
"nai udah" tanya ana
aku hanya menganggukan kepala
"na sal ada yang mau aku bahas dan ini penting" kataku
"apa nai" kata faisal
"kayanya aku gabakal kesini lagi untuk sementara waktu" kataku
"apahhhh" ana tersentak kaget
"selow aja kali jawab nya" kata faisal
"na kalo bener kamu mau pindah gw sih setuju2 aja mungkin dengan begitu akan bisa lupain abang gw" sambung nya
"iyah sal makasih"
sementara itu ana hanya terdiam menatap kosong sahabat nya itu
"na kamu kenapa" kataku
lalu tiba tiba ana memegang pundaku
"ini semua ga bener kan nai lo ga bakal pergi ninggalin kita" ucap ana memastikan
aku sebenarnya tak ingin membuat teman2 ku yang berada disini merasa sedih tapi aku butuh waktu untuk melupakan semua kejadian ini
rasanya setiap detik yang kurasakan didesa ini begitu pedih dan mengiris ngiris hatiku membuatku teringat terus pada jefri
aku benar benar mencintainya tapi takdir berkata lain dan aku juga tak bisa memaksakan nya
mungkin memang sedari awal aku dan jefri hanya ditakdirkan untuk bertemu bukan bersatu
"nai" ujar ana menyadarkan ku dari lamunan ku
"ko bengong" katanya
"gapapa ko na aku serius maafin aku yah tapi tenang aja kita masih akan saling ngasih kabar satu sama lain kan ada handphone" ujar ku dengan perasaan menyesal karna telah mengecewakan teman teman ku
"yaudah naira lo hati hati jaga diri ntar disana gw pasti bakal rindu banget sama besty gw yang satu ini yg doyan banget bikin panik masuk keluar hutan" katanya
"haha iyah na aku juga kayanya bakal kangen main sama kalian disini" aku jadi teringat beberapa tahun lalu aku bermain bersama mereka
kami berjalan bersama ketika sampai dipersimpangan aku pun melangkan kaki ku yang arah rumah yang berlawnan dengan ana dan juga faisal
Ketika berjalan langkah ku pelan seolah aku lemas dengan semua yang terjadi beberapa hari ini
ketika sampai dirumah aku langsung duduk disofa
"tumben pulang jam segini" kata bibi
"iyah bi aku abis pamit ke temen temen" kata ku langsung memberitahu
"kamu bener bener ga kesini lagi naira kalo sudah bekerja" kata bibi
"liat ntar aja bi" kataku tak tau pasti dengan apa yang akan terjadi kedepan nya
sementara itu disisi lain ketika sudah sore hari
nampak faisal yang tengah menenangkan ana yang sedang menangis dipinggir jalan
roy pun melihat pemandangan tak biasa itu dari kejauhan
dan menghampiri nya
"tumben lo nangis" kata roy tanpa merasa bersalah
"suttt" kata faisal sembari memegang telunjuk dibibir nya memberi kode agar roy tak mengusik ana
"emang dia kenapa" tanya roy peasaran
"dia sedih soalnya si naira katanya..." terhenti
__ADS_1
"katanya apa" sahut roy penasaran
apalagi yang menyakut naira dia benar benar selalu ingin tau
"dia katanya ga bakal kesini lagi kalo libur akhir tahun" lanjut faisal menjelas kan
roy nampak terkejut karna dia selalu menanti kedatangan naira yang terasa amat lama bagi nya yaitu setahun sekali
lantas roy pun ikut tumbang ketika mendengar kabar itu
faisal yang melihat nya sudah tau jika roy menyukai naira sedari awal
tak terasa hari menjelang malam tiba tiba ada satpam setempat yang lewat
"eh kalian malem malem kenapa diem pinggir jalan" ujar satpam itu
"gapapa ko pak mereka cari angin seger aja hehe" kata faisal agar tidak dicurigai
"kal pak hansip abis dari mana" tanya faisal sembari garuk garuk kepala yang tak gatal
"bantu ngemas barang dirumah temen kalian siapa itu ya yang tinggal sama paman bibi nya" ujar nya terus terang
ketika mendengar nya mereka bertiga terkejut apalagi roy
mereka pun bergegas pergi menuju rumah naira berlarian
ketika disana mereka menjumpai seorang gadis yang menggendong ransel nya serta kotak kotak yang berisikan barang yang hendak dimasukan kedalam mobil
nampak gadis itu terkejut melihat ketiga nya yah siapa lagi jika bukan ketiga teman nya faisal roy dan diana
