
Ketika ana bermain dengan mereka aku hanya duduk menonton
"ayo nai kesini" ujar diana
"ah ngga deh na mau nonton ajah"
"okeh" kata diana
aku sempat heran dengan diana dia tu walaupun cewe tapi suka main bola kaya cwo cwo dan tomboy juga periang ah aku benar2 berharap bisa pandai berkomunikasi kaya gitu "hay" ujar seorang pria
"em iyah halo" kataku
"lagi nnton bola yah" katanya
"iyah emang kenapa" tempalku
"gapapa sih aku juga sama hehe" katanya aku hanya terdiam karna tidak penting "nai....." panggil nya
"em iyah?" jawabku
"boleh kenalan ga" katanya
"boleh"
"namaku faisal" ujarnya
"oh ya salam kenal sal aku naira"
"hehe iyah udah tau ko" seketika hening
"nai kamu penasaran yah sama hutan itu"? tiba tiba saja dia mengatakanya seolah tau apa yang sedang kufikirkan
"emang kenapa sal" tanyaku
"yah soalnya mata kamu ngeliat kearah hutan dibelakang itu terus" ujarnya
aku tak menyangka faisal begitu objektif melihat ke arah mana aku memandang dan berfokus
"aku cuma penasaran ajah" kataku
lalu kulihat dilapang diana dan yang lainya berganti permainan menjadi layang layang "naira mau main ga"
"kamu dulu ajah na" kataku
"woy faisal ngapain diem disono sini ngapungin layangan" kata roy
"yoi bro ntar" ujar faisal
aku merasa heran kenapa si faisal ni malah sengaja ga main apa ikut ikutan tiba tiba ada layangan yang putus aku yang ingin mengambil nya pun berlari kencang
"eh nai mau kemana" kata ana
"mau ngejar layangan lah tungguin yah"
aku berlari begitu kencang saat itu aku tak peduli terhadap apa yang ada dibelakangku intinya aku ingin mencari tau
disana aku melihat lihat ke arah sekeliling hutan itu nampak sunyi dan gelap aku melihat dari arah atas batuan besar terdapat layangan yg putus aku berusaha menghampiri nya akan tetapi aku melihat sesuatu seperti bayangan bayangan yang bergerak di kiri dan kanan
jantung ku berdegup dengan kencang tiba tiba ada bisikan
"anak manusiaaaa"
ketika mendengarnya aku langsung berteriak
"aaaaaa tolonggg"
tanpa sadar aku berlari begitu jauh sampe kedalam hutan aku tak sadar kan aku berlari tunggang langgang lupa arah
sampai pada akhirnya aku berhenti disebuah gua didalam hutan aku merasa ada yang mengikuti ku
"hem gimana nih masuk ga yah" gumam ku
karna aku sudah tak tau harus bagaimana lagi aku mencoba meyakinkan diri ku untuk masuk walau aku yakin didalam bahaya juga yang mengintai contohnya seperti laba2 atau ular
aku bersembunyi dibalik bebatuan gua itu ada sosok yang berwujud aneh disana ntah aku melihat dari kejauhan seolah mereka sedang mencariku
lalu mereka pun pergi setelah itu aku merasa lega dengan keringat yang bercucuran dikening
__ADS_1
ketika aku berbalik badan kebelakang
"duarrr" ada wajah yang memandang ku tiba2
aku melihat ke arah sekeliling
"ini rumah siapa" gumamku
nampak rumah yang sudah tua tetapi bersih
"owh udah bangun yah" ujar seseorang aku pun melihat orang yang sedang duduk disofa dekat perapian dengan memandang ku yang terbaring diatas kasur
"si siapaaa"?
