
Semakin hari kondisi Valeri semakin kritis. Kulitnya mulai mengelupas hingga ia tampak seperti sebuah bayangan.
Andro segera menutupi seluruh tubuh gadis itu agar ia tetap bisa melihatnya.
"Maafkan aku Val, karena kecerobohan ku, kamu jadi seperti ini," ucap Andro menangis tersedu-sedu sambil memegangi lengan Valeri
"Aku berjanji akan menemukan pedang itu dan membuatmu sembuh seperti sedia kala,"
Ia kemudian mengusap lembut kening Valeri dan pergi meninggalkannya.
Hari itu Andro berjanji untuk menemukan Nana. Ia yakin akan menemukan pedangnya jika berhasil menemukan gadis itu.
Namun hingga malam tiba, ia tetap tak berhasil menemukan gadis itu.
Saat ia tak yakin akan menemukan pedangnya. Andro pun menuju ke sebuah kuil. Pemuda itu kemudian duduk bersimpuh dan berdoa.
"Wahai Dewa yang Agung, andai saja aku tak bisa menemukan pedang itu maka berikanlah kesembuhan kepada Valeri. Janganlah kau menyiksanya dengan rasa sakit yang membuatnya tak berdaya. Dia adalah seorang Dewi yang baik jadi ampunilah kesalahannya dan sembuhkan penyakitnya. Atau jika aku memang tak ada harapan lagi maka angkatlah ia kembali ke kayangan agar aku tidak melihatnya kesakitan lagi," ucap Andro pasrah
Saat Andro benar-benar pasrah dengan nasibnya, ia melihat segerombolan para pemburu sedang menyiksa seorang gadis kecil di luar kuil.
Gadis itu tampak bersujud dan meminta ampun, namun para pria itu tetap saja merisaknya hingga ia babak belur.
Tubuhnya terhempas ke depan pintu kuil hingga ia bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Nana?, bukankah itu dia!" pekik Andro begitu bahagia
Tentu saja ia sangat bahagia saat bisa melihat wajah Nana lagi. Karena ia yakin Nana akan membantunya menemukan pedangnya yang hilang.
"Terimakasih Dewa karena telah mengabulkan permohonan ku kali ini," ucap Andro mengakhiri doanya
"Dasar penipu, kau pikir bisa lolos setelah menipuku!" hardik Clint kemudian menyeret gadis kecil itu dan melemparnya kepada teman-temannya.
Kembali para Pemburu itu bergantian memukuli Nana hingga gadis itu jatuh lunglai tak berdaya.
"Hentikan!" seru Andro buru-buru berlari menghampiri mereka
Nana mencoba membuka matanya untuk melihat siapa yang datang membelanya.
"Andromeda," seketika air matanya menetes membasahi pipinya yang dipenuhi luka lebam.
"Wah, tidak ku sangka Sang pemilik pedang datang untuk menyelamatkan si penipu!" cibir Clint
"Bertahanlah Nana, aku akan menyelamatkan mu," ucap Andro segera menggendong gadis itu dan memindahkan kedalam kuil
"Apa kau begitu naif dan bodoh sampai rela menolong seorang pencuri yang sudah mencuri pedang milik mu!" seru Clint membuat Andro membelakakan matanya
Andro menatap lekat Nana yang pingsan dengan tubuh yang di penuhi luka.
__ADS_1
"Apa benar kau yang telah mencuri pedang ku," ucap Andro tak percaya
Ia benar-benar tak mengira jika gadis kecil yang begitu polos seperti Nana akan tega mencuri pedang miliknya.
Meskipun ia sedikit kecewa dengannya, namun sebagai seorang yang selalu hidup kekurangan Andro bisa mengerti kenapa Nana melakukan itu pada. Ia pun berusaha berpikir positif dan tidak menyalahkan gadis itu sepenuhnya.
"Meskipun ia sudah mencuri pedang milik ku tapi aku tidak akan membiarkan kalian menyiksanya!" seru Andro menatap tajam Clint dan teman-temannya.
"Dasar munafik, itulah kenapa kau begitu mudah di tipu oleh pencuri kecil itu. Pantas saja Klan Punggawa mengeluarkan mu dari Klan mereka, ternyata ini alasannya," tukas Clint membuat Andro semakin kesal karena Lelaki itu mengungkit masa lalunya.
Ia mengepalkan tangannya dan melepaskan tinjunya kearah Clint hingga darah segar menyembur daru mulutnya.
Melihat ketua mereka di hajar oleh Andromeda, teman-teman Clint segera merangsek maju menyerang Andro.
