
Ketika sudah berada diluar hutan aku pun menjumpai warga yang hendak ingin mencariku kedalam hutan
semua orang terkejut melihatku begitu juga paman
"nairaaa" teriak paman menghampiriku sembari berkaca kaca
"iyah paman maafin aku yah udh bikin cemas" ujarku kepada paman
"ngga nai paman justru seneng kamu ketemu" ujar paman ku
"syukurlah nak kalo kamu sudah selamat" ujar pak rw
aku pun mengangguk sembari tersenyum
lantas paman pun mengatakan
"warga semua terimakasih sudah mau bantu cari ponakan saya sekarang bpk2 bisa pulang" ujar paman
"iyah pak sama2 syukurlah" ujar salah seorang warga
"lain kali hati2 yah dik jangan sampe tersesat lagih" ujar warga lain
didalam kerumunan itu pun aku melihat salah seorang yang sudah tak asing untuku
warga semua pun kembali pulang kerumah nya masing masing
"nai kamu ga kenapa napa kan" ujar nya
"aku gapapa ko na" kataku
tapi ana nampak berkaca kaca sembari gemetaran memegang tanganku
"ngga ini semua salah aku aku malah teledor padahal bibi dah suruh jagain kamu" ujar ana
"ngga na ini bukan salah kamu aku yang terlalu bersemangat sampe sampe gak inget kalo itu hutan belantara hehe" ujar ku sembari tersenyum
aku begitu untuk mencairkan suasana apalagi ekspresi ana masih begitu terkejut dengan apa yang menimpa ku
"oh ya nai bibi kayanya cemas deh dari kemarin" ujar ana
"owh yah sampe kelupaan pasti sih" ujarku
"nah iyah sekarang mending pulang ajah" kata ana
"yaudah tapi kamu ikut" pintaku
"lah emang mau apa" kata ana
"yah nge teh aja diluar rumah gimana sama ada yang mau kuceritain" kataku
"yaudah deh penasaran juga kan kalo ngelewatin gosib hehe" sembari ketawa
yah aku senang ana tak lagi panik seperti tadi sudah mulai mencair
aku pun berjalan bersama nya menuju rumah
ketika sampai dirumah
"asalamualaikum bi" kataku
"waalaikumsalam nairaaa" jwb bibiku
ia langsung memeluku
"kamu gapapa kan ada yang lecet ga" ujar bibiku
"ah ngga ko aku baik2 aja bi" kataku
"syukurlah"
saat itu ana pun mengatakan
"bi maaf yah aku gabisa jagain naira kalo ngga ini gamungkin terjadi" ujar nya
__ADS_1
dengan wajah penuh penyesalan
"ngga na ini bukan salah kamu atau naira ini kan musibah gaada yang tau yang terpenting naira sekarang udah pulang" kata bibi ku
ana pun kembali tersenyum sumringah
"yaudah kalo bner dimaafin aku sama ana mau ngeteh ah diteras luar" ujarku
"gimana boleh ga hehe" ujar ana pada bibi
"yah tentu boleh dong kalian ngeteh gih duduk dulu"
"eh bi gapapa aku aja yang buat" kataku
"ngga ini spesial bibi aja yang buatin" ujar bibiku
"asik makasih bi" kataku
tapi wajah bibi ku nampak bingung
"bi kenapa nampak masam" kataku
"iyah bi macam belimbing wuluh kecut asem haha" canda ana sembari ketawa
"ngga bibi cuma heran kenapa tumben naira minum teh biasanya kopi" kata bibi
ketika mendengar nya aku langsung ketawa aku kira sedang memusingkan apa
"hehe ini sedang mencoba varian lain bi"
"waduh emang naira suka kopi yah" kata ana terkejut
"yah bukan suka sih na" kataku
"terus?" tanya ana
"cuma doyan haha" kataku sembari ketawa
kami pun duduk diteras
beberapa saat kemudian munculah bibiku yang membawakan 2 cangkir teh
"inih teh nya sudah siap"ujar bibiku
"aaa jadi ngerepotin" kataku
"ko cuma 2 bibi gamau ikut ngerumpi" kata ana
"ah ngga deh masa ngbrol bibi kan dah tua masa ngbrol sama anak gadis nanti ga nyambung haha" kata bibi ku
"yah padahal gapapa bi sambung sambungin ajah" ujar ana
lantas wajah bibi pun kesal
"ah sudah sudah bercanda aja kalian ini minum yah teh nya ntr keburu dingin" ujar bibi ku
"siap komandan"ujar ana
"haha"
setelah bibi pergi meninggalkan kami
ana pun menanyakan sesuatu hal
"oh yah nai jadi mau cerita apa" katanya
aku pun menyeruput teh terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan ana
"yah soal pas tersesat dihutan" kataku
"oh itu baru mau kutanyain tapi lupa haha" ujar ana
"dihutan itu aku ketemu cowok na" ujar ku
__ADS_1
" hah cwo dihutan ada cwo jangan jangan cwo jadi jadian" ujar ana kaget
yah aku tak merasa heran jika tanggapan ana seperti itu
"yah gatau pasti sih dia pake penutup mata" kata ku
nampak ana sedang berfikir
"lagi apa mbak" ujarku
"lagi ngebayangin lah" kata ana serius sembari meminum teh nya
"terus dia telanjang gitu" ujar ana
"justru itu dia pake kemeja celana item kulitnya juga putih" ujarku
"wow jadi pengen ketemu" kata ana
ntah kenapa ketika ana mengatakan nya aku merasa kesal
"gaboleh" ujarku
"iya deh iya jadi non udh suka yah sama si pria hutan itu" kata ana
"ih apaan sih na" kataku menyangkal
"udah ngaku deh pipi nya merah gitu"
ntah benar atau tidak ketika disana aku betul betul ingin segera pulang kerumah akan tetapi ketika dirumah aku jadi teringat
"na dia tinggal dihutan sendiri apa ga kesepian yah?" tanya ku pada nya
"yah sepertinya begitu sih nai"
ketika mendengarnya dari ana aku jadi merasa kasian dan bersalah telah meninggalkanya pasti sulit harus hidup sendiri tanpa ada orang lain
apakah dia merasa senang saat aku temani kemarin ? Kalo iya kenapa sikap nya begitu lurus seperti jalan tol dan menyebalkan
"ciee ciee" ujar ana
"kenapa na" tanyaku
"lagi mikirin pria hutan itu yah" katanya
"em engga" kataku
"ngga itu lagi ngelamunin asal usul air kelapa haha" kataku
"dih jokes bapak bapak" ujar ana
"yah ntah ini ketularan paman kayanya" canda ku
setelah itu aku sangat berharap bisa menemui nya kembali apakah dia masih berada disana jika benar aku akan menemui nya kembali
setelah selesai meminum secangkir teh lantas ana pun mengambil cangkir cangkir itu kemudian dibawa nya kedapur
setelah didapur
"eh na ko kamu yang bawain" ujar bibi
"yah gapapa bi sekali kali btw si ana kayanya lagi galau" ujar ana
"galau kenapa"tanya bibi penasaran
ketika itu ana menahan laju nya dia berfikir untuk apa menceritakanya pada bibi
"kalo nanti bibi semakin hawatir dan melarang naira buat kesini lagi gimana" gumam nya dalam hati
"eh ngga deh bi hehe paling dia galau msih syok gara gara ilang ituh" kata ana
"iyah sih" kata bibi menjawab tanpa sepatah kata pun lagi
setelah itu pun ana berpamitan pulang sementara naira yang berada diluar pergi ke kamar nya
__ADS_1