"kalian kenapa disini" tanya naira
lantas ana pun memeluk sahabat nya itu
"jangan pergi naira" sahabat nya yang terbiasa memanggil nai itu tiba tiba saja memanggil nama lengkap nya
dia menangis sesegukan
pemandangan yang menyedihkan itu dilihat oleh paman dan bibi nya naira juga
lantas ana pun melepaskan pelukan nya
"yah iyah besty nya pergi masa ga sedih" ujar nya
faisal mengusap ngusap pundak ana agar dia lebih tenang
"diem njir malu maluin ingus lu keluar" jata faisal tanpa ragu
"dih apaan sih lo kera orang gw lagi sedih" ujar ana
faisal ketika dihadapan naira adalah sosok yang kalem tetapi ketika bersama yang lain dia adalah orang yang bar bar apalagi ketika berada didekat ana seolah dia tak bisa tahan jika sehari tak mengusili nya
sementara itu roy yang sedari tadi diam dia mulai membuka suara
roy menarik tangan naira
"ikut gw" naira yang ditarik nya merasa terbawa begitu saja
"roy mau kemana" tanya naira
roy diam saja dia menarik nya kesamping rumah bagian lain
agar tak dilihat oleh yang lainya
ketika berhenti dan tak terlihat dia pun menatap naira
"nai gw ga sempet bilang tapi gw curahin segala yang pengen gw bilang dikertas ini tolong baca ya" katanya
"iyah roy" ujar naira sembari mengambil kertas yang nampak sudah usang itu
ntah kenapa tatapan roy beda dari biasanya kali ini dia nampak berbeda dan terlihat sedih seperti ana roy juga adalah teman yang baik menurut naira karna dia adalah teman pria yang sangat memepedulikan nya
lantas roy pun tiba tibaa mengelus rambut naira
__ADS_1
"jaga diri baik baik ya cantik" katanya
aku merasa terkejut ketika roy mengatakan nya
"iyah roy juga jaga diri baik baik yah" kata ku
roy tersenyum ke arah ku setelah itu tiba tiba paman memanggil
"naira mobil nya udah siap" kata paman
nampak roy begitu gusar ketika mendengar nya
"iyah paman ayuk roy" sembari memegang tangan roy
ketika kami kembali disana ana sudah jauh lebih tenang dari sebelum nya
"ekhem" kata faisal
"ada apa faisal" merasa bingung
lantas naira melihat ke arah roy
roy pun menatap kebawah
naira tanpa sadar masih memegangi tangan roy ketika tersadar lantas ia pun melepaskan nya
"eh maaf roy" kata ku
"gapapa nai" lantas setelah itu naira pun berpamitan
kepada teman teman nya kepada bibi nya juga
"aku pergi dulu ya semuanya terimakasih asalmualaikum" kata naira
dia menatap satu persatu teman teman nya nampak roy melihat ke arah lain ntah kenapa
ketika mobil melaju nampak roy tiba tiba mengejar nya dan berteriak
"nai sampai jumpaaaa" teriak nya
naira pun melihat keluar jendela
"iyah roy sampai jumpaaa" balas naira
teman teman nya pun menyusul roy yang berlari
ketika sudah menyadari mobil naira berlalu cukup jauh roy pun tiba tiba jatuh
faisal pun membantu roy berdiri disamping jalan yang terdapat bangku faisal pun mengajak mereka agar duduk dulu menenangkan diri
"roy lu kenapa" tanya ana
"iyah segitu niat nya banget ngejar" kata faisal
"diem lu curut" sontak roy emosi
ana yang melihat pemnangan tak biasa itu pun bertanya
"roy lu kenapa" lantas sembari memegang pundak roy
tapi tiba tiba roy menghenmpas tangan ana
dan pergi begitu saja
ana yang melihat teman nya begitu diam sangat jelas merasa aneh
"dia kena..." sebelum melanjutkan nya faisal memotong perkataan ana
"dia suka sama naira" lantas setelah itu ana terdiam menatap faisal
"dia suka dari dulu gw emang udah merhatiin dia jujur gw juga awal nya suka sama si naira tapi semenjak punya doi gw udah biasa aja tapi kalo si roy dia mau naira begimana pun dia tetep care dan sayang sama dia" sambung faisal
"jadi selama ini dia mendem perasaanya" sahut ana
__ADS_1
"iyah dia mendem ga berani bilang"
faisal memang salah satu teman mereka yang objektif bahkan selalu tepat sasaran jika sudah menilai tingkah laku seseorang