
"Untung ada kamu nak yang jadi penguat hati ibu"Kata ku dalam hati.
Yaa,,aku harus bangkit dan aku tidak boleh terpuruk terlalu dalam dengan pengkhianatan mas Rizal.
Akan ku buktikan pada suami ku ,bahwa aku bukan wanita lemah yang bisa seenaknya di bohongi .
Tak berselang lama aku pun pamit pada ibu untuk kembali ke kontrakan,aku tidak akan menunjukkan kelemahan ku di hadapan siapa pun.
Setiba nya di kontrakan ,segera ku baringkan si kecil Dita dan aku mulai merapikan rumah yang kemaren sempat aku tinggalkan .
Tidak ada tanda-tanda kalau mas Rizal pulang ke rumah ini ,berarti benar apa yang ada di rekaman itu.
Aku mencoba menelfon suami ku,dan berpura-pura menanyakan apa kah dia tidur di rumah malam tadi.
Setelah beberapa waktu ,akhir nya telfon pun tersambung dan aku segera bertanya pada mas Rizal.
"Halo mas, apa tadi malam mas pulang ke rumah "?Tanya ku pada mas Rizal.
Dengan sedikit gugup suami ku menjawab,"i-i-ya dek kenapa emang kamu bertanya seperti itu"?Balas suami ku kelihatan gugup.
"Ya sudah tidak apa-apa mas"!Jawab ku dan setelah itu ku matikan sambungan telfon nya,aku pun tak habis pikir dengan kebohongan mas Rizal.
Dengan langkah lesu,aku melanjutkan kembali pekerjaan yang belum selesai.Putri ku sedang bermain-main dengan santai nya,dan aku pun dengan leluasa segera menyelesaikan semua nya.
Pukul 5 sore mas Rizal sudah pulang,sebelum menggendong si kecil dia pun membasuh wajah dan tangan nya di kamar mandi.
Ku coba tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa,meskipun dalam hati ku terasa sakit dan perih .
__ADS_1
"Mas udah makan "?Tanya ku pada nya.
"Sudah dek,tadi mas makan di luar karena mas pikir kamu belum pulang dari rumah ibu"!Jawab nya .
Aku pun segera mandi karena tubuh ini sudah terasa gerah dengan keringat ,alhasil si kecil pun ku berikan pada mas Rizal supaya tidak menangis ketika aku mandi.
"Mas ,tolong pegang Dita sebentar ya aku mau mandi "!Pintaku pada mas Rizal.
Dengan cepat aku berlalu menuju kamar mandi,segar tubuh ku setelah ku siram dengan air ini.
Seandainya semua baik-baik saja,pasti aku akan sangat bahagia.Tapi kenyataan nya berbalik 180 derajat,suami yang ku sangka akan setia selama nya.Ternyata dia tega menorehkan luka,luka yang perih namun tiada berdarah.
Kurang apa kah diri ku ini buat mas Rizal,aku selalu menuruti apa yang selalu di larang.Aku tidak boleh begini,tak boleh begitu selalu aku nurut pada nya.
Tapi apa balasan yang ku dapat?hanya pengkhianatan,tapi aku bertekad suatu hari akan ku buktikan siapa yang akan hancur secara perlahan.
Cuaca yang cerah tiba-tiba menjadi gelap,tanda sebentar lagi akan turun hujan.
Putri ku menangis karena ketakutan,dan mas Rizal pun mulai panik kemudian memberikan putri nya pada ku.
Segera ku gendong anak ku untuk membuat nya tenang kembali,tak berapa lama hujan pun akhir nya turun dengan deras nya.Di iringi kilat yang berkelebatan,aku merasa takut dengan suara petir yang menggelegar.
Ku peluk putri ku erat-erat,ku beri dia tempat ternyaman dalam pelukan ku.
Detik selanjutnya hujan pun mulai menyisakan gerimis,aku tenang karena tak lagi ada suara petir.
Ku baringkan tubuh putri ku di kasur,dan aku pun segera berbaring di samping nya.Tak lama kemudian dia pun terlelap, aku yang merasa lelah pun akhirnya tertidur.
__ADS_1
Ku coba menepis semua kejadian di dalam Vidio itu,aku ingin melupakan semua nya.Tapi selalu saja terlintas kembali bayang-bayang itu,aku hanya pasrah menghadapi cobaan .
Aku terdiam dan terus terdiam,tapi di hati ku selalu menolak bahwa aku harus bangkit.Aku tak boleh terlihat cengeng dan lemah,ada anak yang harus ku perjuangkan.
"Mas,apa kamu sudah menelfon ibu"?,gimana kabar ibu mas"?tanya ku pada mas Rizal.
"Kata nya ibu sedang tidak enak badan dek",mungkin juga sebentar lagi udah baikan"jelas mas Rizal.
Ibu mertua ku memang akhir-akhir ini kurang enak badan,maklum sudah tua juga.Jadi kesehatan nya sudah sedikit menurun,kasihan aku pada ibu mertua di kampung,ia hanya tinggal sendiri saja di sana.
"Lusa kita berangkat menjenguk ibu dek,mas sudah ambil cuti untuk beberapa hari"
"Iya mas,nanti aku kabari ibu juga bahwa kita akan ke kampung ibu kamu"jawab ku kemudian.
Tak terasa pagi menjelang ,suara kokok ayam bersahut-sahutan.Tapi di luar masih menyisakan sedikit gerimis,hujan lebat yang tercurah tadi malam membuat cuaca sangat dingin.Putri kecilku belum juga terbangun,aku segera saja menyelesaikan pekerjaan rumah seperti hari-hari sebelum nya.Angin berhembus dari luar jendela menembus hingga tulang ,langit juga masih menampakkan mendung.
Ku lihat mas Rizal sedang duduk menghadap keluar rumah,entah apa yang di pikirkan nya.Sampai aku tiba mengantar kopi nya pun dia tidak tahu,karena sedang asyik melamun.
"Ada apa mas,kenapa sepagi ini melamun"?tanya ku.
"Mas sedang kepikiran ibu dek",kasihan ibu di sana"!lanjutnya kemudian.
Aku pun mengatakan padanya bahwa jangan terlalu di pikirkan,besok pasti kita akan menjenguk nya.Ku coba membuat nya tetap tenang,aku tak ingin mas Rizal panik ketika mendengar ibu nya sakit.
Memang di kampung ada mbak Rina yang rumah nya tak jauh dari rumah ibu,tapi kan mbak Rina tidak bisa harus setiap jam melihat ibu.Apa lagi mbak Rina juga baru sembuh dari sakit juga,kasihan jika harus bolak-balik ke rumah ibu.
Cuaca yang tadi nya mendung, akhirnya menampakkan sinar mentari pagi yang kala itu waktu sudah menunjukan pukul 8 .Mas Rizal segera saja bersiap-siap akan berangkat ke kantor,karena besok dia sudah cuti untuk pulang ke kampung.
__ADS_1
Ku persiapan apa-apa yang akan kami bawa keesokan harinya,aku juga mempersiapkan baju-baju tebal untuk anak ku.Karena suhu di kampung mas Rizal sangat lah dingin,tak lupa juga aku membawakan beberapa pakaian tebal untuk ku dan mas Rizal.
Semua nya ku persiapkan dengan teliti,karena aku tidak ingin ada sesuatu yang kurang sedikit pun.Sayangnya ibu ku tidak bisa ikut,sebab rumah tidak ada yang menjaganya.Nenek ku juga saat ini sedang berada di rumah Bude,lagi pula ibu tidak tega jika meninggalkan nenek sendiri meskipun di rumah Bude ku.