Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
BURUNG KEDASIH


__ADS_3

Gue merinding saat mahluk itu menghilang, dan mendapati di hadapan gue ada sebuah jurang yang teramat dalam.


"Astaghfirullah...hampir aja gue jadi santapan setan jurang."


"Alhamdulillah...Abi cepet dateng ya kang, kalau nggak..."


"Kalau nggak, kenapa dik ?,"


Wajah Fatimah terlihat sedih dan takut, saat ia membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Lalu ia menangis sesenggukan. Ingin gue menghapus titik air yang membasahi pipi tirusnya dan memeluk tubuhnya, tapi itu adalah hal yang mustahil gue lakuin kepada perempuan shalihah, seperti Fatimah


"Fatimah..., ayo kita lanjutkan perjalanan."


"Iya bi," ujar Fatimah sambil menyusut air matanya.


*********


Perjalanan kami untuk sampai ke rumah sudah sangat dekat. Pintu rumah gue sudah terlihat dengan jelas.


"Itu rumah saya kyai."


Kyai Hasan menatap rumah gue, namun dahinya gue lihat sedikit berkerut.


"Ada apa kyai ?."


"Kelihatannya sudah ada yang bersiap-siap menyambut kedatangan kita."

__ADS_1


"Siapa kyai, dirumah saya gak ada siapa-siapa, hanya orang yang bantu-bantu saya."


"Iya tapi ada seseorang yang tidak suka dengan kehadiran nak Linggar."


"Maksud kyai ?."


Kyai Hasan diam dan tidak melanjutkan pembicaraannya, dia mendekati seorang santrinya yang senior. Tak lama kemudian santri itu mendekat ke arah gue.


"Mas, boleh saya pinjam jacket dan topi mas Linggar."


"Oh..boleh..boleh, tapi basah ini" ujar gue sambil menyerahkan jaket dan topi gue yang masih basah usai diguyur air hujan tadi.


"Nggak apa-apa mas, dan mas juga harus memakai kopiah dan sarung saya ya."


Santri itu langsung memakai jaket dan topi gue, sebaliknya dia juga menyerahkan kopiah dan sarungnya, dan meminta gue untuk memakainya.


Gigi geligi gue gemeretuk menahan dinginnya malam.


*********


Hujan sudah tak lagi turun saat kami hanya berjarak beberapa langkah dari gerbang rumah, halimun pekat seperti membungkus rapat rumah gue.


Malam ini gue merasakan suasana malam yang berbeda dari biasanya. Mas Tono yang berdiri di samping gue berbisik.


"Mas..hati-hati !, terus berdoa."

__ADS_1


Gue mengangguk perlahan. Suara burung kedasih terdengar begitu santer.


"Kenapa burung itu berbunyi terus ya mas, kata orang tua saya, kalau burung itu berbunyi pertanda..."


"Mas Tono apa sih, jangan terlalu percaya dengan tahayul, gak bagus, syirik tau," ujar gue


Mas Tono diam, dan tak berbicara lagi. Tak lama berselang aarkghh...hoarrrr....hoarrrr, whuahaha.....whuahaha, santri yang tadi meminjam jaket gue menggelepar gelepar di tanah, matanya melotot, mulutnya menggeram, dan tangannya berusaha hendak mencekik lehernya.


Kyai Hasan melompat kearah pemuda itu, terjadi pergumulan hebat. Pemuda itu terus berusaha untuk melukai tubuhnya, ia mengambil sebilah golok, yang ada di pinggangnya, dan hendak menikamkan ke tubuhnya, untunglah disaat kritis, tubuh Fatimah melenting ke arahnya dan merebut golok itu. Dengan satu gerakan, lengan Fatimah mengunci tubuh pemuda itu, sementara kyai Hasan berusaha mengeluarkan ghoib yang ada ditubuhnya.


"Keluar kau mahluk hina, sekarang !! atau aku akan membakarmu."


hoarrrkh....hoarrkh...aku tidak akan keluar dari tubuh anak ini, aku akan mengajaknya ke istanaku


"Siapa kamu ?, siapa yang menyuruh kamu mengganggu anak ini."


hoarrgkh....,kamu gak usah banyak tau, aku penguasa disini...hoarrrkhgh


"Baiklah, karena kamu tak mau menjawab, akan kubakar tubuhmu."


Kyai Hasan lalu meletakan telapak tangannya di ubun-ubun pemuda itu.


aaarrrkgggh....jangan...panas...panasss....aarrrkghhh


Tak lama kemudian tubuh pemuda itu diam. Kyai Hasan membangunkan pemuda itu, dengan menepuk-nepuk pipinya, sementara Fatimah mengambil golok yang tergeletak disamping pemuda itu dan menyarungkannya di tas ranselnya.

__ADS_1


*******


Gue baru mengerti sekarang, maksud santri itu meminjam jaket gue. Seandainya santri itu nggak memakai jaket gue, pasti gue sudah mati terbunuh, dan mungkin hanya tinggal nama. Gue berhutang nyawa padanya, pada Fatimah dan kyai Hasan. Tanpa terasa, air mata gue jatuh. Mas Tono menepuk bahu gue dan menarik nafas lega, saat gue ceritain kronologisnya.


__ADS_2