meski hanya sekedar latihan saja.


'Awas saja jika Haris mendapatkan luka dari serangannya, maka akan ku siksa dia dengan perabotan rumah!' Batin Riana ketika membayangkan anaknya pulang dalam keadaan terluka.


Kembali ke tempat arena yang kini menampakkan pertarungan semakin sengit.


Meski begitu, sekarang pertandingan sudah mulai memasuki menit-menit akhir, karena mereka berdua sudah mendapatkan luka lebam di tempat yang berbeda-beda.


"Cih, jika seperti ini akhirnya, maka aku harus mengeluarkan kekuatan penuh." Ujar Haris penuh tekad dengan bersiap-siap untuk mengeluarkan serangan penuh kepada ayahnya.


Louis tetap menyerang dia tanpa ampun, tapi Haris menghindari semuanya karena sedang dalam kondisi siaga sebelum melakukan serangan terakhir. 


Pada akhirnya terdapat jeda dari serangan Louis yang membuat Haris tersenyum tipis, karena inilah momen yang ditunggu-tunggu olehnya. Dan butuh beberapa detik, tiba-tiba pedang kayunya mengeluarkan aura biru gelap yang semakin pekat, dan itu keluar secara besar-besaran.


Louis yang melihat itu membelalakkan matanya, kemudian mundur dengan cara melompat. Haris yang merasa ayahnya sedang dalam kondisi kurang siap, langsung menerjang ke arahnya lalu mengayunkan pedangnya secara horizontal.


Ketika pedang berayun, aura yang sebelumnya tersimpan langsung merembes keluar dengan cepatnya, dan menyebabkan efek slash yang panjang sekali. Dia cukup yakin ayahnya tidak bisa lari kemana-mana, karena kekuatannya sangat besar dan cepat.


Namun, pemikirannya terlalu naif dan angkuh untuk menilai situasi, karena pada saat itu juga Louis yang ujung hidungnya hampir terkena tebasan, tiba-tiba menghilang lalu muncul di belakang Haris dengan tangan memegang pedang kayu terangkat ke atas, dan langsung mengayunkannya tepat ke batang leher anaknya.


Trakk…


Tulang Haris langsung patah ketika menerima serangan tersebut, dan membuatnya pingsan di tempat. Sedangkan untuk serangan horizontal nya berakhir menghantam Barrier hingga membuatnya menjadi retak.


"Wooaah!!" Seakan tidak peduli dengan tindakan yang telah dilakukan oleh Louis terhadap anaknya, para penonton bersorak bahagia meski ada rasa kagum dan simpati kepada Haris yang sudah berjuang semaksimal mungkin.


Berbeda dengan penonton, Louis yang kini sedang berjongkok di dekat tubuh Haris memasang wajah panik dan ketakutan, karena telah melewati batas dalam melayangkan serangan.


'Aku terlalu terbawa suasana! Matilah aku, matilah aku, matilah aku!!' Batin Louis ketakutan sambil membayangkan istrinya yang sedang memarahinya.

__ADS_1


__ADS_2