Andro berusaha menghindari setiap serangan mereka. Andro benar-benar kewalahan menghadapi puluhan pemburu sekaligus. Meskipun ia berhasil menghindari setiap pukulan mereka tetap saja ia bisa saja mati jika terus menghindar tanpa menyerang mereka.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan agar bisa mengalahkan mereka," batin Andro
"Pusatkan konsentrasi mu dan yakinlah jika kau akan bisa mengalahkan mereka dengan kekuatan kasih yang kau miliki,"
Tiba-tiba Andro melihat Valeri berdiri di depannya memberikan sebuah petuah bijak padanya.
"Hmm," iapun mengangguk dan segera memejamkan matanya.
Para pemburu itu seketika menertawakannya, mereka mengira jika Andro merasa frustasi karena tak bisa menyerang mereka. Ia menyangka Andro sudah pasrah dengan apa yang akan menimpanya.
Para pemburu itu segera menghunuskan pedangnya kearah pemuda itu.
*Tap, tap, tap!
Mendengar derap langkah kaki mendekat kearahnya, Andro pun segera membuka matanya.
"Inilah saatnya menggunakan kekuatan sihir yang ku pelajari kemarin," ujar Andro
Ia kemudian menggerakkan tangannya dan mengarahkannya kepada para pemburu itu.
"Kilat Api!"
Sebuah bara api melesat dari telapak tangan pemuda itu dan membakar tubuh para pemburu.
"Api, api!!" seru mereka berusaha memadamkan api di tubuhnya
Melihat rekan-rekannya terbakar, Clint segera mundur.
Lelaki itu tampak mengamati teman-temannya yang berguling-guling di tanah untuk memadamkan api dalam tubuhnya.
Namun bukannya padam Api itu semakin membesar saat menyentuh tanah hingga menghanguskan tubuh mereka.
__ADS_1
"Sihir apa ini, kenapa aku belum pernah melihatnya," tukas Clint dengan wajah kebingungan
Meski begitu ia tetap menghunuskan pedangnya dan menyerang Andromeda.
Andro meliuk-liuk tubuhnya menghindari tebasan pedang musuhnya. Ia tahu jika Clint adalah pemburu level 3 yang memiliki ilmu pedang yang cukup berbahaya.
Ia bahkan mampu menghindari setiap serangan sihir darinya.
Tak mau kalah dari pria itu Andro mengambil segenggam tanah dan melemparnya kearah Clint.
Lelaki itu seketika menjatuhkan pedangnya karena matanya tak bisa melihat. Andro menggunakan kesempatan itu untuk mencari informasi tentang pedangnya.
Ia yakin jika Clint mengetahui dimana pedangnya berada.
Benar saja setelah Andro mengancam akan membunuhnya Clint kemudian memberitahu dimana ia membuang pedang itu.
Sambil menggendong Nana Andro berlari menyusuri Hutan menuju ke sebuah gubuk tua seorang pandai besi.
Ia begitu senang saat berhasil menemukan pedangnya yang nyaris akan di hancurkan oleh seorang pandai besi.
Ia kemudian menebus pedang itu dengan 5 koin emas dan membawanya pulang.
"Kenapa kau mencuri pedang ku?" tanya Andro kepada Nana yang mulai sadar
"Karena aku butuh uang,"
"Jika kau butuh uang kenapa kau tidak meminta kepada ku saja, kau tidak perlu mencuri ataupun menipu orang lagi karena itu bisa membahayakan nyawamu!" seru Andro tampak kecewa
"Kau benar, tapi apa kau akan terus meminjami aku uang saat aku membutuhkannya?" tanya Nana membuat Andro terdiam sesaat
"Tentu saja tidak, karena kau hanya seorang pemburu miskin yang tidak jauh beda denganku. Hanya saja kau lebih beruntung karena memiliki seseorang yang peduli denganmu. Itulah sebabnya aku tidak bisa tergantung pada orang lain dan harus bekerja sendiri untuk menghidupi diriku sendiri," imbuh Nana
"Maaf jika sudah membuatmu kecewa, dan dengan ini aku pun akan mengundurkan diri sebagai pendukung mu. Terimakasih atas kebaikan mu selama ini," ujar Nana kemudian meninggalkan Andromeda
Adro gak bisa menahan keinginan Nana, iapun memilih pulang untuk melihat kondisi Valeri.
Setibanya di rumah ia merasa senang karena demam Valeri sudah turun.
Gadis itu kemudian meminta Andro untuk menjaga pedangnya baik-baik.
Karena pedang itu adalah jiwa Valeri maka kekuatan pedang itu tak akan berfungsi jika digunakan pemburu lain.
Kini Andro mulai mengerti jika pedang tersebut tidak bisa digunakan oleh orang lain selain dirinya. Ia pun berjanji kepada Valeri untuk menjaga pedangnya baik-baik.
Valeria pun sembuh dan meminta Andro untuk menjauhi Nana. Dari cerita Andro wanita ia bisa menyimpulkan jika Nana adalah gadis berbahaya.
Namun Andro bersikeras untuk tetap menjadikan Nana sebagai pendukungnya apapun yang terjadi.
__ADS_1