"lah harusnya aku yang nanya kamu siapa" katanya
aku bingung sedang berada dimana dan apa yang terjadi
lalu tiba tiba dia berbicara
"oh yah tadi kamu pingsan pas aku kagetin digua" ujarnya
"hmm" aku memasang muka cemberut
"marah yah?" ujarnya
"ngga" kataku
"ngga tapi manyun" ujar nya
"ko kamu bisa dihutan juga"tanyaku
"yah emang tinggal disini" katanya
aku merasa heran ko bisa2 nya ada orang yang tinggal didalem hutan apalagi hutan nya kaya gini
"eh kenapa bengong"ujarnya
"ngga ngga kata siapa" kaget
"naira" ujarku
"owh naira" katanya
aku sebetulnya takut karna dia manusia aneh
"yah kalo kamu siapa nama nya" tanya ku balil
"namaku jefri" katanya
"jef" panggil ku
"iyah apa" katanya
"kamu kenapa pake penutup mata" tanyaku
dia pun berkata
"ah gapapa ko cuman kalo kena sinar suka perih aja jadi kututupin" katanya
"terus kalo jalan gimana"
"yah jadi penutup mata ini kalo aku ngeliat keluar bisa dan jelas ini aja muka kamu keliatan loh" ujar nya
"ah yang bener sini nyobain" kataku
"hha gaboleh ini khusus buatku" ujarnya
penutup mata berwarna putih itu begitu anggun keliatan ya dipake oleh jefri kulit nya putih badan nya kurus pake kemeja putih dan celana hitam
"jefri" kataku
"jef aja nai" katanya
"oh ya jef kamu ni tarzan yah"
"haha lah ko tarzan" nampak bingung
__ADS_1
"yah karna kamu tinggal dalem hutan"
"yah enggak nai aku bukan tarzan" katanya
"terus kamu apa dong" bertanya kembali
"yah kamu boleh anggep aku apa aja" katanya
"lah aku bercanda ko jelas kamu juga manusia kaya aku kan" ujarku ketawa
dia nampak tersenyum
"jef kamu tu kayanya tarzan moderen hihi"
"lah ko gitu mana ada tarzan moderen" katanya
"yah abisnya pakaian mu kaya gitu"ujarnya
"owh ini udah lama sih kupake sejak waktu......." nampak perkataan itu terhenti
"waktu apa"?
"oh ya mau makan ga?" katanya
"mau" ujarku
nampak jefri menyiapkan makanan dan itu hanya buah buahan
aku sebenarnya bukan vegetarian yang ku makan biasanya makanan pedas atau yang berlemak tapi kali kali boleh lah apalagi ini kondisi nya lagi ergen dan tidak memungkinkan
ketika makan nampak jefri melihatku
"ih dikira gatau apa kamu liatin aku ya"kataku
"hehe iyah" ujarnya
"kenapa" kataku
"nai kamu cantik" katanya
"iyah karna aku perempuan haha" bergurau
"yah tapi kamu kayanya bukan perempuan"
"terus apa dong" tanyaku
"kamu bidadari" sembari tersenyum
"ada ada aja mana ada bidadari ga punya sayap" kataku
"ada" tegas nya
"mana coba buktiin" kataku
"sebentar" dia pergi kesuatu ruangan sementara aku lanjut memakan buah buahan ada jambu air mangga pepaya dan semangka
nampak jefri kembali dengan membawa sesuatu berbentuk persegi panjang ketika melihatnya aku merasa heran
"coba lihat" katanya
"lihat cermin"
"iyah , kamu nai bidadari tak bersayap itu"
aku pun tersenyum
"adeh si cantik senyum2 jangan gitu ah ntar meleleh aku"
"yah gapapa lah baru kali ini aku disanjung se manis itu hehe"
"masa sih" katanya tak percaya
"iyah jef aku orang nya pendiam tak banyak orang yang tau tentang gimana aslinya aku jadi orang yang tadinya suka aja jadi puter balik aku sulit interaksi sih" kataku yang niat membalas malah jadi curhat
"jangan sedih nai kamu ga perlu mikirin apa kata orang lain kamu cukup jadi diri sendiri apa adanya itu udah cukup" katanya
aku hanya tersenyum sembari mengangguk yang kupikirkan saat itu hanyalah pemikiran jefri begitu dewasa .
__ADS_1